{"title":"Mashdar dalam Surat Al-Kahfi: Suatu Kajian Morfologis","authors":"Emi Suhemi","doi":"10.22373/JIM.V17I2.9180","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V17I2.9180","url":null,"abstract":"Masdar is a word that shows an event that is independent of time. The researcher chose masdar as the object of research because masdar has a very important role in Arabic, especially the recording of masdar as part of shigat or a part of the wazan tasrif isthilahy form, and even some scholars mention masdar as the origin of ushul from a word or lafadh. Researchers are interested in choosing surah al-kahfi as the object of study on masdar because al-Kahfi is one of the surahs that has virtue. And in surah al-Kahfi, almost half of the verse uses the masdar form. This research is library research using a content analysis method or content analysis. And this research has found some 37 forms of masdar consisting of masdar fill stulasty.AbstrakMasdar adalah kata yang menunjukkan suatu kejadian tanpa terikat dengan waktu. Peneliti memilih masdar sebagai objek penelitian karena masdar memiliki peranan yang sangat penting dalam bahasa Arab terutama tercatatnya masdar sebagai bagian dari shigat atau satu bagian dari bentuk wazan tasrif isthilahy dan bahkan oleh sebagian ulama menyebut masdar sebagai asal ushul dari suatu kata atau lafadh . Peneliti tertarik memilih surah al-kahfi sebagai objek kajian tentang masdar karena al-Kahfi adalah salah satu surah yang memiliki keutamaan. Dan dalam surah al-Kahfi ini hampir setengah dari ujung ayatnya menggunakan bentuk masdar. Penelitian ini adalah penelitian pustaka dengan menggunakan methode content analisis atau analisis isi . Dan penelitian ini telah menemukan sejumlah 37 bentuk masdar yang terdiri dari masdarnya fiil- fiil stulasti.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"30 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131532340","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Bahaya Riba dalam Perspektif Hadis","authors":"H. Latif","doi":"10.22373/JIM.V17I2.9047","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V17I2.9047","url":null,"abstract":"This article aims to discuss the purpose of riba (usury) prohibition within The Prophet Tradition perspective. As it is known undoubtfully, the terminology of riba (usury) is forbidden not only in Islam as a religion but also in Jew as well as Christian. In Al-Qur’an itself, the prohibition of riba has gradually been prohibited, at least through four passages that are found in four disparate surahs in which riba (usury) at last is forbidden and condemned; even it is also considered as a great sin. By using bibliography studies, this article would like to dig and elaborate on some of the Prophet hadith regarding the prohibition of riba and its impact within society. It is believed that riba is a great sin in Islam because it leads to social jealousy and injustice. Therefore the tradition of riba is aiming at promoting gracious, wisdom, a mutual benefit that can realize a more just economic system that is based on Islamic ethics to perform justice and prosperity.AbstrakArtikel ini ingin membahas tujuan dari pelarangan riba dalam perspektif hadis. Tidak diragukan lagi, istilah riba sebenarnya dilarang dalam semua agama samawi, baik Yahudi, Kristen maupun Islam. Di dalam Al-Qur'an sendiri, pelarangan riba memiliki empat ayat yang ditemukan pada empat surat berbeda, di mana riba jelas-jelas dikutuk dan dilarang, bahkan riba dinyatakan pula sebagai dosa yang sangat serius. Dengan menggunakan studi literatur, artikel ini ingin menggali dan mendalami beberapa hadis tentang larangan riba dan dampaknya di masyarakat. Dikatakan bahwa riba adalah dosa dalam Islam, karena mengarah pada kehancuran, sedangkan sedekah mengarah kepada pertumbuhan. Oleh karena itu, penghapusan riba sebenarnya bertujuan untuk memajukan sistem ekonomi yang merahmati, lebih berkeadilan, hubungan sosial yang lebih berimbang serta nilai-nilai etika yang sejalan dengan ajaran Islam. ","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"19 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127940340","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Konsep Sabar dalam Perspektif Al-Qur’an","authors":"Miskahuddin Miskahuddin","doi":"10.22373/JIM.V17I2.9182","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V17I2.9182","url":null,"abstract":"Patience is the inner human attitude in restraining the emotions and desires of all needs. The strength of faith and aqidah under Islamic law can affect patients. The ability to be patient by controlling lust will be glorified by Islam. An attitude of patience can make humans refrain from degrading human dignity. Therefore, the concept of patience in the Al-Qur'an is human self-control based on Islamic aqidah in the guidance of the Al-Qur'an al-KarimAbstrakSabar merupakan sikap batin manusia dalam menahan emosi dan keinginan segala kebutuhan. Kekuatan iman dan aqidah yang sesuai dengan syariat Islam dapat mempengaruhi kesabaran. Kemampuan bersikap sabar dengan cara mengendalikan hawa nafsu akan dimuliakan oleh agama Islam. Sikap sabar dapat membuat manusia menahan diri dari perbuatan merendahkan harkat martabat kemanusian. Oleh karena itu, konsep sabar dalam Al-Qur’an pada dasarnya adalah pengendalian diri manusia berdasarkan aqidah Islam dalam bimbingan Al-Qur’an al-Karim","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"8 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114182526","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Pemikiran Kebahasaan Syeikh Al-Shabuni dalam Kitab Shafwat Al-Tafasir: Analisis terhadap Penafsiran Surat Al-Fatihah","authors":"Suhaimi Suhaimi","doi":"10.22373/JIM.V17I2.9076","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V17I2.9076","url":null,"abstract":"Sheikh Muhammad Ali al-Shabuni is a contemporary commentator. The book of Tafsir that he composed was a book entitled Shafwat al-Tafasir. This book has been spread to various countries. One of the aspects that he pays attention to when dealing with verses of the Koran is the linguistic aspect, whether in the form of isytiqaq, balaghah, or other. This has its appeal for every researcher of linguistics and tafsir because it is very useful in applying various linguistic theories through the examples of verses in the Koran. This simple paper focused on seeing it, specifically in surah Al-Fatihah. Through this article, it is hoped that it can describe in general the linguistic thoughts of Sheikh al-Shabuni. AbstractSyeikh Muhammad Ali al-Shabuni merupakan salah seorang mufasir kontemporer. Kitab Tafsir yang ia karang adalah kitab yang berjudul Shafwat al-Tafasir. Kitab ini telah tersebar ke berbagai negara termasuk Indonesia. Salah satu sisi yang beliau perhatikan dalam setiap menghadapi ayat Al-Quran adalah aspek kebahasaan, baik berupa isytiqaq, balaghah ataupun lainnya. Hal tersebut memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap peneliti kebahasaan dan tafsir, karena hal tersebut sangat bermanfaat dalam mengaplikasikan berbagai teori kebahasaan melalui contoh-contoh ayat dalam Al-Quran. Makalah sederhana ini difokuskan untuk melihat hal tersebut, khusus dalam surat Al-Fatihah. Melalui artikel ini, diharapkan dapat menggambarkan secara umum tentang pemikiran kebahasaan Syeikh al-Shabuni..","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"39 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115854952","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Syu'aib a.s dalam Perspektif Al-Qur'an","authors":"M. Muhammad","doi":"10.22373/JIM.V17I2.9104","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V17I2.9104","url":null,"abstract":"Syu'aib a.s is one of the prophets mentioned ten times in several surahs in the Al-Qur'an al -Karim. His full name is Syu'aib bin Maikiil bin Masyjur ibn Madyan, the son of Prophet Ibrahim a.s and his mother was the son of Prophet Lut a.s. He was sent to Ahlu Madyan who had deviated from the religion of Abraham a.s. Ahlu Madyan lives in a fertile area near the bay of Aqabah. Ahlu Madyan cheated on the scales and did damage to the face of the earth. When Syu'aib a.s delivered his message inviting Ahlu Madyan to return to the true religion, they refused the invitation with great arrogance and humiliation. Even asked Syu'aib to bring something down from the sky and asked Syu'aib a.s to stop preaching. If it doesn't stop they will take it out with the believers from their village. As a result of Ahlu Madyan's denial and arrogance, Allah lowered the heat for seven days, then brought a black cloud so that they took shelter under it. Ahlu Madyan thought it would rain. But Allah sent down a rain of fire and a strong wind so that all of them died lying in their homes. That is how Allah SWT destroyed Ahlu Madyan.AbstrakSyu’aib a.s adalah salah seorang nabi yang yang disebut dalam Al-Qur’an al –Karim sebanyak sepuluh kali dalam beberapa surat. Nama lengkapnya Syu’aib bin Maikiil bin Masyjur ibnu Madyan Anak Nabi Ibrahim a.s dan Ibunya adalah anak Nabi Luth a.s. Beliau diutus kepada ahlu Madyan yang sudah menyimpang dari agama Ibrahim a.s. Ahlu Madyan tinggal di sebuah wilayah yang subur dekat teluk Aqabah. Ahlu Madyan melakukan kecurangan dalam timbangan dan melakukan kerusakan di muka bumi. Ketika Syu’aib a.s menyampaikan dakwah mengajak Ahlu Madyan kembali kepada agama yang benar, mereka menolak ajakan tersebut dengan penuh kesombongan dan penghinaan. Bahkan meminta Syu’aib untuk menurunkan sesuatu dari langit serta meminta Syu’aib a.s untuk berhenti berdakwah. Jika tidak berhenti mereka akan mengeluarkannya bersama orang beriman dari desa mereka. Akibat dari keingkaran dan kesombongan Ahlu Madyan tersebut, Allah menurunkan kepanasan selama tujuh hari, kemudian mendatangkan awan hitam sehingga mereka berteduh dibawahnya. Ahlu Madyan menyangka hujan akan turun. Akan tetapi Allah menurunkan hujan api dan angin kencang , sehingga semua mereka mati bergelimpangan di rumah mereka masing-masing. Begitulah Allah SWT menghancurkan Ahlu Madyan","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131069539","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Tafsir Al-Qur’an tentang Jual Beli","authors":"Z. Zainuddin","doi":"10.22373/JIM.V17I2.9240","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V17I2.9240","url":null,"abstract":"The views of the commentators on buying and selling in surah Al-Baqarah verse 275 are interesting to study. Why does Allah repeat the parable of the ignorant Arab society before? It may be that a parable is a form of reality that exists and is not different until now. That is why it is so important that God talks about buying and selling and his position. The analyzes of the commentators are very diverse. Practical facts in the field about buying and selling and usury have not been quietly talked about throughout the ages. This study uses the method of tahlili, one central verse is discussed in detail, through a tafsir approach. The main sources in this study are tafsir books to know the sale and purchase according to the commentators. The result of this finding is that God wants trading to be completely lawful, free from the practice of usury, financial monopolies, and unilateral risk-bearing so that in the practice of trading, the principles of oneness, humanity, justice, and peace are established. AbstrakPandangan para mufasir mengenai jual beli dalam surah Al-Baqarah ayat 275 menarik untuk dikaji. Mengapa Allah menyebut kembali perumpamaan masyarakat Arab jahiliyah dahulu. Bisa jadi permisalan tersebut merupakan bentuk kenyataan yang ada dan tidak berbeda sampai saat ini. Karenanya begitu penting Allah membicarakan tentang jual beli dan kedudukannya. Analisa-analisa para mufassir sangat beragam. Kenyataan praktik di lapangan tentang jual beli dan riba tidak sepi dibicarakan sepanjang zaman. Kajian ini menggunakan metode tahlili, satu ayat sentral dibahas secara rinci, melalui pendekatan tafsir. Sumber utama dalam kajian ini adalah kitab-kitab tafsir dengan tujuan hendak mengetahui jual beli menurut para mufasir. Hasil temuan ini adalah bahwa Allah menginginkan jual beli benar-benar halal, terhindar dari praktik riba, monopoli keuangan, dan penanggungan resiko sepihak sehingga di dalam praktik jual beli terbangun prinsip ketauhidan, kemanusiaan, keadilan dan kedamaian.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134336437","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KESAKSIAN DUA PEREMPUAN DALAM AL-QURAN: STUDI KOMPARATIF KITAB TAFSIR","authors":"Hamdiah A. Latif","doi":"10.22373/JIM.V15I2.5275","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V15I2.5275","url":null,"abstract":"Among the interpretation problems of the Al-Qur’an which has broadly attracted the attention of the interpreters of the Al-Qur'an are related to the meaning of justice for the testimony of two women and one male in the Koran. Many exegesis books written (from the classical to the modern period) gave their own understanding and views which strengthened the superiority of men over women because of their weak memories, easy to forget and so on. Some of our other interpretations are of the view that this problem is something that is taken for granted without being able to be questioned, and what is more demanding is submission because it is considered as a part of the issue of worship (ta’abbudiy). This article examines various understandings of the commentaries (classical and modern) which discuss the understanding of the testimony of two women as found in the Qur'an. These problems are increasingly important, especially regarding the interpretation of the Al-Qur’an's view on the issue of gender equality which is increasingly discussed in the current contemporary times.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-09-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123727833","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"HUKUMAN RAJAM DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH: SUATU IKHTIAR PEMBACAAN ULANG","authors":"Hamdiah Latif","doi":"10.22373/JIM.V16I1.5736","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V16I1.5736","url":null,"abstract":"Bagi sebagian kalangan sarjana dan ilmuwan, hukuman rajam bagi penzina yang tidak disebutkan dalam Al-Qur’an dianggap sebagai justifikasi bagi pendapat mereka bahwasannya hukuman tersebut tidak memiliki dasar dan alasan hukum yang kuat untuk bisa diterapkan dalam masyarakat Muslim. Pada faktanya, kita dapat menemukan dasar implementasi hukuman rajam tersebut dengan menggali hadits Nabi Saw. di mana beliau pernah mempraktikkan dan menerapkan hukuman tersebut. Karenanya, artikel ini berupaya untuk menemukan kembali dan memperteguh pandangan mainstream di kalangan Ulama Muslim bahwasannya hukuman rajam berlaku bagi penzina yang telah menikah (muhshan). Dalam hukum fiqh Islam, hukuman rajam termasuk ke dalam bahasan hukuman hudud di mana sanksi dan muatan hukumnya menjadi priveles hak Allah sepenuhnya, ditetapkan baik dalam Al-Qur’an maupun Sunnah.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131177446","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"HIDAYAH DALAM PANDANGAN AL-QUR'AN","authors":"Emi Suhemi","doi":"10.22373/JIM.V16I1.5742","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V16I1.5742","url":null,"abstract":"Menyangkut kebutuhan manusia terhadap hidayah, al-Qur’an memberikan perhatian yang serius, salah satu bentuk perhatian dan tuntunannya terhadap konsep hidayah adalah perintah untuk membacanya dalam setiap rakaat shalat, hidayah secara makna adalah bimbingan dari Allah swt. Dalam menjalani hidup, hidayah adanya memang diberi dan ada pula keharusan untuk mencari serta dipelihara di dalam diri setiap muslim. Hal ini penting, karena satu kemustahilan seseorang selamat sampai ke tujuan apabila tanpa hidayah. Karenanya seseorang harus tahu cara-cara untuk mendapatkan hidayah. Dan seseorang juga harus mengetahui bagaimana cara melestarikan hidayah dalam dirinya.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"54 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116293363","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PERIWAYATAN HADIS DENGAN MAKNA MENURUT MUHADDITSIN","authors":"B. Gani","doi":"10.22373/JIM.V16I1.5739","DOIUrl":"https://doi.org/10.22373/JIM.V16I1.5739","url":null,"abstract":"Perawi hadis adalah salah satu dari manusia yang tidak terlepas dari rasa lupa dana tau kekurangan lainnya. Maka diantara perawi dalam menyampaikan hadis kepada rang lain adalah dengan lafadh aslinya tanpa menggantikan atau dan menambahkan teks-teks kalimat hadis sebagaimana ia mendengarkannya dari Rasulullah Saw. adakalanya meriwayatkan sesuatu hadis kepada orang lain dengan maknanya. Asal tidak menyimpang dari pengertian sesuatu hadis disebabkan penambahan dan atau menggantikan sebahagian kalimat dari sesuatu hadis dengan kalimat yang lain. Para ulama berbeda pendapat tentang periwayatan hadis dengan makna. Sebahagian ulama hadis, ahli fiqh dan ulama ushul mengatakan bahwa para perawi wajib meriwayatkannya dengan lafadh sebagaimana ia mendengarnya dari Nabi Saw. Ketegasan yang senada juga pernah dikemukakan oleh Abu Bakar Ibn al ‘Arabi, Muhammad Ibn Suri, Qasim Ibn Muhammad dan Abu Bakar al-Razi.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131064789","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}