Dian Arumningsih, Kusdiman Joko Priyanto, Candra Latu Mowo
{"title":"SUSTAINABLE GREEN CONCRETE USING SHELLFISH WASTE POWDER, AND RICE HUSK ASH","authors":"Dian Arumningsih, Kusdiman Joko Priyanto, Candra Latu Mowo","doi":"10.36728/jtsa.v27i2.1857","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i2.1857","url":null,"abstract":"The growth and development of infrastructure is currently very rapid and the cement production process also produces a lot of carbon dioxide which plays an important role in global warming that is happening in this world. In the last decade, many innovations have been made to conventional concrete so that it has high strength, is durable, cheap and environmentally friendly and easy to apply in the field. Therefore, new sustainable materials are needed to replace cement production, but these materials are also required for the workability required to make concrete. The concept of green concrete, the use of rice husk ash waste, and shellfish waste can be a solution to replace some cement and some fine aggregate. This innovative concrete research was obtained using shellfish waste powder 10%, and rice husk ash 10%, shellfish shell powder waste with the main element calcium oxide (CaO), can be a substitute for fine aggregate and rice husk ash waste which contains (SiO), can be used as an additive or partial replacement of cement in the manufacture of concrete, this innovative material can reach a value of 7 days reaching 35 MPa. And the normal mix design concrete is 30 MPa. With the slump test target according to the 1972-2008 SNI standard, which is 30-60 mm, it can be concluded that it can be a reference source by utilizing waste in Indonesia, easy to obtain, and effective.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128223682","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALISIS PEMANFAATAN PASIR PANTAI SADRANAN SEBAGAI BAHAN TAMBAH CAMPURAN (AC-BC) TERHADAP SIFAT MARSHALL","authors":"Aldo Rafianto, Teguh Yuwono, Sumina","doi":"10.36728/jtsa.v27i2.2158","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i2.2158","url":null,"abstract":"Indonesia adalah negara berkembang yang sedang berevolusi menjadi negara maju. Indonesia memiliki jumlah penduduk terbanyak ke-empat di dunia. Pasir Pantai merupakan salah satu jenis agregat alami yang belum banyak dimanfaatkan secara maksimal dalam lingkup konstruksi, Yogyakarta adalah salah satu daerah yang memiliki banyak pantai salah satunya adalah Pantai Sadranan, peneliti melakukan pengkajian secara teknis di laboratorium terhadap pasir pantai sebagai bahan tambah campuran AC-BC. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Perkerasan Jalan Raya, Teknik Sipil Universitas Tunas Pembangunan Surakarta dengan menggunakan variasi kadar aspal sebesar 4%, 5% dan 6% dan variasi prosentase campuran pasir pantai sebesar 0%, 15%, 30%, dan 45% dari berat total agregat halus. Setelah sampel selesai dibuat, kemudian dilakukan pengujian sifat Marshall untuk mengetahui Stabilitas, VIM, VMA, VFB dan dilakukan perhitungan aspek ekonomis Hasil penelitian menunjukkan pengaruh pasir pantai terhadap campuran AC-BC dengan penggunaan Kadar Aspal Optimum (KAO) senilai 5% dan Proporsi Pasir Pantai Optimum (PPPO) senilai 15% . Penggunaan (KAO 5%) dan (PPPO 15%) mempengaruhi Sifat Marshall, dan Aspek Ekonomis, yaitu mempunyai nilai stabilitas tertinggi serta penurunan harga yang cukup efisien. Sifat Marshall yang didapatkan adalah sebagai berikut, Stabilitas = 1739,86 kg, VIM = 4,33 %, VMA = 16,87 %, dan VFB = 74,80. Aspek Ekonomis yang didapatkan yaitu terjadi penurunan anggaran, dibuktikan dengan AHSP yang menggunakan tambahan pasir pantai sebesar 15% diperoleh harga senilai Rp 1.424.006,76/m3 sedangkan AHSP dengan pasir sungai diperoleh harga senilai Rp 1.470.899,43/m3. Maka penggunaan pasir menyebabkan penurunan anggaran senilai Rp 46.892,67/m3 atau 0,032% dari harga menggunakan pasir sungai","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134239163","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"HOTEL RESORT YANG PRIVAT DAN REKREATIF DI SITU BAGENDIT KABUPATEN GARUT","authors":"Kuncoro Ahmad Musthofa Musthofa, Ismadi, Rully","doi":"10.36728/jtsa.v27i2.1850","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i2.1850","url":null,"abstract":"Program pengembangan pariwisata saat ini menjadi program unggulan yang sedang digarap serius oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Lokasi sasaran dari program ini adalah lokasi-lokasi potensial namun belum banyak diketahui dan dikunjungi karena minimnya fasilitas untuk wisatawan yang datang. Salah satu lokasi potensial yang menjadi unggulan program ini adalah Situ Bagendit di Kabupaten Garut. Dengan potensi yang dimilikinya, Pemerintah Provinsi Jawa Barat yakin Situ Bagendit akan menjadi kawasan wisata yang dapat menarik banyak wisatwan yang berkunjung setelah dilakukan revitalisasi dan pengembangan di kawasan tersebut. Upaya revitalisasi sudah dimulai oleh Pemerintah Provinsi sejak akhir tahun 2020 dan masih dalam proses finishing hingga jurnal ini ditulis. Adapun pengembangan yang dialakukan oleh pihak Pemerintah Provinsi meliputi 6 zona, yaitu zona publik, kuliner, green school, komersil, water sport, dan konservasi. Sayangnya, pengembangan yang dilakukan oleh pihak Pemerintah Provinsi tidak meliputi fasilitas akomodasi untuk para wisatawan, sehingga potensi durasi kunjungan yang dilakukan wisatawan hanya singkat. Dampakanya, wisatawan tidak dapat meng-eksplore seluruh spot wisata di kawasan dengan total luas lebih dari 120 hektar tersebut. Dampak tersbut merambat pada sisi efektifitas kawasan sebagai objek wisata, dengan singkatnya durasi berkunjung, terbatas pula kawasan yang ter-ekspose, dan sekit pula potensi pertumbuhan ekonomi yang terbentuk, dan puncaknya, program Pemerintah Provinsi untuk mengembangkan ekonomi msyarakat sekitar dengan wasilah pariwisata tidak dapat berjalan optimal. Hotel Resort dapat menjadi solusi untuk itu, karena selain sebagai sarana akomodasi, resort juga sesuai dengan konsep kawasan wisata. Bukan sesederhana hotel yang hanya menyediakan fasilitas akomodasi saja. \u0000Kata kunci: Akomodasi, Hotel, Resort, Situ Bagendit.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125520877","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALISIS PRODUKTIVITAS DAN KEBUTUHAN ALAT BERAT (Studi Kasus: Proyek Preservasi dan Pelebaran Jalan Palur-Sragen-Mantingan STA 0+325 – STA 2+325)","authors":"Wilhelmus William, Herman Susila, Erni Mulyandari","doi":"10.36728/jtsa.v27i2.2161","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i2.2161","url":null,"abstract":"Proyek infrastruktur jalan sebagian besar menggunakan alat berat. Alat berat harus digunakan secara efisien sehingga perlu mengetahui kemampuan alat, jenis-jenis alat, keterbatasan alat, serta biaya operasional alat. Produktivitas alat berat bergantung pada jenis atau tipe alat, metode kerja, kondisi medan kerja, serta waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui produktivitas serta jumlah alat berat yang diperlukan untuk menyelesaikan proyek jalan Palur-Sragen-Mantingan. Metode penelitian dilakukan dengan menghitung volume pekerjaan, menghitung produktifitas, durasi pekerjaan, dan menghitung kebutuhan alat. Hasil analisis didapat bahwa produktivitas alat berat pada pekerjaan galian : Excavator = 859 m³/hari, Dumptruck = 888,14 m³/hari. Pada pekerjaan LPA : vibrator roller = 2.990 m³/hari, Bulldozer = 2.452 m³/hari. Pada pekerjaan AC-Base : Asphalt Finisher = 2.416,55 Ton/hari, Tandem Roller = 1.567 Ton/hari, Pneumatic tire roller = 1.567 Ton/hari. Pada pekerjaan AC-BC : Asphalt Finisher = 974,95 Ton/hari, Tandem Roller = 632,19 Ton/hari, Pneumatic tire roller = 1.039,48 Ton/hari. Pada pekerjaan AC-WC : Asphalt Finisher = 652,75 Ton/hari, Tandem Roller = 423,26 Ton/hari, Pneumatic tire roller = 713,319 Ton/hari. Pada pekerjaan lapis resap aspal : Asphalt sprayer = 16.494,5 m²/hari. Pada pekerjaan pembersihan : Air Compressor = 2.721,6 m²/hari. Waktu yang dibutuhkan alat berat dalam pelaksanaan pekerjaan galian = 8 hari , pekerjaan Lapis pondasi Atas = 3 hari, pada pekerjaan AC-Base = 3 hari, pekerjaan AC-BC = 3 hari, pekerjaan AC-WC = 3 hari, pekerjaan lapis resap aspal = 4 hari, pekerjaan pembersihan = 4 hari. Alat berat yang dibutuhkan selama pekerjaan pada masing-masing pekerjaan yaitu : Excavator = 2 unit, Dumptruck = 8 unit, Vibrator roller = 1 unit, Bulldozer = 2 unit, Asphalt Finisher = 2 unit, Tandem Roller = 2 unit, Tire Roller = 1 unit, asphalt sprayer = 1 unit, Air compressor = 2 unit.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-08-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131515571","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PERENCANAAN STRUKTUR PERKERASAN KAKU METODE AASTHO 1993 DAN NAASRA","authors":"Sumina, Kusdiman Joko Priyanto, Suryo Handoyo","doi":"10.36728/jtsa.v27i1.1584","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i1.1584","url":null,"abstract":"Perkerasan jalan adalah salah satu unsur kontruksi jalan raya yang sangat penting sebagai kelancaran transportasi darat sehingga dapat memberikan kenyaman dan keamanan bagi penggunanya. Untuk itu diperlu perencanaan yang baik berdasarkan standar dan kriteria perencanaan yang berlaku di indonesia. Dengan demikian perlu adanya perencanaan jenis perkerasan apa yang layak dan efisien. Penentuan perencanaan nilai rancang tebal perkerasan kaku (Rigid Pavement) dapan direncanakan dan dihitung dengan banyak metode. Metode yang dilakukan dalam perencanaan tebal perkerasan kaku pada ruas jalan Tangen – Ngrombo dipilih metode AASTHO 1993 (America Association of State Highway and Transportation Officials 1993) dan metode NAASRA (National Association Of Australian State Road Authorities). Data primer didapatkan berdasarkan hasil penelitian lansung dan data sekunder diperoleh dari DPU Bina Marga Kabupaten Sragen. Setelah dilakukan perhitungan dan didapatkan data data Lalulintas Harian Rata-rata (LHR), Jumlah Sumbu Kendaraan Niaga (JSKN) , CBR tanah dasar dan Curah Hari Hujan maka dalam perhitungan dengan methode AASTHO 1993 didapat tebal rigid pavement 250 mm dengan hasil kebutuhan tulangan dowel Ø32 – 300 mm dengan panjang 450 mm, tulangan tie bar Ø13–800 mm dengan panjang 650 mm, hasil perhitungan tulangan memanjang dan melintang sebesar Ø13 – 375 mm. Sedangkan menggunakan metode NAASRA dengan hasil perencanaan tebal rigid pavement 270 mm dengan hasil kebutuhan tulangan dowel Ø32 – 300 mm dengan panjang 450 mm, tulangan tie bar Ø12 – 1200 mm dengan panjang 635 mm, dan kebutuhan tulangan memanjang dan melintang sebesar Ø13 – 350 mm.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"132085784","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PENGARUH KOMBINASI GYPSUM DAN FLY ASH TIPE C PADA KUAT TEKAN MORTAR","authors":"Aulia Rahman","doi":"10.36728/jtsa.v27i1.1545","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i1.1545","url":null,"abstract":"The use of gypsum and fly ash is very common in construction of Indonesia. Both of these materials are used because of Indonesia's rich natural potential. Gypsum was chosen because it has the same chemical composition as cement, which is calcium (Ca), while type C fly ash also shows the same content. By combining the two materials, the researchers tried to study their impact on the compressive strength of mortar. The proportion of cement was reduced from 100%, 50%, 25%, and 0%, while the rest was replaced by a combination of gypsum and type C fly ash. Then, the samples were tested at the age of 7 and 14 days to see the compressive strength performance on early days of hardening. Samples with no substituent composition showed the highest compressive strength of 23.3 MPa, then it continued to decrease as the cement mixture became less, until the lowest was 7 MPa in samples composed only of gypsum and fly ash. There was a significant increase in performance of sample 4 which only contained 25% cement, but it was indicated that the cause was not due to composition, but other factors such as water ratio and compaction. \u0000Keywords: gypsum, type C fly ash, mortar.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114652497","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"EVALUASI DAN PERENCANAAN SISTEM DRAINASE PERKOTAAN","authors":"Vicky Yoga Arisma, Erni Mulyandari, Teguh Yuono","doi":"10.36728/jtsa.v27i1.1645","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i1.1645","url":null,"abstract":"Permasalahan yang ada pada Jalan Kapten Mulyadi yaitu munculnya genangan air ketika hujan turun. Hal tersebut terjadi akibat perubahan tata guna lahan dan kondisi eksisting saluran drainase yang ada tidak berfungsi secara maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi penyebab terjadinya genangan, menghitung kapasitas saluran drainase eksisting, dan merencanakan ulang dimensi saluran drainase di lokasi tersebut. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif yaitu dengan melakukan survei terlebih dahulu di lokasi penelitian kemudian menganalisis data yang diperoleh dengan aturan yang berlaku di Indonesia. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa penampang saluran drainase eksisting kurang memadai atau terlalu kecil sehingga perlu dilakukan perencanaan ulang agar saluran mampu menampung debit limpasan air hujan dan air dari perumahan sekitar sehingga tidak menimbulkan terjadinya genangan ataupun banjir. Adapun hasil perencanaan dimensi saluran drainase yang baru dengan menggunakan debit banjir kala ulang 25 tahun adalah sebagai berikut, nilai tinggi muka air dari dasar saluran (y) = 0,25 m; lebar saluran (b) = 0,50 m; dan tinggi saluran (H) = 0,45 m.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128076676","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PENYESUAIAN DESAIN PASAR KANJENGAN SEMARANG MENUJU KLASIFIKASI BANGUNAN GEDUNG HIJAU","authors":"Ratri Septina Saraswati, LMF Purwanto","doi":"10.36728/jtsa.v27i1.1646","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i1.1646","url":null,"abstract":"Perancangan bangunan gedung termasuk pasar rakyat harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu SNI Pasar, persyaratan bangunan gedung, aksesibilitas dan persyaratan gedung hijau. Bangunan Gedung Hijau mengutamakan pada penghematan energi dengan cara menetukan orientasi bangunan Utara-Selatan untuk mengurangi pemanasan karena sinar matahari, ventilasi dalam ruangan, pemnafaatan pencahayaan alami semaksimal mungkin, dan pengelolaan limbah, sampah, air, dan pemanfaatan material hijau. Apabila dalam tahap perencanaan belum terpenuhi, maka perlu dilakukan peninjauan ulang desain sebelum permohonan izin membangun diajukan.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133433143","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALISA DAMPAK SUMUR BOR DALAM TERHADAP MUKA AIR TANAH DAN EKONOMI SOSIAL MASYARAKAT","authors":"Sony Adiya Putra","doi":"10.36728/jtsa.v27i1.1638","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i1.1638","url":null,"abstract":"Kota Dumai merupakan salah satu kota yang memanfaatkan sumur bor dalam. Kebutuhan utama masyarakat terhadap air yang semakin meningkat mendorong pemerintah memanfaatkan sumur bor untuk ketersediaan air bersih. Air tanah tidak mempunyai potensi merusak namun daya rusak air tanah dapat muncul apabila kondisi dan lingkungan air tanah terganggu. Kerusakan yg terjadi pada air tanah tidak terlihat secara langsung dan apabila dieksploitasi tidak terkendali mengakibatkan dampak negatif sehingga rehabilitasi sangat sulit dilakukan. Berbagai konservasi sumber daya air tanah dilakukan agar bisa memberikan manfaat sosial ekonomi serta berguna bagi kehidupan di masa yang akan datang. Metode yang digunakan untuk mengetahui besarnya penurunan muka air tanah dengan menganalisis kedalaman muka air tanah semula dengan kedalaman muka air tanah sesudahnya serta menganalisis kapasitas debit air yang dimanfaatkan masyarakat. Metode yang digunakan untuk mengetahui dampak sosial ekonomi ditinjau dari dua aspek yaitu aspek finansial (kemampuan dan kemauan masyarakat dalam pembiayaan penyediaan air bersih) dan aspek teknis (tingkat kepuasan masyarakat). Berdasarkan hasil penelitian, penurunan muka air tanah sumur bor dalam sebesar 2,75 meter dalam kurun waktu 1 tahun. Dampak ekonomi yang ditimbulkan yaitu adanya penghematan biaya air bersih semenjak masyarakat menggunakan sumur bor dalam yaitu sebesar 57,81%. Serta dampak sosial yang ditimbulkan yaitu hubungan antar masyarakat yang semakin erat dan toleransi masyarakat menjadi semakin baik.","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126539007","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"EVALUASI KEBIJAKAN PELESTARIAN ZONASI DAN CAGAR BUDAYA DI KAWASAN DATARAN TINGGI DIENG","authors":"Gandhes Kusuma Gumelar, Rully","doi":"10.36728/jtsa.v27i1.1495","DOIUrl":"https://doi.org/10.36728/jtsa.v27i1.1495","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan: (i) mengetahui kebijakan pemerintah terkait pelestarian zonasi dan cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng; (ii) mengevaluasi kebijakan yang sudah ada dengan kondisi eksisting cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng; dan (iii) memberikan rekomendasi berupa program kebijakan terkait pelestarian zonasi dan cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Pelestarian kawasan cagar budaya rawan berbenturan dengan konflik kepentingan antara pemangku kebijakan dan masyarakat di kawasan. Kawasan cagar budaya di Dataran Tinggi Dieng ditetapkan dalam bentuk zonasi oleh pemerintah. Observasi lapangan memperlihatkan terjadi penyimpangan fungsi kawasan yang digunakan sebagai lahan pertanian oleh masyarakat setempat maupun terdesak proyek pembangunan di sekitar kawasan. Sumber informasi menggunakan data primer (hasil wawancara, observasi dan dokumentasi dengan stakeholder) selanjutnya dilakukan dengan beberapa tahapan analisis secara kualitatif. Pendekatan konseptual digunakan untuk merumuskan rekomendasi kebijakan mengenai pelestarian zonasi dan cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. Hasil penelitian menunjukkan: (i) kebijakan pemerintah terkait pelestarian zonasi dan cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng sudah ada, namun praktiknya di lapangan belum maksimal; dan (ii) rekomendasi program kebijakan terkait pelestarian zonasi dan cagar budaya di Kawasan Dataran Tinggi Dieng dapat dilakukan dengan mengevaluasi peraturan terkait, meningkatkan kualitas daya tarik pendukung dan meningkatkan kesadaran serta SDM masyarakat. \u0000Kata Kunci: Cagar Budaya, Dieng, Zonasi","PeriodicalId":120082,"journal":{"name":"Jurnal Teknik Sipil dan Arsitektur","volume":null,"pages":null},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-02-05","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116694370","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}