Antonius Missa, S. Bulan, Yusak Tanasyah, Bobby Kurnia Putrawan
{"title":"Implikasi pelbagai tafsir teologi Kristen mengenai Covid-19 di Indonesia","authors":"Antonius Missa, S. Bulan, Yusak Tanasyah, Bobby Kurnia Putrawan","doi":"10.51828/td.v12i1.221","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.221","url":null,"abstract":"Berbagai aliran dalam gereja memahami Firman Tuhan sesuai dengan doktrin masing-masing gereja yang berdampak pada beragamnya penafsiran teologi Kristen mengenai Covid-19. Tujuan penelitian ini mencari latar belakang teologis atas pelbagai pandangan Covid-19 yang berkembang selama masa pandemi dan bagaimana implikasinya bagi orang Kristen di Indonesia. Melalui penelitian kualitatif deskriptif, maka peneliti menemukan sintesis teologis tentang pandemi memberikan implikasi terhadap pandangan orang memahami pandemi Covid-19. Hal ini yang membedakan penelitian ini dengan penelitian lain yang banyak membahas dari pandangan kesehatan, sosial, psikologi sementara peneliti memaparkan dari bentuk pelbagai tafsir yang ada di kalangan teologi Kristen. Penemuan penelitian ini adalah pemahaman teologis seseorang berimplikasi pada pemahamannya melihat pandemi Covid-19 dan juga antivirus. Berbagai pandangan teologis menjelaskan tentang Covid-19; ada yang setuju untuk menerima vaksin dan ada juga yang menolak vaksin karena alasan teologis.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"28 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"91380461","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Integritas pemimpin berdasarkan Amsal 31:1-9","authors":"Farel Yosua Sualang, Afryliyanus Dejunior Budiman, Anon Dwi Saputra","doi":"10.51828/td.v12i1.229","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.229","url":null,"abstract":"Integritas merupakan suatu hal yang sangat penting yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam memimpin sebuah komunitas atau suatu kelompok. Nasihat dari sang ibu kepada Lemuel dalam teks Amsal 31:1-9 menunjukkan ada beberapa prinsip yang memiliki keterkaitan dengan seorang pemimpin berintegritas dan tulisan ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip seorang pemimpin yang berintegritas dengan melihat teks tersebut. Metode yang dilakukan dalam tulisan ini adalah pendekatan metode kualitatif dengan sub-hermeneutika sastra hikmat yang menggunakan beberapa analisis sesuai dengan kitab yang bergenre sastra. Jika memperhatikan interpretasi Amsal 31:1-9, maka Artikel ini menemukan adanya tiga prinsip mengenai integrtias seorang seorang pemimpin yaitu seorang yang konsisten dalam setiap perkataan dan tindakan, jujur dalam melakukan segala hal, serta adil dalam mengambil keputusan.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"4 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87562615","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Gereja sebagai ibu dan mempelai","authors":"Carmia Margaret","doi":"10.51828/td.v12i1.238","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.238","url":null,"abstract":"Kaum Injili dikenal memiliki penekanan tinggi terhadap aspek soteriologi, akan tetapi di sisi lain justru memiliki konstruksi eklesiologi yang tipis. Untuk mengatasi ketimpangan ini, perlu membangun sebuah pandangan teologis yang lebih apresiatif dan proporsional terhadap natur dan identitas gereja. Mengacu pada identitas kaum Injili yang mengakarkan diri pada otoritas Kitab Suci, maka pandangan terhadap gereja juga seharusnya dibangun atas dasar refleksi ulang terhadap gambaran-gambaran Alkitab itu sendiri tentang keberadaan gereja. Artikel ini hendak mengusulkan penghayatan kembali terhadap gambaran tentang gereja sebagai anak dara atau pengantin yang menantikan mempelainya yaitu Kristus; sekaligus sebagai Ibu yang mengasuh orang percaya. Pembacaan yang diusulkan ialah bahwa figur Maria ibu Yesus dapat menjadi model bahwa gereja adalah entitas yang diciptakan Allah melalui Roh dan firman dari dalam kekosongan, serta dipanggil untuk mengusung dan menghadirkan Kristus di dalam dunia yang berdosa, sekalipun harus melewati tahapan mengerang dan sakit bersalin.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"10 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"75060308","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Reynaldo Pabebang, Erik H. Erikson, Bagus Subambang
{"title":"Tinjauan teologis mengenai upacara Rambu Solo'","authors":"Reynaldo Pabebang, Erik H. Erikson, Bagus Subambang","doi":"10.51828/td.v12i1.215","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.215","url":null,"abstract":"Penelitian ini dilakukan berdasarkan kondisi masyarakat Toraja yang mayoritas Kristen. Penduduk masyarakat Toraja sudah sebagian besar memeluk agama Kristen namun di dalam praktik kehidupan sehari-hari, masih melakukan praktik sistem kepercayaan leluhur (Aluk Todolo) yang berbeda kepercayaan dengan kekristenan. Salah satu contoh yang akan menjadi fokus pembahasan pada penelitian ini ialah mengenai pelaksanaan upacara Rambu Solo’ yang merupakan adat budaya yang lahir dari sistem kepercayaan leluhur namun hingga sampai saat ini masih dilaksanakan oleh kalangan kekristenan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis pendekatan fenomenologi. Berdasarkan pendekatan fenomenologi ditemukan suatu hasil penelitian bahwa upacara Rambu Solo’ termasuk tindakan sinkretisme. Dalam mengumpulkan data-data, peneliti melakukan wawancara, observasi dari video-video dan dokumen-dokumen berupa foto saat pelaksanaan upacara Rambu Solo’. Dengan penelitian ini, diharapkan pembaca, terlebih kepada masyarakat Toraja kistiani, memahami pandangan teologi tentang makna upacara Rambu Solo’ bagi orang Kristen di Toraja, dan memiliki suatu pertimbangan untuk tetap melaksanakan upacara Rambu Solo’.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"38 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79445060","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Menuju pemuridan yang efektif bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi generasi Z","authors":"W. Winarsih","doi":"10.51828/td.v12i1.233","DOIUrl":"https://doi.org/10.51828/td.v12i1.233","url":null,"abstract":"Hasil penelitian pustaka menunjukkan untuk menuju pemuridan yang efektif, mahasiswa sekolah tinggi teologi (STT) generasi Z tetap perlu melalui proses yang fundamental dalam pemuridan yaitu terjadinya transformasi pikiran melalui proses formasi dan reformasi. Proses transformasi pikiran hanya dapat terjadi jika mahasiswa STT generasi Z menerima Kristus, yang nantinya dilanjutkan dengan transformasi di setiap detail hidup mereka. Transformasi progresif dalam diri mahasiswa STT generasi Z akan berdampak dalam usaha mereka melawan tantangan penyembahan berhala masa kini. Untuk menunjang proses tersebut lingkungan STT didesain sedemikian rupa sehingga mereka terus didukung untuk menghidupi identitas baru mereka sebagai anak Allah, berelasi dengan Allah Tritunggal dan tubuh Kristus. Karya teologi melalui pelayanan konseling serta pelayanan media digital juga perlu digunakan dalam pengerjaan pemuridan yang efektif di STT khususnya bagi generasi Z. ","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"35 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"72796116","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"The Claim toward God: Socio-Ideological Approach on Job’s Claim in Job 24:1–12","authors":"Albert Parsaoran Sihotang","doi":"10.36421/veritas.v21i2.568","DOIUrl":"https://doi.org/10.36421/veritas.v21i2.568","url":null,"abstract":"The book of Job is one of the stories that excitingly describes the encounter of both the reality of life and the utopian faith’s tradition in the life of a pious and righteous person before God. The tension from the encounter between them is conveyed uniquely in the dialogue between Job, God, and his friends, using the form of confrontation and confirmation. Although the historicity of Job’s figure can be questioned, his characterizations that show a person’s religiosity represent the religiosity of the community. Job is present not only in the tension of confrontation and confirmation but also as a transformative solution between the fragile realities of life (vulnerability to suffering) and the utopian faith’s tradition that tends to hegemony the reality of life. Therefore, through a socio-ideological hermeneutical approach, this research tries to reread Job’s story specifically through chapters 24:1-12 which highlights Job’s claim. In this study, it appears that Job’s claim, which has been neglected due to the dominance of “one-sided” readings on the righteous and pious character of Job, has become a transformative solution as a realistic and authentic form of religiosity in the tension of encountering the realities of life and the traditions of faith.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-06","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45923613","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Menuju Teologi Sungai: Kajian Ekoteologi terhadap Pencemaran Sungai Sa’dan di Toraja","authors":"Tenny Tenny, Johana Ruadjanna Tangirerung, Stephanus Ammai Bungaran, Yonathan Mangolo, Agustinus Karurukan Sampeasang","doi":"10.33991/epigraphe.v6i2.392","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/epigraphe.v6i2.392","url":null,"abstract":"Humans and all creatures need rivers as a source of life and prosperity. However, many rivers have been polluted, such as the Sa'dan river. This paper aims to rediscover Christians' vocation in viewing and preserving rivers that focus on God. By using the theory of Theocentrism and To Sangserekan mythology in treating the river as a sangserekan that needs to be guarded and maintained. The author uses a descriptive qualitative method to achieve this goal with the help of field studies and literature. Field studies through open interviews with respondents have been determined according to the needs of the instrument and literature study using the perspective of Theocentrism and To Sangserekan mythology which emphasizes that humans and rivers are both created. The results of the study said that the causes of the pollution of the Sa'dan river were: (1) there was a mistake in understanding the river, which had no connection with the issue of Christian faith; (2) an environmentally unfriendly lifestyle has become a habit that continues to be forced; (3) the lack of sermons on environmental issues, especially rivers. For this reason, a theological response is needed to answer the problem of pollution of the Sa'dan river, namely towards river theology.AbstrakManusia dan seluruh mahluk memerlukan sungai sebagai sumber kehidupan dan kesejahteraan. Namun banyak sungai yang sudah tercemar, seperti sungai Sa’dan. Tujuan tulisan ini adalah menemukan kembali panggilan umat Kristen dalam memandang dan melestarikan sungai yang berfokus kepada Allah. Dengan menggunakan teori Teosentrisme dan mitologi To Sangserekan dalam memperlakukan sungai sebagai sangserekan yang perlu dijaga dan dipelihara. Metode yang penulis gunakan untuk mencapai tujuan tersebut ialah metode kualitatif deskriptif dengan bantuan studi lapangan dan kepustakaan. Studi lapangan dilaksanakan melalui wawancara terbuka kepada responden yang telah ditentukan sesuai kebutuhan instrument dan studi kepustakaan berfokus kepada prinsip-prinsip dalam ekoteologi yang terkait dengan pelestarian sungai. Hasil penelitian mengatakan bahwa penyebab pencemaran sungai Sa’dan, ialah: (1) adanya kekeliruan dalam memahami sungai yang tidak memiliki kaitan dengan persoalan iman kristen; (2) gaya hidup tidak ramah lingkungan sudah menjadi kebiasaan yang terus dipaksakan; (3) minimnya khotbah-khotbah mengenai isu lingkungan khususnya sungai. Untuk itu, perlu sebuah respons teologis untuk menjawab masalah pencemaran sungai Sa’dan yaitu menuju teologi sungai.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"59 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"84910386","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Penglihatan Binokular Pneumatologi: Kajian Socio-Historis Perspektif Mesopotamia dan Ibrani Kuno","authors":"Elia Singkoh, M. Pardosi, A. Hendriks","doi":"10.33991/epigraphe.v6i2.377","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/epigraphe.v6i2.377","url":null,"abstract":"The Hebrew scriptures contain rich material on pneumatology. Cultural context greatly influenced the construction of dogmatics in biblical times, but the study of pneumatology from a social and historical point of view received less attention. This study aims to explore the social context of the meaning of spirits in the ancient Mesopotamian and Hebrew eras. Through a socio-historical approach, the pneumatology construction plot of the ancient Hebrews can be known, where its development also influences the construction of New Testament theology and can be used as a reference for the development of dogmatics at the end of time. Methods This research uses a qualitative descriptive approach. The mingling of the ancient Hebrews with the Mesopotamians influenced the ancient Hebrews' presuppositions for the articulation of pneumatology and its everyday use. The widespread and transcendental use of pneumatology occurred as a result of the initial conceptual fragility and articulation that developed from the Mesopotamians, thus influencing the perspective of ancient Hebrew pneumatology on daily implementation. The diversity of pneumatological articulations in ancient Hebrew literature is not a contradiction but a multiplicity of words that emerges from the socio-historical aspect.AbstrakKitab suci Ibrani berisi materi yang kaya tentang pneumatologi. Konteks budaya sangat mempengaruhi konstruksi dogmatika di zaman Alkitab, namun kajian pneumatologi dari sudut pandang sosial dan sejarah kurang mendapat perhatian. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi konteks sosial pemaknaan roh di era Mesopotamia dan Ibrani kuno. Melalui pendekatan socio-historis, alur konstruksi pneumatologi bangsa Ibrani kuno dapat diketahui, di mana perkembangannya turut mempengaruhi konstruksi teologi Perjanjian Baru dan dapat dijadikan acuan pengembangan dogmatika di akhir zaman. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif. Berbaurnya bangsa Ibrani kuno dengan bangsa Mesopotamia mempengaruhi presuposisi orang Ibrani kuno terhadap artikulasi pneumatologi serta penggunaannya sehari-hari. Penggunaan pneumatologi yang luas dan transcendental terjadi akibat rempuhan konseptual awal serta artikulasi yang berkembang dari bangsa Mesopotamia sehingga mempengaruhi perspektif pneumatologi orang Ibrani kuno terhadap implementasi sehari-hari. Diversitas artikulasi pneumatologi dalam literatur Ibrani kuno bukan merupakan kontradiksi melainkan multiplisitas kata yang mencuat dari aspek socio-historis.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"159 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"80059284","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Helda Sriwijayati, Timothy Uriel Pelmar, Sandro Hasoloan L Tobing
{"title":"Penolakan Kurban dalam Amos 5:21-27 dan Relevansinya dengan Sila Kelima Pancasila","authors":"Helda Sriwijayati, Timothy Uriel Pelmar, Sandro Hasoloan L Tobing","doi":"10.33991/epigraphe.v6i2.399","DOIUrl":"https://doi.org/10.33991/epigraphe.v6i2.399","url":null,"abstract":"Amos 5:21-27 shows the Israelite sacrifice being rejected by God, even though the sacrifice fulfilled the ritual requirements. The people of Israel in the time of Amos were required by God to do justice and righteousness, but they did not do so, and the Lord sentenced them. Some scholars also argue about this rejection, and they fall into two groups. The first group concludes that God rejected the sacrifice because He did not need it. The second group believes that sacrifice is needed but must be followed by people living based on justice and righteousness. The Israelite people during Amos's time ignored justice; corruption, economic inequality, and poverty were rampant. Even though its people are religious, Indonesia also has serious social injustice problems. The poverty rate is high, economic inequality is wide, and corruption is easy to find. The interpretation of Amos 5:21-27 about justice is relevant to Pancasila, especially the fifth principle, \"Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia\".AbstrakAmos 5:21-27 menampilkan kurban orang Israel ditolak oleh TUHAN, meskipun kurban telah memenuhi syarat ritual. Orang Israel pada masa Amos dituntut oleh TUHAN untuk melakukan keadilan dan kebenaran, namun mereka tidak melakukannya dan TUHAN menjatuhkan hukuman. Beberapa ahli pun berargumen tentang penolakan itu dan mereka terbagi dalam dua kelompok. Kelompok pertama menyimpulkan TUHAN menolak kurban karena tidak membutuhkannya. Kelompok kedua berpendapat kurban tetap dibutuhkan tetapi harus diikuti kehidupan umat yang berlandaskan keadilan dan kebenaran. Mengunakan metode kualitatif dengan pendekatan eksegesa maka didapa kesimpulan bahwa, kehidupan orang Israel pada masa Amos mengabaikan keadilan, sehingga korupsi, ketimpangan ekonomi dan kemiskinan pun merajalela. Indonesia, meski rakyatnya beragama juga memiliki masalah serius yakni ketidakadilan sosial. Angka kemiskinan tinggi; ketimpangan ekonomi lebar; korupsi mudah ditemukan. Hasil tafsir menghasilkan pertama teologi kurban yang direlevansikan untuk memaknai persembahan dan kedua keadilan Amos relevan dengan Pancasila, khususnya sila kelima “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"69 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"78082753","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"MENGHAYATI MISA VIRTUAL: MERAYAKAN HIPERREALITAS RELIGIUS MENJADI GEREJA VIRTUAL DI KATEDRAL JAKARTA","authors":"Iman Sukmana Cornelius","doi":"10.24071/jt.v11i02.5347","DOIUrl":"https://doi.org/10.24071/jt.v11i02.5347","url":null,"abstract":"During the COVID-19 pandemic, the government issued social distancing rules. As a result, religious life, including the Catholic Church, must adapt to these rules. For this reason, the Jakarta Cathedral Catholic Church is holding the online or live-streaming mass. This mass is experienced as a virtual mass, that is, the people experience a \"mass\" that is not concrete as if they are experiencing a real mass. This virtual mass experience is an experience of religious hyperreality, i.e. an experience that goes beyond the actual reality. This research uses the religious cultural phenomenology method through observation, interviews, literature study, and internet data browsing. The objects of this research are the virtual mass phenomenon and the experience of the people living in the virtual mass. The research results show that the virtual mass phenomenon is becoming more natural, reasonable, and normal, especially during the COVID-19 pandemic. By participating in the virtual Mass, Catholics also become a Virtual Church.","PeriodicalId":33647,"journal":{"name":"Veritas Jurnal Teologi dan Pelayanan","volume":"114 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85357472","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}