Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.413
J. Santoso
{"title":"IMPLEMENTASI MEMBANGUN RELASI BERDASARKAN EFESUS 5:1-2 TERHADAP KEUTUHAN JEMAAT SEBAGAI ANGGOTA TUBUH KRISTUS","authors":"J. Santoso","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.413","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.413","url":null,"abstract":"Abstraksi: Penelitian ini membahas tentang keaneka-ragaman budaya, sosial, suku, bahasa dan bangsa berpotensi timbulnya konflik multi dimensi yang berdampak pada relasi dan interaksi. Tujuan penelitian meletakkan dasar membangun hubungan berdasarkan Efesus 5:1-2. Metode yang digunakan Deskriptif Kuantitatif. Tujuan penelitian ini untuk mengukur seberapa besar pemahaman dan praktek membangun relasi dalam kehidupan bersama sebagai anggota tubuh Kristus. Hasilnya didapatkan: 1). Paham dan Praktek makna menjadi penurut sebesar 45,5 % dan 34,5%, 2). Paham dan Praktek makna hidup dalam kasih sebesar 58,2 % dan 69,1%. 3). Paham dan Praktek makna teladan Kristus sebesar 65,5% dan 74,5%. 4). Paham dan Praktek makna memberi korban yang berkenan sebesar 94,5 dan 74,5%. Simpulan aspek paham memberi korban yang berkenan pada tingkat “sangat baik”, sedangkan aspek praktek pada mengikuti teladan Kristus pada tingkat “lebih baik”yang menunjukkan bahwa tidak secara otomatis memiliki pemahaman dapat dipraktekkan, tetapi perlu diperjuangkan. \u0000 ","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" August","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140990029","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.367
Apin Militia Christi
{"title":"HOMILETIK INTERKULTURAL: BERKHOTBAH DI TENGAH MASYARAKAT METROPOLITAN","authors":"Apin Militia Christi","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.367","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.367","url":null,"abstract":"Menjadi pengkhotbah yang berhasil di kota Metropolitan dibutuhkan kecakapan budaya. Pengkhotbah harus membangun relasi dan jembatan antara pendengar yang berasal dari berbagai latar belakang agama, tingkat pendidikan, status sosial, dan tentunya suku. Oleh karena itu, dibutuhkan prinsip dan cara berkhotbah interkultural agar masyarakat metropolitan dapat memahami pesan yang hendak disampaikan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan literatur review. Hasil penelitian menunjukkan bahwa homiletik interkulural dapat tercapai apabila sang pengkhotbah memiliki kecakapan komunikasi lintas budaya dengan pertolongan Roh Kudus sebagai Roh yang menembus batas budaya, menyeimbangkan antara isu budaya lokal dengan kontemporer, menggunakan teknologi, mengundang pengkhotbah dari budaya lain, dan tentunya kesadaran untuk mengembangkan misi serta ibadah multikultural. \u0000 ","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" 812","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140989124","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.430
A. I. Wowor, Priscila Feibe Rampengan, Rj Natongam Sianturi, Fiona Anggraini Toisuta
{"title":"MULTI-OIKOS DALAM ULTIMATE OIKOS: RELASI INNER LIFE ALLAH SEBAGAI BASIS KONSTRUKSI HOME","authors":"A. I. Wowor, Priscila Feibe Rampengan, Rj Natongam Sianturi, Fiona Anggraini Toisuta","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.430","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.430","url":null,"abstract":"Ketidakmampuan nalar manusia untuk memahami secara utuh tentang dirinya sendiri dan berbagai hal yang berada di dalam alam semesta ini merupakan suatu kenyataan atas natur manusia sebagai makhluk yang terbatas atau tidak sempurna. Dalam rangka menjembatani kesenjangan atau keterbatasan nalarnya, manusia cenderung menggunakan metafora untuk menjelaskan berbagai hal yang dirasa asing atau sulit untuk dipahami secara komprehensif. Pada dasarnya, metafora ini sendiri merupakan salah satu instrumen untuk berteologi. Menggunakan pendekatan metafora untuk memandang keberadaan multi-oikos dapat membuat seorang teolog menemukan atau merumuskan berbagai gagasan teologis yang segar dan relevan dalam berbagai konteks. Penelitian ini sendiri dikerjakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif, secara khusus lewat bantuan studi pustaka. Lewat pendekatan teologi konstruktif, artikel ini menegaskan bahwa gagasan Allah sebagai The Ultimate Oikos merupakan dasar untuk memaknai oikos dalam berbagai varian skala dan bentuknya. Selain itu, dengan menggunakan lensa Trinitas sebagai basis teologis, artikel ini membahas tentang relasi (being) dan aksi (doing) dari ketiga pribadi Allah yang harus dimaknai secara simultan dalam rangka menjadi fundamen atas nilai-nilai esensial dari oikos. Dengan demikian, artikel ini menawarkan suatu paradigma kreatif dan imajinatif untuk mengonstruksi suatu teologi multi-oikos sebagai basis dalam berteologi. Artikel ini diakhiri dengan suatu refleksi yang memperlihatkan bahwa seorang teolog perlu memiliki kesadaran dan kepekaan untuk mempertimbangkan keberadaan multi-oikos dalam aktivitas berteologinya.","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" April","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140989646","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.432
Leo Imannuel, Demsi Yanto Sinlae, Riko Silaen
{"title":"TEOLOGI KOMUNIKASI DAN MISI KRISTEN: STRATEGI EFEKTIF UNTUK MENJANGKAU GENERASI PENERUS DI ERA DIGITAL","authors":"Leo Imannuel, Demsi Yanto Sinlae, Riko Silaen","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.432","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.432","url":null,"abstract":"Perubahan cara melakukan aktivitas berkomunikasi verbal maupun secara digital atau pesan dalam media sosial saat ini bagi generasi penerus mengunakan media gadget dan internet adalah hal yang wajar. Namun adanya perubahan yang dapat dilihat dari realita dan problematika dalam keluarga Kristen muncul karena ketidaksiapan menghadapi perubahan cara berkomunikasi di era digital. Oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini supaya gereja dan kekristenan dapat memaksimalkan komunikasi dan misi Kristen: sebagai upaya strategi yang efektif dalam menjangkau generasi penerus di era digital untuk membawa perubahan dan penjakauan jiwa. Maka dapat dissimpulkan bahwa gereja harus berani merangkul dan memanfaatkan teknologi dengan arif fan biajkasan, sehingga misi Kristen dapat tetap relevan dan efektif dalam menyebarkan ajaran Injil di era digital kepada generasi penerus. Dan tentunya membawa mereka dalam dunia pemuridan sehingga regenerasi tersu diupayakan dalam membangun misi Kristen, maka gereja mampu memberikan kontribusi yang aktif dan berkelanjutan bagi misi Kristen, khususnya bagi gereja dan kekristenan untuk lebih memahami pentingnya teologi komunikasi dalam konteks misi Kristen. Selanjutnya kekristenan mampu memberikan strategi dalam mengaktualisasikan misi Kristen bagi generasi penerus dan menjawab tantangan komunikasi bagi generasi era digital ini. Maka gereja dapat memanfaatkan teknologi dan media sosial dalam melakukan strategi efektif untuk komunikasi misi kristen.","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" 368","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140989740","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.444
Manase Gulo, Saut Maruli Panggabean, Estherlina Maria Ayawaila
{"title":"KAJIAN ALKITAB TENTANG CARA MENGKOMUNIKASIKAN DAN MENGENDALIKAN AMARAH","authors":"Manase Gulo, Saut Maruli Panggabean, Estherlina Maria Ayawaila","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.444","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.444","url":null,"abstract":"Tujuan penelitian ini untuk memberikan rumusan tentang cara mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah menurut teori alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Rumusan teori ini dibuat sebagai pedoman bagi setiap orang yang sedang dikuasai amarah agar mampu menemukan cara mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah. Mengingat banyak orang yang tidak bisa mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah. Akibatnya ada yang melakukan tindakan-tindakan criminal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian literature (literature review), dengan pendekatan kajian alkitab. Hasil Penelitian menyatakan bahwa alkitab telah memberikan pedoman mengenai cara mengkomunikasikan dan mengendalikan amarah yakni: Pertama, apabila marah, tempatnya di tempat tidur atau di kamar tidur. Kedua, Apabila ada masalah yang harus dilakukan adalah lekas menyelesaikan masalah tersebut. Durasi waktu singkat sebelum matahari terbenam. Ketiga, Gaya komunikasi dalam menyampaikan amarah hendaknya dengan lemah lembut karena perkataan lemah lembut mampu menyeselesaikan amarah dan konflik. Lemah lembut yang dimaksud dengan santun. Keempat, apabila sudah terjadi masalah karena perlakuan orang lain, atau tekanan hidup harus memiliki ketahanan dalam bersabar sesuai prinsip Alkitab cepat mendengar dan lambat marah. Alkitab menyatakan dengan tegas bahwa keempat teori ini mampu mengatasi amarah yang tidak terkontrol.","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" January","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140989689","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.274
Riky Handoko Sitindaon
{"title":"MODEL PASTORAL KONSELING TERHADAP ANAK SEKOLAH MINGGU DI GPO PRABUMULIH","authors":"Riky Handoko Sitindaon","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.274","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.274","url":null,"abstract":"Anak-anak tidak dapat mengerti kalau mereka mengalami masalah, dan anak-anak tidak dapat menceritakan masalahnya dengan baik. Dibutuhkan model pastoral konseling terhadap anak yang tepat agar anak dapat mengerti masalahnya dan menyelesaikannya. Anak Sekolah Minggu di Gereja GPO Prabumulih membutuhkan pelayanan pastoral konseling, namun guru-guru Sekolah Minggu yang ada di Gereja ini tidak mengerti pelayanan konseling kepada anak-anak. Maka, tujuan penelitian untuk memberikan suatu model pastoral konseling kepada anak untuk guru Sekolah Minggu. Dalam penelitian ini, metode yang digunakan secara Kualitatif dan kuantitatif. Penelitian Kualitatif untuk membahas obyek yang diteliti secara mendalam melalui berbagai bidang yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Penelitian kuantitatif untuk mencari data yang telah dikumpulkan melalui wawancara dan data kuesioner penelitian. Hasil dari penelitian ini ditemukan model pastoral konseling yang relevan dengan anak Sekolah Minggu di GPO Parabumulih. Harapannya dengan adanya model pastoral konseling ini, guru Sekolah Minggu dapat digunakan untuk menyelesaikan dan memulihkan masalah anak-anak Sekolah Minggu.","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" 389","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140989999","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.390
Carel Hot Asi Siburian
{"title":"MENGUNGKAP “VISI KEJAHATAN” DALAM PERUMPAMAAN SEPULUH GADIS (MAT. 25:1-13)","authors":"Carel Hot Asi Siburian","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.390","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.390","url":null,"abstract":"Perumpamaan sepuluh gadis selalu dibaca dengan pendekatan alegoris; bahwa lima gadis bodoh yang tidak mempersiapkan minyak ketika menanti sang mempelai adalah gambaran manusia yang tidak siap sedia dalam menantikan kedatangan Kerajaan Allah; lima gadis bijaksana lainnya adalah mereka yang siap; dan mempelai laki-laki yang disejajarkan dengan figur Yesus. Namun pembacaan demikian menghilangkan “ketegangan” yang muncul. Dengan pendekatan tafsir naratif-kritis, artikel ini menawarkan pembacaan bahwa elemen “kejahatan” justru hadir dalam perumpamaan sepuluh gadis. Kejahatan itu terletak pada sikap tidak welas asih yang ditunjukkan oleh lima gadis bijaksana dan mempelai laki-laki. Elemen kejutan seperti 1) Tidak adanya mempelai perempuan, 2) Siapakah kesepuluh gadis?, 3) Siapakah penjual minyak yang buka tengah malam? 4) Pesta apa yang diadakan tengah malam, dan 5) Keterlambatan mempelai laki-laki akan dijawab dalam artikel ini. Artikel ini juga menawarkan pandangan bahwa Matius 25:31-46 justru merupakan ‘kesimpulan’ dari perumpamaan sepuluh gadis, dan lima gadis bijaksana serta mempelai laki-laki gagal melakukannya.","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":" 994","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140989465","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2024-05-11DOI: 10.38091/man_raf.v10i2.349
Candra Gunawan Marisi, H. Hariyanto
{"title":"RESOLUSI KONFLIK: MEMAKNAI PENGAMPUNAN DALAM MATIUS 6:12, 14-15 DAN IMPLIKASINYA","authors":"Candra Gunawan Marisi, H. Hariyanto","doi":"10.38091/man_raf.v10i2.349","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i2.349","url":null,"abstract":"Konflik adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia khususnya dalam konteks kemajemukan masyarakat di Indonesia. Konflik interpersonal dan antar kelompok tidak bisa dihindari dalam kehidupan manusia khususnya dalam masyarakat majemuk. Dampak negatif tersebut diantaranya retaknya hubungan interpersonal atau antar kelompok, kehancuran harta benda, aksi kekerasan dan bahkan sampai hilangnya nyawa seseorang. Penelitian ini bertujuan menganalisa petisi kelima Doa Bapa Kami tentang makna pengampunan secara vertikal dan horizontal dalam Matius 6:12, 14-15 sebagai resolusi konflik. Metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif, serta dengan analisis dan tinjauan pustaka untuk meneliti sejarah bagaimana konteks sosio-politik-ekonomi pembaca pertama Injil Matius pada abad pertama. Hasil yang ditemukan adalah manusia dapat mengampuni dosa dan hutang sesamanya, karena telah terlebih dahulu mengalami pengampunan dari Tuhan, dan yang kedua adalah resolusi konflik bukan untuk mendapatkan, menerima atau mencari keuntungan, melainkan rela untuk berkorban, memberi, sebagaimana Allah memberikan Anak-Nya yang Tunggal untuk melakukan pendamaian (resolusi konflik).","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":"8 4","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2024-05-11","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"140988296","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2023-10-25DOI: 10.38091/man_raf.v10i1.309
Sonny Herens Umboh
{"title":"PEMAHAMAN KONSEP PREDESTINASI SEBAGAI JAMINAN KESELAMATAN BERDASARKAN ROMA 8:29-30","authors":"Sonny Herens Umboh","doi":"10.38091/man_raf.v10i1.309","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i1.309","url":null,"abstract":"Salvation is something that is fundamental to the faith of believers, even though there are still often differences in understanding of salvation. There are those who argue that salvation can be obtained because of contributions from actions or responses from humans who are trying to get it. For those who hold the understanding of predistination, safety is an absolute guarantee for everyone He has chosen. Although the concept of predistination is often considered unbiblical, through this research using a qualitative approach based on Romans 8:29-30 it is hoped that it can provide an understanding of that salvation so that through the concept of predistination it can provide an understanding that can guarantee that salvation and is a biblical thing.
","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":"3 6","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135168694","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Manna RafflesiaPub Date : 2023-10-25DOI: 10.38091/man_raf.v10i1.331
Sherly Masnidar
{"title":"TRINITY EMERGENT-ECCLESIOLOGY : SEBUAH TAWARAN EKLESIOLOGI KONTEKSTUAL ERA PASCAPANDEMI COVID-19","authors":"Sherly Masnidar","doi":"10.38091/man_raf.v10i1.331","DOIUrl":"https://doi.org/10.38091/man_raf.v10i1.331","url":null,"abstract":"The church's identity, before, during, and after the COVID-19 pandemic, is no longer the same. During the COVID-19 era, when the church fully embraced its digital form, many ecclesiology formulations optimistically placed the church's future in the non-institutional digital church. In reality, in the current post-COVID-19 era, the church is returning to its pre-pandemic form, that is, as an institutional church. Based on this phenomenon, this article aims to offer a contextual post-Covid-19 ecclesiology study. To achieve this goal, this article will critique the writings of Selome Kuponu and Adekunle Tayo, which discuss post-Covid-19 practical ecclesiology based on the theological construction of an open church through a study of the Trinitarian-Perichoresis relationship. The outcome of this article is to propose an open ecclesiology based on networked relationships as a proposal for a transformative contextual ecclesiology in the post-pandemic COVID-19 church. Specifically, networked relationships mean that the church sustains its fellowship both through in-person meetings (analogue) and digital meetings (digital). This article is written based on a qualitative descriptive research methodology that elucidates the essential aspects that need to be developed in our church life in the current post-Covid-19 era through a literature data analysis method.","PeriodicalId":34624,"journal":{"name":"Manna Rafflesia","volume":"23 4","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-10-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135166421","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}