{"title":"PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGAWASAN DILIHAT DARI KETERWAKILAN PEREMPUAN PADA PEMBANGUNAN POLITIK DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU","authors":"M. Maryanti","doi":"10.55108/jbk.v2i1.235","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v2i1.235","url":null,"abstract":"Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis partisipasi masyarakat dalam pengawasan dilihat dari keterwakilan perempuan dalam pembangunan politik di Provinsi Kepulauan Riau. Meskipun berbagai upaya telah dilakukan, partisipasi dan keterwakilan perempuan dalam politik masih rendah. ProvinsiKepulauan Riau menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang keterwakilan perempuan dalam lembaga legislatif rendah dibandingkan dengan provinsi lainnya. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan melakukan studi pustaka yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dan keterwakilanperempuan. Dalam studi ini ditemukan bahwa ada berbagai permasalahan dalam rendahnya partisipasi perempuan. Di sisi lain, penelitian ini juga ditemukan bahwa adanya peluang partisipasi masayarakat dan keterwakilan perempuan. Pemerintah daerah menjadi salah satu aktor yang dapat mengeluarkan peraturan daerah untuk menjamin pengarusutamaan gender di wilayahnya. Pada akhir penelitian, penulis memberikan beberapa rekomendasi kepada para pemangku kepentingan berkaitan dengan partisipasi masyarakat dalam pengawasan keterwakilan perempuan dalam pembangunan politik di Provinsi Kepulauan Riau.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126160324","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"DESAIN ULANG PENGATURAN PENCEGAHAN PRAKTIK KORUPSI KAMPANYE DALAM PEMILIHAN KEPALA DAERAH OLEH APARATUR SIPIL NEGARA","authors":"Beni Kurnia Illahi","doi":"10.55108/jbk.v2i1.232","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v2i1.232","url":null,"abstract":"Pemilihan umum (pemilu) merupakan ihwal yang mesti dikawal dalam ruang publik. Pemilu bahkan dalam implementasinya telah bertransformasi menjadi komoditas bisnis yang menggiurkan. Itu sebabnya, proses pemilu yang jujur dan adil merupakan kunci keberhasilan demokrasi. Sebagai wujud kedaulatan rakyat, sistem pemilu yang didesain termasuk penyelenggaranya harus mencerminkan sikap integritas dan terbebas dari praktik kecurangan. Munculnya pelbagai aksi kecurangan dan pelanggaran yang terjadi massif, menggambarkan masih belum efektifnya penegakan hukum pemilu padasetiap pesta demokrasi. Salah satu pelanggaran yang menjadi perhatian publik yaitu praktik korupsi kampanye yang dilakukan oleh penyelenggara negara. Secara yuridis, aturan yang mengatur soal larangan penyelenggara negara untuk turut serta melakukan kampanye sudah diakomodir, namun aturan tersebut masih terdapat celah hitam sehingga praktik korupsi kampanye oleh penyelenggara negara masih saja menjamur. Itu sebabnya, merupakan suatu hal yang menarik jika dikaji berdasarkan harmonisasi aturan dengan meninjau praktik dan mencari desain ideal dalam rangka mencegah dan menindakpelanggaran tersebut melalui penataan ulang pengaturan pencegahan praktik kampanye dalam pemilihan umum oleh penyelenggara negara.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126427083","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PARTISIPASI POLITIK MASYARAKAT TERHADAP PEMILIHAN UMUM PERSPEKTIF GOOD GOVERNANCE","authors":"Asrizal Asrizal","doi":"10.55108/jbk.v2i1.236","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v2i1.236","url":null,"abstract":"Pemilihan umum secara langsung telah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pembangungan demokrasi dan dalam mewujudkan pemerintahan yang layak. Untuk mencapai hal itu, maka perlu diadakan penelitian bagaimana mengetahui tingkat partisipasi politik masyarakat terhadap pemilu perspektif good governace. Penelitian ini merupakan kajian pustaka (library research). Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengen mencermati buku-buku, teks-teks, arsip-arsip dan dokumen-dokumen. Adapun tipe pelaksanaannya yaitu deskripsi, dengan analisis data bersifat deskriptif-analitis. Adapun hasil dari penelitian ini adalah dalam pelaksanaan pemilu, pemerintah perlu menerapkan prinsip-prinsip good governance sebagai landasan bagi penyusunan dan penerapan kebijakan negara yang baik. Good governance menjadi penting untuk diimplementasikan dalam hal meningkatkanpeningkatan transparansi politik. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas partisipasi politik masyarakat dan untuk menghindari penyimpangan dalam hal pelaksanaan pemilu. Apabila pemilu tidak dikelola memakai prinsip-prinsip good governance, maka kemungkinan besar pemilu dimanfaatkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"59 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115580762","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"URGENSI IMPLEMENTASI KEBIJAKAN AFFIRMATIVE ACTION TERHADAP PEMENUHAN HAK BERPOLITIK MASYARAKAT ADAT DALAM PELAKSANAAN PEMILIHAN UMUM DI","authors":"Fira Saputri Yanuari","doi":"10.55108/jbk.v2i1.234","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v2i1.234","url":null,"abstract":"Pemilihan Umum atau biasa disebut dengan pesta demokrasi rakyat adalah salah satu parameter utama untuk mengukur keberhasilan penerapan demokrasi di suatu negara. Untuk menegaskan peran penting rakyat dalam pesta demokrasi ini, Indonesia mencantumkannya dalam konstitusinya pasal 1 ayat (2) yang berbunyi, “Kedaulatan berada di tangan rakyat dandilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar”, pasal ini membuktikan keseriusan Indonesia dalam mewujudkan demokrasi terlebih dalam melibatkan rakyat dalam segala sesuatunya termasuk dalam pemilu. Namun, ternyata belum semua rakyat Indonesia mengambil peran memilih dalam pemilu. Bukan karena mereka tidak ingin tetapi banyak dari mereka tidak masuk dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap) khususnya dirasakan oleh masyarakat hukum adat.. Mengacu pada Pasal 348 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu, salah satu syarat memilih dalam Pemilu ialah memiliki E-KTP. Permasalahan timbul karena banyaknya masyarakat adat yang tidak memiliki domisili sehingga tidak mempunyai E-KTP.Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis-normatif yang tidak melupakan isu-isu yang ada di masyarakat. Melihat permasalahan yang terjadi, Penulis memiliki gagasan untuk menerapkan metode Affirmative Action dengan cara memberikan kebebasan kepada setiap masyrakat adat yang belum terakomodir oleh KPU sebagai DPT melalui pemerintah daerah, sebagaimana yang tertera pada Pasal 96 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa bahwa Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota melakukan penataan kesatuan masyarakat hukum adat dan ditetapkan menjadi Desa Adat. Atas bunyi pasal tersebut dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya permasalahan terkaitmasyarakat dapat teratasi dengan diberikannya kewenangan di setiap KPU Kabupaten/Kota untuk mendata setiap masyarakat adat yang ada di wilayahnya dan memberikan metode affirmative action yang tepat untukmelakukan sendiri mekanisme pemilu.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"130 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123436781","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KEBIJAKAN KRIMINAL DALAM MENGATASI KAMPANYE HITAM (BLACK CAMPAIGN) DI MEDIA SOSIAL","authors":"Irwan Hafid","doi":"10.55108/jbk.v2i1.233","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v2i1.233","url":null,"abstract":"Penyalahgunaan media sosial dalam masa kampanye pilkada atau pemilu menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian serius. Selain menjanjikan berbagai kemudahan, media sosial juga menjadi sarana yang efektif untuk melakukan tindakan kejahatan, seperti penyebaran hoaks dan kampanye hitam. Realitas tersebut kiranya menjadi basis dorongandilakukannya penulisan ini. Teori yang digunakan dalam penelitian ini ialah teori kebijakan kriminal dan kampanye di media sosial. Sementara metode yang digunakan adalah penelitian hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan (statue approach), pendekatan konsep (conceptual approach), dan pendekatan perbandingan (comparative approach). Adapunoutput dari tulisan ini bahwa persoalan legislasi dan koordinasi menjadi problem dalam pengaturan kampanye di media sosial. Oleh karena itu, hal tersebut harus diatasi melalui upaya penal dan non-penal sebagai bagian dari kebijakan kriminal.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"46 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129983594","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KEADILAN PEMILU DAN PERGESERAN DEMOKRASI, SEBUAH ANALISA ATAS PELAKSANAN PEMILU 2019 DAN MASA DEPAN PEMILU","authors":"Kaka Suminta","doi":"10.55108/jbk.v1i1.222","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v1i1.222","url":null,"abstract":"Demokrasi hanya bertahan jika menghasilkan pemerintahan yang efektif, untuk itu dibutuhkan tiga kondisi yang saling terhubung, Pertama, adanya kesepakatan mayoritas mengenai arah utama kebijakan menuju keamanan, pertumbuhan dan kesejahteraan. Kedua, bersifat konstitusional dan membatasi kekuatan mayoritas. Dan Ketiga, seluruh proses politik harus ditopang oleh kesetiaan yang tersebar luas terhadap nilai-nilai demokrasi dan kesinambungan proses demokrasi itu sendiri.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"72 1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115693880","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"QUO VADIS KEPASTIAN HUKUM, HAK MENCALONKAN DIRI BAGI MANTAN NARAPIDANA KORUPSI DAN PENGURUS PARPOL DALAM PEMILU 2019","authors":"Rikson H Nababan","doi":"10.55108/jbk.v1i1.226","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v1i1.226","url":null,"abstract":"Hak mencalonkan diri dan dicalonkan dalam Pemilu, merupakan hak sipil politik setiap individu. Hak ini merupakan hak generasi pertama atau juga disebut hak bawaan, yang keberadaannya secara otomatis hadir saat individu tersebut dilahirkan, tanpa harus terlebih dahulu, diberikan oleh negara. Oleh sebab itu, sudah menjadi kewajiban bagi negara dan penyelenggara negara, untuk memberikan perlindungan atas pemenuhan hak sipil politik tersebut dan bukan malah menghilangkan dengan alas an apapun. Demikian halnya terkait pembatasan atas hak tersebut, wajib diatur dalam sebuah ketentuan Undang-Undang, dengan tujuan sebagai penghormatan atas hak sipil politik warga negara lainnya dan penciptaan ketertiban.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"14 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131010705","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"EVALUASI MANAJEMEN PENYELENGGARAAN PEMILU SERENTAK TAHUN 2019 DAN IMPLIKASINYA","authors":"Rikson P Tampubolon","doi":"10.55108/jbk.v1i1.227","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v1i1.227","url":null,"abstract":"Proses pemilu yang boleh berjalan, namun meninggalkan sejumlah permasalahan yang menjadi noda pada proses pemilu itusendiri, harus menjadi pelajaran yang berharga bagi anak bangsa ini. Pesta demokrasi kita menjadi sebuah tragedi kemanusiaan untuk sebuah cita-cita yang mulai yaitu usaha melahirkan kepemimpinan yang baru. Kita tidak boleh menganggap permasalahan yang ada menjadi persoalan rutin. Persoalan manajemen menjadi akar dari permasalahan yang membuat silang sengkarut masalah kepemiluan dan menjadi preseden buruk bagi perkembangan demokrasi karenabanyak menimbulkan ribuan korban jiwa, bahkan banyak yang meninggal dunia dari penyelenggara pemilu kita di garda terdepan. Memperbaiki manajemen kepemiluan dengan memperhatikan beban sesungguhnya dari proses pemilu adalah sebuah keniscayaan. Memperkuat manajemen logistik yang ada, sehingga mampu menurunkan dampak pada permasalahan yang ada. Meningkatkan pemahaman penyelenggara pemilu, agar terhindar dari kekacauan penyelenggaraan utamanya di daerah. Dan, yang paling penting perlu dilakukan evaluasi yang menyeluruh terkait pelaksanaan pemilu serentak, terutama akibatnya banyak korban penyelenggara pemilu di daerah yang menjadi korban pesta demokrasi kita.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"117070139","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"MENJAGA NETRALITAS ASN DALAM PEMILU","authors":"Nuraida Mokhsen","doi":"10.55108/jbk.v1i1.224","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v1i1.224","url":null,"abstract":"Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) menjadi salah satu isu krusial yang banyak menjadi perhatian dalam penyelenggaraanPilkada Serentak tahun 2015, 2017 dan 2018 serta Pemilu legilatif dan pemilihan presiden pada tahun 2019 karena banyaknya bukti yang menyatakan bahwa pegawai ASN banyak yang tidak bersikap netral. Prinsip-prinsip netralitas ASN sudah diatur dalam kode etik dan kode perilaku KASN. Kode etik ini penting untuk mewujudkan ASN yang professional tidak hanya dalam kepemilikan kompetensi saja namun juga perilaku dalam menjalankan tugas. ASN mempunyai hak pilih namun dalam melaksanakan tugasnya harus netral dari berbagai pengaruh politik. Karena dalam kehidupannya ASN sering kali menjadi panutan, maka kelakukan dan perilaku dari ASN tidak diperbolehkan untuk memperlihatkan dukungan kepada salah satuPasangan Calon ataupun Caleg. Apalagi sampai mengajak bawahannya untuk memilih salah satu Paslon atau Caleg karena halini termasuk juga ke dalam pelanggaran yang dapat dikenakan hukuman berat dalam UU Pemilu.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121390671","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"MENDEFINISIKAN KEMBALI “MONEY POLITICS” SEBAGAI TRANSAKSI PEMILU DALAM PENGAWASAN PEMILU DI INDONESIA","authors":"Endri Sanopaka","doi":"10.55108/jbk.v1i1.225","DOIUrl":"https://doi.org/10.55108/jbk.v1i1.225","url":null,"abstract":"Praktek “Money Politics” menjadi lebih mengemuka dalam setiap pemilihan electoral, baik itu pemilihan umum legislatif maupun pemilihan kepala daerah. Peran badan pengawas Pemilu seperti dikerdilkan hanya untuk mengawasi sesuatu yang abstrak bernama “Money Politics”. Konsep “Money Politics” yang diterjemahkan menjadi Politik Uang perlu di didefinisikan kembali secara konseptual, karena Politik Uang menjadi Kata Benda yang sempit diterjemahkan terbatas pada pemberian berupa uang atau bentuk lainnya dalam rangka mempengaruhi pemilih yang membentuk sebuah relasi Patron-Clients. Artikel ini ingin menawarkan sebuah pemahaman konseptual dari “Politik Uang” menjadi “Uang Politik” dalam praktek transaksi pemilu agar laporan atas pelanggaran pemilu kepada Badan Pengawas Pemilu tidak abstrak dan melemahkan alat bukti yang telah dimiliki. Kasus Pemilihan Umum dan Pemilihan Presiden Tahun 2019 menjadi ilustrasi dalam menguraikan praktek transaksi pemilu dengan menggunakan uang politik.","PeriodicalId":267726,"journal":{"name":"Jurnal Bawaslu Provinsi Kepulauan Riau","volume":"49 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114153050","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}