{"title":"Menelaah Spiritualitas Alkitabiah “Roti Kehidupan” melalui Eksegesa Historis Kritis Yohanes Pasal 6","authors":"Gracia Lina","doi":"10.21460/aradha.2022.21.787","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"AbstractThis paper explores the text of John chapter 6 about the \"bread of life\" from the spiritual perspective. The author uses a critical historical method to examine the spirituality contained in it. The author uses this approach by not only focusing on \"what happened\", but approaching it as \"spirituality\", which is the manifestation of living as believers. The words of Jesus Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Egō eimi ho artos tēs zōēs, literally meaning I am the Bread of Life) are the first of the seven statements of Jesus \"I am…\" (Egō eimi) that appear in the Gospel of John. This statement appears in John chapter 6 which we also know as part of the discourse on the Bread of Life. The word \"I am…\" (Egō eimi) reflects YAHWEH's identity as He introduced Himself to Moses in Exodus 3:14 and Deutero-Isaiah’s prophecy. \"Bread\" (ἄρτος, artos) became a term that could be used widely as a metaphorical, symbolic, and theological expression. While, \"life\" (ζωῆ, zōē) which Jesus meant was life in a holistic, spiritual, and physical sense. By declaring Himself to be the Bread of Life, Jesus said that He is the One who gives a whole, full, and abundant life, both in this world and in eternity to those who believe in Him. And that can only happen through His obedience to the Father's will, which is His sacrifice on the cross. In other words, it is His broken-down self that gives life. This is the spirituality of the bread of life that Jesus lived. So for us, who are people who have met Christ personally, the spirituality of the bread of life is a way of living self-sacrifice like Jesus Christ, becoming more like Christ every day, sacrificing ourselves, suppressing ego and our self-interest, prioritizing the importance of others, and committing to the goodness of all, for the blossoming of life in this world, now and here, and also in the future in eternity. \nAbstrakTulisan ini menyelami teks Yohanes pasal 6 perihal “roti kehidupan” dari sisi spiritualitasnya. Penulis menggunakan metode historis kritis untuk menelaah spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Penulis menggunakan pendekatan ini dengan tidak hanya berfokus pada “apa yang terjadi”, tetapi mendekatinya sebagai “spiritualitas”, yaitu perwujudan hidup beriman. Perkataan Yesus Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Egō eimi ho artos tēs zōēs, secara harafiah berarti Akulah Roti Hidup; atau Roti Kehidupan) adalah pernyataan Yesus yang pertama dari tujuh pernyataan “Akulah…” (Egō eimi) yang muncul dalam Injil Yohanes. Pernyataan ini muncul dalam Yohanes pasal 6 yang juga kita kenal sebagai bagian Diskurus Roti Kehidupan. Kata “Akulah…” (Egō eimi) merefleksikan identitas YAHWEH sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3: 14 dan nubuatan Deutero-Yesaya. “Roti” (ἄρτος, artos) menjadi istilah yang dapat digunakan secara luas sebagai ungkapan metaforis, simbolis, dan teologis. Sedangkan “kehidupan” (ζωῆ, zōē) yang dimaksudkan Yesus merupakan hidup dalam arti holistik, spiritual sekaligus fisik. Dengan menyatakan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan, Yesus berkata bahwa Ialah yang memberikan hidup yang utuh, penuh, dan limpah, baik di dunia ini, maupun di dalam kekekalan kelak kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Dan itu hanya bisa terjadi melalui ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa, yaitu pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan kata lain, diri-Nya yang terpecah itulah yang memberi hidup. Inilah spiritualitas roti kehidupan yang dihidupi Yesus. Maka bagi kita, yaitu orang-orang yang telah berjumpa dengan Kristus secara pribadi, spiritualitas roti kehidupan adalah way of life pengorbanan diri seperti Yesus Kristus, semakin serupa Kristus setiap hari, berkorban diri, menekan ego dan kepentingan diri sendiri, mengutamakan kepentingan sesama, dan berkomitmen untuk kebaikan bersama, demi berseminya kehidupan di dunia, sekarang dan di sini, dan juga kelak dalam kekekalan.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"192 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-04-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.21460/aradha.2022.21.787","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
AbstractThis paper explores the text of John chapter 6 about the "bread of life" from the spiritual perspective. The author uses a critical historical method to examine the spirituality contained in it. The author uses this approach by not only focusing on "what happened", but approaching it as "spirituality", which is the manifestation of living as believers. The words of Jesus Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Egō eimi ho artos tēs zōēs, literally meaning I am the Bread of Life) are the first of the seven statements of Jesus "I am…" (Egō eimi) that appear in the Gospel of John. This statement appears in John chapter 6 which we also know as part of the discourse on the Bread of Life. The word "I am…" (Egō eimi) reflects YAHWEH's identity as He introduced Himself to Moses in Exodus 3:14 and Deutero-Isaiah’s prophecy. "Bread" (ἄρτος, artos) became a term that could be used widely as a metaphorical, symbolic, and theological expression. While, "life" (ζωῆ, zōē) which Jesus meant was life in a holistic, spiritual, and physical sense. By declaring Himself to be the Bread of Life, Jesus said that He is the One who gives a whole, full, and abundant life, both in this world and in eternity to those who believe in Him. And that can only happen through His obedience to the Father's will, which is His sacrifice on the cross. In other words, it is His broken-down self that gives life. This is the spirituality of the bread of life that Jesus lived. So for us, who are people who have met Christ personally, the spirituality of the bread of life is a way of living self-sacrifice like Jesus Christ, becoming more like Christ every day, sacrificing ourselves, suppressing ego and our self-interest, prioritizing the importance of others, and committing to the goodness of all, for the blossoming of life in this world, now and here, and also in the future in eternity.
AbstrakTulisan ini menyelami teks Yohanes pasal 6 perihal “roti kehidupan” dari sisi spiritualitasnya. Penulis menggunakan metode historis kritis untuk menelaah spiritualitas yang terkandung di dalamnya. Penulis menggunakan pendekatan ini dengan tidak hanya berfokus pada “apa yang terjadi”, tetapi mendekatinya sebagai “spiritualitas”, yaitu perwujudan hidup beriman. Perkataan Yesus Ἐγώ εἰμι ὁ ἄρτος τῆς ζωῆς (Egō eimi ho artos tēs zōēs, secara harafiah berarti Akulah Roti Hidup; atau Roti Kehidupan) adalah pernyataan Yesus yang pertama dari tujuh pernyataan “Akulah…” (Egō eimi) yang muncul dalam Injil Yohanes. Pernyataan ini muncul dalam Yohanes pasal 6 yang juga kita kenal sebagai bagian Diskurus Roti Kehidupan. Kata “Akulah…” (Egō eimi) merefleksikan identitas YAHWEH sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3: 14 dan nubuatan Deutero-Yesaya. “Roti” (ἄρτος, artos) menjadi istilah yang dapat digunakan secara luas sebagai ungkapan metaforis, simbolis, dan teologis. Sedangkan “kehidupan” (ζωῆ, zōē) yang dimaksudkan Yesus merupakan hidup dalam arti holistik, spiritual sekaligus fisik. Dengan menyatakan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan, Yesus berkata bahwa Ialah yang memberikan hidup yang utuh, penuh, dan limpah, baik di dunia ini, maupun di dalam kekekalan kelak kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Dan itu hanya bisa terjadi melalui ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa, yaitu pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan kata lain, diri-Nya yang terpecah itulah yang memberi hidup. Inilah spiritualitas roti kehidupan yang dihidupi Yesus. Maka bagi kita, yaitu orang-orang yang telah berjumpa dengan Kristus secara pribadi, spiritualitas roti kehidupan adalah way of life pengorbanan diri seperti Yesus Kristus, semakin serupa Kristus setiap hari, berkorban diri, menekan ego dan kepentingan diri sendiri, mengutamakan kepentingan sesama, dan berkomitmen untuk kebaikan bersama, demi berseminya kehidupan di dunia, sekarang dan di sini, dan juga kelak dalam kekekalan.
【摘要】本文从属灵的角度探讨约翰福音第六章关于“生命的粮”的经文。作者用一种批判的历史方法来审视其中蕴含的灵性。作者使用这种方法,不仅关注“发生了什么”,而是将其视为“灵性”,这是作为信徒生活的表现。耶稣的这句话Ἐγώ ε ι μι ό ρτος τ τ ς ζω ος (tēs zōēs,字面意思是“我是生命的粮”)是耶稣在《约翰福音》中出现的七句“我是……”中的第一句话。这句话出现在约翰福音第6章,我们也知道这是关于生命之粮的一部分。“我是……”这个词反映了耶和华的身份,因为他在出埃及记3:14和申命记-以赛亚的预言中向摩西介绍了自己。“面包”(ρτος, artos)成为一个可以广泛用作隐喻、象征和神学表达的术语。而耶稣所指的“生命”(ζω ω, zōē)是指整体的、属灵的和肉体的生命。通过宣称自己是生命的粮,耶稣说他是给那些相信他的人在今世和永恒中一个完整的,充分的,丰富的生命的人。而这一切只有通过他对天父旨意的顺服才能实现,也就是他在十字架上的牺牲。换句话说,是他破碎的自我赐予了生命。这就是耶稣所经历的生命之粮的灵性。所以对于我们这些与基督亲自相遇的人来说,生命之粮的灵性是一种像耶稣基督那样自我牺牲的生活方式,每天都变得更像基督,牺牲自己,抑制自我和自我利益,优先考虑他人的重要性,并致力于所有人的善良,为了这个世界上生命的绽放,现在和这里,以及未来和永恒。【摘要】图里桑·尼·门耶拉米认为尤哈内斯的《灵魂》是一种“灵魂”。孟古纳坎的方法,历史批判的方法,心灵批判的方法,心灵批判的方法。Penulis menggunakan pendekatan ini dengan tidak hanya berfocus pada“apa yang terjadi”,tetapi mendekatinya sebagai“spiritualitas”,yitu perwujudan hidup beriman。Perkataan YesusἘγώ ε ι μι ς ρτος τ τ ς ζω ος (egogimi ho artos tēs zōēs, secara harafiah berarti Akulah Roti Hidup;atau Roti Kehidupan) adalah pernyataan Yesus yang pertama dari tujuh pernyataan“Akulah…”(egki eimi) yang muncul dalam Injil Yohanes。Pernyataan ini muncul dalam Yohanes pasal 6 yang juga kita kenal sebagai bagian Diskurus Roti Kehidupan。Kata " Akulah…" (egki eimi) merefleksikan identitas YAHWEH sebagaimana Ia memperkenalkan diri-Nya kepada Musa dalam Keluaran 3:14 dan nubuatan Deutero-Yesaya。“Roti”(ρ ρ ος, artos) menjadi istilah yang dapat digunakan secara luas sebagai ungkapan metmetforis,符号,和地质学。Sedangkan " kehidupan " (ζω ω, zōē) yang dimaksudkan Yesus merupakan hidup dalam arti holistic,精神上的sekaligus fisik。Dengan menyatakan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan, Yesus berkata bahwa Ialah yang成员hidup yang utuh, penuh, dan limpah, baik di dunia ini, maupun di dalam kekekalan kelak kepada mereka yang peraya kepada- nya。丹图汉尼亚bisa terjadi melalui ketaatan-Nya kepada kehendak Bapa, yitu pengorbanan-Nya di kayu salib。登干卡塔兰,迪尼亚阳,特佩卡,伊图拉阳,成员hidi up。以尼拉灵性,罗提,克希杜潘,扬,迪希杜比,耶苏。Maka bagi kita, yitu orangang yang telah berjumpa dansus secara pribadi, spiritualitas roti kehidupan adalah生活方式pengorbanan diri seperti Yesus krisstus, semakin serupa Kristus setiap hari, berkorban diri, menekan ego dan kepentingan diri sendiri, mengutamakan kepentingan sesama, dan berkomitmen untuk kebaikan bersama, demi bersemya kehidupan di dunia, sekarang dan di sini, dan juga kelak dalam kekekalan。