{"title":"TIPOLOGI PERIWAYATAN HADIS UMMAHAT AL-MU’MININ","authors":"St Nur Syahidah Dzatun Nurain","doi":"10.30984/ajip.v7i1.1835","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v7i1.1835","url":null,"abstract":"Abstrack: During the early Islamic era, Ummahat al-Mu’minin are example of how women are appreciated but not restricted, they are required to maintain honor but Islam still provides equal opportunities as opportunities for men in the public area, especially in conveying the Islamic laws and teachings. To identify their contribution and existence the researcher will discuss how narrated typology by means of the hadiths that’s they narrated. It used an interdisciplinary approach including historical, linguistic, sociological, and normative approaches. And used managing qualitative data. The researcher found that Ummahat al-Mu’minin have five typologies of tahammul (getting) and ada’ (delivering) which means that their hadith narration activities do not only get and deliver the hadith but also become (1) a source of hadith narration for shahabat (2) an intermediary (between messenger and explainer) for shahabat and Rasulullah (3) an activity to clarify and discuss the odds of hadith for Shahabah (4) an asbab al-wurud of hadith, and (5) a critic and judgment toward the inappropriate hadith.Key words: Ummahat al-Mu’minin, typology of hadith narration, contributionAbstrak: Pada awal kedatangan Islam, Ummahat al-Mu’minin adalah contoh bagaimana perempuan dihargai tetapi tidak dibatasi haknya, mereka diharuskan lebih menjaga kehormatan tetapi, Islam tetap memberikan peluang yang sama sebagaimana peluang yang diberikan kepada laki-laki dalam wilayah publik (terutama dalam hal menyampaikan hukum dan ajaran Agama). Untuk mengetahui eksistensi dan kontribusi mereka, penulis akan menggali bagaimana tipologi periwayatan melalui hadis-hadis yang mereka riwayatkan, dengan pendekatan historis, linguistik, sosiologis dan teologi normatif dan pengelolaan data menggunakan kualitatif, penulis menemukan bahwa Ummahat al-Mu’minin memiliki lima tipologi tahammul (mendapatkan) dan lima tipologi Ada’ (menyampaikan) hadis yang mana hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa aktifitas periwayatan hadis mereka tidak hanya sekedar menerima dan menyampaikan hadis, melainkan dalam prosesnya mereka seringkali (1) menjadi sumber periwayatan para shahabat (2) menjadi perantara (utusan dan penjelas) bagi shahabat dan Rasulullah (3) menjadi klarifikator/ konsultan hadis yang terdengar ganjal bagi shahabat (4) menjadi asbab al-wurud hadis dan (5) mengkritik periwayatan hadis yang dinilai tidak sesuai. Kata kunci: Ummahat al-Mu’minin, Tipologi Periwayatan, Kontribusi. ","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"23 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114471109","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"WHERE IS THE GENDER JUSTICE? ANALYSIS OF NOVIA WIDYASARI’S SEXUAL VIOLENCE CASE FROM AN ISLAMIC FEMINIST PERSPECTIVE","authors":"Siti Syamsiyatun, Anindya Arfiani","doi":"10.30984/ajip.v7i1.1827","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v7i1.1827","url":null,"abstract":"Abstract: Indonesian Komnas Perempuan (National Commission on Violence against Women) and WHO (World Health Organization) reported that violence against women and children, especially sexual violence, is raising during the COVID-19 pandemic era. Such data triggers the authors to question why sexual violence against them persists, and so difficult to be eliminated? Lots of research and casual observation have been presented, many of which are blaming the victims instead of defending them. This present research aims at contributing in answering above questions by conducting qualitative, literature study using a feminist perspective on particular sexual violence experienced by late Novia Widyasari. In so doing we employ also Foucault’s power relation and misogyny culture. We find there are imbalanced power position and misogynic narratives to blame the victim, and to save the life and career of the perpetrators. The deep and widespread of such practices, i.e. power abuse and misogynic attitudes hinder the effort for the elimination of violence, not only against women, but also against minority groups and the weak in our society, such as children, and disabled people. Keywords: Gender; misogyny; power relation; violence Abstrak: Komnas Perempuan Indonesia (Komnas Perempuan) dan WHO (World Health Organization) melaporkan bahwa kekerasan terhadap perempuan dan anak, khususnya kekerasan seksual, meningkat selama era pandemi COVID-19. Data tersebut memicu penulis untuk mempertanyakan mengapa kekerasan seksual terhadap mereka tetap ada, dan begitu sulit untuk dihilangkan? Banyak penelitian dan observasi telah dilakukan, Sebagian besar diantaranya justru menyalahkan para korban alih-alih membela mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan kontribusi dalam menjawab pertanyaan di atas dengan melakukan studi literatur kualitatif dengan menggunakan perspektif feminis tentang kekerasan seksual tertentu yang dialami oleh almarhum Novia Widyasari. Dalam melakukannya kami juga menggunakan hubungan kekuasaan Foucault dan budaya misogini. Kami menemukan ada posisi kekuasaan yang tidak seimbang dan narasi misoginis untuk menyalahkan korban, dan untuk menyelamatkan nyawa dan karir para pelaku. Mendalam dan meluasnya praktek-praktek tersebut, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dan sikap misoginis menghambat upaya penghapusan kekerasan, tidak hanya terhadap perempuan, tetapi juga terhadap kelompok minoritas dan lemah dalam masyarakat kita, seperti anak-anak, dan orang cacat.Kata Kunci: Gender; misogyny; power relation; violence","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115300410","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ULUL ALBAB DALAM AL-QUR’AN (TAFSIR TEMATIK)","authors":"ST Magfirah","doi":"10.30984/ajip.v6i2.1650","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v6i2.1650","url":null,"abstract":"Abstract: Ulul albab in the Qur´an discusses people who use their minds to think and make remembrance of natural phenomena and the power of Allah swt. There are sixteen times the derivation of ulul albab verses in the Qur'an, therefore this study uses thematic interpretation studies. This study formulates how to understand the characteristics of ulul albab in the Qur´an?. This research method uses thematic analysis with a philosophical and exgesic approach. This research is a literature review conducted by collecting data and analyzing data according to primary and secondary sources. The results of this study conclude that the concept of ulul albab in the Qur'an is someone who has broad insight and has sharpness in analyzing a problem, and ulul albab is referred to as someone who has the advantage of always getting closer to Allah by remembering (zikr) and think (tafakkur).Keywords: Ulul Albab, Thematic Exegesis, The Holy al-Qur´an, Z|ikr, Tafakku>r. Abstrak: Ulul albab dalam Al-Qur´an membahas tentang orang-orang yang menggunakan akal untuk berpikir dan berzikir terhadap fenomena alam dan kekuasaan Allah swt. Terdapat enam belas kali derivasi ayat-ayat ulul albab dalam Al-Qur´an oleh sebabnya penelitian ini menggunakan kajian tafsir tematik. Penelitian ini merumuskan bagaimana memahami karakteristik ulul albab dalam al-Qur´an?. Metode penelitian ini menggunakan analisis tematik dengan pendekatan filosofis dan eksegesis Penelitian ini bersifat kajian pustaka yang dilakukan dengan cara mengumpulkan data dan menelaah data sesuai dengan sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa konsep ulul albab dalam Al-Qur´an menggambarkan seseorang yang memiliki wawasan yang luas dan mempunyai ketajaman dalam menganalisis suatu permasalahan, serta selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan cara mengingat (zikr) dan memikirkan (tafakkur). Kata Kunci: Ulul Albab, Tafsir Tematik, al-Qur´an, Zikir, Tafakkur.","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"135 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115591190","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PERAN DAYAH DALAM MEMBENTUK KARAKTER ANAK DALAM MASYARAKAT ACEH","authors":"Muslem Muslem, Maulida Hayatina","doi":"10.30984/ajip.v6i2.1632","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v6i2.1632","url":null,"abstract":"Abstract: The concept of character education becomes an offer to answer the phenomenon of immoral. Thus, the development of the concept of character education in accordance with regional characteristics is important to research. Dayah as the oldest Islamic educational institution in Aceh and with stories of success has proven successful in educated children's character. This study aims to find patterns of character formation for children in the Bustanul Ridha dayah, East Aceh Regency. This type of research is qualitative and used the phenomenological approach. The data collection techniques used interviews, observation and documentation. The results showed that the pattern of children's character formation used a comprehensive approach which was carried out through intracurricular and extracurricular learning. The strategy of character building puts forward the stages of moral (spiritual) inspiration compared to the stages of moral knowledge and moral feelings, and moral action in the concept of character education for children in the dayah. Keywords: : Character Education, Aceh Dayah, Islamic Education Institute Abstrak: Konsep pendidikan karakter lahir dan menjadi tawaran guna menjawab fonomena perilaku demoralisasi. Sehingga, pengembangan konsep pendidikan karakter yang sesuai dengan karakteristik kedaerahan menjadi penting untuk diteliti. Dayah sebagai sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Aceh dan secara stories of success telah membuktikan pembentukan karakter bagi anak-anak. Jadi, penelitian ini bertujuan untuk menemukan pola pembentukan karakter bagi anak di dayah Bustanul Ridha Kabupaten Aceh Timur. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Wawancara, observasi dan dokumentasi menjadi metode dalam pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pembentukan karakter anak menggunakan pendekatan komprehensif yang dilakukan melalui pembelajaran intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Strategi pembentukan karakter mengedepankan tahapan penjiwaan moral (spiritual) dibandingkan tahapan pengetahuan moral, tindakan dan perasaan moral dalam konsep pendidikan karakter bagi anak di dayah. Kata Kunci : Pendidikan Karakter, Dayah Aceh, Lembaga Pendidikan Islam ","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"550 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116376084","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KONSEP AL-SARFAH DALAM KEMUKJIZATAN AL-QUR’AN","authors":"Abdurrahman Abdurrahman","doi":"10.30984/ajip.v6i2.1579","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v6i2.1579","url":null,"abstract":"Abstract: The Quran is one of the miracles of the Prophet Muhammad that will never be matched until the Day of Resurrection, but it is different from the understanding of the followers of al-Sarfah who claim that humans can match and create something like the Quran but that ability is removed by Allah Swt. this is what they call al-s̩arfah understanding. This understanding is expressed descriptively and qualitatively, namely by analyzing and revealing data according to the research theme. Then the understanding of al-s̩arfah is found, namely the belief that Allah turns away the ability or desire of people who can make things like the Quran, or their enthusiasm is the removed to make things like Quran. Later, it was found that this understanding would be easier when it was related to the theological principles used by the Mu’tazilites as one of the originators of this understanding, namely the basis of Mu’tazilah understanding with the concept of free will and free act or qadariyah. Furthemore, opinions are expressed in the from of rebuttals from the theologians regarding this understanding and their arguments, and at the end, the implication of thr existence of this understanding of al-s̩arfah are revealed.Key Words: the Quran, miracle, al-s̩arfah Abstrak: Al-Qur’an merupakan salah satu mukjizat nabi Muhammad saw. yang tidak akan pernah dapat ditandingi sampai hari kiamat, namun berbeda dengan pemahaman pengikut al-s̩arfah yang mengklaim bahwa manusia mampu menandingi dan membuat yang semisal dengan Al-Qur’an namun kemampuannya itu dihilangkan oleh Allah Swt., inilah yang mereka sebut dengan paham al-s̩arfah, paham ini diungkap secara deskriptif kualitatif yaitu menganalisa dan mengungkap data sesuai dengan tema penelitian, kemudian didapati pengertian paham al-s̩arfah yaitu keyakinan bahwa Allah memalingkan kemampuan atau keinginan orang yang dapat membuat semisal dengan Al-Qur’an, atau semangat mereka dihilangkan untuk membuat yang semisal dengannya, selanjutnya didapati paham ini sesungguhnya akan semakin mudah dimengerti ketika dihubungkan dengan asas teologi yang dipakai oleh penganut mu’tazilah sebagai salah satu pencetus paham ini, yaitu basis paham mu’tazilah dengan konsep free will dan free act atau qadariyahnya, selanjutnya diungkap pendapat yang berupa bantahan para ulama tentang paham ini beserta dalilnya dan di akhir diungkap implikasi dari adanya paham al-s̩arfah ini. Kata kunci: Al-Qur’an, mukjizat, al-s̩arfah","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"38 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124933128","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KLASIFIKASI MODEL PEMIKIRAN ORIENTALIS HADIS PERSPEKTIF HERBERT BEERG","authors":"M. Nasir, A. Amiruddin","doi":"10.30984/ajip.v6i2.1635","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v6i2.1635","url":null,"abstract":"Abstract: The orientalist debate about the authenticity of the hadith was highlighted by Herbert Berg who he specifically described in his work entitled The Development of Exegesis in Early Islam. In the book, Berg made a classification of orientalist thinking models on hadith. Based on this, this article aims to discuss the classification and mention Berg's reasons for placing the orientalists and also explain the implications of Berg's classification in the study of hadith. In this article, the researcher uses descriptive-analytical method by obtaining the following findings: First, there are four models of orientalist thought in Herbert Berg's hadith perspective, namely Early Western Scepticism, Reaction Against Scepticism, Middle Ground, and Renewed Scepticism. Although, as the finding of the research, it was found that from the four models, there are only two models that are relevant to the facts, namely the skeptical and non-skeptic groups. Second, Berg divides the model of thought based on the attitude of the orienalists to hadith. Third, Berg's classification has at least two implications, namely as a method of reading orientalist thinking models on hadith and the creation of a new method in determining the authenticity of hadith, namely the Sanguine Approach and the Skeptical Approach by Berg.. Key Words : Hetbert Berg, Hadith Orientalist, Authenticity of Hadith. Abstrak: Perdebatan para orientalis tentang keotentikan hadis ternyata disorot oleh Herbert Berg yang secara khusus ia gambarkan pada karyanya yang berjudul The Development of Exegesis in Early Islam. Pada buku tersebut, Berg membuat klasifikasi model pemikiran orientalis terhadap hadis. Berdasarkan hal itu, artikel ini bertujuan untuk membahas klasifikasi tersebut serta menyebutkan alasan Berg dalam menempatkan para orientalis tersebut dan juga menjelaskan implikasi klasifikasi Berg dalam kajian hadis. Artikel ini dalam pembahasannya menggunakan metode deskriptif-analitis dengan mendapatkan temuan, sebagai berikut: Pertama, terdapat empat model pemikiran orientalis hadis perspektif Herbert Berg, yaitu Early Western Scepticism, Reaction Against Scepticism, Middle Ground, dan Renewed Scepticism. Meskipun, setelah diteliti ternyatadari keempat model tersebut, hanya ada dua model yang relevan dengan fakta di lapangan, yaitu kelompok skeptis dan non skeptis. Kedua, Berg membagi model pemikiran tersebut berdasarkan sikap ara orientalis terhadap hadis. Ketiga, klasifikasi yang dilakukan Berg setidaknya memiliki dua implikasi, yaitu sebagai metode dalam membaca model pemikiran orientalis terhadap hadis dan terciptanya metode baru dalam menentukan keotentikan hadis, yaitu Sanguine Approach dan Skeptikal Approach oleh Berg. Kata Kunci : Hetbert Berg, Orientalis Hadis, Keotentikan Hadis. ","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"137 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116070880","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PEMAKNAAN HADIS ANJURAN MENUNTUT ILMU RIWAYAT MUSLIM DARI ABU HURAIRAH DI KALANGAN AKADEMISI KOTA AMBON","authors":"Rustina Nurdin","doi":"10.30984/ajip.v6i2.1611","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/ajip.v6i2.1611","url":null,"abstract":"Abstract: This study aims to analyze the meaning of Ambon City academics on the Prophet's hadith regarding the recommendation to study from Abu Hurairah ra. Muslim history. This type of research is descriptive qualitative research. The research object of the Prophet's hadith. about suggestions and orders to actively seek knowledge for his people. The research subjects are academics; lecturers, teachers and students who live in the city of Ambon. Determination of informants is done through purposive sampling technique, data collection is done through observation, in-depth interviews and documentation. The data analysis was carried out through two analytical techniques; 1) the analysis of the meaning of the hadith was carried out through the tahliliy method; 2) through qualitative data analysis techniques, namely data display, data verification, data interpretation and drawing conclusions. The results of the study are stated as follows that the meaning of this hadith among academics in Ambon City is in line and in accordance with what has been explained by hadith scholars. Most academics interpret this hadith in a meaningful or contextual way that the science referred to in this hadith is the science of religion and general science (not only religious science), seeking knowledge is like worship which is a basic human spiritual need, and heaven (al-jannah) is meant. is success and happiness that will be obtained in this world and in the hereafter for those who are serious about learning and seeking knowledge. Key Words: hadith; recommendation to study; academics Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan akademisi Kota Ambon terhadap hadis Nabi saw tetang anjuran menuntut ilmu dari Abu Hurairah ra. riwayat Muslim. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Obyek penelitian hadis Nabi saw. tentang anjuran dan perintah giat mencari ilmu bagi ummatnya. Adapun subyek penelitian adalah akedemisi; dosen, guru dan mahasiswa yang berdomisili di kota Ambon. Penentuan informan dilakukan melalui teknik purposive sampling, pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Adapun analisis data dilakukan melalui dua teknik analisis;1) analisis makna hadis ditempuh melalui metode tahliliy; 2)melalui teknik analisis data kualitatif, yaitu display data, verifikasi data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian dikemukakan sebagai berikut bahwa pemaknaan hadis ini di kalangan akademisi Kota Ambon sejalan dan sesuai dengan apa yang telah dijelaskan oleh ulama hadis. Sebagian besar akademisi memaknai hadis ini secara maknawiyah atau kontekstual bahwa ilmu yang dimaksud dalam hadis ini adalah ilmu agama dan ilmu umum (bukan hanya ilmu agama), menuntut ilmu ibarat ibadah yang merupakan kebutuhan pokok rohani manusia, serta surga (al-jannah) yang dimaksud adalah kesuksesan dan kebahagiaan yang akan diperoleh di dunia ini maupun di akhirat kelak bagi mereka yang bersungguh-sungguh","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-11-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129804775","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ISLAM PROGRESIF DAN TAN MALAKA (Reposisi MADILOG Sebagai Metode Pemikiran Islam Progresif)","authors":"Reza Adeputra Tohis","doi":"10.30984/AJIP.V6I2.1586","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/AJIP.V6I2.1586","url":null,"abstract":"Abstract: Progressive Islam is a relatively new Islamic movement in the dynamics of the Contemporary Islamic movement. Progressive Islam places the domination of the social system of capitalism as its main problem. Progressive Islam aims to create change, which is pursued through the realization of its agenda, one of which is formulating a reality-based method of thinking. The problems and agenda of Progressive Islam parallel the problems and formulation of method of thought Tan Malaka. Tan Malaka has been against the social system of capitalism. Tan Malaka has a methodological work based on reality, MADILOG. This study aims to show the parallels between Progressive Islam and Tan Malaka, and to position MADILOG as a method of Progressive Islamic thought. This study uses qualitative research methods with literature study techniques. The data in this study were analyzed using the sociology of knowledge approach and the philosophy of critical realism. The result is that the parallel between Progressive Islam and Tan Malaka lies in four aspects. Then, MADILOG can be positioned as a method of Progressive Islamic thought. Keywords: Progressive Islam, Tan Malaka, MADILOG Abstrak: Islam Progresif merupakan gerakan Islam yang relatif baru dalam dinamika gerakan Islam Kontemporer. Islam Progresif meletakan dominasi sistem sosial kapitalisme sebagai problem utamanya. Islam Progresif bertujuan untuk menciptakan perubahan, yang diupayakan melalui realisasi agenda-agendanya, salah satunya merumuskan metode pemikiran berbasis realitas. Problem serta agenda Islam Progresif paralel dengan problem dan rumusan metode pemikiran Tan Malaka. Tan Malaka telah melawan sistem sosial kapitalisme. Tan Malaka memiliki karya metodologis berbasiskan realitas, MADILOG. Penelitian ini bertujuan menunjukan paralelitas antara Islam Progresif dan Tan Malaka, serta memposisikan MADILOG sebagai metode pemikiran Islam Progersif. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik studi pustaka. Data dalam penelitian ini dianalisis dengan menggunakan pendekatakan sosiologi pengetahuan dan filsafat ilmu realisme kritis. Hasilnya adalah paralelitas antara Islam Progresif dan Tan Malaka terletak pada empat aspek. Kemudian, MADILOG bisa diposisikan sebagai metode pemikiran Islam Progresif. Kata Kunci: Islam Progresif, Tan Malaka, MADILOG","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"19 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-10-21","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114170588","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Chusnul Muhammad, Fatkhul Ulum, Sarah Noviyanti Latuconsina
{"title":"(الأمر في سورة الكهف ( دراسة نحوية صرفية","authors":"Chusnul Muhammad, Fatkhul Ulum, Sarah Noviyanti Latuconsina","doi":"10.30984/AJIP.V6I1.1587","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/AJIP.V6I1.1587","url":null,"abstract":"تجريد البحث: هذا البحث هو بحث لغوي وصفي كيفي الذي يهدف لمعرفة عدد الأمر و تحليل نوعها في سورة الكهف دراسة تحليلية نحوية صرفية وما موقع إعرابـها وبناءها. و مرحلة جمع البيانات تكون بطريقة أسلوب الخطّي وأما مرحلة تحليل البيانات وهي تكون بطريقة أغيه (Agih) أو طريقة تقسيمية. بعد جمع عدد الأمر وُجدت (29) تسعة وعشرون كلمة من الأمر في (19) تسع عشرة آية. ومن تسع عشرة آية الموجودة، قد تكرر ذكر الكلمات بعضها. توجد علامات البناء من عدة أفعال الأمر الموجودة في سورة الكهف، وهي: أولاً، بناء على حذف حرف العلّة : وجدت (3) ثلاث كلمات. وثانياً، بناء على السكون : وجدت (12) اثنتا عشرة كلمة. وثالثاً، بناء على حذف حرف النون : وجدت (8) ثماني كلمات. كلمات مفتاحية : الأمر، دراسة نحوية صرفية، سورة الكهف Abstrak: Artikel ini membahas tentang linguistik deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk mengetahui jumlah dari kata Amr (Perintah) dan menganalisis bentuk-bentuknya di dalam Quran Surah Al-Kahfi dalam tinjauan pengkajian sintaksis (I’rab/Nahwu) dan morfologi (Shorof). Teknik pengumpulan data menggunakan teknik catat. pada teknik analisis data menggunakan metode Agih atau metode distribusional. Setelah dilakukan pengumpulan data, telah didapatkan jumlah kata Amr (perintah) dalam Quran Surah Al-Kahfi sebanyak 29 kata di dalam 19 ayat. Dari 19 ayat tersebut, ditemukan pengulangan kata Amr (perintah) yang sama di sebagian ayat yang ada. Dalam surah al-Kahfi terdapat beberapa tanda-tanda al-Bina’ dari sebagian kata-kata kerja bentuk Amr (perintah) dalam Quran Surah Al-Kahfi yaitu terhapusnya huruf ‘Ilah (vocal panjang/bukan huruf asli) dengan jumlah sebanyak 3 kata. Kemudian Kata-kerja Amr (perintah) yang berakhiran Sukun ــْ ) ( dengan jumlah sebanyak 12 kata. Dan tanda yang terakhir adalah terhapusnya huruf ( ن ) karena asal kata tersebut merupakan kata kerja yang lima (Af’ālul Khomsah) dengan jumlahnya sebanyak 8 kata. Kata Kunci: Kata Amr (Perintah), Tinjauan Pengkajian Nahwu Shorof, Quran Surah Al-Kahfi.","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"20 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127418063","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALISIS SEMIOTIKA NAMA-NAMA TOKOH DALAM SURAH MARYAM","authors":"Zainuddin Soga, Rithon Igisani","doi":"10.30984/AJIP.V6I1.1584","DOIUrl":"https://doi.org/10.30984/AJIP.V6I1.1584","url":null,"abstract":" تجريد البحث :تناول هذا البحث عن التحليلي السيمائي لأسماء الشخصية في سورة مريم. تمثل هذه الدراسة لونا من ألوان الدراسة المكتبية، وهي الدراسة التي تم إجراؤها عن طريق الاطلاع على مختلف المراجع أو المصادر التي لها ارتباط بما تم دراسته من مشكلات البحث . أما المدخل المتبع فيه فهو المدخل التفسيري ، بحيث يمكن تقسيم بياناته إلى قسمين: بیانات رئيسية، وبيانات ثانوية. فبياناته الرئيسية تستمد من القرآن الكريم أي سورة مريم، وأما بياناته الثانوية، فتستمد من كتب التفسير، والكتب السيميائية واللغوية. فقد تم تجميع البيانات المذكورة عن طريق الاقتباس والاقتطاف والتحليل من المراجع أو المصادر المتناسبة مع المشكلات المدروسة، ثم عرضت واستنتجت. ودلت نتائج الدراسة على أن الأسماء الشخصية التي وردت في سورة مريم تتكون عن: نبي الله زكريا, نبي الله يحيى, نبي الله عيسى, نبي الله إبراهيم, نبي الله إسماعيل من لغة أبرني. مريم من لغة أرمية يهودية. نبي الله موسى من لغة القبطية. نبي الله هارون من اللغة السريانية. و نبي الله إدريس من اللغة اليونانية.الكلمات المفتاحية : السيمائية, الشخصية, سورة مريمAbstrak: Penelitian ini membahas tentang analisis semiotika nama-nama tokoh dalam surah Maryam. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan (library research) yaitu penelitian yang dilakukan melalui riset berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan tafsir. Sumber datanya dibagi menjadi dua yaitu data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah Alquran (surah Maryam) dan sumber data sekunder adalah buku-buku tafsir, semiotika dan linguistik. Adapun pengumpulan data dilakukan dengan cara mengutip, menyadur, dan menganalisis terhadap literatur yang representatif dan mempunyai relevansi dengan masalah yang dibahas, kemudian mungulas dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: nama-nama tokoh dalam surah Maryam yaitu Nabi Zakaria a.s., Nabi Yahya a.s., Nabi Isa a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Ismail a.s. berasal dari bahasa Ibrani. Maryam berasal dari bahasa Aram-Yahudi. Nabi Musa a.s. berasal dari bahasa Koptik. Nabi Harun a.s. berasal dari bahasa Suryani. Nabi Idris a.s. berasal dari bahasa Yunani.Kata Kunci: Semiotika, Tokoh, Surah Maryam","PeriodicalId":423995,"journal":{"name":"Aqlam: Journal of Islam and Plurality","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129606847","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}