{"title":"Peran Gembala Sidang Dalam Pelayanan Pastoral Terhadap Era Society 5.0","authors":"Yulius Subari Putra","doi":"10.33991/miktab.v2i2.386","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.386","url":null,"abstract":"Perubahan yang terjadi di era baru ini dikenal dengan Society 5.0. Melalui pemanfaatan berbagai perubahan teknologi informasi dan komunikasi yang diikuti adanya kemajuan era seperti Internet, Kecerdasan buatan, dan Bank Data. Dimana suatu keadaan yang tidak dapat dihindari. Setiap orang perlu dipersiapkan dalam menghadapi perubahan Era Society 5.0. Demikian juga Gereja, perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan Era Society 5.0 dan tentunya menjadi tugas gembala sidang dalam mempersiapkan gereja untuk menghadapi perubahan Era Society 5.0. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pelayanan pastoral semakin kontekstual dalam dunia digital saat ini yang turut mempengaruhi perubahan tatanan dan gaya hidup sehingga menuntut pendekatan pelayanan pastoral yang adaptif tanpa perlu kehilangan esensi pelayanan pastoral itu sendiri. Penulis melakukan analisis dengan menggunakan metode pendekatan analisis deskriptif berdasarkan literature sehingga menarik kesimpulan bahwa gembala sidang dalam pelayanan pastoral harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan mampu memanfaatkan berbagai teknologi. Adapun keterbaharuan penelitian dibandingkan dengan penelitian sejenis sebelumnya terletak pada bagaimana Era Society 5.0 membawa paradigma baru pentingnya segi humanistis menjadi prioritas dan dasar dari sisi pentingnya terus menjaga esensi pelayanan pastoral tersebut juga berpangkal dari penelitian sebelumnya, seperti yang dikemukakan oleh Sonny Eli Zaluchu dalam pastoral ministry 5.0. Dimana gereja harus siap dalam menghadapi perubahan era Society 5.0. Seorang gembala perlu memberikan pengajaran yang menekankan pada penguatan keyakinan iman jemaat, sehingga keyakinan tersebut dapat di demonstrasikan dalam kehidupan sehari – hari dan dapat memberikan pengajaran yang mengarah pada komunikasi injil di tengah perubahan. ","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"68 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"82187673","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Tinjauan Proses Pembentukan Kepemimpinan Rasul Petrus dan Implementasinya dalam Pelayanan Mentoring","authors":"Christian Daniel Raharjo","doi":"10.38189/jtk.v2i2.404","DOIUrl":"https://doi.org/10.38189/jtk.v2i2.404","url":null,"abstract":"Kebutuhan gereja dan pelayanan akan tersedianya pemimpin yang efektif menjadi salah satu isu penting yang terus menjadi pergumulan bagi Tubuh Kristus. Kurangnya pemimpin yang efektif mengakibatkan gereja mengalami stagnansi, tidak sedikit juga yang mengalami kemunduran, bahkan skandal. Dalam upaya untuk memberikan masukan bagi kepemimpinan gereja dan pelayanan, peneliti mencoba untuk meneliti proses pembentukan kepemimpinan melalui pelayanan mentoring. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Adapun yang menjadi problem riset artikel ini ialah bagaimana proses pembentukan kepemimpinan rasul Petrus dan penerapannya dalam pelayanan mentoring. Melalui analisa yang dilakukan, penulis mendapati ada lima tahapan pembentukan kepemimpinan rasul Petrus, yaitu: terinspirasi, termotivasi, dibimbing, diperluas wawasannya, dan terlatih oleh pengalaman. Kemudian tahapan-tahapan ini yang diterapkan dalam pelayanan mentoring melalui sudut pandang mentor, tahapan-tahapan itu ialah : inspirasi, motivasi, navigasi, edukasi, dan eksplorasi. ","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"97 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"80898831","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Kewaspadaan Terhadap Guru-Guru Palsu Berdasarkan 2 Petrus 2 Sebagai Antisipasi Terhadap Penyesatan Pada Masa Kini","authors":"Prananto Prananto, Joseph Christ Santo","doi":"10.33991/miktab.v2i2.435","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.435","url":null,"abstract":"Guru-guru palsu yang mengajarkan ajaran sesat atau palsu sudah ada sejak berdirinya gereja mula-mula dan upaya penyesatan mereka terjadi di luar maupun di dalam gereja. Pengajaran yang menyimpang dan tidak sesuai dengan firman Tuhan merupakan bentuk perlawanan Iblis kepada Allah yang bertujuan agar manusia hidup jauh dari Tuhan dan orang-orang percaya dipengaruhi untuk hidup tidak taat kepada Tuhan. Peringatan akan kewaspadaan terhadap guru-guru palsu yang disampaikan oleh rasul Petrus, juga telah disampaikan oleh Yesus sebagai peringatan kepada murid-murid-Nya. Seperti serigala berbulu domba, demikianlah gambaran yang Yesus berikan kepada guru-guru palsu itu.Hal ini menjadi tantangan serius bagi gereja masa kini, bagaimana gereja harus bersikap dan langkah antisipasi apa yang harus diambil gereja maupun orang percaya dalam menghadapi merebaknya ajaran sesat yang berpotensi melemahkan kerohanian jemaat Tuhan? Melalui artikel ini, penulis mencoba memberikan jawaban atas tantangan tersebut diatas. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisa teks dalam 2 Petrus 2, diperoleh hasil, gereja harus sadar bahwa keberadaan guru-guru palsu di tengah-tengah jemaat Tuhan merupakan sebuah fakta dan penyesatannya semakin intensif menjelang akhir zaman, Meskipun Tuhan akan menjaga dan menyelamatkan orang-orang benar dari penyesatan, namun gereja perlu mengantipasinya dengan memberikan pengajaran yang benar berdasarkan Alkitab dan mendorong jemaat untuk tekun beribadah menjalin persekutuan dengan saudara seiman. Dan setiap orang percaya harus bertumbuh dan berakar kuat di dalam kebenaran firman Tuhan serta hidup dalam pimpinan Roh Kudus.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"20 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90467759","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Keteladanan Rasul Paulus bagi Para Gembala dalam Menyikapi Pemberian Jemaat","authors":"Christian Daniel Raharjo","doi":"10.33991/miktab.v2i2.379","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.379","url":null,"abstract":"Fenomena jemaat yang senang memberi kepada gembalanya adalah hal yang lazim terjadi dan dialami oleh gembala yang sudah melakukan tugas pelayanan penggembalaan dengan baik. Pemberian ini umumnya sebagai bentuk ungkapan terima kasih, wujud apresiasi jemaat atas kinerja baik yang telah dilakukan gembala. Namun, benarkah pemberian dari jemaat ini tidak memiliki potensi dampak buruk bagi pelayanan dan juga pribadi gembala? Dalam penelitian ini penulis mencoba menganalisa pemberian yang diperbolehkan dan yang tidak dengan melihat cara rasul Paulus dalam menyikapi pemberian dari jemaat. Dengan memahami cara rasul Paulus menyikapi pemberian dari jemaat ini para gembala dapat mengambil sikap dalam menerima pemberian-pemberian dari jemaat, agar pelayanan penggembalaan tetap sehat dan berlangsung dengan sebagaimana mestinya. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Melalui analisa yang dilakukan untuk menyikapi fenomena ini, penulis mendapati gembala harus menyikapi pemberian jemaat dengan prinsip-prinsip berikut : mengungkapkan terima kasih yang tulus kepada jemaat, bersukacita melihat perhatian jemaat, senantiasa belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, dan berkeyakinan bahwa Allah menerima dan membalas pemberian dari jemaat.Kata-kata kunci: Pelayanan Pastoral; Rasul Paulus; Pemberian Jemaat; Gratifikasi","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"32 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90706785","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ira Suwitomo Putri, Joseph Christ Santo, Joko Sembodo
{"title":"Praktik Bahasa Roh Membangun Diri Sendiri Menurut I Korintus 14:4 Sebagai Upaya Mengendalikan Emosi","authors":"Ira Suwitomo Putri, Joseph Christ Santo, Joko Sembodo","doi":"10.33991/miktab.v2i2.437","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.437","url":null,"abstract":"Dalam hidup bermasyarakat yang sangat beragam, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi secara benar. Namun pada praktiknya, banyak yang mengalami kesulitan mengendalikan emosinya. Sebenarnya Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk mereka dapat mengendalikan emosi, karena Allah juga yang menciptakan emosi tersebut untuk kepentingan manusia. Dalam I Korintus 14:4 Rasul Paulus membahas tentang bahasa roh di mana fungsi bahasa roh adalah untuk membangun diri, termasuk di dalamnya menjadi orang yang dapat mengendalikan emosi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktik bahasa roh membangun diri sebagai upaya mengendalikan emosi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, di mana penulis mewawancarai 10 partisipan yang adalah aktivis GBIS Kepunton, Surakarta, dengan batas usia 25 sampai 75 tahun. Hasil dari penelitian yang didapat cukup bervariatif dan menunjukkan adanya praktik bahasa roh membangun diri dalam konteks I Korintus 14:4 yang dapat difungsikan sebagai pengendalian emosi untuk jemaat Tuhan. ","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"14 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"73301417","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analysis of the Pentecostal Theological Methods from Amos Yong’s Trialectic based on John Frame’s Triperspectivalism","authors":"A. Antonius","doi":"10.36421/veritas.v21i2.510","DOIUrl":"https://doi.org/10.36421/veritas.v21i2.510","url":null,"abstract":"Pentecostalism is one of the fast-growing traditions that is distinctive in its theological method. Some Pentecostals also claim that they are an evangelical church. This claim can lead to debates and blur the meaning of evangelical as if there is no difference between the two. This difference cannot be seen only from the church’s status but from the method of theology that underlies it. Therefore, this study will compare the theological method of the Pentecostals-Charismatics, represented by Amos Yong, and the theological method of the Reformed, represented by John M. Frame. The purpose of this comparison is to try to find common ground and balance between the two approaches. Frame’s Triperspectivalism method can give room for Yong’s Trialectic method to see the Holy Spirit-Word-Community aspect from the normative, situational, and existential lenses of theology as three inseparable parts. Thus, it is hoped that there can be harmony in theological methods between the Pentecostal-Charismatic tradition and the Reformed tradition.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44803648","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Nasri Nugroho, Yotam Teddy Kusnandar, Joko Sembodo
{"title":"Peran Media Sosial Dalam Penyampaian Kabar Baik Menurut Lukas 4 :18-19","authors":"Nasri Nugroho, Yotam Teddy Kusnandar, Joko Sembodo","doi":"10.33991/miktab.v2i2.436","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/miktab.v2i2.436","url":null,"abstract":"Pemberitaan kabar baik merupakan upaya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia, bahkan yang berkembang di era teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah melalui media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19, untuk menjelaskan yang dimaksud media sosial, dan untuk menjelaskan peran media sosial dalam penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Peneliti melakukan kajian dari berbagaisumberliteraturberupajurnalteologimaupunbuku-bukuyangsesuai dengantema,sehinggamenghasilkanbeberapapenjelasan yangdibahassecara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan diperlukannya kemampuan dalam mengakses dan memproses transmisi data dan informasi dalam berbagai macam platform media, sehingga penggunaan teknologi informasi bukan hanya sekadar dimanfaatkan untuk mengikuti tren zaman, tetapi media dapat berperan dalam melaksanakan misi Allah dalam menyampaikan kabar baik.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"90 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"83552337","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"“Takut akan Tuhan” sebagai dasar pertumbuhan spiritualitas remaja Kristen","authors":"Robi Prianto, Hesron Yuswanto, Yohanes Hasiholan Tampubolon","doi":"10.51828/td.v12i1.242","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.242","url":null,"abstract":"Takut akan Tuhan adalah sikap yang harus dimiliki setiap orang Kristen. Takut akan Tuhan diajarkan dalam Alkitab. Salah satu kitab mengajarkan tentang takut akan Tuhan adalah kitab Amsal, khususnya Amsal 1:1-7. Ada banyak pendapat mengenai penafsiran takut akan Tuhan dalam Amsal 1:1-7. Ajaran tentang takut akan Tuhan ini sangat baik untuk diajarkan kepada para remaja. Masa remaja merupakan masa yang labil dan mudah dipengaruhi, juga oleh pengaruh buruk yang dapat merusak kehidupan remaja. Dengan menggunakan metode penafsiran eksegesis. Takut akan Tuhan yang dimaksud dalam Amsal 1:1-7 adalah takut atau hormat kepada Tuhan karena kesucian-Nya. Rasa takut atau rasa hormat dapat membangun seseorang menjadi penyembah Tuhan yang sejati. Ketakutan akan penghormatan kepada Tuhan adalah dasar dari pengetahuan atau kebijaksanaan. Beberapa implikasi praktisnya adalah, pertama, remaja perlu untuk hidup dalam firman Tuhan. Kedua, hidup dalam kekudusan. Ketiga, hidup dalam kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"368 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"86807503","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Misi populer Kongregasi Pasionis sebagai bentuk katekese umat Katolik masa kini yang mengaktualisasikan gagasan eklesiologi Konsili Vatikan II","authors":"Nobertus Epo","doi":"10.51828/td.v12i1.171","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.171","url":null,"abstract":"Saat ini gereja ditantang untuk semakin kreatif dalam mewartakan Injil. Artinya gereja dalam pewartaannya dituntut harus mampu menyapa semua umat beriman dimanapun mereka berada, tanpa terkecuali. Berdasarkan hal tersebut, fokus studi penelitian ini ialah pada peran lembaga religius, secara khusus Kongregasi Pasionis dalam mewartakan Injil. Peran Kongregasi Pasionis tampak nyata dalam kegiatan karya misi populer. Dalam misi populer, para Pasionis tidak hanya mengajarkan nilai-nilai Injil, tetapi juga nilai kehidupan. Misi populer dalam Kongregasi Pasionis dibahas dalam terang Dokumen Konsili Vatikan II yaitu Evangelii Nuntiandi. Penelitian ini digarap menggunakan metode kualitatif dengan menelusuri aneka kepustakaan yang relevan dengan tema yang dibahas. Temuan dalam penelitian, karya misi populer yang dijalankan oleh para Pasionis ternyata sangat cocok untuk pendalaman iman dan penyegaran rohani bagi umat, khususnya di pedalaman Kalimantan Barat.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"84 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89029790","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Jabatan imam sebagai martabat tertinggi dalam Injil Yohanes 21:15-19 dari sudut pandang John Chrysostom","authors":"N. Daeli, Yaaro Harefa","doi":"10.51828/td.v12i1.208","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.208","url":null,"abstract":"Artikel ini mengkaji keseluruhan kehidupan imam. Artikel ini menggunakan metode pustaka dengan landasan buku “Six Books on the Priesthood” oleh John Chrysostom. Juga didukung oleh pandangan Bapa-Bapa Gereja dan jurnal-jurnal teologi yang berkaitan dengan pembahasan artikel serta mengkolaborasikannya dengan ayat-ayat yang ada di dalam Alkitab. Chrysostom menekankan bahwa tugas seorang imam adalah tugas melayani jiwa di hadapan Tuhan. Beberapa peneliti lain mengungkapkan, tugas seorang imam/gembala dalam jabatannya dianggap sulit dan rendah. Namun dibalik kesulitan tersebut, Chrysostom menemukan kemuliaan di dalam keimamatan. Oleh karena itu, kemuliaan jabatan imam sebagai martabat tertinggi diungkapkan dalam tiga hal. Pertama, awal mula tugas dan tanggung jawab imam dinyatakan dalam Injil Yohanes 21:15-19 sebagai pernyataan Yesus. Kedua, seorang imam menjadi representasi Kristus bagi kawanan melalui karakternya. Ketiga, tugas keimamatan meliputi berbagai godaan dan bahaya dalam pelayanan. Ketiga hal ini bertujuan untuk menjelaskan keseluruhan kehidupan imam sebagai tugas dan tanggung jawab yang tidak mudah tetapi mulia.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"42 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"78052709","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}