{"title":"DAMPAK PANDEMI COVID-19 SEBAGAI ALASAN FORCE MAJEUR TERHADAP PEMBIAYAAN PADA PERBANKAN SYARIAH","authors":"Riska Wijayanti, Ani Yunita","doi":"10.28918/jhi.v18i2.2699","DOIUrl":"https://doi.org/10.28918/jhi.v18i2.2699","url":null,"abstract":" \u0000Paper ini menganalisis tentang pandemi covid-19 sebagai alasan force majeure dalam pembiayaan bermasalah dan upaya hukum yang seharusnya dilakukan untuk mengatasinya. Penelitian yuridis-normatif ini menggunakan pendekatan konseptual dan perundang-undangan. Analisis menggunakan preskriptif analisis dengan logika dan penalaran hukum. Hasil penelitian menunjukkan, pandemi Covid-19 tidak serta merta dapat dijadikan alasan force majeure, meski ditetapkan sebagai bencana alam nasional non alam, karena untuk mengetahui debitur yang terkena pandemi dan sebab kesulitan pembayaran perlu dibuktikan melalui putusan Pengadilan Agama dan harus memenuhi unsur dalam Pasal 1244 dan 1245 KUH Perdata. Upaya hukum untuk menyelesaikan kredit bermasalah adalah penyelamatan dan penyelesaian. Penyelamatan dilakukan dengan meminimalkan biaya keuangan dan restrukturisasi pembiayaan. Penyelesaian dapat dilakukan dengan mengupayakan pelunasan melalui lelang atau eksekusi jaminan milik nasabah. Jika kedua upaya tersebut tidak dapat dilakukan, maka alternatif terakhir diselesaikan melalui Pengadilan Agama. Upaya hukum ke depan untuk menyelamatkan kredit macet akibat penyebaran Pandemi Covid-19 yaitu dengan melakukan renegosiasi kontrak, yaitu membuat kontrak baru atau diterbitkan sebagai addendum yang mengikat para pihak dan harus dilaksanakan dengan itikad baik. Oleh karena itu, ius constituendum sangat diperlukan dalam penyelesaian kredit macet akibat dari pandemi sebagai alasan force meajeur melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan.","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44320383","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"HUKUM KEPEMIMPINAN POLITIK PEREMPUAN (Studi Terhadap Perspektif Muballigh Pekanbaru Riau)","authors":"Akabrizan Akbarizan Akbarizan","doi":"10.24014/JHI.V20I2.9818","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/JHI.V20I2.9818","url":null,"abstract":"Election of Pekanbaru mayor is a phenomenon because one candidates is a woman and Islamic law used to attack political opponents. The purpose is to find out how according to Islam, the opinion of Riau preachers on women's leadership, the postulates of Islamic law that they use, and views on Pekanbaru mayor candidate, Septina Primawati Rusli. Researchers used survey instruments with a questionnaire to 100 Muballigh in Pekanbaru City. The researchers conducted more in-depth interviews. The results showed that first, according to Islam, women should not be leaders, women could be leaders, if women have capabilities, women may be leaders absolutely. Second, the preachers of Riau argued on fifteen themes, The nature of menstruation, pregnancy, until women were not strong in leadership. Third, the arguments of Islamic law are the Koran, Hadith, ijma ', qiyas, and justice and gender equality in Islam.","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"196 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90461517","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"TINJAUAN USIA PERKAWINAN MENURUT HUKUM ISLAM (STUDI UU NO. 16 TAHUN 2019 PERUBAHAN ATAS UU NO. 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN)","authors":"Yuni Harlina","doi":"10.24014/JHI.V20I2.9786","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/JHI.V20I2.9786","url":null,"abstract":"Abstrak: Salah satu faktor terpenting dalam persiapan perkawinan adalah faktor usia. Sebab dalam perkawinan dituntut adanya kedewasaan dan kematangan dari masing-masing calon yang akan melangsungkan perkawinan sebagai modal yang sangat besar dan berarti dalam upaya meraih kebahagiaan dalam rumah tangga. Dalam perspektif hukum Islam, batas usia seseorang untuk melangsungkan perkawinan tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi mengacu kepada makna “balaghu al-nikah”, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Swt pada Qs. Al-Nisa ayat 6 yaitu, seseorang dianggap dewasa (akil baligh) apabila pernah bermimpi yang menyebabkan keluar mani (ihtilam) bagi pria, dan mengalami menstruasi (haids) bagi wanita. Namun demikian, usia kedewasaan bagi masing-masing pria dan wanita tidaklah sama, tergantung pada keadaan kesehatan fisik seseorang, pengaruh biologis, iklim lingkungan social, ekonomi, pendidikan, emosi dan tanggung jawab serta keyakinan agama bagi pasangan yang akan melangsungkan perkawinan. Seiring dengan perkembangan zaman, maka ketentuan usia perkawinan di Indonesia yang ada dalam Undang-undang Nomor 1 Tahu 1974 perlu diubah dan disesuaikan lagi. Maka dipandang sangat perlu untuk melakukan upaya-upaya pembaharuan usia perkawinan di Indonesia disesuaikan dengan situasi dan kondisi di era milenial saat ini bahwa dalam pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan No. 16 Tahun 2019 perkawinan hanya di izinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 (sembilhan belas) tahun. Hal ini dengan maksud membangun kualitas generasi Indonesia menuju masa depan yang lebih unggul.Kata kunci: Usia Perkawinan, Islam dan Undang-undang Perkawinan","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"3 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89644060","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALYSIS OF ISLAMIC STOCK PRICE INDEXS IN INDONESIA","authors":"desi novera danur","doi":"10.24014/JHI.V20I2.10733","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/JHI.V20I2.10733","url":null,"abstract":"ABSTRACT This study aims to determine whether there is an effect of macroeconomic indicators on the Indonesian Islamic stock price index (ISSI) as an dependent variable. The macroeconomic indicators tested in this study are inflation, exchange rates, interest rates (interbank rates), gold prices and world oil prices which are independent variables. This study uses monthly time series data from the 2015-2019 period. This type of research is a multiple linear regression Quantity research with the analytical tool used by ARDL to measure the research parameters. The findings of the research show that the inflation and gold price variables have a significant effect on ISSI both in the short and long term, while the other three variables, namely the exchange rate, interest rate and world oil price have an insignificant effect even though the oil price variable the world has a positive relationship, marked by a positive coefficient value. Keywords : Syariah Stock Index, Macroeconomic Variables","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"5 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"86438241","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"IKHTILAF SAHABAT MENURUT SYAH WALIYULLAH AL-DAHLAWI DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERKEMBANGAN IJTIHAD DALAM ASPEK HUKUM KELUARGA","authors":"M. Ihsan","doi":"10.24014/JHI.V20I2.9760","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/JHI.V20I2.9760","url":null,"abstract":"Abstract This article study abaut many causes the difference of sahabah’s views according to Syah Waliyulllah al-Dahlawi and its related to the defeloping of ijtihad in family law. The method that used in this article is library reseach. After researching is knewn that the causes of differenfes of sahabah is caused the difference to judge and understand about the Tradition of Muhammad prophet, many verses of al-Quran has several meaning, difference of method using in understansing nash. Key words ; ikhtilaf sahabat, taklid, talfiq, hukum keluarga","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"20 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83882634","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Marriage with Same Tribes in the Customary Law of Minangkabau Batipuh Ateh (A Legal Anthropology Approach)","authors":"Y. Sopyan, Helma Suryani","doi":"10.28918/jhi.v18i2.3262","DOIUrl":"https://doi.org/10.28918/jhi.v18i2.3262","url":null,"abstract":" \u0000This paper explores the causes of the prohibition of ethnic marriage in Minang Batipuh Ateh. This legal anthropological research uses a qualitative approach. Information and data are obtained by observation, interviews and literary studies. Informants were selected purposive and developed using the Snowball method. The analysis used an interactive model. The results showed that, the prohibition of tribal marriages in Minang Batipuh Ateh aims to restore the disturbed balance due to violations committed by a person and to maintain the existence of the culture and lineage of the Minang tribe based on matrilineal. Apart from that, the prohibition of inter-ethnic and ethnic marriages in Batipuh Ateh, because: 1) maintaining and preserving customary law; 2) limiting associations; 3) give birth to quality offspring; 4) does not interfere with children's psychology; 5) do not lose their customary rights, and 6) customary payment sanctions. Sanctions for violations of tribal marriages in Batipuh Ateh are: 1) the perpetrator was expelled from Nagari 2) the penalty imposed on Ninik-Mamak by paying a fine; 3) thrown away according to custom, or discarded saro, and 4) excluded from social interactions. Therefore, the permissibility of tribal marriages originating from different Nagari is a solution provided by traditional leaders, as an answer to the changing times, and accommodation to the view of Islamic marriage law, although with strict conditions, to maintain the existence of customary law.","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45256001","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Konsep Shared Parenting dalam Hadhanah Pasca Perceraian; Kajian Perundang-Undangan Perkawinan Islam Kontemporer","authors":"maghfirah maghfirah, Gushairi Gushairi","doi":"10.24014/JHI.V20I2.12169","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/JHI.V20I2.12169","url":null,"abstract":"Hadhanah Pasca Perceraian; Kajian Perundang-Undangan Perkawinan Islam Kontemporer. Tulisan ini mengulas tentang konsep Hadhanah dalam Hukum Islam, dengan metode deskriptif dan telaah terhadap peraturan perundang-undangan. Dari hasil kajian yang dilakukan, penulis menggambarkan terkait adanya pembaruan dalam hak asuh anak dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, dan penulis juga menawarkan satu konsep yaitu shared parenting/ joint parenting, yaitu pengasuhan secara bersama demi kepentingan terbaik bagi anak. ","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"6 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-12-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"74238608","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Siyasah Pandemi ‘Umar bin al-Khaṭṭāb","authors":"Masykur Rozi","doi":"10.28918/jhi.v18i2.2848","DOIUrl":"https://doi.org/10.28918/jhi.v18i2.2848","url":null,"abstract":"Paper ini untuk menganalisis sikap Umar bin Khattab dalam menghadapi pandemi ‘Amwas tahun 638-639 M dalam perspektif politik kesehatan; dan menemukan pola teori politik kesehatan yang dipraktikan oleh Umar bin Khattab ketika menghadapi darurat kesehatan. Teori politik kesehatan dari Bjørkdahl & Carlsen digunakan untuk mengkonstruksi data historis yang terdokumentasi dalam kitab-kitab hadits dan sejarah menjadi menjadi suatu teori. Metode yang di gunakan adalah dokumentasi dan dengan menggunakan teknik analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, Umar bin Khattab menempatkan kesehatan sebagai elemen penting di bawah prospek kesejahteraan rakyat. Umar bin Khattab memahami wabah sebagai kenyataan alamiyah manusia. Keyakninan ini dijadikan basis pengetahuan dalam membentuk kebijakan penanganan wabah. Implementasi teknis pertama adalah penyerahan otonomi secara terbatas kepada amir untuk mencegah konflik kewenangan. Implementasi kedua adalah transfer nilai yang menjadi standar bagi pembentukan kebijakan praktis. Taktik komunikasi yang dipakai oleh Umar bin Khattab adalah perumpamaan dan idiom-idiom yang sesuai dengan kapasitas pemahaman lawan bicara melibatkan semua pihak agar ikut serta dalam penanganan wabah.","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-11-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44406924","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"The Adat Litigation and Adultery Sanctions In Batanghari-Jambi Province","authors":"Fathuddin Abdi, Efni Anita, E. Hardi","doi":"10.28918/jhi.v18i2.2766","DOIUrl":"https://doi.org/10.28918/jhi.v18i2.2766","url":null,"abstract":" \u0000This paper analyzes about the process and sanctions for adultery in the Customary institutions of Batanghari according to Islamic law. The method used sociology of law with a qualitative approach. The technique of collecting information uses observation, interviews and literary studies. The analysis technique uses an interactive model. The results showed, the resolution process and sanctions adultery in the Customary Institution of Batanghari, are:1) adultery pairs will be called by customary stakeholders (niniek mamak) and collected by tuo-tuo tenganai;2) if both have confessed, the niniek mamak, syara’ officials and the village head will determine the sanctions in the form of fines/debts and the time of payment; 3) payment times: 1x7, 2x7, 3x7 (3 weeks). If, the perpetrator has not paid, then he will be expelled from the village, because it is considered that he does not respect customary law. The sanctions for the perpetrator of adultery in that customary law is not the same as the Islamic criminal law, namely the stoning penalty for adultery. However, substantively its does not contradict Islamic law because the Al-Quran and Sunnah do not show the prohibition of imposing sanctions that are less than the ones stipulated by sharia, even Islamic law calls for the perpetrator to be forgiven or to be given a punishment that does not exceed the perpetrator's actions.","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-11-10","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43310623","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"REKONSTRUKSI PROSES MEDIASI KELUARGA INDONESIA","authors":"Azzuhri Al Bajuri","doi":"10.24014/JHI.V20I1.9544","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/JHI.V20I1.9544","url":null,"abstract":"Abstract : The gap between the expectations of the application of the PERMA Mediation Procedure in the Court with the increasing number of mediation failures especially in the case of families in Indonesia. This research is a qualitative research using library research method with normative-juridical empirical approach with system theory proposed by Jasser Audah. The results of this study suggest that the reconstruction of the Indonesian family mediation process by establishing new rules is an urgent need to reduce the number of divorces in Indonesia.Abstrak : Kesenjangan antara harapan penerapan PERMA Prosedur Mediasi di Pengadilan dengan jumlah kegagalan mediasi yang semakin meningkat terlebih dalam perkara keluarga di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian pustaka dengan pendekatan normatif-yuridis empiris dengan teori sistem yang dikemukakan oleh Jasser Audah. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa rekonstruksi proses mediasi keluarga Indoesia dengan membentuk aturan baru adalah kebutuhan yang sangat mendesak untuk menekan jumlah perceraian di Indonesia.","PeriodicalId":31992,"journal":{"name":"Jurnal Hukum Islam","volume":"68 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"73776527","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}