Agriekonomika最新文献

筛选
英文 中文
Disguised Resistance of Madurese Salt Farming Community 马杜罗盐田社区的变相抵抗
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-29 DOI: 10.21107/AGRIEKONOMIKA.V9I1.6221
Iskandar Dzulkarnain, E. Soetarto, R. Kinseng, S. Sjaf
{"title":"Disguised Resistance of Madurese Salt Farming Community","authors":"Iskandar Dzulkarnain, E. Soetarto, R. Kinseng, S. Sjaf","doi":"10.21107/AGRIEKONOMIKA.V9I1.6221","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/AGRIEKONOMIKA.V9I1.6221","url":null,"abstract":"The problems of Madurese salt farmers, ranging from poverty, quality of production, low salt prices, to 'seizure' of the lands by Dutch Colonialism through the total reorganization program in 1936 as well as the project of modernization and renovation of the New Order regime in 1975 have become the triggers of the resistance put up by the salt farming community. The purpose of this article is to picture out the dynamics of the resistance by Madurese salt farming community through the theoretical analysis of James Scott, namely the daily resistance by Madurese salt farming community, which the writer -in other words-  say 'disguised resistance'. The method used is qualitative with an ethnographic approach. The result is that there are two forms of disguised resistance put up by the Madurese salt farming community i.e. the resistance against PT. Garam and the resistance against the land ownres.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"100-113"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42219846","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Strategi Peningkatan Nilai Tambah Perkebunan Karet Melalui Diversifikasi Usaha 通过多样化的业务增加橡胶种植园价值的战略
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-29 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.6928
J. Junaidi
{"title":"Strategi Peningkatan Nilai Tambah Perkebunan Karet Melalui Diversifikasi Usaha","authors":"J. Junaidi","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.6928","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.6928","url":null,"abstract":"Pendapatan petani dan perusahaan perkebunan karet belum optimal karena harga komoditi karet fluktuatif. Diversifikasi usaha menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan produktivitas lahan dan nilai ekonomi perkebunan karet. Tujuan tulisan review iniadalah (1) mendeskripsikan strategi peningkatan nilai tambah perkebunan karet melalui diversifikasi usaha, (2) menyajikan sistem tumpangsari berbasis karet, integrasi karet-ternak, pemanfaatan biji karet, ekstraksi protein lateks, dan pemanfaatan kayu karet sebagai alternatif untuk memperoleh keuntungan yang optimal.Jarak tanam yang renggang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan dengan pola tumpangsari selama tanaman belum menghasilkan (TBM).Peningkatan nilai tambah lainnya dapat dilakukan dengan integrasi karet-ternakmemanfaatkan gulma di areal perkebunan karet sebagai pakan. Endosperm biji karet dapat diolah menjadi tepung pakan dan biodiesel, sedangkan cangkang biji dapat diproses menjadi karbon aktif yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Pemanfaatan sumberdaya non-lateks selain meningkatkan nilai tambah kebun, juga dapat digunakan sebagai alternatif sumber pendapatan untuk meminimalisir dampak harga karet yang rendah.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"72-89"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45497574","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 2
Pengaruh Keputusan Petani Kopi Rakyat dalam Pemilihan Sistem Kopi Organik dan Non Organik di Jawa Timur 市民咖啡农民在东区有机和非有机咖啡体系选择中的决策者
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-25 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.6216
S. Sudarko, S. Sumardjo, Anna Fatchiya, Prabowo Tjitropranoto
{"title":"Pengaruh Keputusan Petani Kopi Rakyat dalam Pemilihan Sistem Kopi Organik dan Non Organik di Jawa Timur","authors":"S. Sudarko, S. Sumardjo, Anna Fatchiya, Prabowo Tjitropranoto","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.6216","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.6216","url":null,"abstract":"Petani kopi rakyat organik mulai berkembang di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini yaitU: mengetahui tingkat dan  perbedaan karakteritik petani kopi organik dan non organik dan dukungan penyuluhan, menganalisis faktor-faktor pengaruh keputusan petani kopi dalam menerapkan sistem organik dan non organik. Penelitian dilaksanakan di di Kabupaten Bondowoso dan Malang, Jawa Timur. Sampel penelitian berjumlah 376 petani kopi (120 organik dan 256 non organik). Penelitian menggunakan metode survai. Data dianalisis dengan metode  deskriptif, Uji-t dan Regresi Binary Logistic. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan non formal, skala usaha, penguasaan lahan, kekosmopolitan, dukungan penyuluhan pemerintah dan swasta kategori rendah, sedangkan  umur petani, pendidikan formal, motivasi, pengalaman, dukungan penyuluh swadaya pada kategori sedang. Terdapat perbedaan signifikan pada peran penyuluhan sebagai fasilitator, motivator dan mediator, pemanfaatan teknologi informasi, umur, pengalaman, motivasi dan kekosmopolitan. Faktor yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan petani menerapkan sistem kopi organik yaitu: pendidikan formal dan non formal, motivasi, kekosmopolitan, penyuluh swadaya dan swasta.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"1-15"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48539351","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Model Peramalan Inflasi Bahan Makanan Primer dengan Pendekatan Box-Jenkins: Studi kasus di Kota Palu 从波克斯-詹金斯方法:锤市案例研究
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-25 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.6440
Rustam Abd Rauf, Arifuddin Lamusa, Samsul Bahri, M. A. A. Laihi, Effendy Effendy
{"title":"Model Peramalan Inflasi Bahan Makanan Primer dengan Pendekatan Box-Jenkins: Studi kasus di Kota Palu","authors":"Rustam Abd Rauf, Arifuddin Lamusa, Samsul Bahri, M. A. A. Laihi, Effendy Effendy","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.6440","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.6440","url":null,"abstract":"Inflasi merupakan naiknya harga barang dan jasa secara umum dan berkelanjutan pada periode tertentu. Inflasi pada umumnya disebabkan oleh peningkatan permintaan agregat, kenaikan biaya produksi serta perkiraan nilai inflasi pada masa yang akan datang. Inflasi merupakan data deret waktu yang sulit diprediksi karena mengandung komponen tren, musiman, siklus, dan acak. Penelitian ini bertujuan untuk mencari model terbaik inflasi bahan makanan primer , menggunakan model ARIMA. Model terbaik yang diperoleh berdasarkan subkelompok bahan makanan adalah padi-padian, umbi-umbian, dan hasil-hasilnya (25,0,4): daging dan hasil-hasilnya (2,0,10): ikan segar (2,0,8): ikan diawetkan (2,0,8): telur, susu, dan hasil-hasilnya (12,0,20): sayur-sayuran (12,0,12): kacang-kacangan (14,0,13): buah-buahan (8,0,1): bumbu-bumbuan (1,0,1):  lemak dan minyak (19,0,0) dan bahan makanan lainnya (25,0,3) .","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"16-27"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43171035","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 3
The Role of Rice’s Price in the Household Consumption in Indonesia 稻米价格在印尼家庭消费中的作用
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-25 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.6962
D. Hafizah, D. Hakim, H. Harianto, R. Nurmalina
{"title":"The Role of Rice’s Price in the Household Consumption in Indonesia","authors":"D. Hafizah, D. Hakim, H. Harianto, R. Nurmalina","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.6962","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.6962","url":null,"abstract":"The purpose of the study was to analyze the role of rice’s price in household consumption patterns in Indonesia. The method used was the Quadratic Almost Ideal Demand System (QUAIDS). The data used were obtained from the National Social Economy Survey in 2016. The results show that when the price of rice increases by one percent, the demand for other carbohydrates, eggs-milk-beans, fruits also Cigarette and processed foods will be increase. Meanwhile, in other groups, when the price of rice rises, the demand will go down. Thus, it can be concluded that households still prioritize rice consumption in their daily consumption patterns compared to other commodity groups. Therefore, the government should develop policies that encourage people to consume more diverse food groups.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"38-47"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47434839","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 7
Factors Affecting Technology Adoption of Geoisolator on Solar Saltworks in East Java Province 影响东爪哇省太阳能盐厂采用地隔离器技术的因素
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-25 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.6856
Aminah Happy Moninthofa Ariyani, H. Harianto, S. Suharno, Y. Syaukat
{"title":"Factors Affecting Technology Adoption of Geoisolator on Solar Saltworks in East Java Province","authors":"Aminah Happy Moninthofa Ariyani, H. Harianto, S. Suharno, Y. Syaukat","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.6856","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.6856","url":null,"abstract":"Large quantity and high-quality salt are demanded in Indonesia, yet the quality of salt produced by farmers is still low. Increasing salt quantity and quality is possibly done through the implementation of geoisolator technology. This study aimed to investigate factors affecting the decision of salt farmers to adopt geoisolator technology. The study was conducted at the salt production center in Madura Island. A survey on salt farmer was carried out during August-September 2018. A total of 190 respondents consisted of 131 salt farmers who adopted geoisolator technology and 59 traditional salt farmers were selected as a sample in this study. Factors affecting farmer decision to adopt geoisolator technology was analyzed using logit (logistic regression) model. The result of this study showed that the decision of salt farmer to adopt geoisolator technology was affected by the number of productive-age family members and the number of dependent family members, land area, farmer participation in the group, farmer participation in extension. Enhancement in the adoption of geoisolator technology needs synergy between extension agent and salt farmer group so that the mentoring process and knowledge transfer will be achieved.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"28-37"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43819932","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Mengapa Petani menjadi Pekerja Industri Rumahan di Pedesaan? 为什么农民会成为农村的家庭佣工?
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-25 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.7286
Ristina Siti Sundari, Euis Kurniasih, D. Heryadi, Adnan Arshad
{"title":"Mengapa Petani menjadi Pekerja Industri Rumahan di Pedesaan?","authors":"Ristina Siti Sundari, Euis Kurniasih, D. Heryadi, Adnan Arshad","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.7286","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.7286","url":null,"abstract":"Fenomena petani meninggalkan lahan dan beralih profesi menjadi pekerja di industri rumahan kian marak seiring bermunculannya industri rumahan yang tumbuh di pedesaan. Penelitian ini bermaksud untuk mengetahui penyebab petani memutuskan untuk menjadi pekerja industri rumahan di Kabupaten Tasikmalaya. Penelitian menggunakan rumus Slovin dalam penentuan jumlah sampel dan analisis regresi linier berganda untuk mengukur variabel pekerja industri rumahan dan variabel yang diduga kuat menjadi penyebabnya yaitu usia, pendidikan, kepemilikan lahan, pendapatan, kosmopolitan, tanggungan keluarga, lingkungan ekonomi dan kebijakan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan penyebab menjadi pekerja industri rumahan adalah kombinasi antara ketiadaan lahan yang dimiliki, usia produktif dengan jumlah tanggungan keluarga 2–3 orang menyebabkan terlibat utang. Kecuali kosmopolitan yang tidak menjadi masalah. Disarankan kebijakan pemerintah untuk menjadikan industri rumahan berbasis hasil pertanian untuk menjaga keberlangsungan pertanian dan keragaman pangan Indonesia. Semua sektor berada dalam keseimbangan.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"61-71"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47002078","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Dinamika Perkembangan Perkebunan Kakao Rakyat di Indonesia 可可种植园在印度尼西亚的发展动态
Agriekonomika Pub Date : 2020-06-25 DOI: 10.21107/agriekonomika.v9i1.7296
Panca Rahadi Mulyo, Yuli Hariyati
{"title":"Dinamika Perkembangan Perkebunan Kakao Rakyat di Indonesia","authors":"Panca Rahadi Mulyo, Yuli Hariyati","doi":"10.21107/agriekonomika.v9i1.7296","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v9i1.7296","url":null,"abstract":"Produksi kakao di Indonesia mengalami penurunan setiap tahunnya yang dipengaruhi oleh luas areal dan produktivitasnya dan perkebunan rakyat memiliki kontribusi tertinggi daripada perkebunan kakao lainnya. Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu provinsi penghasil kakao rakyat di Indonesia dan terdapat isu peralihan komoditas kakao pada beberapa lokasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis trend peramalan luas areal dan produktivitas kakao pada perkebunan rakyat di Indonesia dan Jawa Timur serta untuk mengetahui alasan petani kakao dalam melakukan peralihan komoditas. Metode yang digunakan adalah ARIMA (Box-Jenkins) dan deskriptif. Hasil analisis menggunakan ARIMA (Box-Jenkins) menunjukkan trend peramalan luas areal dan produktivitas kakao rakyat di Indonesia mengalami penurunan menjadi 1.248.963,32 ha untuk luas areal dan produktivitasnya meningkat menjadi 0,43 ton/ha. Sedangkan trend peramalan luas areal dan produktivitas kakao rakyat di Jawa Timur mengalami peningkatan yaitu menjadi 49.653,48 ha dan 0,67 ton/ha pada tahun 2030. Alasan utama petani kakao beralih usahatani yaitu mudahnya budidaya komoditas lain sebanyak 46,67%.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":"9 1","pages":"48-60"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-25","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"45574211","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 2
Deskripsi Komparatif Iuran Pengelolaan Irigasi (IPI) di Saluran Induk Daerah Irigasi Jatiluhur Jawa Barat 西爪哇省jatistate灌溉区域的总灌溉费用(IPI)的比较说明
Agriekonomika Pub Date : 2019-12-26 DOI: 10.21107/agriekonomika.v8i2.5743
Heri Rahman, Yusman Syaukat, M. P. Hutagaol, M. Firdaus
{"title":"Deskripsi Komparatif Iuran Pengelolaan Irigasi (IPI) di Saluran Induk Daerah Irigasi Jatiluhur Jawa Barat","authors":"Heri Rahman, Yusman Syaukat, M. P. Hutagaol, M. Firdaus","doi":"10.21107/agriekonomika.v8i2.5743","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v8i2.5743","url":null,"abstract":"Air penting bagi kehidupan termasuk bagi usahatani untuk mmneingkatkan produksi dan pendapatan petani. Namun jika irigasi tidak terpelihara maka usahatani padi sawah mnejadi kurang maksimal. Jaringan irigasi tersier di Saluran Induk (SI)  Daerah Irigasi (DI)  Jatiluhur yang terbagi ke dalam SI Tarum Barat, Utara dan Timur cukup bervariasi tingkat kerusakan dan pemeliharaannya oleh para petani. Untuk itu para petani membayar Iuran Pengelolaan Irigasi (IPI) di tingkat jaringan tersier, IPI ini beragaman di masing-masing saluran induk tergantung pda kesepakatan petani dengan ulu-ulu. Selain saluran induk, IPI pun tergantung musim tanam (rendeng dan gadu) karena besaran IPI sangat ditentukan oleh karakteristik petani di masing-masing SI, luas lahan, produktivitas hasil dan harga jual padi. Karena itu, diduga terdapat keragaman IPI antara saluran induk dan dimasing-masing Saluran Induk pada setiap musim rendeng dan gadu.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44841482","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 3
Gambaran Krisis Petani Muda Indonesia 印尼年轻农民危机图片
Agriekonomika Pub Date : 2019-12-26 DOI: 10.21107/agriekonomika.v8i2.5429
E. Y. Arvianti, Masyhuri Masyhuri, Lestari Rahayu Waluyati, Dwijono Hadi Darwanto
{"title":"Gambaran Krisis Petani Muda Indonesia","authors":"E. Y. Arvianti, Masyhuri Masyhuri, Lestari Rahayu Waluyati, Dwijono Hadi Darwanto","doi":"10.21107/agriekonomika.v8i2.5429","DOIUrl":"https://doi.org/10.21107/agriekonomika.v8i2.5429","url":null,"abstract":"Permasalahan utama mengenai ketenagakerjaan pertanian kita yaitu terjadinya perubahan struktur demografi yang kurang menguntungkan bagi sektor pertanian yang mengarah pada penuaan petani. Petani berusia tua (lebih dari 55 tahun) jumlahnya semakin meningkat, akan tetapi tenaga kerja berusia muda semakin berkurang. Semakin tingginya tingkat pendidikan pemuda di perdesaan, maka mereka semakin selektif dalam memilih pekerjaan. Mereka enggan untuk bekerja di pedesaan karena adanya ketidakcocokan antara ketrampilan dan tingkat pendidikan yang dimiliki dengan ketersediaan pekerjaan di perdesaan. Padahal Indonesia membutuhkan petani-petani yang produktif untuk memaksimalkan produksi pangan. Tujuan makalah ini adalah menjelaskan perubahan struktural tenaga kerja pertanian dilihat dari fenomena aging farmer dan menurunnya jumlah tenaga kerja usia muda sektor pertanian di Indonesia , menjelaskan berbagai faktor penyebab perubahan struktural tenaga kerja pertanian dan keengganan tenaga kerja usia muda masuk ke sektor pertanian, menjelaskan kebijakan yang diperlukan untuk mendukung tenaga kerja muda masuk ke sektor pertanian. Metode yang digunakan adalah studi literatur dan deskriptif. Hasilnya adalah masalah krisis petani muda harus segera ditanggulangi supaya tidak mengancam ketahanan pangan di Indonesia.","PeriodicalId":30765,"journal":{"name":"Agriekonomika","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-12-26","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42890486","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 24
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
相关产品
×
本文献相关产品
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书