{"title":"FOLKLOR DEWI RENGGANIS SEBAGAI MOTIF DASAR NOVEL CANTIK ITU LUKA KARYA EKA KURIAWAN","authors":"Teddi Muhtadin","doi":"10.26499/jentera.v10i1.3589","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/jentera.v10i1.3589","url":null,"abstract":"Abstrak : Ditulis isi berisi pembacaan novel Cantik itu Luka (2002) karya Eka Kurniawan dengan perspektif folklor. Hal itu dilakukan karena, menurut hemat kami, dunia folklor melandasi keseluruhan novel tersebut. Dengan menggunakan teori folklor dan semiotika Charles Sander Peirce akan dijelaskan ciri folklor, kedudukan folklor dalam struktur novel, serta makna dan ideologi novel. Hasilnya menunjukkan bahwa folklor Dewi Rengganis yang ada di dalam novel merupakan motif dasar atau la mise en abyme ‘tanda kecil yang memiliki acuan besar’ bagi keseluruhan novel. Oleh karena itu, keseluruhan novel dapat diinterpretasikan berdasarkan motif folklor tersebut dan ideologi novel dapat diinterpretasikan berdasarkan sifat-sifat folklor. Dengan mengacu pada motif dasar tersebut maka novel Cantik itu Luka menunjukkan adanya upaya penggabungan dan penjajaran dari hal-hal yang berbeda bahkan bertentangan, serta pengulangan dengan variasi yang berbeda dari motif dasar.","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48257798","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PERJUANGAN PEREMPUAN SANTANA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL GOGODA KA NU NGARORA KARYA M.A. SALMUN","authors":"Asep Yusup Hudayat","doi":"10.26499/jentera.v10i1.3536","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/jentera.v10i1.3536","url":null,"abstract":"Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial , Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat kesewenangan kaum menak . Adapun kaum menak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah . Semangat meruntuhkan penindasan kaum menak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum menak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci : perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial Abstract This article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who \"learned\" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” \"Temptation for Youths\" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought b","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41899783","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN DALAM CERPEN SUNDA KAWUNG RATU KARYA WAHYU WIBISANA KAJIAN EKOKRITIK","authors":"Taufik Rahayu","doi":"10.26499/JENTERA.V9I2.2834","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V9I2.2834","url":null,"abstract":"Humans and the natural environment should have a mutually beneficial and mutually beneficial symbiotic relationship. Humans need the natural environment to survive, as well as the natural environment requires humans to maintain their habitat. But in fact, humans actually take advantage of the natural environment and over-exploit it with greed, causing environmental damage. Humans tend to think of themselves as anthropocentric, which then backfires on themselves, because nature is corrupted and humans become miserable. In a Sundanese short story entitled \"“Kawung Ratu”\" by Wahyu Wibasana, it is described how the human relationship with nature is so close and friendly. Nature and the environment are represented by kawung / aren / enau trees. There is a symbiotic relationship between mutualism that occurs in the main character (human) and the kawung tree (plant) which can then be interpreted as one of the ways the Sundanese are so close to nature. In the short story, the presence of nature and the environment is not to be overexploited but to be used as partners and friends in life. The research method used is a qualitative descriptive method, with a focus on ecocritical ethical studies. The results of his research clearly illustrate how the attitude of the main character Aki Sukarma towards the kawung tree which is named “Kawung Ratu” (nature), such as how responsibility, affection, care and caution are so as not to disturb their natural life. Through the short story “Kawung Ratu”, the Sundanese people can be said to be very close to nature and treat nature as well as they treat themselves. Abstrak Manusia dan lingkungan alam seharusnya memiliki hubungan simbiosis mutualisme. Manusia membutuhkan lingkungan alam untuk bertahan hidup. Begitu juga lingkungan alam membutuhkan manusia untuk memelihara habitat hidupnya. Namun, pada kenyataanya manusia justru memanfaatkan lingkungan alam dan mengekspolitasinya secara berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan lingkungan. Manusia cenderung menganggap dirinya antroposentris yang kemudian menjadi bumerang bagi dirinya sendiri, karena alam rusak hidup manusia menjadi sengsara. Dalam cerpen berbahasa Sunda yang berjudul “Kawung Ratu” karya Wahyu Wibasana, digambarkan bagaimana hubungan manusia dengan alamnya yang begitu dekat dan bersahabat. Alam dan lingkungan diwakili oleh pohon kawung/aren/enau. Ada hubungan simbiosis mutualisme terjadi dalam tokoh utama (manusia) dengan pohon kawung (tumbuhan) yang kemudian dapat dimaknai sebagai salah satu cara orang Sunda bersahabat dengan alam. Dalam cerpen tersebut, kehadiran alam dan lingkungan bukan untuk diekspolitasi secara berlebihan tetapi dijadikan sebagai mitra dan sahabat dalam menempuh hidup. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan fokus kajian etis ekokritik. Hasil penelitiannya tergambar jelas bagaimana sikap dari tokoh utama Aki Sukarma terhadap pohon kawung yang diberi nama “Kawung Ratu”, seperti bagaimana tanggung jawab,","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43075207","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"CULTURAL HYBRIDITY AND ITS COMPLEXITY IN ESMERALDA SANTIAGO’S ALMOST A WOMAN","authors":"I. Setiawan","doi":"10.26499/JENTERA.V9I2.2495","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V9I2.2495","url":null,"abstract":"Abstrak. Tulisan ini mendiskusikan hibriditas dalam novel Almost A Woman karya Esmeralda Santiago. Novel ini menceritakan permasalahan kultural yang dialami Negi, tokoh utama, sebagai imigran Puerto Rico di New York, di mana ia harus mengapropriasi budaya Amerika agar bisa diterima oleh masyarakat induk. Untuk membahas permasalahan tersebut, kami akan menggunakan teori poskolonial Bhabha. Analisis tekstual digunakan untuk menjelaskan data terpilih dengan cara pandang poskolonial tanpa mengabaikan keterkaitan kontekstualnya dengan dinamika imigrasi dan diaspora. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa tokoh utama harus menjalankan strategi kultural berupa mimikri dan hibriditas agar bisa diterima di masyarakat induk dan bisa mendukung impian modernnya. Meskipun menikmati budaya Amerika secara apropriatif, ia masih berusaha untuk tidak melupakan budaya Puerto Rico. Dengan strategi ini subjek diasporik bisa menegosiasikan kepentingannya di tengah-tengah masyarakat induk dan kuasa budaya dominan, tanpa harus meninggalkan sepenuhnya budaya Puerto Rico. Abstract. This paper discusses hybridity in Esmeralda Santiago’s Almost A Woman. This novel tells about cultural problems experienced by Negi, the main character, as a Puerto Rican immigrant in New York, where she must appropriate American cultures in order to be accepted by the host community. To discuss this problem, we will apply Bhabha's postcolonial theory. Textual analysis is used to explain selected data from a postcolonial perspective without ignoring its contextual relationship with the dynamics of immigration and diaspora. The results of this study show that the main character must carry out a cultural strategy in the form of mimicry and hybridity in order to be accepted in the parent community and be able to support his modern dreams. Despite enjoying appropriately American culture, she still tries not to forget Puerto Rican cultures. With this strategy the diasporic subject can negotiate its interests in the midst of the host society and the dominant cultural power, without having to completely abandon Puerto Rican culture.","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43697617","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"SITI: Javanese’s Beliefs as the Representation of Gender Roles and Inequalities towards Women’s Position","authors":"Fransiska Rahayu Myrlinda","doi":"10.26499/JENTERA.V9I2.1358","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V9I2.1358","url":null,"abstract":"ABSTRACT Being males and females is biologically constructed since human beings were born. Meanwhile, there is also strict distinction done by society to divide people into men and women or usually called as doing gender stereotype. It effects on different assumptions that are attached to them. As the result, people are categorized based on their own gender roles in society. Java, as the symbol of patriarchal society, is the ethnic which agrees with this social phenomenon. Its beliefs symbolize how men and women have different social status. It also results in different gender roles. SITI is the film which deals with this phenomenon. It shows that being “obedient” Javanese women will give effect on social status towards different genders. The theories of sex and gender and also patriarchal society were used to get the reliable data. Keywords: SITI, Sex and Gender, Inequality, Javanese’s beliefs ABSTRAK Menjadi pria dan wanita secara biologis dibangun sejak manusia dilahirkan. Sementara itu, ada juga perbedaan mendalam yang masyarakat lakukan untuk membagi manusia menjadi pria dan wanita atau biasa disebut sebagai stereotip di gender. Hal ini berpengaruh pada perbedaan asumsi yang melekat padanya. Sebagai akibat, manusia dikategorikan berdasarkan peran gender mereka sendiri di masyarakat. Jawa, sebagai simbol masyarakat patriarkal, adalah etnis yang setuju dengan fenomena sosial ini. Kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa melambangkan bagaimana pria dan wanita memiliki status sosial yang berbeda. Hal ini juga menghasilkan peran gender yang berbeda. SITI adalah film yang merepresentasikan fenomena ini. Film ini menunjukkan bahwa sebagai perempuan Jawa yang “taat” akan memberikan efek pada status sosial dari gender yang berbeda. Teori seks dan gender serta masyarakat patriarki digunakan untuk mendapatkan data yang sesuai. Kata Kunci: SITI, Teori seks dan gender, Ketidaksetaraan, Kepercayaan Jawa","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49495041","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"TOKOH-TOKOH NATIVEPHILIA DALAM ANTOLOGI CERPEN SEMUA UNTUK HINDIA KARYA IKSAKA BANU: ANALISIS PASCAKOLONIAL HOMI K. BHABA","authors":"Fadlun Suweleh","doi":"10.26499/JENTERA.V9I2.2837","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V9I2.2837","url":null,"abstract":"Pada tahun 2014 antologi cerpen Semua untuk Hindia karya Iksaka Banu dinobatkan sebagai buku prosa terbaik oleh Kusala Sastra Khatulistiwa. Selain kelihaiannya dalam meramu ruang imaji di celah fakta historis, ada hal lain yang menarik dari antologi tersebut, yakni hadirnya tokoh-tokoh Eropa selaku narator atau tokoh sentral, namun tingkah laku mereka tak seperti orang Eropa pada umumnya. Mereka berpotensi memiliki keberpihakan (empati) pada Pribumi. Empati tokoh-tokoh Eropa tersebut bahkan menjadi konflik berulang. Pada penelitian ini, tokoh-tokoh Eropa yang berhaluan kepada Pribumi diistilahkan sebagai nativephilia. Dengan konsep split (terpecah / terbelah) yang dipopulerkan oleh Homi K. Bhabha, penelitian ini menguatkan pandangan Bhabha bahwa Timur (Pribumi) juga ternyata dapat membentuk Barat (Eropa). Berdasarkan pengolahan data yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa tokoh-tokoh Eropa tersebut terbelah jiwanya, antara dirinya yang asli (penjajah) dengan dirinya yang lain yang bersimpati pada pribumi (terjajah). Kata kunci: Pascakolonial, Semua untuk Hindia, Nativephilia , Homi K Bhabha.","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47515680","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Formula Glorifikasi Pemimpin Dalam Hikayat Banjar","authors":"Diyah Prilly Upartini","doi":"10.26499/JENTERA.V9I2.2829","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V9I2.2829","url":null,"abstract":"Dalam penciptaan teks sastra kuno Melayu, narator tidak terlepas dari formula-formula sebagai gawai untuk menata sistem kebahasaan dengan gaya-gaya retoris tertentu. Formula-formula penceritaan tersebut merupakan salah satu ciri-ciri adanya jejak tradisi lisan yang ditemukan di dalam naskah tertulis. Hal ini juga terjadi pada penciptaan teks Hikayat Banjar ( HB ). Sebagai salah satu naskah kanon yang berasal dari kerajaan di Kalimantan, di dalam masyarakat Banjar yang memiliki tradisi lisan yang masih berkembang hingga saat ini, HB memiliki formula-formula khusus dalam penceritaannya yang kemungkinan besar merupakan rekaman jejak sastra lisan masyarakat Banjar. Makalah ini berusaha menjelaskan mengenai formula-formula yang digunakan di dalam HB , khususnya formula yang digunakan untuk mengglorifikasikan pemimpin yang dikisahkan di dalamnya. Elemen-elemen yang berkaitan dengan raja atau pemimpin dikisahkan dengan sarana-sarana retorika seperti enumerasi, paralelisme, dan repetisi, baik repetisi dalam jajaran kata, frase, klausa hingga repetisi dalam bentuk wacana. Penggunaan sarana retorika tersebut untuk menekankan betapa dominan dan istimewanya raja yang digambarkan di dalam teks HB .","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42968858","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Antara Ideal dan Utopis dalam Cerpen “Dongeng Tarka dan Sarka”:Telaah Konsep Kebersamaan Jean-Luc Nancy","authors":"M. Sm","doi":"10.26499/JENTERA.V9I2.2173","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V9I2.2173","url":null,"abstract":"The discourse about human existence in the world is a form of dasein communality that forms a certain group. The existence of groups then brings human life in the dimension of Being-In-Common . With the concept of Being-In-Common the subject continues to move and proceed towards an ideal situation. This situation become to the concept of Literary Utopia, where the subjects lives continued to share in togetherness. This part of the meaning of life is possible to lead in ideal conditions, a fantasy of a better life for the future with a sense of brotherhood as the key. Meanwhile, the ideal situation is a condition where the community goes to a dimension that has not yet been perfectly translated, so that a series of processes of division into a utopian step. It's no longer towards the ideal, but the mechanism that makes the lives of subjects share meaning. This condition then becomes the navigation’s subject determined in his ideal life, because if there is no dialectics, then life will be finished and no part of the expected meaning. Short story \"Tarka and Sarka\" by Yanusa Nugroho illustrates the existence of various meanings in the life of the subject. Internalization of religious values embedded in Tarka and Sarka figures is a form of dialectics that functions as a utopia in life. To analyze this, this study uses Jean-Luc Nancy's social philosophy theory. The results of this study are 1). Exploring the concept of life There-In-Togetherness and; 2). The existence of the conception of Literary Utopia as a process for approaching an ideal life for the subject. Keywords: Being-In-Common , Ideal, Utopia, Jean-Luc Nancy.","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43676045","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KAUM KOMUNIS DAN ISLAM REFORMIS DALAM ROMAN-ROMAN ABDOELXARIM M.S.","authors":"Dedi Arsa","doi":"10.26499/JENTERA.V8I1.1334","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V8I1.1334","url":null,"abstract":"In this article, the image of communists and the ideas of reformist Islam is discussed in the two novels of Abdoelxarim, namely Pandoe Anak Boeangan and Hadji Dadjal. Using a neohistorical approach, the author sees the image and views carried by the two novels related to communism and Islamic reformism in the context of its presence amid Indonesian social reality before the Pacific War. The result is the first novel represents an ambivalent image of the communist, i.e. they wants class equality but at the same time maintain ethnic discrimination and also fight for great socialism, but also explain the suffering of personal love life. Meanwhile, the second novel echoes the ideas of Islamic reformists in terms of ijtihad and the use of rational reasoning in religion which is opposing pilgrimage to the graves of saints and sacred scholars such as rejecting the sayyid, habib, and sheikh cults - the Arab cult as the most authoritative translating Islamic teachings. They also revile the practices of haul and festivity for death. The two novels relate to the historical reality of Indonesia before the Pacific War at a time when Islamic reform/ reform was rising in tandem with the emergence of communists in the movement arena. In addition, the novel also relate to Xarim himself who was one of Sumatra's main communist activists and familiar with the absorption of reformist ideas. Abstrak: Dalam artikel ini dibahas citra kaum komunis dan gagasan Islam reformis dalam dua roman Abdoelxarim, yaitu Pandoe Anak Boeangan dan Hadji Dadjal . Dengan menggunakan pendekatan neohistorisisme, melalui artikel ini penulis melihat citra dan pandangan yang diusung kedua roman itu terkait dengan komunisme dan reformisme Islam dalam konteks kehadirannya di tengah realitas sosial Indonesia sebelum Perang Pasifik. Hasilnya adalah roman pertama merepresentasikan citra komunis yang ambivalen; menginginkan kesetaraan kelas, tetapi pada saat yang bersamaan memelihara diskrimatif etnis; serta memperjuangkan sosialisme yang agung, tetapi juga memaparkan derita percintaan personal. Sementara itu, roman kedua menggemakan ide-ide kaum reformis Islam bersoal ijtihad dan penggunaan akal yang rasional dalam beragama; menentang ziarah ke makam wali dan ulama keramat; menolak kultus sayyid , habib, dan syekh—kultus Arab sebagai yang paling otoritatif menerjemahkan ajaran-ajaran Islam; dan mencerca praktik haul dan kenduri untuk kematian. Kedua roman tersebut berkait dengan realitas historis Indonesia sebelum Perang Pasifik pada saat pembaruan/reformasi Islam sedang menanjak naik beriringan dengan kemunculan kaum komunis di gelanggang pergerakan. Selain itu, roman tersebut berkait juga dengan Xarim sendiri yang merupakan salah seorang aktivis komunis Sumatra yang utama, tetapi juga akrab dengan penyerapan ide-ide kaum reformis.","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43065319","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"REKONSILIASI TANAH KELAHIRAN DALAM DUA PUISI IMAN BUDHI SANTOSA","authors":"Yohanes Adhi Satiyoko","doi":"10.26499/JENTERA.V8I1.851","DOIUrl":"https://doi.org/10.26499/JENTERA.V8I1.851","url":null,"abstract":"This research discusses the effort of reconciliation to the Javanese people view to their land of origin as expressed in the poems “Ziarah Tembuni” and “Ziarah Tanah Jawa” by Iman Budhi Santosa. The problem formulation is how social and cultural phenomena portrayed in those poems “Ziarah Tanah Jawa” and “Ziarah Tembuni” and ideology of its creation. The purpose of the research is to show modernity phenomena as faced by Javanese people in common and show the the ideology as the foundation of the poems creation. The discussion of the problem formulation and the purpose of the research use qualitative method with sociology theory by Janet Wolff. The result shows that those two poetic expressions of “Ziarah Tembuni” and “Ziarah Tanah Jawa” sound to ask reconciliation to remind, love, and realize the origin of the kinship of man-nature in the Javanese social construction. The result of the research concludes that kinship can avoid character of selfish and individualistic. Ideally, people face and experience modernity in life but they have to base it on local culture and tradition of their own country. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang usaha merekonsiliasi pandangan masyarakat Jawa modern terhadap tanah kelahiran yang diekspresikan dalam puisi “Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa” karya Iman Budhi Santosa. Masalah penelitian tentang fenomena sosial budaya yang tergambar dalam puisi “Ziarah Tanah Jawa” dan “Ziarah Tembuni” serta ideologi yang melandasi kedua karya puisi tersebut. Tujuan penelitian adalah menunjukkan fenomena modernitas yang dijumpai dalam masyarakat Jawa secara umum dan menunjukkan ideologi yang melandasi penciptaan puisi “Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa”. Pembahasan masalah penelitian dan tujuan penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memanfaatkan teori sosiologi Janett Wolff. Hasil penelitian membuktikan bahwa kedua ekspresi puitik dalam“Ziarah Tembuni” dan “Ziarah Tanah Jawa” menjadi ajakan rekonsiliasi untuk mengingat, mencintai, dan menyadari asal-usul kekerabatan manusia-alam dalam konstruksi sosial masyarakat Jawa. Dari hasil penelitian itu dapat disimpulkan bahwa kekerabatan dapat menghindarkan manusia dari sifat egois dan individualis. Diidealkan manusia mengalami modernitas dalam aktivitas kehidupan tetapi tetap berlandaskan pada budaya dan tradisi lokal atau bangsa sendiri.","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42141020","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}