Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies最新文献

筛选
英文 中文
Menelaah Spiritualitas Alkitabiah “Roti Kehidupan” melalui Eksegesa Historis Kritis Yohanes Pasal 6 通过约翰福音第6章的批判历史来研究圣经“生命之粮”的灵性
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2022-04-30 DOI: 10.21460/aradha.2022.21.787
Gracia Lina
{"title":"Menelaah Spiritualitas Alkitabiah “Roti Kehidupan” melalui Eksegesa Historis Kritis Yohanes Pasal 6","authors":"Gracia Lina","doi":"10.21460/aradha.2022.21.787","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2022.21.787","url":null,"abstract":"AbstractThis paper explores the text of John chapter 6 about the \"bread of life\" from the spiritual perspective. The author uses a critical historical method to examine the spirituality contained in it. The author uses this approach by not only focusing on \"what happened\", but approaching it as \"spirituality\", which is the manifestation of living as believers. The words of Jesus Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Egō eimi ho artos tēs zōēs, literally meaning I am the Bread of Life) are the first of the seven statements of Jesus \"I am…\" (Egō eimi) that appear in the Gospel of John. This statement appears in John chapter 6 which we also know as part of the discourse on the Bread of Life. The word \"I am…\" (Egō eimi) reflects YAHWEH's identity as He introduced Himself to Moses in Exodus 3:14 and Deutero-Isaiah’s prophecy. \"Bread\" (ἄρτος, artos) became a term that could be used widely as a metaphorical, symbolic, and theological expression. While, \"life\" (ζωῆ, zōē) which Jesus meant was life in a holistic, spiritual, and physical sense. By declaring Himself to be the Bread of Life, Jesus said that He is the One who gives a whole, full, and abundant life, both in this world and in eternity to those who believe in Him. And that can only happen through His obedience to the Father's will, which is His sacrifice on the cross. In other words, it is His broken-down self that gives life. This is the spirituality of the bread of life that Jesus lived. So for us, who are people who have met Christ personally, the spirituality of the bread of life is a way of living self-sacrifice like Jesus Christ, becoming more like Christ every day, sacrificing ourselves, suppressing ego and our self-interest, prioritizing the importance of others, and committing to the goodness of all, for the blossoming of life in this world, now and here, and also in the future in eternity.  \u0000AbstrakTulisan ini menyelami teks Yohanes pasal 6 perihal “roti kehidupan” dari sisi spiritualitasnya. Penulis menggunakan metode historis kritis untuk menelaah spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Penulis menggunakan pendekatan ini dengan tidak hanya berfokus pada “apa yang terjadi”, tetapi mendekatinya sebagai “spiritualitas”, yaitu perwujudan hidup beriman. Perkataan Yesus Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Egō eimi ho artos tēs zōēs, secara harafiah berarti Akulah Roti Hidup; atau Roti Kehidupan) adalah pernyataan Yesus yang pertama dari tujuh pernyataan “Akulah…” (Egō eimi) yang muncul dalam Injil Yohanes. Pernyataan ini muncul dalam Yohanes pasal 6 yang juga kita kenal sebagai bagian Diskurus Roti Kehidupan. Kata “Akulah…” (Egō eimi) merefleksikan identitas YAHWEH sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3: 14 dan nubuatan Deutero-Yesaya. “Roti” (ἄρτος, artos) menjadi istilah yang dapat digunakan secara luas sebagai ungkapan metaforis, simbolis, dan teologis. Sedangkan “kehidupan” (ζωῆ, zōē) yang dimaksudkan Yesus merupakan hidup dalam arti holistik, spiritual sekaligus fisik. Den","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"192 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-04-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115484445","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Sulitnya Orang Indonesia Menerima Kaum LGBT
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.13.725
Winda Sari
{"title":"Sulitnya Orang Indonesia Menerima Kaum LGBT","authors":"Winda Sari","doi":"10.21460/aradha.2021.13.725","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.725","url":null,"abstract":"AbstractLGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) is no stranger to today’s society. Even so, it is known that LGBT people in Indonesia are actually considered as “untruthful” people from various perspectives, both from the point of view of society, religion and law. This article will look at how difficult it is for Indonesians to accept LGBT people. This paper will also look at the theological point of view on LGBT from theories about sexuality and spirituality. \u0000AbstrakLGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender) sudah tidak asing di telinga masyarakat dewasa ini. Meski demikian dikenal, LGBT di Indonesia sebenarnya dianggap sebagai orang “tidak benar” dari berbagai sudut pandang, baik dari sudut pandang masyarakat, agama dan hukum. Tulisan ini akan melihat mengenai masih sulitnya orang Indonesia menerima kaum LGBT. Tulisan ini juga akan melihat sudut pandang secara teologis mengenai LGBT dari teori-teori mengenai seksualitas dan spiritualitas.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"96 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114740541","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Rumah-Ku, Rumah Doa Segala Bangsa: Telaah terhadap Yesaya 56:1-8 sebagai Hasil Interkultural Israel Paska Pembuangan 我的殿,万国祷告的殿,被掳以后,要学习以赛亚书56:1-8
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.13.639
A. Subowo
{"title":"Rumah-Ku, Rumah Doa Segala Bangsa: Telaah terhadap Yesaya 56:1-8 sebagai Hasil Interkultural Israel Paska Pembuangan","authors":"A. Subowo","doi":"10.21460/aradha.2021.13.639","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.639","url":null,"abstract":"AbstractIntercultural is a necessity when we meet other people or other communities. Awareness of building relationships in a spirit of equality. In intercultural encounters, the horizon for culture will experience renewal. Text is also a product of culture, which can also experience intercultural encounters. One of the intercultural texts is Isaiah 56: 1-8. This text is important in intercultural theology because it’s contains a theology that is different from ancient Israel. This research was conducted in order to investigate the intercultural processes that occur in the text of Isaiah 56: 1-8. In order to elaborate on the theme, i will present of the pre-exilic community, the exile community and the post-exil community. The description of the three communities is important in the context of detecting intercultural texts. After becoming clear the intercultural process of the text, the text will be used as a foothold in formulating intercultural missions that are relevant to the church in Indonesia. \u0000AbstrakDalam sebuah perjumpaan dengan individu atau komunitas lain, interkultural adalah sebuah keniscayaan. Kesadaran akan teologi interkultural menjadi penting, dalam rangka membangun kesadaran membangun relasi dalam semangat kesetaraan. Dalam perjumpaan interkultural, horizon terhadap budaya akan mengalami kebaharuan. Teks sesungguhnya juga adalah produk budaya, yang juga bisa mengalami perjumpaan interkultural. Salah satu teks yang mengalami interkultural adalah Yesaya 56:1-8. Teks ini amat menarik karena mengandung teologi yang berbeda dengan Israel kuno. Penelitian ini dilakukan dalam rangka menelisikproses interkultural yang terjadi pada teks Yesaya 56:1-8. Dalam rangka mengelaborasi tema tersebut, maka penulis akan menyajikan gambaran komunitas pra-pembuangan, komunitas pada masa pembuangan dan komunitas paska pembuangan. Gambaran ketiga komunitas tersebut menjadi penting dalam rangka mendeteksi interkultural pada teks. Setelah menjadi terang proses interkultural pada teks, teks tersebut akan dijadikan pijakan dalam merumuskan misi interkultural yang relevan bagi gereja di Indonesia.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114903298","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Tinjauan Buku: Ronald S. Kraybill, Alice Frazer Evans dan Robert A. Evans, Peace Skills, Panduan Mediator: Terampil Membangun Perdamaian, Kanisius, 2002 Tinjauan Buku: Ronald S. Kraybill, Alice Frazer Evans和Robert A. Evans,和平技巧,Panduan调解人:Terampil Membangun Perdamaian, Kanisius, 2002
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.13.776
Gerry Nelwan
{"title":"Tinjauan Buku: Ronald S. Kraybill, Alice Frazer Evans dan Robert A. Evans, Peace Skills, Panduan Mediator: Terampil Membangun Perdamaian, Kanisius, 2002","authors":"Gerry Nelwan","doi":"10.21460/aradha.2021.13.776","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.776","url":null,"abstract":"","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125954423","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Dekolonisasi di Asia dan Pembacaan Alkitab yang Membebaskan dalam Pandangan Kwok Pui-Lan 对亚洲的殖民和《圣经》的解放让郭培兰看到
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.13.666
Sonny Samuel Hasiholan
{"title":"Dekolonisasi di Asia dan Pembacaan Alkitab yang Membebaskan dalam Pandangan Kwok Pui-Lan","authors":"Sonny Samuel Hasiholan","doi":"10.21460/aradha.2021.13.666","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.666","url":null,"abstract":"AbstractThe history of colonialization in Asia left traditions and perspectives that were often oppressive. Minority or weak groups, often become victims. When this oppression and injustice occurs, and the oppressed group feels it is normal, it will be passed on to the next generation. Oppressive traditions and worldviews also occur in Christianity and in Bible reading. This article explores how Feminist Theologian Kwok Pui Lan tries to decolonialize Bible reading through dialogue and imagination. Kwok Pui Lan, in particular, pays attention tothe injustice that is caused by problems of race and gender. With dialogue and imagination between Bible readers and listeners in their specific contexts the gospel message will reach everyone in their existence, and make them free human beings. In the end, the Bible and the good news it carries are not only read according to strong and powerful interests, but have a variety of voices that can greet anyone. \u0000AbstrakSejarah kolonialisasi di Asia meninggalkan tradisi dan cara pandang yang tidak jarang menindas. Kelompok minoritas atau yang lemah, seringkali menjadi korbannya. Ketika penindasan dan ketidakadilan ini terjadi, dan kelompok yang tertindas merasa hal itu sebagai sebuah kewajaran maka akan bertahan dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Tradisi dan cara pandang yang menindas juga terjadi dalam kekristenan dan pembacaan Alkitab. Artikel ini menelusuri bagaimana Kwok Pui Lan, seorang Teolog Feminis, mencoba melakukan dekolonialisasi terhadap pembacaan Alkitab diantaranya melalui dialog dan imajinasi. KwokPui Lan secara khusus memberikan perhatiannya kepada ketidakadilan yang dilatarbelakangi oleh persoalan ras dan gender. Dengan dialog dan imajinasi antara pembaca Alkitab dan pendengar dengan konteks mereka yang khas maka kabar baik dalam Alkitab akan sampai kepada setiap orang dalam keberadaan mereka, dan menjadikan mereka manusia yang merdeka. Pada akhirnya Alkitab dan kabar baik yang dibawanya tidak saja dibaca menurut kepentingan yang kuat dan berkuasa, melainkan memiliki keragaman suara yang dapatmenyapa siapa saja.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"92 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132427847","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Larangan Intermarriage dalam Nehemia 13: 23-27: Suatu Upaya Hermeneutis Post-Modern melalui Pendekatan Sosial-Antropologis 尼希米记第13章23-27节:后现代社会人类学的解释性努力
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.13.704
Dina Maria Nainggolan
{"title":"Larangan Intermarriage dalam Nehemia 13: 23-27: Suatu Upaya Hermeneutis Post-Modern melalui Pendekatan Sosial-Antropologis","authors":"Dina Maria Nainggolan","doi":"10.21460/aradha.2021.13.704","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.704","url":null,"abstract":"AbstractThis article is a post-modern hermeneutic study of Nehemiah 13: 23-27 with a socio anthropologicalapproach. This text talks about the prohibition of intermarriage between the Jewish community and foreign nations in the post-exilic era. This prohibition still alive now, not only in the Jewish community but also in other Abrahamic religions. Liquidity of cultural and religious identities today does not mean denying those people who still keep their tradition, culture, and group identities. The latest socio-anthropological and archeologicalstudies of the Bible show the text as Nehemiah and text editor effort to bequeath cultural memories to build the purity of Jewish identity. With intertextual studies, I will show that Old Testament Books is not ‘one voice’ about intermarriages. This ambiguity challenges us to rethink the prohibition on intermarriage without discrimination and segregation to the Other. \u0000Abstrak Artikel ini adalah upaya hermeneu􀆟 s post-modern terhadap teks Nehemia 13:23-27 dengan pendekatan sosio-antropologis. Teks ini berbicara tentang larangan kawin campur (intermarriage) antara komunitas Yahudi pasca-pembuangan dengan bangsa-bangsa asing. Larangan ini nyatanya masih terjadi hingga saat ini, bukan hanya di tengah-tengah komunitas Yahudi masa kini, namun juga agama-agama Abrahamik lainnya. Cairnyaidentitas budaya dan agama saat ini tidak berarti menafikan mereka yang masih memegang teguh tradisi, budaya dan pelestarian identitas kelompoknya. Studi sosio-antropologis dan arkeologi Alkitab terbaru memperlihatkan teks sebagai upaya Nehemia maupun redaktur teks mewariskan ingatan budaya dalam rangka membangun kemurnian identitas bangsa Yahudi pasca-pembuangan. Penulis juga memanfaatkan studi intertekstual dalam rangka memperlihatkan bahwa kitab Perjanjian Pertama (PP) tidak unisono dalam memperlihatkan larangan intermarriage. Ambiguitas ini menjadi tantangan bagi kita untuk memikirkan ulanglarangan intermarriage tanpa diskriminasi dan segregasi terhadap mereka yang berbeda.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129645048","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Yunus, Labu, dan Kisah Pelariannya!: Melihat Yunus dalam Alkitab dan Surah Yunus dalam Al-Qur’an (Kitab Yunus, QS Yunus: 1-109, QS As-Saffat: 139-148, QS Al-Anbiyaa’: 87-88)
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.13.733
Rim G. Saragih
{"title":"Yunus, Labu, dan Kisah Pelariannya!: Melihat Yunus dalam Alkitab dan Surah Yunus dalam Al-Qur’an (Kitab Yunus, QS Yunus: 1-109, QS As-Saffat: 139-148, QS Al-Anbiyaa’: 87-88)","authors":"Rim G. Saragih","doi":"10.21460/aradha.2021.13.733","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.733","url":null,"abstract":"AbstractJonah in the Bible and in the Qur’an is the same character, namely a prophet who was sent by Allah to remind and rebuke the Nineveh people to turn and praise Allah. However, through comparative reading of these texts we will find different narratives about Yunus. But this paper will read both texts in the Bible and the Qur’an so that we can see the richness of the two texts by reading communitarian cross-text over the holy books. There are many things that give us these two texts either from who the Nineveh were in the Qur’an or also Allah’s rebuke to Jonah when he was swallowed by the big fish and how Allah taught through the Pumpkin tree.This article is of course not to prove right or wrong, the main idea of this artile is looking at the appreciative differences in each text and then the main idea is to find broader and deeper meanings related to Yunus and his story. The interpretations of Christian theologians as well as Muslim commentators will offer further explanations about the figure of Yunus in the Bible and in the Qur’an. \u0000AbstrakYunus dalam Alkitab dan dalam Al-Qur’an adalah tokoh yang sama yaitu seorang nabi yang diutus Allah untuk mengingatkan dan menegur orang-orang Niniwe supaya berpaling dan kembali kepada Allah dan memuji Allah. Namun di beberapa bagian ada poin-poin yang berbeda yang disampaikan Alkitab dan juga Al-Qur’an. Tulisan ini akan memperlihatkan dan menyandingkan kedua teks tersebut baik dalam Alkitab dan Al-Qur’an sehingga kita bisa melihat kekayaan dari kedua teks tersebut dengan pembacaan komunitarian lintas teks atas Kitab-kitab suci. Ada hal yang memperkaya kita melalui dua teks ini baik dari siapa itu bangsa Niniwe dalam Al-Qur’an atau juga proses teguran Allah kepada Yunus ketika di telan ikan besar dan bagaimana Allah memberi pengajaran kepadanya melalui pohon Labu. Tulisan ini tentunya bukan bicara benar salah tapi lebih melihat kepada perbedaan apresiatif dalam masing-masing teks dan kemudian penulis menemukan makna yang lebih luas dan lebih mendalam lagi terkait Yunus dan kisahnya. Adapun tafsiran dari teolog Kristen dan juga dari para mufasir Islam akan lebih menjelaskan sosok Yunus dalam Alkitab dan dalam Al-Qur’an.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115178779","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Misi Ekologis: Memaknai Ulang Misi Gereja Kristen Muria Indonesia di Tengah Bencana Alam dan Krisis Ekologi 生态使命:在自然灾害和生态危机中重新定义基督教教会的使命
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-08-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.12.705
Heri Purwanto
{"title":"Misi Ekologis: Memaknai Ulang Misi Gereja Kristen Muria Indonesia di Tengah Bencana Alam dan Krisis Ekologi","authors":"Heri Purwanto","doi":"10.21460/aradha.2021.12.705","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.12.705","url":null,"abstract":"AbstractThe mission will always change. This change occurs because of a shift in the mission paradigm in line with the context. The mission is not anymore understood and defined in a traditional, exclusive, and singular way, otherwise the mission needs to be modified to be more open, inclusive, and have multiple meanings. In fact, the mission will always follow its context and locality. The mission of the ecological vocation of the church is needed by the world amid the global ecological crisis and various natural disasters that occured at this time. One of factors that causes ecology crises and natural disasters is natural damaged. It is caused by human who does exploitation to the nature massively. Theologically, the church is called to work on God’s kingdom mission as a work of salvation for the world. The mission of salvation is not only for humans but also for whole of creation as a universal union with God. In implementing this ecological mission, Gereja Kristen Muria Indonesia through the Mennonite Diakonia Service (MDS) have participated in carrying out various forms of the church’s mission, including ecological, as a church integral mission to overcome crisis and natural disasters in Indonesia. \u0000AbstrakMisi akan selalu mengalami perubahan. Perubahan ini terjadi karena adanya pergeseran paradigma misi seiring dengan konteksnya. Misi tidak lagi dipahami dan didefinisikan secara tradisional, eksklusif, dan tunggal. Sebaliknya, misi perlu dimodifikasi agar lebih terbuka, inklusif, dan memiliki banyak arti. Faktanya, misi itu akan selalu mengikuti konteks dan lokalitasnya. Misi panggilan ekologi gereja sangat dibutuhkan oleh dunia di tengah krisis ekologi global dan beragam bencana alam yang terjadi saat ini. Salah satu faktor yang menyebabkan krisis ekologi dan bencana alam adalah kerusakan alam yang terjadi berbagai tempat. Ini disebabkan oleh manusia yang melakukan eksploitasi terhadap alam secara besar-besaran. Secara teologis, gereja dipanggil untuk mengerjakan misi kerajaan Allah sebagai karya keselamatan bagi dunia. Maka, misi keselamatan itu bukan hanya bagi manusia tetapi juga bagi seluruh ciptaan sebagai kesatuan universal dengan Tuhan. Dalam menjalankan misi ekologis, Gereja Kristen Muria Indonesia melalui Mennonite Diakonia Service (MDS) turut serta menjalankan berbagai bentuk misi gereja, termasuk ekologis, sebagai misi integral gereja untuk mengatasi krisis ekologi dan bencana alam di Indonesia.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"56 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129419742","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
From Holy Fool to The Holy Christ: Menguak Makna Teologis Spiritualitas di Balik Lagu “Judas” oleh Lady Gaga 从神圣的傻瓜到神圣的基督:Menguak Makna Teologis Spiritualitas di Balik Lagu“犹大”,Lady Gaga
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-08-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.12.616
Novice Umbu Kamoza Danggalimu
{"title":"From Holy Fool to The Holy Christ: Menguak Makna Teologis Spiritualitas di Balik Lagu “Judas” oleh Lady Gaga","authors":"Novice Umbu Kamoza Danggalimu","doi":"10.21460/aradha.2021.12.616","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.12.616","url":null,"abstract":"AbstractThe emergence and development of Popular Culture tend to be misunderstood and disregard as a shallow culture. Due to its sensational and eccentric display, the product of Popular Culture is always considered wrong morality of what people believe as a high morality. The song, “Judas”, sung by Lady Gaga, is one of products of Popular Culture which now becomes controversy. The controversy, then, becomes wider because Gaga brings forward to show to the public Judas who in the Bible both Protestant and Catholic was the traitor and symbol of sins. The video clip of this song is also regarded as a harassment of Jesus in which full of expression of sex, violence, hedonism, and even vulgar. Now, the question is that is it true that the meaning of Judas shown by the lyrics is to blaspheme Christianity and to mislead people by using Judas as a shield? Then, what is truly the conception of sins in this song so that it becomes controversy? To find out the answer, in this paper, I will use semiotic analysis method. The method is to analyze to read the text from social perspective by using code or message (containing symbols and meaning) as the starting point, without ignoring the context and reader. Afterwards, the text of this song will be dialogued in Christi an theology, so it can be found like what the theological response to this song is. I also hope the result can show us that popular culture shown by popular music is not always shallow and vicious. However, there is ethical message and moral value which should be consideration or reflection of how the people undergo either their private live or their religion. \u0000AbstrakKemunculan dan perkembangan budaya populer di dunia cenderung disalahpahami, diabaikan bahkan dicemooh sebagai budaya yang dangkal dan murahan. Produk hiburan budaya populer sering kali disertai dengan penampilan yang sensasional dan eksentrik sehingga dianggap melenceng dari norma-norma atau moralitas hidup yang selama ini dijunjung tinggi nilainya. Lagu “Judas” yang dibawakan oleh Lady Gaga menjadi salah satu contoh produk budaya populer yang dianggap sensasional, eksentrik dan akhirnya menimbulkan kontroversi. Kontroversi tersebut semakin merebak karena Gaga menampilkan seorang tokoh Judas yang dalam Alkitab dan dalam ajaran agama baik Protestan maupun Katolik merupakan tokoh pengkhianat dan simbol dosa. Video klip dalam lagu Judas juga dinilai telah melecehkan Yesus bahkan saratdengan ungkapan seks, kekerasan dan hedonisme yang juga bebas dan vulgar. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah benar makna yang terkandung dalam lirik lagu Judas bertujuan untuk menghina agama Kristen dan bertujuan untuk menyesatkan manusia dengan menggunakan Judas sebagai tamengnya? Lalu apa sesungguhnya konsep dosa dalam lagu Judas yang sampai menimbul kontroversi di mata dunia? Untuk menemukan jawaban atas hal tersebut maka dalam tulisan ini penulis akan menggunakan metode analisis semiotika, yakni analisis yang berperan untuk membaca teks da","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"52 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114532495","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Mendidik Generasi Z Gereja: Peran Media Sosial di Tengah Bahaya Always-On Attention Deficit Disorder 教育 Z 世代教会:社交媒体在 "注意力缺失症 "危险中的作用
Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies Pub Date : 2021-08-31 DOI: 10.21460/aradha.2021.12.701
Susanna Erika Sintauli
{"title":"Mendidik Generasi Z Gereja: Peran Media Sosial di Tengah Bahaya Always-On Attention Deficit Disorder","authors":"Susanna Erika Sintauli","doi":"10.21460/aradha.2021.12.701","DOIUrl":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.12.701","url":null,"abstract":"AbstractGeneration Z, presumbably has a very big influence in the world, and also lives in the use of internet. Churches are facing opposite and side by side with this generation need to do shifting-ups with the use of the internet in Christian education, one of which is through social media. However, it cannot be denied that social media also has an impact that needs to be examined, one of which is the danger of Always-On Attenton Deficit Disorder. Information and relations can instantly be transformed into distractions. Therefore, incarnational Christian education can be an important thing to pay attenton to. The incarnational educator will not refuse to enter into the world that Generation Z lives in, but rather create and seek opportunities for face-toface connections but also pay attenton to virtual meeting. Incarnational educators will entersocial media, but do not fall into the dangers of distraction, but rather influence the exemplary life of Jesus who embraces those who are forgo􀆩 en. This is done by presenting relevant faith formation to generation Z. Some important things become guide for educators summarized in several terms, namely Double Content, Share and Comment and Log in-Log out. \u0000AbstrakGenerasi Z yang terbilang memiliki pengaruh sangat besar di dunia, dan juga hidup dalam penggunaan internet. Gereja yang hadir berhadapan dan berdampingan dengan generasi ini perlu melakukan shift ing-up dalam hal penggunaan internet khususnya di bidang pendidikan Kristen, salah satunya adalah melalui media sosial. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial pun memberi dampak yang perlu diwaspadai, salah satunya adalah bahaya Always-On Attention Deficit Disorder. Informasi dan relasi dapat sekejap bertransformasi menjadi distraksi. Maka dari itu, pendidikan Kristen yang inkarnasional dapat menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Pendidik yang inkarnasional tidak akan menolak masuk ke dalam dunia yang generasi Z hidupi, melainkan mencipta dan mencari kesempatan untuk koneksi tatap muka namun juga memperhatikan perjumpaan virtual. Pendidik yang inkarnasional akan masuk ke media sosial, namun tidak terjerembab ke dalam bahaya distraksi, melainkan memberikan pengaruh teladan hidup Yesus yang merangkul mereka yang terlupakan. Hal ini dilakukan salah satunya dengan menghadirkan pembentukan iman yang relevan kepada generasi Z. Beberapa hal penting yang dapat menjadi pegangan pendidik terangkum dalam beberapa istilah, yakni Double Content, Share and Comment, dan Log in-Log out.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-08-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134207331","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
相关产品
×
本文献相关产品
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书