{"title":"Larangan Intermarriage dalam Nehemia 13: 23-27: Suatu Upaya Hermeneutis Post-Modern melalui Pendekatan Sosial-Antropologis","authors":"Dina Maria Nainggolan","doi":"10.21460/aradha.2021.13.704","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"AbstractThis article is a post-modern hermeneutic study of Nehemiah 13: 23-27 with a socio anthropologicalapproach. This text talks about the prohibition of intermarriage between the Jewish community and foreign nations in the post-exilic era. This prohibition still alive now, not only in the Jewish community but also in other Abrahamic religions. Liquidity of cultural and religious identities today does not mean denying those people who still keep their tradition, culture, and group identities. The latest socio-anthropological and archeologicalstudies of the Bible show the text as Nehemiah and text editor effort to bequeath cultural memories to build the purity of Jewish identity. With intertextual studies, I will show that Old Testament Books is not ‘one voice’ about intermarriages. This ambiguity challenges us to rethink the prohibition on intermarriage without discrimination and segregation to the Other. \nAbstrak Artikel ini adalah upaya hermeneu s post-modern terhadap teks Nehemia 13:23-27 dengan pendekatan sosio-antropologis. Teks ini berbicara tentang larangan kawin campur (intermarriage) antara komunitas Yahudi pasca-pembuangan dengan bangsa-bangsa asing. Larangan ini nyatanya masih terjadi hingga saat ini, bukan hanya di tengah-tengah komunitas Yahudi masa kini, namun juga agama-agama Abrahamik lainnya. Cairnyaidentitas budaya dan agama saat ini tidak berarti menafikan mereka yang masih memegang teguh tradisi, budaya dan pelestarian identitas kelompoknya. Studi sosio-antropologis dan arkeologi Alkitab terbaru memperlihatkan teks sebagai upaya Nehemia maupun redaktur teks mewariskan ingatan budaya dalam rangka membangun kemurnian identitas bangsa Yahudi pasca-pembuangan. Penulis juga memanfaatkan studi intertekstual dalam rangka memperlihatkan bahwa kitab Perjanjian Pertama (PP) tidak unisono dalam memperlihatkan larangan intermarriage. Ambiguitas ini menjadi tantangan bagi kita untuk memikirkan ulanglarangan intermarriage tanpa diskriminasi dan segregasi terhadap mereka yang berbeda.","PeriodicalId":382585,"journal":{"name":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Aradha: Journal of Divinity, Peace and Conflict Studies","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.21460/aradha.2021.13.704","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
AbstractThis article is a post-modern hermeneutic study of Nehemiah 13: 23-27 with a socio anthropologicalapproach. This text talks about the prohibition of intermarriage between the Jewish community and foreign nations in the post-exilic era. This prohibition still alive now, not only in the Jewish community but also in other Abrahamic religions. Liquidity of cultural and religious identities today does not mean denying those people who still keep their tradition, culture, and group identities. The latest socio-anthropological and archeologicalstudies of the Bible show the text as Nehemiah and text editor effort to bequeath cultural memories to build the purity of Jewish identity. With intertextual studies, I will show that Old Testament Books is not ‘one voice’ about intermarriages. This ambiguity challenges us to rethink the prohibition on intermarriage without discrimination and segregation to the Other.
Abstrak Artikel ini adalah upaya hermeneu s post-modern terhadap teks Nehemia 13:23-27 dengan pendekatan sosio-antropologis. Teks ini berbicara tentang larangan kawin campur (intermarriage) antara komunitas Yahudi pasca-pembuangan dengan bangsa-bangsa asing. Larangan ini nyatanya masih terjadi hingga saat ini, bukan hanya di tengah-tengah komunitas Yahudi masa kini, namun juga agama-agama Abrahamik lainnya. Cairnyaidentitas budaya dan agama saat ini tidak berarti menafikan mereka yang masih memegang teguh tradisi, budaya dan pelestarian identitas kelompoknya. Studi sosio-antropologis dan arkeologi Alkitab terbaru memperlihatkan teks sebagai upaya Nehemia maupun redaktur teks mewariskan ingatan budaya dalam rangka membangun kemurnian identitas bangsa Yahudi pasca-pembuangan. Penulis juga memanfaatkan studi intertekstual dalam rangka memperlihatkan bahwa kitab Perjanjian Pertama (PP) tidak unisono dalam memperlihatkan larangan intermarriage. Ambiguitas ini menjadi tantangan bagi kita untuk memikirkan ulanglarangan intermarriage tanpa diskriminasi dan segregasi terhadap mereka yang berbeda.
摘要本文从社会人类学的角度对《尼希米记》13:23 -27进行了后现代解释学研究。这篇文章讨论了后流放时代犹太社区和外国之间的通婚禁令。这条禁令现在仍然存在,不仅在犹太社区,而且在其他亚伯拉罕宗教中。今天文化和宗教身份的流动性并不意味着否定那些仍然保留其传统、文化和群体身份的人。最近对圣经的社会人类学和考古学研究表明,尼希米和文本编辑努力传承文化记忆,以建立犹太人身份的纯洁性。通过互文研究,我将证明旧约圣经并不是关于通婚的“一个声音”。这种模糊性要求我们重新考虑禁止对他者不加歧视和隔离的异族通婚。[摘要][文章]论现代社会的发展与社会人类学。[尼希米记13:23-27]Teks ini berbicara tentang larangan kawin campur(异族通婚)antara komunitas Yahudi pasca-pembuangan dengan bangsa-bangsa asing。我的名字叫“我的名字”,我的名字叫“我的名字”,我的名字叫“我的名字”。缅甸总统说:“我是巴勒斯坦人,我是巴勒斯坦人,我是巴勒斯坦人。”研究社会人类学家和市场考古学家Alkitab terbaru成员lihatkan teks sebagai upaya Nehemia maupun reaktur teks mewariskan ingatan budaya dalam rangka成员bangunan kemurnian identitas bangsa Yahudi pasca-pembuangan。Penulis juga memanfaatkan study intertesual dalam rangka memperlihatkan bahwa kitab Perjanjian Pertama (PP) tidak unisono dalam memperlihatkan larangan通婚。异族通婚,异族通婚,异族通婚,异族通婚,异族通婚。