{"title":"PERJUANGAN PEREMPUAN SANTANA MASA KOLONIAL DALAM NOVEL GOGODA KA NU NGARORA KARYA M.A. SALMUN","authors":"Asep Yusup Hudayat","doi":"10.26499/jentera.v10i1.3536","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial , Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat kesewenangan kaum menak . Adapun kaum menak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah . Semangat meruntuhkan penindasan kaum menak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum menak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci : perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial Abstract This article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who \"learned\" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” \"Temptation for Youths\" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought by the colonial side. The ways of accepting ‘santana’ women which are triggered by awareness to demand their rights in the spirit of democracy are important to be traced based on a post-colonial perspective. Based on a post-colonial perspective, Homi Bhabha (in Loomba, 2003: 229-236) states that colonial discourse encourages colonized subjects to 'imitate' the colonizer, by adopting culture, habits, assumptions, and values whose results are never simple regarding the reproduction of traits. Its imitation is vague and is never far from ridicule or parody of the uncertainty of control over the behavior of the colonized (natives) in colonial domination. Thus, the main problem that will be answered in this article is how ‘santana’ women adopted and expressed colonial culture in the interests of struggling to claim their rights through dialectical disclosure of mimicry practices carried out by indigenous ‘santana’ women. The result of this research is that ‘santana’ women are placed in “Gogoda ka nu Ngarora” to deny and sue the abuses of men. As for the people who are weakened, they are defending M.A. Salmun for ‘santana’ and ‘cacah’ (low class). The spirit of overthrowing the oppression of the aristocracy was carried out by ‘santana’ women through mimicry which resulted in the act of mocking the aristocracy as well as disturbing the main authority, namely the colonial. Keywords: women, middle class, mimicry, colonial","PeriodicalId":32593,"journal":{"name":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jentera Jurnal Kajian Sastra","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.26499/jentera.v10i1.3536","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Artikel ini mengungkap perjuangan perempuan santana (kelas menengah) pada masa kolonial yang direpresentasikan dalam novel Gogoda ka nu Ngarora karya M.A. Salmun. Perjuangan perempuan santana tidak saja melekat kepada upaya pembebasan diri dari banyak kungkungan patriarki tetapi juga ditunjukkan melalui cara perempuan santana menempatkan diri sebagai subjek yang “belajar” dari budaya kolonial. Budaya kolonial diterima perempuan santana untuk mengembangkan wawasannya, juga dijadikan sebagai sumber-sumber peniruan. Gogoda ka nu Ngarora “Godaan bagi Kaula Muda” karya M.A. Salmun yang berkisah tentang kaum pribumi pada tahun 1870-an hingga 1880-an merepresentasikan perjuangan perempuan santana dalam kungkungan feodalisme melalui penerimaan atas modernitas yang dibawa pihak kolonial. Cara-cara penerimaan perempuan santana yang dipicu kesadaran untuk menuntut hak-haknya dalam semangat demokrasi menjadi penting untuk dijejak berdasarkan perspektif postkolonial. Berdasarkan perspektif postkolonial , Bhaba (dalam Loomba, 2003: 229-236) menyebutkan bahwa wacana kolonial mendorong subjek terjajah untuk 'meniru' penjajah, dengan mengadopsi budaya, kebiasaan, asumsi, dan nilai-nilai yang hasilnya tidak pernah sederhana menyangkut reproduksi sifat-sifat. Tiruannya bersifat kabur dan tidak pernah jauh dari ejekan atau parodi dalam ketidakpastian kontrol perilaku terjajah (pribumi) dalam dominasi kolonial. Dengan demikian, masalah pokok yang akan dijawab dalam penelitian ini adalah bagaimana perempuan santana mengadopsi dan mengekspresikan kebudayaan kolonial dalam kepentingan perjuangan menuntut hak-haknya melalui pengungkapan praktik mimikri yang dilakukan perempuan santana pribumi secara dialektis. Hasil penelitian ini adalah perempuan santana ditempatkan dalam Gogoda ka nu Ngarora untuk menyangkal dan menggugat kesewenangan kaum menak . Adapun kaum menak yang dilemahkan adalah bentuk pembelaan Salmun terhadap santana dan cacah . Semangat meruntuhkan penindasan kaum menak dilakukan perempuan santana melalui mimikri yang mengarah kepada tindakan mengolok-olok kaum menak sekaligus untuk menggangu otoritas utama, yaitu kolonial. Kata kunci : perempuan, kelas menengah, mimikri, kolonial Abstract This article aims to describe the ‘santana’ (middle class) women's struggle during the colonial period as represented in the novel “Gogoda ka nu Ngarora” by M.A. Salmun. The ‘santana’ women's struggle was related to efforts to free themselves from many patriarchal confinements. This is also shown by the way that ‘santana’ women positioned themselves as subjects who "learned" from colonial culture. The colonial culture was accepted by ‘santana’ women in developing their horizons, also colonial culture was used as sources of imitation. “Gogoda ka nu Ngarora” "Temptation for Youths" by M.A. Salmun, which tells the story of the natives from the 1870s to 1880s, represents the struggle of ‘santana’ women in the confines of feudalism through acceptance of modernity brought by the colonial side. The ways of accepting ‘santana’ women which are triggered by awareness to demand their rights in the spirit of democracy are important to be traced based on a post-colonial perspective. Based on a post-colonial perspective, Homi Bhabha (in Loomba, 2003: 229-236) states that colonial discourse encourages colonized subjects to 'imitate' the colonizer, by adopting culture, habits, assumptions, and values whose results are never simple regarding the reproduction of traits. Its imitation is vague and is never far from ridicule or parody of the uncertainty of control over the behavior of the colonized (natives) in colonial domination. Thus, the main problem that will be answered in this article is how ‘santana’ women adopted and expressed colonial culture in the interests of struggling to claim their rights through dialectical disclosure of mimicry practices carried out by indigenous ‘santana’ women. The result of this research is that ‘santana’ women are placed in “Gogoda ka nu Ngarora” to deny and sue the abuses of men. As for the people who are weakened, they are defending M.A. Salmun for ‘santana’ and ‘cacah’ (low class). The spirit of overthrowing the oppression of the aristocracy was carried out by ‘santana’ women through mimicry which resulted in the act of mocking the aristocracy as well as disturbing the main authority, namely the colonial. Keywords: women, middle class, mimicry, colonial
本文以萨尔蒙的小说《果戈达·卡努·阿罗拉》为代表,揭示了殖民时期桑塔纳(中产阶级)的斗争。和平女性的斗争不仅与试图将自己从许多父权制圈子中解放出来有关,而且和平女性将自己作为从殖民文化中“学习”的主体的方式也表明了这一点。殖民文化受到放松的女性的欢迎,以发展自己的视野,也被视为欺骗的来源。从19世纪70年代到19世纪80年代,M.A.Salmun的《年轻人的女神》(Gogoda ka nu Ngarora)将土著人分离开来,代表了圣徒们通过接受殖民地带来的现代性,在信仰主义的背景下进行的斗争。从后殖民主义的角度来看,自由主义妇女的接受意识以民主的精神要求她们的权利,这一点很重要。基于后殖民主义的观点,Bhaba(在Loomba,2003:229-236)提到,殖民地的瓦卡纳通过采用文化、习俗、假设和由此产生的价值观,推动杰出的主体“模仿”入侵者,而这些价值观在财产的再生产方面从来都不简单。在对殖民统治中普遍行为的不确定性控制中,这些计算是逃亡的,从来都不是嘲弄或戏仿。因此,本研究中要回答的树木问题是,妓女如何采用和表达殖民文化,通过当地妓女模仿的实际表达来争取自己的权利。这项研究的结果是,一名妓女被安置在Gogoda ka nu Ngarora,以否认和否认入侵人民的力量。至于被压迫的人民,他们是萨蒙抵御灾难和软弱的一种形式。这种精神通过模仿来摧毁对异教徒的压迫,这种模仿导致对异教徒进行嘲笑,同时扰乱了主要权威,即殖民地。关键词:妇女,中产阶级,模仿,殖民摘要本文旨在描述M.A.Salmun的小说《Gogoda ka nu Ngarora》中所代表的殖民时期的“santana”(中产阶级)妇女斗争。“桑塔纳”妇女的斗争与将自己从许多父权制的束缚中解放出来的努力有关。“桑塔纳”妇女将自己定位为从殖民文化中“学习”的主体,这也表明了这一点。“桑塔纳”妇女在开拓视野时接受了殖民文化,殖民文化也被用作模仿的来源。M.A.Salmun的《Gogoda ka nu Ngarora》《年轻人的诱惑》告诉了19世纪70年代至19世纪80年代当地人的故事,代表了“桑塔纳”妇女在封建主义的束缚下,通过接受殖民地带来的现代性而进行的斗争。接受“桑塔纳”妇女的方式是由人们意识到本着民主精神要求她们的权利而引发的,这一点很重要,必须从后殖民主义的角度来追溯。基于后殖民主义的观点,Homi Bhabha(在Loomba,2003:229-236)指出,殖民话语鼓励被殖民主体通过采用文化、习惯、假设和价值观来“模仿”殖民者,其结果从来都不是简单的特征繁殖。它的模仿是模糊的,从不远离对殖民统治中被殖民者(原住民)行为控制的不确定性的嘲笑或戏仿。因此,本文将要回答的主要问题是,“桑塔纳”妇女如何通过辩证地揭露土著“santana”妇女的模仿行为,为了争取自己的权利而采用和表达殖民文化。这项研究的结果是,“桑塔纳”妇女被安置在“Gogoda ka nu Ngarora”,以否认和起诉虐待男子的行为。至于那些被削弱的人,他们为M.A.Salmun的“santana”和“cacah”(低阶级)辩护。推翻贵族压迫的精神是由“桑塔纳”妇女通过模仿来实现的,这导致了嘲笑贵族的行为,也扰乱了主要权威,即殖民地。关键词:女性、中产阶级、模仿、殖民