Paramita Setyaningrum, A. A. Gabriel, Irvan Adhin Cholilie
{"title":"Modelling of Sustainable Blue Swimming Crab Supply Chain in East Java Using Soft System Methodology","authors":"Paramita Setyaningrum, A. A. Gabriel, Irvan Adhin Cholilie","doi":"10.21776/ub.industria.2022.011.02.6","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Abstract Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is one of Indonesia's highest-export fishery commodities. Capture fisheries are dominated by fishermen with low productivity, efficiency, and income levels. There is a high-profit disparity between upstream and downstream actors, where fishermen get the lowest profit. This study aims to identify the causes of profit disparities between supply chain actors and propose a supply chain model to solve the profit disparity problem. The supply chain actors observed were fishermen, mini plants, processing companies, and exporters of blue swimming crab. Determining variables that affect profit gain based on the business activities of the supply chain actors of blue swimming crab was carried out. The conceptual model was made using the Soft System Methodology (SSM). The analysis result showed that the causes of profit disparity were the vast number of fishermen, lack of product value understanding, minimum capital and access to capital, awareness of fishing gear utilization, and the individual fisherman's work system. The conceptual model of the blue swimming crab supply chain proposed consists of the formation of fishing groups, coordination between fishing groups and Perum Perindo, collaborating with Pokja and fishing groups, and increasing collaboration between all supply chain actors of blue swimming crab. Keywords: blue swimming crab, fishermen, Soft System Methodology, supply chain Abstrak Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan ekspor tertinggi di Indonesia. Usaha ikan tangkap didominasi oleh para nelayan dengan tingkat produktivitas, efisiensi, serta pendapatan yang rendah. Disparitas keuntungan yang tinggi terjadi antara pelaku rantai pasok dari hulu dan hilir. Nelayan memperoleh keuntungan paling rendah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab disparitas keuntungan antara pelaku rantai pasok dan mengusulkan model rantai pasok sebagai solusi permasalahan disparitas keuntungan. Pelaku rantai pasok yang diamati adalah nelayan, mini plant, perusahaan pengolah rajungan, dan eksportir. Identifikasi variabel yang memengaruhi perolehan keuntungan berdasarkan aktivitas bisnis pelaku rantai pasok rajungan. Model konseptual dibuat menggunakan Soft System Methodology (SSM). Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab disparitas keuntungan adalah jumlah nelayan yang sangat banyak, pemahaman yang kurang terhadap nilai produk, modal dan akses permodalan yang minimum, kesadaran dalam penggunaan alat tangkap yang aman, dan sistem kerja nelayan yang masih dilaksanakan secara individu sehingga nelayan menerima keuntungan yang paling kecil di antara pelaku rantai pasok dari hulu dan hilir. Model konseptual rantai pasok rajungan yang diusulkan adalah pembentukan kelompok nelayan, koordinasi antara kelompok nelayan dan Perum Perindo, kolaborasi antara Pokja dan kelompok nelayan, dan meningkatkan kolaborasi antara seluruh pelaku rantai pasok rajungan. Kata kunci: nelayan, rajungan, rantai pasok, Soft System Methodology","PeriodicalId":32572,"journal":{"name":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"1","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Industria Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.21776/ub.industria.2022.011.02.6","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Abstract
Abstract Blue swimming crab (Portunus pelagicus) is one of Indonesia's highest-export fishery commodities. Capture fisheries are dominated by fishermen with low productivity, efficiency, and income levels. There is a high-profit disparity between upstream and downstream actors, where fishermen get the lowest profit. This study aims to identify the causes of profit disparities between supply chain actors and propose a supply chain model to solve the profit disparity problem. The supply chain actors observed were fishermen, mini plants, processing companies, and exporters of blue swimming crab. Determining variables that affect profit gain based on the business activities of the supply chain actors of blue swimming crab was carried out. The conceptual model was made using the Soft System Methodology (SSM). The analysis result showed that the causes of profit disparity were the vast number of fishermen, lack of product value understanding, minimum capital and access to capital, awareness of fishing gear utilization, and the individual fisherman's work system. The conceptual model of the blue swimming crab supply chain proposed consists of the formation of fishing groups, coordination between fishing groups and Perum Perindo, collaborating with Pokja and fishing groups, and increasing collaboration between all supply chain actors of blue swimming crab. Keywords: blue swimming crab, fishermen, Soft System Methodology, supply chain Abstrak Rajungan (Portunus pelagicus) merupakan salah satu komoditas perikanan ekspor tertinggi di Indonesia. Usaha ikan tangkap didominasi oleh para nelayan dengan tingkat produktivitas, efisiensi, serta pendapatan yang rendah. Disparitas keuntungan yang tinggi terjadi antara pelaku rantai pasok dari hulu dan hilir. Nelayan memperoleh keuntungan paling rendah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab disparitas keuntungan antara pelaku rantai pasok dan mengusulkan model rantai pasok sebagai solusi permasalahan disparitas keuntungan. Pelaku rantai pasok yang diamati adalah nelayan, mini plant, perusahaan pengolah rajungan, dan eksportir. Identifikasi variabel yang memengaruhi perolehan keuntungan berdasarkan aktivitas bisnis pelaku rantai pasok rajungan. Model konseptual dibuat menggunakan Soft System Methodology (SSM). Hasil analisis menunjukkan bahwa penyebab disparitas keuntungan adalah jumlah nelayan yang sangat banyak, pemahaman yang kurang terhadap nilai produk, modal dan akses permodalan yang minimum, kesadaran dalam penggunaan alat tangkap yang aman, dan sistem kerja nelayan yang masih dilaksanakan secara individu sehingga nelayan menerima keuntungan yang paling kecil di antara pelaku rantai pasok dari hulu dan hilir. Model konseptual rantai pasok rajungan yang diusulkan adalah pembentukan kelompok nelayan, koordinasi antara kelompok nelayan dan Perum Perindo, kolaborasi antara Pokja dan kelompok nelayan, dan meningkatkan kolaborasi antara seluruh pelaku rantai pasok rajungan. Kata kunci: nelayan, rajungan, rantai pasok, Soft System Methodology
蓝蟹(Portunus pelagicus)是印尼出口最高的渔业商品之一。捕捞渔业以生产力、效率和收入水平较低的渔民为主。上游和下游参与者之间的利润差距很大,渔民的利润最低。本研究旨在找出供应链参与者之间利润差异的原因,并提出解决利润差异问题的供应链模型。观察到的供应链参与者包括渔民、小型工厂、加工公司和蓝蟹出口商。以蓝蟹供应链参与者的商业活动为基础,确定影响利润增长的变量。采用软系统方法论(SSM)建立了概念模型。分析结果表明,造成利润差距的原因是渔民人数众多,对产品价值缺乏了解,资金和获得资金的渠道很少,对渔具利用的认识不足,以及渔民个人的工作制度。提出的蓝蟹供应链概念模型包括:形成捕捞集团、捕捞集团与Perum Perindo协调、与Pokja和捕捞集团合作、蓝蟹供应链各行为体之间加强合作。关键词:青蟹,渔民,软系统方法论,供应链Usaha ikkan tangkap didominasi oleh para nelayan dengan tingkat producttivitas, efisiensi, serta pendapatan yang rendah。不一样的东西,根东安,杨廷吉,特加迪,安塔拉,佩拉克,兰塔,pasok, dari, hulu, danhilir。Nelayan memperoleh keuntungan paling rendah。Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi penyebab disparitas keuntunan antara pelaku rantai pasok dan mengusulkan模型rantai pasok sebagai solusi permasalahan disparitas keuntunan。Pelaku rantai pasok yang diamati adalah nelayan,迷你植物,perusahaan pengolah rajungan, dan eksportir。杨氏变元的辨识与研究——以新疆为例,以新疆为例,以新疆为例。模型概念分布蒙古纳坎软系统方法论。Hasil analysis menunjukkan bahwa penyebab disparitas keuntunan adalah jumlah nelayan yang sangat banyak, pemahaman yang kurang terhadap nilai产品,modal danakses permodalan yang最小值,kesadaran dalam penggunaan alat tangkap yang aman, dan system kerja nelayan yang masih dilaksanakan secara个体sehinga nelayan menerima keuntungan yang paling keecil di antara pelaku rantai pasok dari hulu danhiir。模型konseptual rantai pasok rajungan yang diusulkan adalah pembentukan kelompok nelayan, koordinasi antara kelompok nelayan dan Perum Perindo, kolaborasi antkja dankelompok nelayan, dan meningkatkan kolaborasi antara seluruh pelaku rantai pasok rajungan。Kata kunci: nelayan, rajungan, rantai pasok,软系统方法论