Islamuna Jurnal Studi Islam最新文献

筛选
英文 中文
STUDENTS' MOTIVATION TO WEAR THE VEIL IN YASNI BUNGO JAMBI ISLAMIC INSTITUTE 在yasni bungo jambi伊斯兰学院,学生戴面纱的动机
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2022-01-07 DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.5126
Januri Januri, M. Ismail
{"title":"STUDENTS' MOTIVATION TO WEAR THE VEIL IN YASNI BUNGO JAMBI ISLAMIC INSTITUTE","authors":"Januri Januri, M. Ismail","doi":"10.19105/islamuna.v8i2.5126","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i2.5126","url":null,"abstract":"ABSTRACT \u0000The veil  is a Muslim woman's face covering, only her eyes are visible. Wearing the veil requires faith, mental and strong motivation. This study aims to examine the motivations of IAI student Yasni Bungo to wear the veil. This study uses a qualitative descriptive analytical approach. Data was collected by using observation, interview and documentation techniques. Determination of research subjects using purposive sampling technique, by interviewing female students who only wear the veil. The data analysis technique was carried out by listening to the interviews of female students wearing veils, recording their interviews, grouping the results of the interviews, analyzing the results of the interviews and conclusions. The results of the study indicate that the motivation for using the veil by IAI student Yasni Bungo is motivated by three factors, first, theological factors (students wear the veil because of religious orders, worship, sunnah of the prophet); second is psychological factors (students wear the veil because they are driven by a soul that feels comfortable when wearing the veil), and third, the intrinsic factor (students wear the veil to protect themselves, keep morals, to be better, more obedient). And there are no external factors (veiled because parents, teachers, ustadz ordered them, the rules of the Islamic Boarding Schools, or were motivated by the doctrine of forbidden sects). The more dominant factor is the theological factor. \u0000ABSTRAK \u0000Cadar merupakan penutup wajah wanita muslimah, yang nampak hanya kedua matanya. Memakai cadar dibutuhkan keyakinan, mental dan motivasi yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji apa saja motivasi mahasiswi IAI Yasni Bungo memakai cadar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara dan dokumentasi. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, dengan mewancarai mahasiswi yang memakai cadar saja. Teknik analisis data dilakukan dengan cara menyimak wawancara mahasiswi yang memakai cadar, mencatat wawancaranya, mengelompokkan hasil wawancaranya, menganalisis hasil wawancaranya dan membuat kesimpulan. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi penggunaan cadar oleh mahasiswi IAI Yasni Bungo dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yaitu pertama, faktor teologis (mahasiswi memakai cadar karena perintah agama, ibadah, sunnah nabi); kedua faktor psikologis (mahasiswi memakai cadar karena terdorong oleh jiwa yang merasa tenang-nyaman ketika memakai cadar), dan ketiga, faktor intrinsik (mahasiswi memakai cadar untuk menjaga diri, jaga akhlak, agar lebih baik, lebih taat). Dan tidak ada faktor eksternal (bercadar karena disuruh orang tua, guru, ustadz, aturan pesantren, atau terdorong oleh doktrin aliran terlarang). Adapun faktor yang lebih dominan adalah faktor teologis.","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"401 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-01-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"84849791","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
CHOOSING LIVES: Pandemic Emergency Triage from the Perspective of Maqāshid 选择生命:从Maqāshid的角度进行流行病紧急分类
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.5439
FUADY ABDULLAH
{"title":"CHOOSING LIVES: Pandemic Emergency Triage from the Perspective of Maqāshid","authors":"FUADY ABDULLAH","doi":"10.19105/islamuna.v8i2.5439","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i2.5439","url":null,"abstract":"The spike in Covid-19 cases in Indonesia in mid-2021 has led to scarcity of various resources and resulted in a functional crisis of hospitals in accommodating patients. This condition puts health workers and relevant policy makers in difficult situation and ethical dilemma in triaging patients. In this context, there are at least two competing ethical approaches. The utilitarian approach demands maximum benefit in saving lives, whereas the egalitarian approach emphasizes equal rights and opportunities for treatment. This brings up several problems related to giving priority. The problems also include withdrawal of treatment in favour of other patients. This article normatively tries to discuss the issue from the Maqāshid perspective. This article is qualitative. Literature review of several related recommendations was carried out to explore the basic problems and then putting them in light of the maqāshid theory. This article argues that Maqāshid can be an alternative ethical approach in determining priorities. All considerations need to be read in the light of Maqāshid and its principles with primary focus on scientific and medical considerations.  \u0000  \u0000ABSTRAK \u0000Lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia pada pertengahan tahun 2021 menyebabkan kelangkaan berbagai sumber daya dan krisis fungsional rumah sakit dalam menampung pasien. Kondisi ini menempatkan tenaga kesehatan & pengambil kebijakan berada dalam situasi sulit dan dilema etik untuk melakukan triase pasien. Dalam konteks ini, ada dua pendekatan etis yang bersaing yaitu utilitarian yang menuntut manfaat maksimal dalam menyelamatkan nyawa dan pendekatan egaliter menekankan persamaan hak dan kesempatan untuk mendapatkan perlakuan. Hal ini memunculkan beberapa permasalahan terkait pemberian prioritas. Artikel ini secara normatif mencoba membahas masalah tersebut dari perspektif Maqāshid. Artikel ini bersifat kualitatif. Tinjauan pustaka terhadap beberapa rekomendasi terkait dilakukan untuk menggali permasalahan mendasar dan kemudian meletakkannya dalam tinjauan teori maqāshid. Artikel ini melihat bahwa Maqāshid dapat menjadi alternatif pendekatan etis dalam menentukan prioritas triase. Seluruh pertimbangan yang ada perlu dibaca berdasar Maqāshid dan prinsip-prinsipnya dengan fokus utama pada pertimbangan ilmiah dan medis.","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"62 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"76838147","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
THE STYLE OF USING VEIL IN THE AGE OF GLOBALIZATION: Overview of Concepts and Practices 全球化时代面纱的使用风格:概念与实践综述
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.4753
Darti Busni, Betria Zarpina Yanti, Doli Witro
{"title":"THE STYLE OF USING VEIL IN THE AGE OF GLOBALIZATION: Overview of Concepts and Practices","authors":"Darti Busni, Betria Zarpina Yanti, Doli Witro","doi":"10.19105/islamuna.v8i2.4753","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i2.4753","url":null,"abstract":"Along with the times, some people see the veil as no longer a symbol of piety but instead follow trends or popular models, not to mention that the veil is only considered a necessity used at certain times like entangled criminal cases and attending court. On the other hand, some use the veil as following the concept stipulated in Islam, namely, an obligation that cannot be abandoned and not adhered to by certain times, conditions, and situations. This article aims to explain the veil concept in Islam and the form of practice in society. Methodically, this article uses a qualitative research method, a research library compiled in scientific articles and analyzed using the phenomenological-sociological approach. The results showed In essence, the veil’s actual use as a form of obedience to the sharia follows the veil concept taught in Islam, where women with veils are not limited to a specific time, situation, condition, and place. \u0000  \u0000ABSTRAK \u0000Seiring perkembangan zaman, sebagian masyarakat ada yang memandang jilbab tidak lagi sebagai simbol ketakwaan, tapi lebih mengikuti tren ataupun model yang sedang populer, belum lagi jilbab hanya dinilai sebagai sebuah kebutuhan yang hanya digunakan di saat tertentu saja seperti terjerat kasus kriminal dan menghadiri sebuah pengadilan. Di sisi lain ada yang menggunakan jilbab sebagai sesuai dengan konsep yang ditetapkan dalam Islam yaitu sebagai sebuah kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan dan tidak terpaut pada waktu, kondisi, dan situasi tertentu. Artikel bertujuan menjelaskan konsep jilbab dalam Islam dan bentuk praktek yang terjadi di masyarakat. Secara metode, artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat library research yang disusun dalam bentuk artikel ilmiah dan ditelaah dengan menggunakan pendekatan fenomenologis-sosiologis. Hasil penelitian menunjukkan pada hakikat yang sebenarnya dari penggunaan jilbab sebagai bentuk keta’atan terhadap syari’at inilah yang sesuai dengan konsep jilbab yang diajarkan dalam Islam yang mana perempuan berjilbab tidak terbatas pada waktu, situasi, kondisi, dan tempat tertentu.","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"410 23","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"72448246","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
MA‘NĀ TAQLĪD "AL-SAKBAH" (TER-ATER) FĪ SYAHR RAMADLĀN BĪ SAMPANG MADURA
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.3701
Arif Wahyudi, Khairul Muttaqin.ilunks@gmail.com
{"title":"MA‘NĀ TAQLĪD \"AL-SAKBAH\" (TER-ATER) FĪ SYAHR RAMADLĀN BĪ SAMPANG MADURA","authors":"Arif Wahyudi, Khairul Muttaqin.ilunks@gmail.com","doi":"10.19105/islamuna.v8i2.3701","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i2.3701","url":null,"abstract":"ملخص البحث \u0000التقليد في الدراسة الإسلامية يسمى بالعرف، وهو أمر مألوف لبعض الناس لأنه أصبح عادة تتكامل مع حياتهم أقوالا كانت وأفعالا. فالتقليد الذي لا يزال تتطور في مجتمع سامبانج هي عادة “السكبة” (تير أتير-ter-ater)، وهي عادة بسكب (إعطاء) صحن من الطعم والتبادل للجيران والأقارب والأشخاص الأكابر في الأسرة بصورة خاصة. فكل الشهر القمرية، مارس الناس هذه العادة المحلية بأطعمة مختلفة. وفي هذا البحث، ركز الباحثون على بحث الثقافة في منطقة سامبانج (Sampang) لأن هذه المنطقة معروفة بتعصبها في الامور الدينية والتقاليد. كما تم تحديد إجراء هذا البحث في شهر رمضان، لأن في ذلك الشهر لا تزال هذه العادة كثيفًا للغاية من قبل غالبية المجتمع. عند مقدمة البحث، فقد تم تنفيذ هذا التقليد لأجيالهم. هم لا يعرفون متى وجود هذه العادة بالضبط وهذا الذي يدعم الباحثون في بعث هذه العادة. ومن خلال الدراسة الميدانية، تحلل هذه الورقة تطبيق ومعنى عادة السكبة (ter-ater) في منطقة سامبانج. نتجت هذه الورقة، أن اختيار الطعام في عادة السكبة (ter-ater) وفقًا للمجتمع على القدرة الاقتصادية وليس له معنى محدود. أما تحديد الشهر والتاريخ عند بعض الناس للحث على الحصول وبركات رمضان وليلة القدر لأن النبي يتحرى على ليلة القدر في ليالي الوتر من العشر الأواخر من رمضان. \u0000  \u0000ABSTRAK \u0000Dalam kajian keislaman, tradisi disebut `urf yaitu sesuatu yang tidak asing bagi masyarakat tertentu karena telah menjadi kebiasaan yang menyatu dengan kehidupan mereka baik berupa perkataan maupun perbuatan. Tradisi yang hingga kini masih berkembang di masyarakat Sampang adalah tradisi ter-ater, yakni tradisi saling hantar makanan ke tetangga, saudara, dan orang-orang yang dituakan dalam keluarga. Bahkan masyarakat melakukan tradisi ini dengan makanan yang berbeda-beda setiap bulan Kamariah. Artikel ini fokus pada budaya ter-ater di Kabupaten Sampang Madura pada bulan Ramadan, karena masyarakatnya fanatik terhadap agama dan tradisi dan pada bulan tersebut tradisi ini masih sering dilakukan. Tradisi ini telah dilakukan turun-temurun yang tidak diketahui awal mula serta alasan di baliknya. Dengan kajian lapangan, artikel ini fokus pada tiga hal yakni: pertama, praktik dan makna ater-ater di bulan Ramadan. Kedua, praktik masyarakat Sampang dalam memburu lailatulkadar. Artikel ini berhasil mengungkap bahwa pemilihan makanan pada tradisi ter-ater menurut masyarakat disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing dan tidak memilki makna tertentu. Terkait penetuan bulan dan tanggal menurut sebagian masyarakat karena termotivasi keinginan untuk mendapatkan berkah Ramadan serta lailatul kadar karena Nabi menyerukan agar mencari lailatulkadar pada malam-malam ganjil di sepuluh akhir Ramadan.","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"24 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"73858459","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
TANÉAN LANJHÂNG: A Reflection of Guyub and Strengthening of Ukhuwah Among Madurese Society TANÉAN LANJHÂNG:古尤布在马杜罗社会中的反思与强化
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-12-31 DOI: 10.19105/islamuna.v8i2.4414
Raudlatul Jannah, Agik Nur Efendi, Fithriyah Rahmawati
{"title":"TANÉAN LANJHÂNG: A Reflection of Guyub and Strengthening of Ukhuwah Among Madurese Society","authors":"Raudlatul Jannah, Agik Nur Efendi, Fithriyah Rahmawati","doi":"10.19105/islamuna.v8i2.4414","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i2.4414","url":null,"abstract":"The Madurese tribe has unique, distinctive, and remarkable cultures. It is inseparable from a heterogeneous socio-cultural society. Science, morals, ethics, morals, philosophy of life, social interactions correlate with culture. One of the philosophies in Madurese society that is synergized with livelihoods and kinship values ​​is tanean lanjhang. Tanean lanjhang is a residential space pattern within the Madurese community. The settlement consists of ​​a house yard, kobhung, kitchen, stable, well, and several houses. About 2-10 houses are lined up from west to east and inhabited by people with sibling relationships. As a society that upholds religious values, the concept of tanean lanjhang has a very noble, philosophical meaning and is full of Islamic values either deliberately built or ​​arising from the idea of social interaction in tanean lanjhang. This study aims to describe the philosophical meaning of the tanean lanjhang. This current study used a qualitative- descriptive approach and carried out literature review, observation, and interviews to collect the data. The results showed that tanean lanjhang is a  sub-structure of unique community settlement layout and has a noble value from the concept of spatial planning or social interaction, which is manifested in several commendable morals, namely strengthening ukhuwah, caring and respecting people, and cooperation. \u0000ABSTRAK \u0000Suku Madura memiliki berbagai budaya yang unik, khas, bahkan istimewa. Ilmu pengetahuan, akhlak, etika, moral, falsafah hidup, interaksi sosial sesungguhnya berkorelasi dengan budaya. Salah satu falsafah dalam masyarakat Madura yang bersinergi dengan mata pencaharian dan nilai kekerabatan adalah tanean lanjhang. Tanean lanjhang merupakan konstruksi tata ruang pemukiman yang ada di masyarakat Madura. Pemukiman tersebut terdiri dari sebuah area halaman rumah, kobhung, dapur, kandang, sumur dan rumah rumah yang berjejer dari barat ke timur dengan jumlah 2-10 rumah yang dihuni oleh orang orang dengan hubungan saudara kandung. Sebagai masyarakat yang menjunjung nilai   religius,  maka konsep dari tanean lanjhang memiliki makna yang   sangat  luhur,  filosofis,   dan   sarat   dengan   nilai- nilai keislaman, baik nilai yang sengaja dibangun atau nilai yang timbul dari konsep atau interaksi sosial dalam tanean lanjhang. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan makna filosofis yang ada dalam konsep tanean lanjhang. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan teknik Pustaka review, observasi dan wawancara.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanean lanjhangselain sebagai subuah konstruksi tata ruang pemukiman masyarakat yang unik juga memiliki nilai nilai luhur dari konsep tata ruang atau interaksi sosial yang menjadi cerminan konsep kekerabatan masyarakat Madura yang sangat kuat. Sehingga pada akhirnya mampu memperkuat ukhuwah dan memupuk sikap-sikap terpuji seperti sikap peduli, saling menghormati, dan gotong royong.","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"123 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85654464","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
THE CONCEPT OF IMÂM IN SHIA IMAMIYYAH PERSPECTIVE 从什叶派伊玛目的角度看imÂm的概念
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-07-24 DOI: 10.19105/islamuna.v8i1.3044
Hendri Hermawan Adinugraha, A. Zayadi, A. H. A. Ulama’i
{"title":"THE CONCEPT OF IMÂM IN SHIA IMAMIYYAH PERSPECTIVE","authors":"Hendri Hermawan Adinugraha, A. Zayadi, A. H. A. Ulama’i","doi":"10.19105/islamuna.v8i1.3044","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i1.3044","url":null,"abstract":"Khilâfah and imâmah are two terms which are sometimes interpreted equally, that is referring to the meaning of leadership. The term of khilâfah is more widely known to be used to the leadership’s term in the Sunni, whereas imâmah is more widely used in the Shiites world of Islam. This article was a literature research that discusses the concept of imâmah in the perspective of Shia Imamiyyah. The analysis technique in this study uses content analysis. The purpose of this article is to describe the political developments among the Shiites that culminate in the concept of imâmah as can be witnessed in Iran until now. The results show that wilâyah al-faqîh which was founded by Imam Khomeini after the Islamic Revolution of Iran has been a form of Islamic government led by a fair and capable faqîh in guiding the ummah. The faqîh leadership model still exists in the Islamic Republic of Iran as a form of a mixture of democracy and religious views. So it can be said that wilâyah al-faqîh was a pilot that politics and religion can be unitedin guiding mankind. \u0000[Khilâfah dan imâmah adalah dua istilah yang terkadang dimaknai sama, yaitu merujuk pada makna kepemimpinan. Istilah khilâfah lebih dikenal luas digunakan untuk istilah kepemimpinan di Sunni, sedangkan istilah imâmah lebih banyak digunakan di dunia Islam Syiah. Artikel ini merupakan penelitian literatur yang membahas tentang konsep imâmah dalam perspektif Syiah Imamiyah. Teknik analisis dalam penelitian ini menggunakan analisis isi. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan perkembangan politik di kalangan Syiah yang berujung pada konsep imâmah seperti yang dapat disaksikan hingga saat ini di Iran. Hasilnya menunjukkan bahwa wilâyah al-faqîh yang didirikan oleh Imam Khomeini pasca Revolusi Islam Iran merupakan bentuk pemerintahan Islam yang dipimpin oleh seorang faqîh yang adil dan cakap dalam membimbing umat. Model kepemimpinan faqîh masih ada di Republik Islam Iran sebagai bentuk campuran antara demokrasi dan pandangan agama, sehingga dapat dikatakan bahwa wilâyah al-faqîh merupakan percontohan bahwa politik dan agama dapat dipersatukan dalam membimbing umat manusia]","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"85 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-07-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79704734","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
ESSÉR JEMMU’
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-06-28 DOI: 10.19105/islamuna.v8i1.4365
Emna Laisa, Indah Husnul Khotimah
{"title":"ESSÉR JEMMU’","authors":"Emna Laisa, Indah Husnul Khotimah","doi":"10.19105/islamuna.v8i1.4365","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i1.4365","url":null,"abstract":"For the people of Bungbungan, it is imperative that they build a new house, especially when they have a daughter. This is based on the concept of tanéyan lanjhâng which adheres to auxorilocality and matrilocality. The purpose of this study is to describe the essence of a house for the Bungbungan community, various important guidelines in the preparation of building a new house, various ritual offerings, and ritual practice of essér jemmu’. This study is an ethnographic study based on Pierre Bourdieu’s habitus theory to describe the pattern of relations between Islam in the context of pesantren and of the villagers in addressing the ritual of essér jemmu’ as an ecological adaptation ritual in a house construction. The result of this study shows that the house could be a symbol of social status as well as a sign that girls should not be brought to their husband’s house. The process of building a new house begins with various rituals influenced by myths including to determine the direction and layout of the house which are based on the pancabara and babukon. Various offerings are put into a polo’ then planted in the yard. The practice of essér jemmu’ ritual consists of prayers and ritual practices led by a kiai from pesantren or from the village, in which it shows a pattern of domination-subordination relationship of Islam of the pesantren to village Islam. \u0000[Bagi masyarakat Bungbungan, membangun rumah baru merupakan sebuah keharusan, terutama jika memiliki anak perempuan. Hal ini berdasarkan konsep tanéyan lanjhâng yang menganut uksorilokalitas dan matrilokalitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hakikat rumah bagi masyarakat Bungbungan, berbagai pedoman penting dalam persiapan pembuatan rumah, ragam sesaji ritual, dan praktik ritual essér jemmu’. Penelitian ini merupakan penelitian etnografi yang berdasarkan teori habitus Pierre Bourdieu untuk mendeskripsikan pola relasi antara Islam pesantren dan Islam kampung dalam menyikapi praktik ritual essér jemmu’ sebagai ritual adaptasi ekologis dalam pembangunan rumah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumah merupakan penanda status sosial sekaligus isyarat bahwa anak perempuan tidak boleh diboyong ke rumah suami. Proses pembangunan rumah diawali dengan berbagai ritual yang dipengaruhi oleh mitos yang meliputi penentuan arah dan tata letak rumah berdasarkan pancabara dan babukon. Ragam sesaji dimasukkan ke dalam polo’ kemudian ditanam di pekarangan. Praktik ritual essér jemmu’ berisi doa-doa dan laku ritual yang dipimpin kiai pesantren atau kiai kampung yang menunjukkan pola relasi dominasi-subordinasi Islam pesantren terhadap Islam kampung]","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"204 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77158531","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
DERADICALIZATION BASED ON SPIRITUAL NEUROSCIENCE THROUGH ISLAMIC EDUCATION 通过伊斯兰教育来实现精神神经科学的去极端化
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-06-28 DOI: 10.19105/islamuna.v8i1.4584
Heni Listiana
{"title":"DERADICALIZATION BASED ON SPIRITUAL NEUROSCIENCE THROUGH ISLAMIC EDUCATION","authors":"Heni Listiana","doi":"10.19105/islamuna.v8i1.4584","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i1.4584","url":null,"abstract":"The development of Islamic Education course materials and deradicalization in learning is one of the efforts to prevent radicalism. Spiritual neuroscience can be used as a tool to study Islamic educational materials and deradicalization. Learning requires neuroscience to know the framework of student’s brain. This article discusses three things: (a) course material related to Islamic education and deradicalization; (b) the abstracted materials from a spiritual neuroscience perspective, and (c) models of Islamic educational material development and deradicalization in spiritual neuroscience. This article shows there are four materials related to Islamic education and deradicalization, they are:  the reorientation of the meaning of jihâd, Islâm rahmah li al-‘âlamîn, multicultural values, and the strengthening of the material on love of the mother land. After being analyzed using neurospiritual operators, all such material closely relates to the meaning of life and positive emotions. Thus, Islamic education learning and deradicalization should be able to foster the formation of life meaning and positive emotions in students. \u0000[Pengembangan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan deradikalasi dalam pembelajaran merupakan salah satu upaya tindakan pencegahan tindakan radikalisme. Neurosains spiritual dapat dijadikan sebagai alat untuk menelaah materi-materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan deradikalisasi. Pembelajaran membutuhkan neurosains untuk mengetahui kerangkan kerja otak siswa. Artikel ini membahas tiga hal: (a) materi yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan deradikalisasi; (b) materi-materi yang tersarikan akan dikaji dalam perspektif neurosains spiritual; dan (c) model pengembangan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dan deradikalisasi dalam neurosains spiritual. Artikel ini menunjukkan ada empat materi yang berkaitan dengan Pendidikan Agama Islam (PAI) dan deradikalisasi yaitu reorientasi makna jihad, Islâm rahmah li al-‘âlamîn, nilai-nilai multikultural, dan penguatan materi cinta tanah air. Setelah dianalisis dengan menggunakan operator neurospiritual semua materi tersebut berkaitan erat dengan makna hidup dan emosi positif. Dengan demikian pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) dan deradikalisasi harus mampu menumbuhkan terbentuknya makna hidup dan emosi positif pada diri siswa]","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"40 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81672336","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
THE CULTURAL NEGOTIATION OF BEING SHIA AND MADURESE 什叶派和马杜罗人之间的文化谈判
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-06-28 DOI: 10.19105/islamuna.v8i1.4300
A. Sair, Yelly Elanda
{"title":"THE CULTURAL NEGOTIATION OF BEING SHIA AND MADURESE","authors":"A. Sair, Yelly Elanda","doi":"10.19105/islamuna.v8i1.4300","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i1.4300","url":null,"abstract":"The life of the Sampang Shia community in the refugee camps remains regretful. They are considered a heretical sect by the Indonesian Council of Religious Scholars (MUI), expelled and face complex social problems. Various policies have been attempted, but have not had an impact. This article aims at explaining the reasons for the emergence of discrimination and expulsion of the Sampang Shia community and how they negotiated as a hated Shia minority as well as a “good” Madurese community. Can they be reconciled? This article was written based on field research using a qualitative method with a narrative approach. The data were obtained by conducting in-depth interviews with leaders or figures as well as Shia refugees in the refugee camps. This article shows that the Shia community of Sampang was expelled because of a deviant discourse produced by the MUI. Meanwhile, their negotiation as Shia they hate is to remain a good Madurese; obey the kiai, continue to speak Madurese, continue to work as a cultural spirit, and continue to live life while looking for a cultural way back. \u0000[Kehidupan masyarakat Syiah Sampang di kamp pengungsian tetap disesalkan. Mereka dianggap aliran sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), diusir dan menghadapi masalah sosial yang kompleks. Berbagai kebijakan telah diupayakan, namun belum berdampak. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan alasan munculnya diskriminasi dan pengusiran komunitas Syiah Sampang dan bagaimana mereka bernegosiasi sebagai minoritas Syiah yang dibenci sekaligus komunitas Madura yang “baik”. Bisakah mereka berdamai? Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian lapangan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan naratif. Data diperoleh dengan melakukan wawancara mendalam dengan tokoh atau tokoh serta pengungsi Syiah di tempat pengungsian. Artikel ini menunjukkan bahwa komunitas Syiah Sampang diusir karena wacana menyimpang yang dihasilkan oleh MUI. Sedangkan negosiasi mereka sebagai Syiah yang mereka benci adalah tetap menjadi orang Madura yang baik; taat pada kiai, terus berbahasa Madura, terus berkarya sebagai spirit budaya, dan terus menjalani kehidupan sambil mencari jalan kebudayaan untuk kembali]","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"40 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"88831785","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
FROM THE PALACE PENDOPO TO THE PESANTREN ROOMS 从宫殿的钟楼到修道院的房间
Islamuna Jurnal Studi Islam Pub Date : 2021-06-27 DOI: 10.19105/islamuna.v8i1.4299
Aufannuha Ihsani
{"title":"FROM THE PALACE PENDOPO TO THE PESANTREN ROOMS","authors":"Aufannuha Ihsani","doi":"10.19105/islamuna.v8i1.4299","DOIUrl":"https://doi.org/10.19105/islamuna.v8i1.4299","url":null,"abstract":"This article discusses the dynamics of the relation between the sentana (aristocrats) and kèaè (ulama) in Sumenep during the colonial period. The topic is chosen because almost all research put the aristocrats and the ulama in Madura as historically opposed parties. The main question of the article is that how the relationship started and how far it had manifested until the early days of the independence. Collecting data from babad, manuscript, official reports from the colonial government and some informants who are the descendants of the aristocrats, this research applies a social-cultural approach to explain why their close relation with the kèaè have allowed the aristocrats to maintain their dignity in society. The result shows that the close relation between sentana and kèaè originated from the figure of Bindara Saod. Although it had been tenuous because the palace customs have made the aristocrats exclusive, the relationship between sentana and kèaè did not really break. A marriage between the Sultan Abdurrahman’s granddaughter and a kèaè in the mid-19th century tightened the relationship, descending a generation of ulama with royal blood and manifested in a pesantren (Islamic boarding school) in which the palace customs have been kept alive and survived until postcolonial era. \u0000[Artikel ini membicarakan dinamika hubungan yang terjalin antara kalangan sentana (bangsawan) dan kèaè (kiai) di Sumenep selama masa kolonial. Topik ini dipilih sebab hampir semua penelitian menempatkan bangsawan dan kiai di Madura sebagai pihak yang bertentangan secara historis. Pertanyaan utama dari penelitian ini adalah bagaimana hubungan itu bermula dan sejauh mana ia terejawantahkan hingga masa-masa awal kemerdekaan. Mengambil data dari babad, manuskrip, laporan-laporan resmi pemerintah kolonial, dan para informan yang merupakan keturunan kaum ningrat, penelitian ini akan menggunakan pendekatan sosio-kultural untuk menjelaskan mengapa kedekatan dengan kèaè membuat para bangsawan dapat menjaga muruah mereka di tengah-tengah masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedekatan antara kèaè dan sentana bermula dari sosok Bindara Saod. Kendati sempat merenggang sebab adat keraton mengeksklusifkan kalangan ningrat, jalinan sentana dan kèaè tidak benar-benar putus. Sebuah pernikahan antara cucu Sultan Abdurrahman dan seorang kèaè pada pertengahan abad ke-19 M. mempererat kembali hubungan itu, menurunkan generasi para kiai berdarah biru, dan mewujud dalam sebuah pesantren di mana adat dan budaya keraton tetap hidup dan bertahan hingga era pascakolonial]","PeriodicalId":33081,"journal":{"name":"Islamuna Jurnal Studi Islam","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"88236323","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
相关产品
×
本文献相关产品
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书