{"title":"Kontekstualisasi Konsep Nusyuz di Indonesia","authors":"Mughniatul Ilma","doi":"10.33367/tribakti.v30i1.661","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/tribakti.v30i1.661","url":null,"abstract":"Dalam Q.S. an-Nisa’ ayat 34 dijelaskan mengenai tiga tahapan yang dapat dilakukan bagi isteri yang melakukan nusyūz. Hal yang dianggap paling krusial dalam hal ini adalah adanya term pemukulan dalam konsep nusyūz tersebut yang sering kali dianggap sebagai bentuk legitimasi terhadap adanya kekerasan dalam rumah tangga terutama terhadap perempuan. Oleh karena itu, perlu adanya kontekstualisasi terhadap ayat nusyūz tersebut terlepas dari keadaan sosio kultural masyarakat yang melingkupi turunnya ayat maupun yang melingkupi meja perumusan doktrin fikih oleh ulama di zamannya. Tulisan ini mencoba melakukan pemaknaan ulang terhadap konsep nusyūz agar semangat hukum Islam dalam menjawab permasalahan umat selalu sejalan dengan tujuan pensyariatan sesuai dengan ruang dan kebutuhan zaman.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-01-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43404266","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Program Musyawarah dalam Mengembangkan Kemampuan Kognitif Siswa Madrasah Diniyah Haji Ya'qub","authors":"M. A. A. S. Mahzumi, Wasito Wasito","doi":"10.33367/tribakti.v30i1.664","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/tribakti.v30i1.664","url":null,"abstract":"Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplorasi program musyawarah dengan memanfaatkan konsep konstruktivisme sosial untuk menjelaskan perkembangan kognitif siswa di Madrasah Diniyah Haji Ya’qub (MDHY) Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. Penelitian ini beranjak dari dua pertanyaan penelitian, “Apakah program musyawarah di MDHY masih berlangsung secara tradisional atau mengarah pada kontekstualisasi? bagaimana praktik program musyawarah dalam mengembangkan perkembangan kognitif siswa?” Dengan dua pertanyaan itu, hasil penelitian ini menemukan bahwa program musyawarah tengah mengalami perubahan menjadi musyawarah konstruktif dengan membentuk program Musyawah Gabungan Sughra (MGS) yang berlangsung di luar jadwal pelajaran resmi dan dikelola langsung oleh MDHY. Hambatan belajar siswa diatasi secara bertahap dengan mengarahkan suasana belajar aktif dan mendorong interaksi belajar yang memaksimalkan interaksi sosial secara menyeluruh","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-01-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48532107","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Dekadensi Moral Siswa dan Penanggulangan melalui Pendidikan Karakter","authors":"Imam Taulabi, Bustomi Mustofa","doi":"10.33367/tribakti.v30i1.660","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/tribakti.v30i1.660","url":null,"abstract":"Pendidikan karakter tumbuh menjadi salah satu tren dalam diskursus pendidikan nasional. Tulisan ini menjelaskan tentang dekandensi moral dan pendidikan karakter sebagai sebuah tawaran alternatif. Metode penelitian dalam tulisan ini menggunakan kajian literatur dengan memanfaatkan berbagai sumber yang relevan. Efektifitas penerapan pendidikan karakter dapat berlangsung secara optimal dengan melibatkan seluruh elemen secara sistemik dan berkelanjutan antara orang tua, sekolah, dan masyarakat. Penerapan pendidikan karakter di sekolah dapat dilakukan dengan memanfaatkan beberapa model dan metode. Model penerapannya meliputi model otonomi, model integrasi, model ekstrakurikuler, dan model kolaborasi. Selain itu, metode penerapan pendidikan karakter yang dilaksanakan di sekolah dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu: belajar, keteladanan, penguatan, dan habituasi.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-01-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49144264","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Penanaman Nilai-Nilai Agama Islam Terhadap Anak Didik","authors":"Yasin Nurfalah","doi":"10.33367/TRIBAKTI.V29I1.567","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/TRIBAKTI.V29I1.567","url":null,"abstract":"Setiap anak mempunyai pembawaan berbeda dengan anak lain. Pembawaan itu merupakan cikal bakal dari karakteristik setiap individu. Pembawaan setiap anak juga akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan lingkungan sosial mereka karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Ini berarti, munculnya kenakalan pada anak dalam berbagai bentuk dan jenisnya bukan semata-mata kesalahan mereka, tapi juga salah satu dampak negatif dari sebuah lingkungan yang kurang edukatif. Karena ada dasarnya setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, pertumbuhan dan perkembangan anak secara jasmani dan rohani adalah tanggung jawab semua pihak yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tanpa kesesuaian dan kerjasama antar ketiga komponen itu, maka anak akan menjadi rentan terpengaruh dan kemudian terbawa oleh perilaku-perilaku yang dianggap menyimpang. Dalam konteks ini, sering kali yang menjadi sasaran kesalahan adalah anak, orang tua, dan dalam lingkup sekolah yang menjadi sasaran utama adalah mata pelajaran agama. Padahal, titik pijakan yang terpenting adalah bagaimana menanamkan nilai-nilai islami dalam diri anak sejak dini dan dilakukan oleh semua elemen secara kooperatif dan memberikan keteladanan dalam praktek kehidupan sehari-hari. Sehingga pengetahuan dan pemahaman akan nilai-nilai ajaran Islam dapat terwujud dalam bentuk perilaku.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42352473","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Memahami Islam dalam Perspektif Filosofis","authors":"M. Khoiruddin","doi":"10.33367/tribakti.v29i1.565","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/tribakti.v29i1.565","url":null,"abstract":"Memahami Islam melalui pendekatan filosofis dimaksudkan agar memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpai, menangkap hikmah, hakikat atau inti yang terkandung dalam ajaran Islam sehingga dalam melakukan amal ibadah tidak merasa hampa, kekeringan spiritual serta menimbulkan kebosanan dalam menjalankannya. Selain itu dapat meningkatkan sikap, penghayatan dan daya spiritualitas sehingga tidak terjebak dalam pemahaman agama yang sekedar formalistik dan tidak menemukan nilai-nilai didalamnya. Pendekatan filosofis diibaratkan sebagai pisau analisis untuk membedah Islam secara mendalam, integral dan komprehensif untuk melahirkan pemahaman dan pemikiran tentang Islam yang senantiasa relevan pada setiap waktu dan ruang atau shalih fi kulli zaman wal makan. Pentingnya pendekatan ini, pendekatan filosofis juga digunakan dalam memahami berbagai bidang lainnya selain agama. Misalnya filsafat hukum Islam, filsafat sejarah, filsafat kebudayaan, filsafat ekonomi, dan lain sebagainya. Meskipun secara teoretis memberikan harapan dan kesejukan, namun secara luas belum dapat dipahami dan diterima kecuali oleh sekelompok kecil saja, terutama bagi kaum tradisionalis formalistis yang cenderung memahami agama terbatas pada ketetapan melaksanakan aturan-aturan formalistik dari pengalaman agama.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47199245","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Peran Kepemimpinan Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikandi Madrasah Aliyah","authors":"Makhromi Makhromi","doi":"10.33367/TRIBAKTI.V29I1.566","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/TRIBAKTI.V29I1.566","url":null,"abstract":"Penelitian ini dibingkai oleh persoalan kepemimpinan di lembaga pendidikan Islam yang fokusnya berkaitan dengan peran kepemimpinan. Dua pertanyaan pokok yang ingin dijawab dalam penelitian ini adalah peran kepemimpinan apa yang tampak pada perilaku kepala madrasah serta apakah peran kepemimpinan tersebut menjadi unsur yang dapat meningkatkan kualitas pendidikan di madrasah yang bersangkutan. Penulis menetapkan MA Al-Mahrusiyah sebagai lokusnya dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peran kepemimpinan demokratis tampak lebih dominan sebagai kecenderungan perilaku kepala madrasah dan ternyata peran tersebut mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Madrasah Aliyah Al Mahrusiyah Lirboyo, Kota Kediri.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44170690","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Implementasi Penelitian Hadits: Kritik Sanad dan Matan Hadits","authors":"Makhfud Makhfud","doi":"10.33367/TRIBAKTI.V29I1.562","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/TRIBAKTI.V29I1.562","url":null,"abstract":"Hadits critic was very easy when Rasulullah was still alive. Because the friends of Rasulullah directly could understand which one was true and not true by confirming to Rasulullah S.A.W. directly. Confirmation system was the first critic toward hadits when Rasulullah was still alive . It did not mean that They suspected him as liar but They carefully kept the truth because Hadits is also the source of Islamic after al-Qur`an. It could make their belief stronger in implementing the Hadits which They directly got from Rasulullah S.W.A. Some priests have decided that confirmation of Hadits in Rasulullah era was important as the birth of hadits critic science.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"49545553","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Tasawuf dan Problem Psikologi Modern","authors":"Ali Imron","doi":"10.33367/TRIBAKTI.V29I1.561","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/TRIBAKTI.V29I1.561","url":null,"abstract":"Selain berbagai macam kemajuan dan kemudahan, modernitas juga melahirkan berbagai krisis sosial dan individual yang mencakup krisis identitas, legalitas, penetrasi, partisipasi, distribusi dan krisis moral yang seakan tak terpecahkan dalam kacamata pengetahuan Barat. Berbagai krisis tersebut berakar dari problem psikologis manusia modern yang pada saat tertentu berkembang menjadi sebuah krisis kolektif yang mewabah. Jika demikian, problem psikologi modern yang tak berkesudahan akan sangat berpeluang memberikan dampak negatif dalam kehidupan sosial. Di sini, tasawuf sebagai salah satu disiplin ilmu dalam khazanah keilmuan Islam yang fokus pada dimensi spiritual untuk menyeimbangkan aspek jasmani dan rohani manusia digunakan untuk mengatasi berbagai problematika tersebut. Pada akhirnya usaha ini turut memperkaya khazanah keilmuan yang merupakan salah satu integrasi antara ilmu psikologi dengan ilmu tasawuf, yaitu psikologi transpersonal. Melalui bantuan tasawuf, manusia modern diingatkan kembali bahwa hakikat manusia bukan hanya sebagai makhluk fisik, tetapi juga makhluk spiritual. Aspek spiritual inilah yang seringkali diabaikan manusia modern sehingga merasakan ketidakbermakaan dan kekosongan hidup.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42557676","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Penerapan Budaya Religius di SD al Mahrusiyah","authors":"Wasito Wasito, Moh. Turmudi","doi":"10.33367/TRIBAKTI.V29I1.560","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/TRIBAKTI.V29I1.560","url":null,"abstract":"Penelitian ini berusaha mendiskripsikan dan memaknai penerapan budaya religius di SD al Mahrusiyah. Hal ini karena krisis moral yang melanda bangsa ini nampaknya menjadi sebuah kegelisahan bagi semua kalangan. Bagaimana tidak dari maraknya kasus korupsi yang tidak pernah surut bahkan mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Di sisi lain krisis ini menjadi komplek dengan berbagai peristiwa yang cukup memilukan seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan obat terlarang, pergaulan bebas, aborsi, penganiayaan yang disertai pembunuhan. Fenomena ini sesungguhnya sangat berseberangan dengan suasana keagamaan dan kepribadian bangsa Indonesia. Jika krisis ini dibiarkan begitu saja dan berlarut-larut apalagi dianggap sesuatu yang biasa maka segala kebejatan moralitas akan menjadi budaya. Sekecil apapun krisis moralitas secara tidak langung akan dapat merapuhkan nilai-nilai kehidupan berbangsa dan bernegara. \u0000Penelitian ini menghasilkan dua kesimpulan, yaitu; 1). Bentuk-bentuk budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi belajar baca tulis al-Qur`an dan tadarrus, pemakaian busana muslim, pelaksanaan shalat jamaah di sekolah, kegiatan madin, pembiasaan senyum, sapa dan salam, berperilaku sopan santun kepada semua warga sekolah, dan doa bersama, serta peringatan hari-hari besar agama Islam. 2). Model penerapan budaya religius di SD Al Mahrusiyah meliputi 4 (empat) model, yaitu: pertama model struktural (melalui kebijakan dan peraturan), kedua, model formal (menanamkan commitment dan dedikasi untuk menjalankan ajaran agama), ketiga, model mekanik (membangun dan membiasakan berperilaku sopan dan santun terhadap sesame), dan keempat, model organik (melalui internalisasi dan transformasi pengetahuan tentang ajaran agama yang bersumber pada al Quran dan Hadits).","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41548878","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Tantangan Modernisme Pendidikan Agama Islam dari Konservatisme","authors":"Moch. Mukhlison","doi":"10.33367/TRIBAKTI.V29I2.605","DOIUrl":"https://doi.org/10.33367/TRIBAKTI.V29I2.605","url":null,"abstract":"Tantangan Moderatisme Pendidikan Agama Islam Dari Konservatisme, bukan kajian baru sebagai usaha melihat wajah baru keislaman di Indonesia, terlebih pasca reformasi. Sebagian kalangan menilai perjalanan demokrasi yang belum tuntas dianggap sebagai ladang subur pertarungan ideologi di semua level masyarakat, termasuk dunia pendidikan. Sikap negara pun dianggap menilai kebutuhan berdasarkan kepentingan politik semata, termasuk dalam skop kecil politik pengetahuan. Tulisan ini, menstudi politik pendidikan dalam konteks pertarungan ideologi moderatisme dan konservatisme dalam sekolah agama Islam. Studi dimulai melacak konteks kemunculan pendidikan Islam di Indonesia hingga saat ini. Metode yang digunakan, studi literasi berbasis dokumen ilmiah dan laporan hasil penelitian. Hasil studi ini, melihat pendidikan agama Islam di lembaga-lembaga pendidikan berideologi moderatisme sedang mengalami serangan ideologi konservatisme dari pelbagai arah. Misalnya, materi dalam bahan-bahan ajar mata pelajaran agama seperti konsep jihad dengan doktrin amar makruf nahi munkar. Contoh lain adalah penjelasan tentang kerajaan Bani Umayyah atau Abbasiyah. Konteks yang diperlihatkan sistem pemerintahan khilafah (kepeminpinan tunggal). Sikap pemerintah yang mencerminkan demokrasi dihilangkan. Topik-topik seperti inilah yang sangat berpotensi dijadikan gerakan konservatisme untuk mengembangkan ideologinya.","PeriodicalId":34623,"journal":{"name":"Tribakti Jurnal Pemikiran Keislaman","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45215217","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}