{"title":"Studi Komparasi Platform Open-Source Internet of Things","authors":"Al Kautsar Permana, Ade Rachmawan","doi":"10.52330/jtm.v21i1.38","DOIUrl":"https://doi.org/10.52330/jtm.v21i1.38","url":null,"abstract":"Pada paper ini diulas mengenai prinsip operasi dari internet of things sebagai salah satu bidang penelitian yang saat ini sedang berkembang. Mikrokontroller yang berperan besar sebagai perangkat keras aplikasi internet of things dipaparkan spesifikasi dan fiturnya secara lengkap. Internet of things platform dipaparkan berdasarkan fungsinya. Ada yang berfungsi untuk mengolah dan memvisualisasikan data dari mikrokontroller untuk kebutuhan monitoring dan pembuatan keputusan, lalu ada yang berfungsi untuk mengendalikan aktuator yang dikontrol oleh mikrokontroller secara otomatis menggunakan perangkat mobile atau pc. Kelebihan dan kekurangan masing-masing mikrokontroller dianalisis dan dijadikan bahan acuan serta studi perbandingan untuk mengembangkan metode baru.","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":"72 11","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"72452726","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Struktur Biaya Produksi Aspal Buton Untuk Kebutuhan Infrastruktur Sebagai Substitusi Impor","authors":"Rini Setiowati, Muhammad Fidiandri Putra","doi":"10.52330/jtm.v21i1.94","DOIUrl":"https://doi.org/10.52330/jtm.v21i1.94","url":null,"abstract":"Aspal Buton (Asbuton) adalah aspal alam yang terkandung dalam deposit batuan yang terdapat di pulau Buton dan sekitarnya. Dengan jumlah deposit Asbuton yang mencapai 650 juta ton, menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil aspal alam terbesar di dunia. Kadar aspal yang terkandung dalam Asbuton bervariasi, antara 10-40%. Ini merupakan kadar aspal yang cukup besar dibandingkan dengan kadar aspal alam negara-negara lain seperti Amerika (12-15%) dan Prancis (6-10%). Aspal Buton merupakan satu-satunya aspal di Indonesia yang terbaik dan terbesar di dunia. Sejak 2015, pemerintah RI juga mengarahkan untuk mengoptimalkan penggunaan aspal Buton untuk pembangunan jalan. Adapun tujuan dilakukannya Kajian struktur biaya produksi aspal buton untuk kebutuhan insfrastruktur sebagai substitusi impor adalah tersedianya data dan informasi potensi bahan baku dan bahan penolong industri aspal buton dan tersedianya data industri bahan galian non logam untuk industri aspal buton. Tantangan terbesar pertama adalah bagaimana mengedukasi pelaku bisnis konstruksi jalan dalam menyerap dan mengimplementasikan teknologi dan konstruksi aspal Buton dengan cepat. Kedua, mendorong pembangunan pabrik aspal Buton di daerah-daerah terdekat dengan bahan baku untuk menekan biaya transportasi sehingga harga jual aspal Buton bisa bersaing di pasaran. Ketiga, melakukan upaya-upaya lainnya untuk memperkenalkan aspal buton kepada masyarakat. Pada 2018 penggunaan asbuton dilakukan pada jalan sepanjang 709 kilometer (km) yang tersebar pada ruas jalan di berbagai provinsi. Jumlah asbuton yang dibutuhkan sebesar 58.879 ton. Dari perhitungan merujuk pada kekuatan hotmix yg dinilai dg parameter Marshall Stability (MS) dari segi kualitas umur jalan, apabila memakai hotmix, aspal minyak, aspal buton hasilnya adalah MS hotmix dg aspal minyak 800 kg sedangkan MS hotmix dg aspal buton 1000 kg. Dengan metoda analisa komponen, bisa ditetapkan nilai Structural Number dari setiap tipe tsb, yg merujuk pada ketebalan lapisan dan/atau umur konstruksi. Makin besar MS, makin tipis atau makin panjang umur.","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":"21 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-03-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79967343","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analisis Risiko Kegagalan Proses Menggunakan FuzzyAHP, FMEA dan Kaizen Method Pada PT. Central Mega Kencana","authors":"Arum Waluny, Endang Suhendar","doi":"10.52330/jtm.v21i1.72","DOIUrl":"https://doi.org/10.52330/jtm.v21i1.72","url":null,"abstract":"Setiap perusahaan menginginkan proses produksinya mendapatkan produk yang bermutu baik dari segi proses produksi yang efektif dan efisien serta bisa memberikan kepuasan kepada konsumen. Perusahaan harus melakukan peningkatan kualitas dari setiap produk yang dihasilkan dan menekan jumlah kecacatan yang ada. Salah satu cara yang bisa dilakukan ialah menganalisa resiko produksi demi menjamin keberhasilan suatu produksi dan bisnis. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah menganalisa risiko penyebab terhambatnya proses produksi, mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya risiko terhambatnya proses produksi, dan strategi untuk meminimalkan risiko yang terjadi pada produksi perhiasan PT. Central Mega Kencana. Melihat hal tersebutperlu dilakukan suatu sistem manajemen risiko yang mana dalam mengidentifikasi dan menyelesaian masalah manajemen risiko ini ada beberapa metode yang dapat digunakan antara lain yaitu metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA), Fuzzy AHP, dan juga Kaizen Method. Dalam penelitian ini, hasil dari pengolahan data yang dilakukan yaitu, didapatkan hasil pada proses produksi PT. Central Mega Kencana yang mendapat nilai RPN tertinggi pada Proses Rakit dengan RPN pada dua mode kegagalan sebesar 737,107 dan 613,783. Untuk kemudian dua mode kegagalan tersebut diprioritaskan untuk diberikan tindakan perbaikan. Usulan tindakan perbaikan yang dilakukan yaitu dengan penerapan Kaizen melalui pendekatan PDCA.","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"79879144","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analisis Beban Kerja Fisik Menggunakan Metode Cardiovascular Load Dan Beban Kerja Mental Menggunakan Metode Rating Scale Mental Effort Pada PT Citra Abadi Sejati Bogor","authors":"D. Satria, T. Tiara, Tulus Widjajanto","doi":"10.52330/jtm.v21i1.77","DOIUrl":"https://doi.org/10.52330/jtm.v21i1.77","url":null,"abstract":"Proses produksi PT Citra Abadi Sejati Bogor masih menggunakan mesin dengan bantuan tenaga manusia atau disebut dengan mesin semi otomatis dan jumlah pesanan yang tinggi, pekerjaan yang dilakukan secara manual dengan jumlah yang banyak mengakibatkan timbulnya beban kerja baik secara fisik maupun secara mental. Pada penelitian ini dilakukan analisis beban kerja fisik dan mental pada karyawan bagian factory 3 line – 2 dengan tujuan untuk menjaga kesehatan karyawan agar dapat bekerja secara produktif sehingga dapat memenuhi dan menyelesaikan permintaan pesanan secara tepat waktu. Metode yang tepat dalam menganalisis dari permasalahan yang ada mengenai analisis beban kerja (Workload Analysis) yaitu metode Cardiovascular Load (CVL) untuk menganalisis beban kerja fisik dengan data yang dibutuhkan adalah denyut nadi karyawan yang diukur menggunakan alat bernama oximeter, dan metode Rating Scale Mental Effort (RSME) untuk menganalisis beban kerja mental dengan menggunakan skala rating/skor dari karyawan serta dibantu menggunakan Software Winsteps dalam menganalisis beban kerja mental. Berdasarkan hasil analisis beban kerja fisik dengan melakukan perhitungan konsumsi energi, dengan hasil > 350 s.d 500 kkal/jam dan Cardiovascular Load 30 s.d <60 maka beberapa karyawan termasuk dalam kategori berat dan diperlukan perbaikan, adapun menurut hasil yang telah dilakukan perhitungan, karyawan bagian factory 3 line – 2 PT Citra Abadi Sejati Bogor tersebut ialah Susanti, Yuni lawati, Herni, Yustika, Wenti Oktari, Siti Fatmawati, Yani Setia Mulyani, dan Rina Suherni dan berdasarkan hasil analisis beban kerja mental dengan melakukan perhitungan Rating Scale Mental Effort dibantu dengan menggunakan Software Winstep serta dilihat berdasarkan Variable (Wright) Maps, maka beberapa karyawan termasuk dalam kategori memiliki beban kerja mental yang paling tinggi dengan urutan skala 91 s.d 120, adapun menurut hasil yang telah dilakukan perhitungan, karyawan bagian factory 3 line-2 PT Citra Abadi Sejati Bogor tersebut ialah Haryati, Ayu Lestari, Muhammad Kaprowi, Toto Suharto, dan Vera Mulyawati.","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":"174 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-03-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77355608","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analisis Potensi Kebangkrutan Pada PT. Prima Mulia Engineering dengan Metode Altman Z-Score untuk Periode 2017-2020","authors":"Marison Sitorus, Siti Maryani Yulita","doi":"10.52330/jtm.v21i1.69","DOIUrl":"https://doi.org/10.52330/jtm.v21i1.69","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengatahui kelangsungan usaha PT. Prima Mulia Engineering menggunakan data primer berupa laporan keungan untuk periode 2017 – 2020. Penelitian ini menggunakan metode Altman Z-Score yang merupakan salah satu metode untuk menilai potensi kebangkrutan suatu perusahaan. Metode ini menggunakan lima rasio keuangan, yaitu modal kerja terhadap total aktiva, laba ditahan terhadap total aktiva, laba sebelum bunga dan pajak terhadap total aktiva, nilai buku ekuitas terhadap total aktiva, dan penjualan terhadap total aktiva. Penurunan jumlah penjualan selama beberapa tahun terakhir dan pandemi covid 19 yang melanda hampir semua sektor industri memberi dampak yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa PT. Prima Mulia Engineering untuk periode 2017-2019 nilai Z-Score yang diperoleh menunjukan perusahaan berada pada zona abu-abu, sedangkjan pada tahun 2020, nilai Z-Score yang diperoleh menunjukan perusahaan berada pada zona berbahaya. Kondisi tersebut menunjukan bahwa PT. Prima Mulia Engineering untuk tahun 2017 terindikasi memiliki potensi untuk bangkrut.","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":"85 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81009507","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Paramita Setyaningrum, A. A. Gabriel, Irvan Adhin Cholilie
{"title":"Modelling of Sustainable Blue Swimming Crab Supply Chain in East Java Using Soft System Methodology","authors":"Paramita Setyaningrum, A. A. Gabriel, Irvan Adhin Cholilie","doi":"10.21776/ub.industria.2022.011.02.6","DOIUrl":"https://doi.org/10.21776/ub.industria.2022.011.02.6","url":null,"abstract":"Abstract Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is one of Indonesia's highest-export fishery commodities. Capture fisheries are dominated by fishermen with low productivity, efficiency, and income levels. There is a high-profit disparity between upstream and downstream actors, where fishermen get the lowest profit. This study aims to identify the causes of profit disparities between supply chain actors and propose a supply chain model to solve the profit disparity problem. The supply chain actors observed were fishermen, mini plants, processing companies, and exporters of blue swimming crab. Determining variables that affect profit gain based on the business activities of the supply chain actors of blue swimming crab was carried out. The conceptual model was made using the Soft System Methodology (SSM). The analysis result showed that the causes of profit disparity were the vast number of fishermen, lack of product value understanding, minimum capital and access to capital, awareness of fishing gear utilization, and the individual fisherman's work system. The conceptual model of the blue swimming crab supply chain proposed consists of the formation of fishing groups, coordination between fishing groups and Perum Perindo, collaborating with Pokja and fishing groups, and increasing collaboration between all supply chain actors of blue swimming crab. Keywords: blue swimming crab, fishermen, Soft System Methodology, supply chain Abstrak Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan ekspor tertinggi di Indonesia. Usaha ikan tangkap didominasi oleh para nelayan dengan tingkat produktivitas, efisiensi, serta pendapatan yang rendah. Disparitas keuntungan yang tinggi terjadi antara pelaku rantai pasok dari hulu dan hilir. Nelayan memperoleh keuntungan paling rendah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab disparitas keuntungan antara pelaku rantai pasok dan mengusulkan model rantai pasok sebagai solusi permasalahan disparitas keuntungan. Pelaku rantai pasok yang diamati adalah nelayan, mini plant, perusahaan pengolah rajungan, dan eksportir. Identifikasi variabel yang memengaruhi perolehan keuntungan berdasarkan aktivitas bisnis pelaku rantai pasok rajungan. Model konseptual dibuat menggunakan Soft System Methodology (SSM). Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab disparitas keuntungan adalah jumlah nelayan yang sangat banyak, pemahaman yang kurang terhadap nilai produk, modal dan akses permodalan yang minimum, kesadaran dalam penggunaan alat tangkap yang aman, dan sistem kerja nelayan yang masih dilaksanakan secara individu sehingga nelayan menerima keuntungan yang paling kecil di antara pelaku rantai pasok dari hulu dan hilir. Model konseptual rantai pasok rajungan yang diusulkan adalah pembentukan kelompok nelayan, koordinasi antara kelompok nelayan dan Perum Perindo, kolaborasi antara Pokja dan kelompok nelayan, dan meningkatkan kolaborasi antara seluruh pelaku rantai pasok rajungan. Kata kunci: nelayan, rajungan,","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43336223","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
D. M. Sumanti, I. Hanidah, Muhammad Aziz Abdullatif
{"title":"Physical, Chemical, and Functional Characteristics of Composite Flours from Banana Corm and Tempeh","authors":"D. M. Sumanti, I. Hanidah, Muhammad Aziz Abdullatif","doi":"10.21776/ub.industria.2022.011.02.5","DOIUrl":"https://doi.org/10.21776/ub.industria.2022.011.02.5","url":null,"abstract":"Abstract This study aimed to determine composite flour's physical, chemical, and functional properties from Sumedang Roid banana corm and tempeh. The sample consisted of five different treatments with ratios of banana corm flour to tempeh flour 100:0, 0:100, 80:20, 70:30, and 60:40. The research data were analyzed using a Randomized Block Design and the Duncan Multiple Range Test (DMRT) at 5% level. Parameters observed included bulk density, color degree, ash content, moisture content, carbohydrate content, fat content, protein content, and pasting properties. The results showed that composite flour with a ratio of banana corm flour to tempeh flour of 60:40 could produce the best composite flour characteristics with a bulk density of 0.44 g/ml, color degree L* 67.86, a* 5.64 and b* 23.34, 5.47% ash content, 8.66% moisture content, 57.60% carbohydrates content, 10.62% fat content, 17.64% protein content, pasting temperature 80.86 °C, peak viscosity 1,265.33 cP, hold viscosity 858.00 cP, final viscosity 1,109.00 cP, breakdown viscosity 407.33 cP, setback viscosity 251.0 cP. The produced composite flour is suitable to be applied on biscuits, cookies, and semi-moist cakes. Keywords: banana stem, composite, flour, Roid banana, tempeh Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui sifat fisik, kimia, dan fungsional tepung komposit dari bonggol pisang Roid asal Sumedang dan tempe. Sampel terdiri lima perlakuan berbeda dengan rasio perbandingan tepung bonggol pisang dengan tepung tempe adalah 100: 0, 0:100, 80:20, 70:30, dan 60:40. Data hasil penelitian dianalisis dengan Rancangan Acak Kelompok dan uji lanjutan Duncan Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5%. Parameter pengamatan meliputi densitas kamba, derajat warna, kadar abu, kadar air, kadar karbohidrat, kadar lemak, kadar protein, dan karakteristik pasting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung komposit dengan rasio tepung bonggol pisang dengan tepung tempe 60 : 40 mampu menghasilkan karakteristik tepung komposit terbaik dengan densitas kamba 0,44 g/ml, derajat warna L* 67,86, a* 5,64 dan b* 23,34, kadar abu 5.47%, kadar air 8,66%, kadar karbohidrat 57,60%, lemak 10,62%, protein 17,64%, pasting temperature 80,86 °C, peak viscosity 1265,33 cP, hold viscosity 858,00 cP, final viscosity 1.109,00 cP, breakdown viscosity 407,33 cP, setback viscosity 251,0 cP. Tepung komposit yang dihasilkan tersebut sesuai untuk diaplikasikan pada produk biskuit, kukis, dan kue semi basah. Kata kunci: bonggol pisang, komposit, pisang Roid, tempe, tepung","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41805212","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Improvement in Body Posture of Sumedang Tofu Small Enterprise Workers Using Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA)","authors":"Merry Siska, Aisyah Aulia Harahap","doi":"10.21776/ub.industria.2022.011.02.4","DOIUrl":"https://doi.org/10.21776/ub.industria.2022.011.02.4","url":null,"abstract":"Abstract This study aims to analyse the work body postures, to determine the work risk level before and after the improvement using the Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) and to improve the workstation by designing ergonomic production tools. An empirical study was carried out at a small industry producing Sumedang Tofu at Rimbo Panjang, Pekanbaru, Indonesia. The workers must bend their body to move 77 kg soybeans with an 11 kg single-lifting capacity. The level of work risk was determined using the Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) method based on nine categories, i.e., shoulders, wrists, back, legs, neck, strength, vibration, contact pressure, and work duration. The soaking and milling stations scored 35 and 31 using the WERA method. The two scores indicated an average performance level that requires improvement. Anthropometric data were used to develop tools for improving workers' body posture. The new tool used for soaking and milling has footrests, so workers did not have to reach too far above their chests to move the soybeans to the milling. The soaking station and the milling station both achieved a score of 24, which is considered as a low level, indicating that neither station requires improvement. Time reduction after the body posture improvement was 3.33 seconds for the milling station and 2.08 seconds for the soaking station. Keywords: anthropometry, soybean, posture improvement, workplace ergonomic risk assessment Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi postur kerja untuk mengetahui tingkat risiko kerja sebelum dan sesudah dilakukan perbaikan menggunakan metode Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) dan memperbaiki workstation dengan merancang alat produksi yang ergonomis. Sebuah studi empiris dilakukan di sebuah usaha kecil tahu Sumedang di Rimbo Panjang, Pekanbaru, Indonesia. Para pekerja perusahaan harus membungkuk untuk memindahkan 77 kg kedelai dengan kapasitas angkat 11 kg. Tingkat risiko kerja ditentukan dengan menggunakan metode Workplace Ergonomic Risk Assessment (WERA) berdasarkan sembilan kategori, yaitu bahu, pergelangan tangan, punggung, kaki, leher, kekuatan, getaran, tekanan kontak, dan durasi kerja. Stasiun perendaman dan stasiun penggilingan memperoleh skor 35 dan 31 dengan menggunakan metode WERA sebelum perbaikan postur tubuh. Kedua skor tersebut menunjukkan tingkat kinerja rata-rata yang memerlukan perbaikan. Data antropometri digunakan untuk mengembangkan alat untuk memperbaiki postur tubuh pekerja. Alat baru yang bisa digunakan untuk merendam dan menggiling ini memiliki pijakan kaki, sehingga pekerja tidak perlu menjangkau terlalu jauh di atas dada untuk memindahkan kedelai ke penggilingan. Stasiun perendaman dan stasiun penggilingan keduanya mencapai skor 24, dengan tingkat yang rendah, menunjukkan bahwa tidak ada stasiun yang memerlukan perbaikan. Pengurangan waktu setelah perbaikan postur tubuh adalah 3,33 detik untuk stasiun penggilingan dan 2,08 detik untuk stasiun pere","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44732385","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Modelling of Pulsed Electric Field (PEF) Pretreatment on Fresh Moringa oleifera Leaves Extraction Using Response Surface Methodology (RSM)","authors":"S. Sukardi, D. Pranowo, Puput Safitri","doi":"10.21776/ub.industria.2022.011.02.2","DOIUrl":"https://doi.org/10.21776/ub.industria.2022.011.02.2","url":null,"abstract":"Abstract Moringa leaves are a source of high antioxidants. This study aims to find an equation model for the extraction conditions of Moringa leaves with Pulsed Electric Field (PEF) pretreatment. Fresh Moringa leaves were treated with PEF in various voltages (1,000, 1,500, and 2,000 Volts), frequency (1,000, 1,500 and 2,000 Hz) and extraction time (4, 5 and 6 hours) as the factors studied. The best results and mathematical equation models obtained were determined from the extraction process. The parameters observed were yield, total phenolic compounds, and antioxidant activity. The Response Surface Method (RSM) was chosen to determine the equation model for the voltage, frequency, and extraction time combination. The results of ANOVA (Sum of Squares, Lack of Fit, and p-value) show that the model is adequate to present experimental data. The analysis results showed a significant value for total phenol in a quadratic equation, extract yields in a linear equation, and antioxidant activity in a linear equation. The model is presented in a 2-D contour graph and a 3-D response surface. The equation model shows that the best treatment is a PEF voltage of 2,000 Volts, frequency of 1,000 Hz, and extraction time of 4 hours. Keywords: antioxidant, equation model, moringa leaf, Pulsed Electric Field, Response Surface Method Abstrak Daun kelor merupakan salah satu sumber antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mencari model persamaan kondisi ekstraksi daun kelor dengan perlakuan pendahuluan Pulsed Electric Field (PEF). Daun kelor segar diperlakukan dengan PEF dalam berbagai tegangan (1.000, 1.500, dan 2.000 Volt), frekuensi (1.000, 1.500 dan 2.000 Hz) dan waktu ekstraksi (4, 5 dan 6 jam) sebagai faktor yang diteliti. Hasil terbaik dan model persamaan matematika ditentukan dari proses ekstraksi. Parameter yang diamati adalah rendemen, total senyawa fenol, dan aktivitas antioksidan. Response Surface Method (RSM) dipilih untuk mengetahui model persamaan kombinasi tegangan, frekuensi, dan waktu ekstraksi. Hasil ANOVA (Sum of Squares, Lack of Fit, dan p-value) menunjukkan bahwa model layak untuk menyajikan data eksperimen. Hasil analisis menunjukkan nilai yang signifikan pada total fenol dalam persamaan kuadratik, hasil ekstrak dalam persamaan linier, dan aktivitas antioksidan dalam persamaan linier. Model dipresentasikan dalam grafik kontur 2-D dan permukaan respons 3-D. Model persamaan menunjukkan bahwa perlakuan terbaik adalah tegangan PEF 2.000 Volt, frekuensi 1.000 Hz dan waktu ekstraksi 4 jam. Kata kunci: antioksidan, daun kelor, model persamaan, Pulsed Electric Field, Response Surface Method","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42078382","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Anissa Aprilia Nurkhasanah, Suadi Suadi, I. D. Puspita
{"title":"The Root Causes Analysis of Indonesia's Fishery Products Rejection in the United States of America and European Countries during 2010 – 2020","authors":"Anissa Aprilia Nurkhasanah, Suadi Suadi, I. D. Puspita","doi":"10.21776/ub.industria.2022.011.02.7","DOIUrl":"https://doi.org/10.21776/ub.industria.2022.011.02.7","url":null,"abstract":"bstract This study aimed to determine the number of cases, causes, and main rejection factors of Indonesia's fishery products by the USA and European markets. Data were obtained from the websites of USFDA (USA) and RASFF (Europe) from 2010 to 2020. Pareto analysis and fishbone diagram were used for analyzing data that informants validated from selected exporters and experts. Within the observed period, there were 2,318 cases of rejection in the USA and 79 in Europe. The highest case was in 2011 in the USA and 2012 in European markets. Based on Pareto analysis of rejection cases, the main factors that accounted for more than 80% of rejections in the USA were filthy and Salmonella; meanwhile, in Europe, were mercury, poor temperature control, Salmonella, histamine, and cadmium. The fishbone diagram result with validation from fishery product exporter shows that human factor, such as the lack of coordination and communication between business actors, especially at the supplier level when selecting raw materials, was considered the cause of rejection (filthy). Establishing well-managed cooperation among business actors within an integrated fish supply chain management is essential to ensure the quality of fishery products. Keywords: Europe, fishery product, rejection, root causes, United States of America Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengetahui jumlah kasus, penyebab dan faktor utama penyebab penolakan produk perikanan Indonesia di Pasar Eropa dan Amerika. Data diperoleh dari website USFDA (Amerika) dan RASFF (Eropa) dalam kurung waktu 2010 – 2020. Analisis data yang digunakan yaitu analisis pareto dan diagram tulang ikan, yang divalidasi oleh informan dari eksportir terpilih dan ahli. Hasil penelitian menunjukkan penolakan produk ekspor perikanan Indonesia di pasar Amerika berjumlah 2.318 kasus dan 79 kasus di Eropa dalam kurun waktu penelitian. Penolakan tertinggi terjadi pada tahun 2011 di pasar Amerika dan pada tahun 2012 di Eropa. Hasil analisis data dengan diagram pareto menunjukkan bahwa produk kotor dan Salmonella menyumbang 80% penolakan produk perikanan di Amerika, sedangkan mercury, pengendalian suhu yang tidak bagus, Salmonella, histamine, dan cadmium di pasar Eropa. Hasil analisis diagram tulang ikan dan validasi dengan eksportir menunjukkan bahwa penyebab penolakan untuk pasar Amerika Serikat (yaitu produk kotor) adalah faktor manusia, seperti kurang koordinasi dan komunikasi antar pelaku usaha, khususnya di tingkat supplier. Kerjasama antar pelaku usaha dalam pengelolaan rantai pasok ikan terintegrasi dapat menjamin kualitas produk perikanan yang sesuai standar yang dipersyaratkan. Kata kunci: akar masalah, Amerika Serikat, Eropa, penolakan, produk perikanan","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47774754","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}