El Azhari, Muhamad Subroto Aliredjo, Niken Dharmayanti, Agus Heri Purnomo
{"title":"Sterilisasi produk siap saji: Cakalang (Katsuwonus pelamis Linnaeus 1778) dalam Kemasan Retort Pouch","authors":"El Azhari, Muhamad Subroto Aliredjo, Niken Dharmayanti, Agus Heri Purnomo","doi":"10.17844/jphpi.v26i1.41863","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i1.41863","url":null,"abstract":"Salah satu hal penting dalam menyediakan suatu produk yaitu masa simpan produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kebutuhan waktu proses sterilisasi dengan memperhatikan kerusakan mutu bahan makanan akibat pemanasan dan mempertahankan keberterimaan produk oleh konsumen. Pendekatan metodologis dari penelitian ini adalah proses sterilisasi dengan percobaan pengaturan tekanan retort dan bahan yang digunakan: (A) tekanan 1,8 bar dengan 100% cakalang; (B) tekanan 1,2 bar dengan 90% cakalang; (C) tekanan 1,2 bar dengan 70% cakalang; (D) tekanan 1,8 bar dengan 50% cakalang. Suhu maksimum yang digunakan pada alat yaitu 121,1oC. Bahan tambahan yang digunakan yaitu kentang dan bumbu balado. Analisis ini mencakup dua komponen: penentuan pada kecukupan proses sterilisasi pada angka Lethal rate sebesar 3,5 dan pengamatan pada penurunan kualitas berdasarkan perubahan organoleptik dan Total Plate Count (TPC) setelah produk dikeluarkan dari kemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecukupan proses sterilisasi (suhu dan waktu proses sterilisasi yang aktual) pada sampel A suhu 121,5oC selama 4,8 menit, sampel B suhu 114,5oC selama 4,8 menit, sampel C suhu 115,4oC selama 5,31 menit dan sampel D suhu 124oC selama 13,4 menit. Hasil pengukuran kebutuhan untuk proses sterilisasi bahwa sampel A memiliki kriteria terbaik selain mencapai suhu sentral 121,1oC dan juga waktu yang dibutuhkan tidak terlalu lama. Analisis lebih lanjut dengan mengukur organoleptik setelah proses sterilisasi dengan hasil sampel A memiliki tingkat preferensi tertinggi yaitu 8,2. Pada produk terbaik analisis TPC dilakukan pada produk yang tidak dikemas dengan waktu penyimpanan yang berbeda (3, 9, dan 12) jam, hasilnya 2x102, 2x102, dan 3x103 menunjukkan bahwa penyimpanan produk selama 12 jam masih memenuhi standar SNI untuk jumlah produk perikanan yaitu 5x105","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45201078","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Efektivitas penambahan daun katuk (Sauropus androgynus) terhadap otak-otak ikan bandeng (Chanos chanos)","authors":"Petrus Senas","doi":"10.17844/jphpi.v26i1.46129","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i1.46129","url":null,"abstract":"Ikan bandeng merupakan salah satu komoditas hasil perikanan Indonesia yang bernilai ekonomis tinggi. Diversifikasi olahan ikan bandeng dapat diaplikasikan salah satunya dalam bentuk produk otak-otak ikan. Otak-otak ikan bandeng dapat ditingkatkan nilai gizinya melalui penambahan bahan alami kaya manfaat yaitu daun katuk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan efektivitas penambahan daun katuk pada otak-otak ikan bandeng melalui karakteristik kimia, tingkat kesukaan (hedonik), dan indeks efektivitas. Otak-otak ikan bandeng yang dihasilkan dibagi menjadi empat perlakuan meliputi tanpa penambahan daun katuk, penambahan daun katuk 25 g, 40 g, dan 55 g. Pengujian produk meliputi analisis proksimat, kadar vitamin C, uji hedonik, dan perhitungan nilai indeks efektivitas. Data dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan uji lanjut Beda Nyata Jujur (BNJ). Hasil penelitian menunjukkan penambahan daun katuk dapat meningkatkan kadar abu, lemak, dan vitamin C produk otak-otak yang dihasilkan. Otak-otak ikan bandeng dengan penambahan daun katuk 55 g merupakan perlakuan dengan nilai indeks efektivitas tertinggi (1,05) dengan karakteristik kimia meliputi kadar air 65,45%, abu 1,28%, lemak 0,70%, protein 9,14%, karbohidrat 23,42%, dan vitamin C 27,01%. Tingkat kesukaan meliputi nilai rasa 6,00, warna 6,00, aroma 6,00, tekstur 5,33, dan overall 5,83 dari skala 7. Penambahan daun katuk pada pengolahan otak-otak ikan bandeng berpotensi dapat meningkatkan nilai gizi produk (kadar abu, lemak dan vitamin C) serta produk yang dihasilkan agak disukai panelis.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-12","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41344877","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Karakteristik pepton dari limbah jeroan ikan sidat (Anguilla bicolor) sebagai nutrien untuk pertumbuhan bakteri","authors":"Tati Nurhayati, R. H. Wirayudha, Pipih Suptijah","doi":"10.17844/jphpi.v26i1.43326","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i1.43326","url":null,"abstract":"Limbah jeroan ikan sidat (Anguilla bicolor) dari hasil samping produksi umumnya tidak dimanfaatkan dengan baik. Pemanfaatan limbah jeroan ikan sidat perlu dilakukan karena proteinnya cukup tinggi, sehingga memiliki potensi untuk dimanfaatkan menjadi salah satu produk yang memiliki nilai ekonomis tinggi yaitu pepton ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi hidrolisis optimum hidrolisat jeroan ikan sidat menggunakan enzim papain, menentukan karakteristik kimia pepton jeroan ikan sidat serta mengaplikasikan pepton jeroan ikan sidat sebagai medium pertumbuhan bakteri untuk dibandingkan dengan pepton komersial. Pepton dibuat dengan proses hidrolisis menggunakan enzim papain dengan waktu 5 jam dan suhu 60oC. Konsentrasi optimum didapat pada penggunaan enzim papain 1.000 U/mg/g. Pepton jeroan ikan sidat mengandung protein 82,1 % dan lemak 0,93%. Pepton jeroan ikan sidat memiliki kelarutan 99,9%; total nitrogen 13,12%; kadar garam 0,15%; dan pH 6. Pepton jeroan ikan sidat dapat digunakan sebagai nutrien pada media pertumbuhan bakteri Escherichia coli dengan nilai optical density (OD) yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pepton komersial bactopeptone, namun lebih rendah nilai pertumbuhannya jika digunakan pada media pertumbuhan untuk bakteri Staphylococcus aureus.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44527626","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Adenia Cahyatie Aprillia, S. H. Suseno, Bustami Ibrahim
{"title":"Peningkatan volume pemurnian minyak ikan tuna (Thunnus sp.) dari hasil samping pengalengan","authors":"Adenia Cahyatie Aprillia, S. H. Suseno, Bustami Ibrahim","doi":"10.17844/jphpi.v26i1.43786","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i1.43786","url":null,"abstract":"Industri pengalengan ikan menghasilkan produk samping berupa minyak ikan yang mengandung bahan non minyak dengan mutu rendah di bawah standar IFOS (International Fish Oil Standard), sehingga perlu dilakukan pemurnian dengan netralisasi dan bleaching menggunakan sentrifugasi untuk mendapatkan minyak ikan yang sesuai dengan kebutuhan pangan. Hasil penelitian terdahulu umumnya terbatas pada skala yang kecil, kuantitas, dan kualitas minyak tuna yang dihasilkan bervariasi, sehingga penerapannya di lapangan pada Usaha Kecil Menengah (UKM) tidak dapat langsung diadopsi. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh proses pemurnian minyak ikan tuna yang sesuai dengan standar IFOS. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen rancangan acak lengkap (RAL) dengan taraf perlakuan volume pemurnian (5; 7,5; 10)L menggunakan sentrifugasi dengan kecepatan 10.000 rpm selama 10 menit. Analisis pengujian yang dilakukan meliputi kadar asam lemak bebas (FFA), nilai peroksida (PV), nilai p-anisidin (p-Anv), total oksidasi (totoks), nilai kejernihan, nilai rendemen, kandungan logam berat, dan profil asam lemak. Total asam lemak jenuh (SFA) pada minyak ikan tuna kasar sebesar 22,46%. Asam lemak tak jenuh tunggal (MUFA) yaitu 25,38%, sedangkan asam lemak tak jenuh majemuk (PUFA) yaitu 25,01%. PUFA didominasi oleh DHA yaitu 15,57%, sementara kandungan asam lemak EPA yaitu 3,15%. Perlakuan terbaik didapatkan pada perlakuan volume pemurnian 10 L dengan parameter oksidasi yakni asam lemak bebas (FFA) 0,36±0,05%, bilangan peroksida (PV) 6,87±0,09 mEq/kg, bilangan p-anisidin (p-AnV) 6,28±0,1 mEq/kg; nilai total oksidasi (totoks) 20±0,29 mEq/kg, parameter fisika yakni kejernihan 91,88±0,04%, dengan nilai rendemen yakni 87±1,70%.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42332490","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analisis mutu ikan kurisi dan swanggi hasil tangkapan nelayan di tempat pelelangan ikan Mayangan, Probollinggo","authors":"Sari Mustika Wati, Hafiludin","doi":"10.17844/jphpi.v26i1.42366","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i1.42366","url":null,"abstract":"Ikan kurisi dan swanggi merupakan ikan dengan hasil tangkapan melimpah dan diminati oleh masyarakat karena nutrisinya. Ikan cepat mengalami penurunan mutu yang disebabkan penanganan yang kurang baik. Mutu ikan akan berpengaruh pada penerimaan konsumen dan harga jualnya. Mutu ikan kurisi dan swanggi di tempat pelelangan ikan (TPI) Mayangan Probolinggo belum dilaporkan. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis karakteristik mutu ikan kurisi dan swanggi berdasarkan pengujian organoleptik, TVBN, nilai proksimat, dan angka lempeng total (ALT). Penelitian ini dilakukan dengan tahapan observasi, wawancara, pengambilan dan preparasi sampel, serta analisis karakteristik mutu. Teknik penanganan ikan kurisi dan swanggi di TPI Mayangan meliputi pembongkaran, penyortiran, pengangkutan, penimbangan, dan penjualan. Nilai organoleptik ikan kurisi dan swanggi pada beberapa indikator kenampakan mata, insang, lendir permukaan badan, daging, bau, dan tekstur masih sesuai dengan SNI. Kadar TVBN ikan kurisi sebesar 17,47±1,25 mg/100 g dan ikan swanggi sebesar 25,04±0,65 mg/100 g. Kadar proksimat berupa kadar air ikan kurisi dan swanggi berturut-turut sebesar 79,41±0,76% dan 79,17±0,88%. Kadar abu ikan kurisi sebesar 2,53±0,24% dan swanggi sebesar 1,34±0,24%. Kadar lemak ikan kurisi sebesar 1,50±0,40% dan swanggi sebesar 1,17±0,39%, Kadar protein kurisi sebesar 16,47±0,92% dan swanggi sebesar 18,50±1,17%. Pengujian mikrobiologi menggunakan ALT mendapatkan hasil sebesar 3,1x105 CFU/g pada ikan kurisi dan 3,4 x105 CFU/g pada ikan swanggi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ikan kurisi dan swanggi yang didaratkan di TPI Mayangan, memiliki kualitas mutu yang baik dan layak dikonsumsi.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49660447","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Degradasi hidrotermal Kappaphycus alvarezii: Karakter hidrolisat dan kapabilitas sebagai prebiotik","authors":"M. Mutmainnah, Desniar Desniar, Joko Santoso","doi":"10.17844/jphpi.v26i1.43568","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i1.43568","url":null,"abstract":"Rumput laut Kappaphycus alvarezii sebagai sumber polisakarida memiliki kemampuan sebagai prebiotik. Penelitian bertujuan menentukan pengaruh suhu dan waktu pemanasan terhadap hidrolisat, serta mengkaji pengaruh penambahan hidrolisat dan lama fermentasi terhadap karakteristik produk sinbiotik rumput laut berbasis fermentasi. Penelitian ini terdiri dari dua tahap yaitu proses hidrolisis secara konvensional pada suhu 80, 90, dan 100°C selama 1, 2, dan 3 jam; fermentasi susu dengan penambahan hidrolisat 0 dan 0,2% selama 24 jam menggunakan starter Lactobacillus plantarum IFO 3074. Proses hidrolisis menggunakan rancangan acak lengkap faktorial dengan analisis sidik ragam dilanjutkan uji Tukey, sementara fermentasi menggunakan uji T. Proses hidrolisis menghasilkan perlakuan terbaik pada pemanasan suhu 100°C selama 3 jam dengan jumlah gula pereduksi sebagai indikator hidrolisis tertinggi yaitu 0,31 g/100 mL. Pada tahapan fermentasi dengan penambahan hidrolisat terpilih, diperoleh hasil fermentasi dengan karakteristik mikrobiologi (jumlah koloni) dan kimiawi (total asam tertitrasi, pH, dan gula pereduksi) yang umumnya berbeda secara signifikan antara perlakuan tanpa dan dengan penambahan hidrolisat yang nilainya secara berturut-turut adalah 9,40 log cfu/mL; 0,28%; 4,63 dan 66,78 g/100 mL. Adanya peningkatan karakteristik dari hasil fermentasi dengan penambahan hidrolisat membuktikan bahwa proses hidrolisis dapat mendegradasi rumput laut menjadi molekul sederhana (prebiotik) yang dapat dimanfaatkan oleh bakteri probiotik, sehingga berpeluang dikembangkan sebagai pangan fungsional berbasis sinbiotik dengan biaya produksi rendah.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-04-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47594639","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Karakteristik Kolagen dari Kulit dan Sisik Ikan Coklatan, Swanggi, dan Kurisi sebagai Bahan Gelatin","authors":"W. Widiyanto, Uju Uju, Mala Nurilmala","doi":"10.17844/jphpi.v25i3.43598","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v25i3.43598","url":null,"abstract":"Hasil samping industri filet ikan coklatan, swanggi dan kurisi berupa kulit, yang hanya dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak meskipun dapat dimanfaatkan sebagai sumber kolagen dan gelatin. Kandungan hidroksiprolina pembentuk kolagen beserta sifat protein kolagen belum tersedia informasinya, sehingga dilakukan penelitian. Penelitian bertujuan menentukan jenis kulit terpilih sebagai bahan gelatin dengan memperhatikan karakteristik kulit, sisik, dan kulit bersisik ikan coklatan, swanggi, kurisi, dan kandungan hidoksiprolina sebagai penciri kolagen. Rancangan percobaan yang digunakan pada tahap deproteinasi adalah menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) tiga faktor di mana faktor pertama yaitu jenis ikan terdiri atas tiga taraf (ikan coklatan, swanggi, dan kurisi), faktor kedua yaitu waktu perendaman NaOH 12 taraf (2; 4; 6; 8; 10; 12; 14; 16; 18; 20; 22; 24) jam, faktor ketiga jenis kulit tiga taraf (kulit, sisik, kulit bersisik). Data dianalisis secara statistik dengan ANOVA dan uji lanjut Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu optimasi deproteinasi perendaman NaOH dimulai dari 14-20 jam tergantung jenis ikan dan bahan baku, efektif mengeliminasi protein non kolagen. Luas jaringan kolagen pengamatan histologi adalah ±95,136,16 µm² tertinggi pada jenis kulit bersisik ikan swanggi berasosiasi dengan kandungan protein tertinggi pada kulit bersisik swanggi sebesar 21,20 % (basis basah) 56,17 % (basis kering). Jenis kulit memiliki berat molekul dalam kisaran 10 sampai 105 kDa mempunyai kandungan protein yang merupakan protein sarkoplasma, miofibril, dan jaringan ikat yang mengandung kolagen, sehingga dapat digunakan sebagai penghasil gelatin. Kulit bersisik ikan swanggi memiliki kandungan hidroksiprolina tertinggi daripada jenis kulit lainnya yaitu 0,0888 g/µL sehingga dapat ditentukan sebagai jenis kulit terpilih.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42335451","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Sumardianto Sumardianto, Muhammad Qowiyyul Azizi, Lukita Purnamayati
{"title":"Karakteristik Terasi Udang Rebon (Acetes sp.) dengan Penambahan Pewarna Alami Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L.) yang Berbeda","authors":"Sumardianto Sumardianto, Muhammad Qowiyyul Azizi, Lukita Purnamayati","doi":"10.17844/jphpi.v25i3.43432","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v25i3.43432","url":null,"abstract":"Terasi adalah hasil fermentasi udang atau ikan dengan penambahan garam dan bahan tambahan lainnya. Penggunaan pewarna sintetis pada terasi masih sering dilakukan namun berbahaya karena dapat memberikan efek buruk bagi kesehatan. Maka dari itu, diperlukan pewarna alami dalam pembuatan terasi. Salah satu pewarna alami yang digunakan adalah ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.) Ubi jalar mengandung zat warna antosianin yang dapat memberikan warna ungu dan merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pewarna alami ubi jalar ungu terhadap karakteristik terasi udang rebon. Penelitian ini bersifat experimental laboratories dengan model Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data parametrik dianalisis dengan uji sidik ragam (ANOVA) dan Beda Nyata Jujur (BNJ) sedangkan data non parametrik dianalisis dengan Kruskal Wallis dan Mann Whitney. Penelitian dilakukan dengan menambahkan ekstrak ubi jalar ungu pada pembuatan terasi dengan konsentrasi 0%, 10%, 20% dan 30%. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa nilai kadar air terasi udang berkisar antara 23,38-38,71%, kadar garam 11,53-14,85% dan pH terasi udang 7,35-7,80%. Terasi dengan penambahan konsentrasi pewarna ubi jalar ungu 30% menghasilkan karakteristik terasi terbaik dalam penelitian ini karena memiliki nilai warna antosianin tertinggi dan memperbaiki kenampakan terasi.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43356115","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Komposisi Kimia dan Aktivitas Kerang Balelo (Conomurex sp.) dalam Menghambat Enzim α-Glukosidase","authors":"Nurhikma Nurhikma, Riviani Riviani, Diah Anggraini Wulandari, Mirsa Mirsa","doi":"10.17844/jphpi.v25i3.39931","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v25i3.39931","url":null,"abstract":"Kerang balelo merupakan salah satu kelas gastropoda yang dimanfaatkan masyarakat pulau Derawan sebagai laut pengganti ikan dan obat tradisional dalam penyembuhan penyakit. Pada beberapa penelitian jenis gastropoda potensial sebagai keperluan nutraceutical maupun pharmaceutical. Tujuan penelitian ini yakni mempelajari karakteristik kimia dan menentukan aktivitas antidiabetes dari kerang balelo segar. Metode penelitian terdiri dari tiga tahapan yakni tahap pertama karakterisasi kimia meliputi uji asam amino, asam lemak, mineral dan logam (kalsium, tembaga, besi, selenium, seng, merkuri), tahap kedua ekstraksi menggunakan tiga jenis pelarut (metanol, etil asetat, n-heksana), tahap ketiga penentuan aktivitas antidiabetes kerang balelo segar. Kandungan asam amino esensial tertinggi kerang balelo terdapat pada leusin yakni 2,70%, dan asam amino non esensial tertinggi yakni asam glutamat sebesar 4,22%, kandungan asam lemak kerang balelo segar yakni 19,20%, kandungan mineral tertinggi yakni iron (Fe) sebesar 90,60 mg/kg. Hasil analisis aktivitas inhibisi α-glukosidase kerang balelo menunjukkan bahwa ekstrak metanol, n-heksana dan etil asetat tidak berpotensi sebagai antidiabetes.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49625298","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Evaluasi Unit Pengolahan Garam Washing Plant dalam Meningkatkan Mutu dan Daya Saing Garam Rakyat","authors":"Achmad Fachruddin Syah, Dwiyitno Dwiyitno, Syayid Jafar Shodiq, Rimbi Lilik Trisetyo Rini, Shanas Thalia Oktava Simatupang","doi":"10.17844/jphpi.v25i3.43022","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v25i3.43022","url":null,"abstract":"Dalam rangka mengurangi ketergantungan pada garam impor, maka diperlukan peningkatan kualitas garam dalam negeri. Salah satu upaya peningkatan kualitas garam yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) adalah menggunakan teknologi washing plant. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi unit pengolahan garam washing plant yang digunakan untuk meningkatkan kualitas garam rakyat di Jawa timur yaitu di Kabupaten Sampang dan Pasuruan. Penelitian dilakukan dengan pendekatan riset evaluasi. Sampel garam sebelum dan setelah melewati washing plant dianalisis mutunya yang meliputi kadar NaCl, kadar air, komponen tak larut, kandungan mineral pengotor (Ca dan Mg), dan logam berat (Fe). Hasil penelitian menunjukkan kualitas garam rakyat sebelum mengalami proses pencucian belum memenuhi syarat sebagai garam konsumsi (SNI 4435-2017), namun setelah melewati washing plant kandungan NaCl mengalami peningkatan dari 93% menjadi 95% – 96%. Di sisi yang lain, mineral pengotor (Ca dan Mg), dan logam berat (Fe) mengalami penurunan yaitu untuk Ca dari 877 - 1799 ppm menjadi 399 - 1101 ppm; Mg dari 2462 - 8064 ppm menjadi 793 - 992 ppm; dan Fe dari 23 - 43 menjadi 8 - 11 ppm. Secara umum hasil uji paired t test menunjukkan adanya perbedaan mutu garam yang cukup signifikan antara sebelum dan sesudah proses pencucian. Hasil ini menunjukkan bahwa washing plant yang digunakan dapat meningkatkan kualitas garam rakyat.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44672833","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}