A. O. Kaya, Martha L. Wattimena, E. M. Nanlohy, Sherly Lewerissa
{"title":"Proksimat dan profil asam amino kerang bulu (Anadara antiquata) asal Desa Ohoiletman Kabupaten Maluku Tenggara","authors":"A. O. Kaya, Martha L. Wattimena, E. M. Nanlohy, Sherly Lewerissa","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.43226","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.43226","url":null,"abstract":"Kerang bulu merupakan salah satu organisme laut yang memiliki nilai gizi tinggi tapi belum dikelola dan dimanfaatkan secara optimal di Kabupaten Maluku Tenggara, Provinsi Maluku. Tujuan penelitian adalah menentukan nilai proksimat, morfometrik, rendemen, dan profil asam amino daging kerang bulu. Pengujian sampel penelitian menggunakan uji proksimat, morfometrik, perhitungan rendemen dan jumlah asam amino menggunakan high performance liquid chromatrografi (HPLC). Nilai proksimat kerang bulu, yaitu kadar air 77,79%; protein 13,08%; lemak 5,33%; abu 1,82%; dan karbohidrat 1,98%. Nilai rata-rata morfometrik kerang, yaitu panjang 5,25 cm; lebar 4,58 cm; tinggi 3,48 cm dan berat 46,81 g dengan rendemen 2,53%. Asam amino berjumlah 18 jenis yang terdiri atas 9 asam amino esensial dan 9 asam amino nonesensial dengan jenis asam amino esensial tertinggi, yaitu lisina 5,03%.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"172 ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-02-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140460946","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Nur Lili Nia Wulan, Nurheni Sri Palupi, Feri Kusnandar, N. Wulandari
{"title":"Pengaruh proses autoklaf dalam pembuatan bubuk udang windu (Penaeus monodon) dan puffing snack hipoalergenik","authors":"Nur Lili Nia Wulan, Nurheni Sri Palupi, Feri Kusnandar, N. Wulandari","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.50620","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.50620","url":null,"abstract":"Udang merupakan hasil perairan yang termasuk jenis krustasea. Kandungan protein alergen, terutama tropomiosin menjadikan udang penyebab alergi pangan utama di antara krustasea. Udang dapat diolah menjadi produk intermediat berupa bubuk udang yang digunakan sebagai bahan tambahan pembuatan olahan siap santap untuk memberikan cita rasa khas udang. Komponen bahan pangan selama pengolahan dapat mengalami modifikasi yang berpotensi menyebabkan perubahan alergenisitas. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi pengaruh perlakuan waktu pemanasan dengan autoklaf terhadap komposisi kimia, protein terlarut, profil bobot molekul protein, pita protein alergen, tingkat alergenisitas, serta mengkaji aplikasi bubuk udang yang dihasilkan pada produk puffing snack hipoalergenik. Proses pembuatan bubuk udang dilakukan dengan pemanasan autoklaf selama 5, 10, 15 menit dan tanpa autoklaf, serta udang mentah sebagai kontrol. Bubuk udang terbaik diaplikasikan pada pembuatan puffing snack hipoalergenik. Pengujian sampel meliputi kadar protein terlarut metode Bradford, analisis bobot molekul elektroforesis SDS-PAGE, analisis pita protein alergen metode immunoblotting dan tingkat alergenisitas menggunakan ELISA-kit Crustacea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi waktu autoklaf berpengaruh terhadap komposisi kimia, protein terlarut, bobot molekul protein, pita alergen, dan kadar alergenisitas bubuk udang yang dihasilkan. Bubuk udang terbaik dengan penurunan alergenisitas optimal adalah bubuk udang dengan waktu autoklaf selama 5 menit dengan kadar alergen, yaitu 7,84 (mg/g protein). Tingkat alergenisitas udang mentah menurun hingga 98% setelah diolah menjadi bubuk udang dengan perlakuan autoklaf. Puffing snack yang ditambahkan bubuk udang dengan perlakuan autoklaf 5 menit mengalami penurunan kadar alergen hingga 99%. Pembuatan bubuk udang dengan pemanasan autoklaf selama 5 menit dan aplikasinya pada puffing snack mampu menurunkan alergenisitasnya.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"13 4","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-02-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140462170","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
I. Irawan, Adlina Ardhanawinata, Uswatun Khasanah, Seftylia Diachanty, Ita Zuraida
{"title":"Karakteristik fisikokimia dan mutu hedonik es krim dengan penambahan bubur rumput laut","authors":"I. Irawan, Adlina Ardhanawinata, Uswatun Khasanah, Seftylia Diachanty, Ita Zuraida","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.48012","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.48012","url":null,"abstract":"Kappaphycus alvarezii telah banyak digunakan dalam berbagai olahan makanan, salah satunya es krim. Aplikasi K. alvarezii pada es krim biasanya dalam bentuk karagenan dan tepung yang berfungsi sebagai pengemulsi dan penstabil. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan karakteristik fisikokimia dan tingkat penerimaan konsumen es krim dengan formulasi penambahan bubur K. alvarezii konsentrasi berbeda. Pembuatan es krim dilakukan dengan penambahan bubur K. alvarezii konsentrasi 0; 3,69; 7,09; 10,27; 13,25; dan 16,03%. Parameter yang diamati meliputi overrun, melting rate, viskositas, total solid, pH, dan hedonik. Uji hedonik dilakukan pada atribut ketampakan, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bubur K. alvarezii dengan konsentrasi berbeda pada es krim memberikan pengaruh nyata (p<0,05) pada parameter overrun, melting rate, viskositas, total solid, dan uji hedonik, namun tidak berbeda nyata pada nilai pH. Karakteristik es krim menunjukkan nilai overrun 45,98–80,89%; melting rate 5,21-8,55 menit; viskositas 42,55-79,00 dpa’s; total solid 46,90-53,53%; dan pH 5,74-5,88. Hasil uji hedonik es krim menunjukkan ketampakan dengan nilai 6,68 (agak suka)-7,55 (sangat suka); aroma 5,90 (agak suka)-7,43 (suka); rasa 6,30 (agak suka)-7,75 (sangat suka); dan tekstur 5,83 (agak suka)-7,68 (sangat suka).","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"137 ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-02-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140462564","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Potensi antioksidan dari teripang berunok (Paracaudina australis)","authors":"Mery Sukmiwati, Rahman Karnila, Dea Arsifah Putri","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.46969","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.46969","url":null,"abstract":"Teripang kaya akan senyawa aktif yang berpotensi sebagai sumber antioksidan. Salah satu jenis teripang yang ditemukan di Indonesia adalah berunok (Paracaudina australis). Faktor yang memengaruhi hasil ekstraksi di antaranya waktu ekstraksi, jenis pelarut, dan jumlah sampel. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan waktu ekstraksi terbaik pada berunok melalui parameter rendemen dan aktivitas penghambatan antioksidan. Ekstraksi berunok dilakukan pada waktu yang berbeda, yaitu 48, 72, dan 96 jam dengan pelarut metanol. Parameter yang dianalisis meliputi identifikasi proporsi berunok, rendemen, uji fitokimia, dan aktivitas antioksidan melalui metode Ferric Reducing Antioxidant Power (FRAP). Analisis data yang digunakan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan waktu ekstraksi berbeda. Hasil penelitian menunjukkan proporsi bagian tubuh berunok yaitu isi perut 88%, bagian daging dan kulit 12%. Berunok terdeteksi memiliki senyawa aktif flavonoid, terpenoid, steroid, saponin, alkaloid, dan fenolik. Waktu ekstraksi selama 96 jam merupakan perlakuan terbaik dengan nilai rendemen tertinggi sebesar 7,90% dan aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 648,24 ppm. Aktivitas antioksidan yang terdapat pada berunok dengan perlakuan waktu ekstraksi berbeda tergolong sangat lemah.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"40 8","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-02-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140462259","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Pengaruh waktu pemanasan dan pengasaman terhadap kadar albumin ekstrak ikan gabus","authors":"Renni Yuniati, Rahma Yulia Nurtari, Alviona Denti Annaafi, Tangkas Mukti Priguna, Vinka Dwi Anggita, N. Kusumaningrum, Indah Saraswati, M. Muslimin, Farmaditya Eka Putra, Hardian Hardian","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.46448","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.46448","url":null,"abstract":"Ikan gabus (Channa striata) kaya akan kandungan albumin. Terbatasnya informasi perubahan karakteristik ekstrak ikan gabus yang diberikan perlakuan panas dan asam yang tinggi menjadi penelitian yang menarik untuk dikaji lebih dalam. Tujuan penelitian ini untuk menentukan bagian ikan terbaik dan efek waktu pemanasan dan pengasaman terhadap kadar albumin pada ikan gabus. Pemanasan pada suhu 70oC selama 0, 15, dan 30 menit serta pengasaman pH 1, 4, dan 7. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah ekstraksi menggunakan kecepatan sentrifugasi 6.000 rpm selama 60 menit dan peneraan absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 280nm guna mengevaluasi karakteristik ekstrak protein. Hasil kadar albumin berbanding lurus dengan kadar protein. Kadar keasaman ekstrak ikan gabus aman untuk penggunaan topikal kulit, dengan pH 4,5–6,5. Daging gabus merupakan bagian terbaik sumber albumin dengan kadar 22.4±0.056 mg/100 g. Peningkatan absorbansi lebih tinggi terjadi pada bagian daging di suhu 70oC selama 15 menit dan dalam lingkungan asam kuat (pH 1,0). Protein ekstrak ikan gabus lebih rentan terhadap denaturasi dibandingkan dengan bovine serum albumin (BSA) standar.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"67 ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-01-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140473722","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Karakteristik ikan tandipang (Dussumeiria acuta) asap","authors":"Dyah Ayu Rakhmayeni, Tatty Yuniarti, Sukarno Sukarno, Adham Prayudi","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.43821","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.43821","url":null,"abstract":"Pengasapan merupakan perpaduan teknik pengeringan serta penambahan senyawa kimia hasil pembakaran kayu guna mempertahankan daya awet ikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan profil kimia dan keamanan pangan ikan tandipang asap dengan perbedaan konsentrasi dan lama perendaman asap cair. Metode yang digunakan adalah eksperimental dengan rancangan percobaan yang digunakan yakni rancangan acak kelompok faktorial (RAK) dengan 3 kali ulangan. Variabel yang diamati adalah konsentrasi asap cair (1, 3, dan 5%) dan lama perendaman (15, 30, 45, dan 60 menit). Parameter yang diuji yaitu proksimat, fenol, formaldehida, PAHs dan TPC. Hasil proksimat ikan tandipang asap cair menunjukkan kadar air 8,61-28,89%; abu 4,37-6,20%; lemak 1,91-6,75%; dan protein 62,21-81,56%. Perlakuan terpilih berdasarkan hasil uji hedonik (kesukaan) dengan nilai tertinggi pada atribut rasa untuk ikan asap dengan perlakuan konsentrasi asap cair 3% dan lama perendaman 45 menit dengan nilai 7,2. Profil kimia ikan tandipang asap terpilih yaitu pada perlakuan konsentrasi asap cair 3% dengan lama waktu perendaman selama 45 menit memiliki kadar air 23,77%; abu 5,64%; lemak 4,99%; protein 76,33; fenol 0,356 %; PAHs < 0,1 ppb; dan formaldehid < 0,003%.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"54 2","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-01-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140470565","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Peningkatan stabilitas oksidatif minyak mata tuna dengan metode purifikasi dan penambahan natural astaxanthin (NAst)","authors":"Nurmaida Nurmaida, Bustami Ibrahim, W. Trilaksani","doi":"10.17844/jphpi.v27i2.48961","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v27i2.48961","url":null,"abstract":"Minyak ikan merupakan sumber nutrisi asam lemak tak jenuh ganda, khususnya eicosapentaenoic acid (EPA, C20:5 n-3) dan docosahexaenoic acid (DHA, C22:6 n-3) yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Mata tuna mengandung DHA yang tinggi dan unggul, sehingga dapat diolah menjadi minyak mata tuna. Kekurangan minyak mata tuna adalah mudah mengalami kerusakan oksidatif. Astaxanthin sebagai pigmen karotenoid memiliki aktivitas antioksidan kuat dan menghambat peroksidasi lipid penyebab kerusakan oksidatif. Tujuan penelitian ini menentukan konsentrasi terbaik penambahan astaxanthin pada minyak mata tuna hasil permurnianPemurnian minyak mata tuna dilakukan melalui netralisasi dengan NaOH 16oBe, dilanjutkan dengan bleaching menggunakan magnesol 5%. Minyak mata tuna hasil pemurnian, dicampur dengan astaxanthin kulit udang pada konsentrasi berbeda, yaitu 0; 0,2: 0,4: dan 0,6%. Parameter yang dianalisis meliputi asam lemak bebas, bilangan peroksida, bilangan p-anisidin, dan total oksidasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa purifikasi dengan netralisasi NaOH 16oBe dan bleaching magnesol 5% memiliki nilai asam lemak bebas 0,33±0,08%, bilangan peroksida 4,12±0,82 meq/kg, p-Anisidin 2,83±0,22 meq/kg, dan total oksidasi 11,08±1,62 meq/kg. Astaxanthin memiliki nilai IC50 14,14 ppm. Perlakuan penambahan astaxanthin terbaik adalah konsentrasi 0,6% dengan nilai asam lemak bebas 1,03±0,05%, bilangan peroksida 8,08±0,14 meq/kg, bilangan p-Anisidin 9,12±0,02 meq/kg; dan total oksidasi 25,29±0,31 meq/kg terkecil selama 60 hari penyimpanan. Purifikasi dan penambahan natural astaxanthin mampu memperbaiki kualitas mutu dan stabilitas minyak mata tuna selama penyimpanan.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"59 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-01-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140497238","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Mohamad Gazali, Hayatun Nufus, Rina Syafitri, Muhammad Ali Sarong, Shafira Ananda Widya Fadly
{"title":"Evaluasi penangkapan radikal bebas DPPH ekstrak daun Ipomoea pes-caprae Linn asal Pantai Labuhan Haji, Aceh Selatan","authors":"Mohamad Gazali, Hayatun Nufus, Rina Syafitri, Muhammad Ali Sarong, Shafira Ananda Widya Fadly","doi":"10.17844/jphpi.v26i2.43795","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i2.43795","url":null,"abstract":"Tumbuhan Ipomoea pes-caprae merupakan tumbuhan herba yang tumbuh pada substrat berpasir di mana sudah dimanfaatkan oleh masyarakat pesisir sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi aktivitas penangkapan radikal bebas pada ekstrak daun I. pes-caprae yang berasal dari Pantai Labuhan Haji, Aceh Selatan. Penelitian meliputi ekstraksi menggunakan pelarut metanol, etil asetat dan n-heksana, uji fitokimia, aktivitas penangkapan radikal bebas DPPH, dan kandungan total fenolik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun I. pes-caprae memiliki rendemen tertinggi pada ekstrak metanol 6,5% yang diikuti dengan ekstrak n-heksana 3,5% dan ekstrak etil asetat 1,6%. Ekstrak daun tumbuhan I. pes-caprae mengandung senyawa alkaloid, fenolik, saponin, flavonoid, dan tanin. Hasil aktivitas penangkapan radikal bebas menunjukkan bahwa ekstrak metanol memiliki nilai IC50 sebesar 13,83±5,85 mg/L sedangkan ekstrak etil asetat nilai IC50 sebesar 7,36±1,91 mg/L dan ekstrak n-heksana memiliki nilai IC50 16,01±3,89 mg/L, asam askorbat dengan nilai IC50 sebesar 3,5±1,74 mg/L sebagai kontrol positif. Kandungan total fenolik daun I. pes-caprae ekstrak etil asetat sebesar 22,9±0,64 mg GAE/g sedangkan ekstrak metanol sebesar 9,89±2,62 mg GAE/g dan kadar total fenolik paling rendah terdapat pada ekstrak n-heksana dengan nilai sebesar 5,90±2,67 mg GAE/g. Kadar fenolik memiliki korelasi positif dengan aktivitas antioksidan yang diindikasikan bahwa aktivitas antioksidan dari ekstrak daun I. pes-caprae didonorkan oleh senyawa fenolik sedangkan sisanya dipengaruhi oleh senyawa lain yang terkandung dalam ekstrak daun I. pes-caprae.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"46 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135309746","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Muhammad Sujatmiko, Mala Nurilmala, Kustiariyah Tarman
{"title":"Ekstraksi dan karakterisasi glukosamin dari cangkang udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan metode hidrolisis bertekanan","authors":"Muhammad Sujatmiko, Mala Nurilmala, Kustiariyah Tarman","doi":"10.17844/jphpi.v26i2.45668","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i2.45668","url":null,"abstract":"Glukosamin merupakan suatu senyawa yang termasuk ke dalam gula amino dan berperan sebagai prekursor biosintesis protein glikosilat dan lipid di dalam tubuh. Ekstraksi glukosamin secara kimia, biologi, dan fermentasi, belum mendapatkan hasil yang optimal. Perlakuan hidrolisis bertekanan diperlukan untuk meningkatkan hasil dalam pembuatan glukosamin. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik glukosamin dari kitosan cangkang udang vaname yang diekstrak menggunakan perlakuan asam dengan tekanan. Kitosan cangkang udang vanamei diekstraksi menggunakan HCl 5% lalu diberi perlakuan dengan tekanan 0,45 atm dan tanpa tekanan pada suhu ±120°C . Karakteristik yang diamati meliputi komposisi kimia, rendemen, derajat deasetilasi, spektrum gugus fungsi, dan ketampakan. Cangkang udang yang digunakan memiliki kadar air (25,49±0,34%), abu (14,05±0,26%), dan protein (20,63±0,08%) . Kitosan udang vanamei memiliki kadar air (4,62%), abu (0,31%), protein (3,03%), derajat deasetilasi yaitu 78,44%, viskositas 222 cP, dan ketampakan berbentuk serpihan, warna putih kecokelatan dan tidak berbau. Glukosamin udang vanamei memiliki ketampakan berbentuk serbuk, dan warna putih kecokelatan. Persentase rendemen tertinggi pada glukosamin dengan tekanan 0,45 atm, yaitu 78,22%. Perlakuan pemberian tekanan dan tanpa tekanan pada ekstraksi glukosamin berpengaruh nyata terhadap rendemen, derajat deasetilasi, dan spektrum gugus fungsi glukosamin. Glukosamin terbaik diperoleh dari perlakuan ekstraksi kombinasi konsentrasi asam dan tekanan dengan hasil rendemen dan derajat deasetilasi yang telah sesuai dengan syarat mutu glukosamin.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-10","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135597513","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Formulasi dan evaluasi krim antijerawat berbahan limbah cangkang kerang bulu (Anadara antiquata Linn.)","authors":"Syaefudin Syaefudin, Vina Oktovianti, Dimas Andrianto","doi":"10.17844/jphpi.v26i2.44109","DOIUrl":"https://doi.org/10.17844/jphpi.v26i2.44109","url":null,"abstract":"Cangkang kerang bulu mengandung kitosan yang berpotensi sebagai antibakteri sehingga dapat dijadikan sebagai bahan krim antijerawat. Penelitian ini bertujuan menentukan karakteristik fisikokimia (pH, penyebaran warna dan butiran, emulsi, serta daya sebar) produk krim berbahan dasar kitosan dari limbah cangkang kerang bulu serta mengevaluasi bioaktivitas (aktivitas antioksidan dan antibakteri) formula krim antijerawat dengan variasi konsentrasi kitosan 5% (F1), 10% (F2), dan 15% (F3) (b/v). Kitosan yang dihasilkan dari ekstraksi kitosan cangkang kerang bulu memiliki kadar air, rendemen, serta derajat deasetilasi berturut-turut sebesar 3,49%, 47,63%, dan 97,49%. Uji fisikokimia menunjukkan bahwa ketiga formula krim antijerawat memiliki pH 5, tipe penyebaran warna dan butiran homogen, tipe emulsi O/W, dan daya sebar yang menurun seiring meningkatnya konsentrasi kitosan. F3 memiliki aktivitas antioksidan tertinggi dan F1 memiliki kemampuan penghambatan bakteri tertinggi. Formula terpilih, yakni F1, menunjukkan hasil organoleptik (warna, tekstur, bau, daya serap, dan kemudahan untuk dibersihkan) yang cukup disukai panelis.","PeriodicalId":30671,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia","volume":"55 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-08-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135745039","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}