{"title":"EKSTRAKSI PEWARNA ALAMI KULIT BUAH NAGA MERAH","authors":"Siti Fathurahmi, If'all, Spetriani","doi":"10.31970/pangan.v7i2.97","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.97","url":null,"abstract":"Penelitian dilakukan menggunakan desain 3 faktor yakni jenis kemasan, waktu dan suhu penyimpanan. Parameter yang diamati selama penelitian adalah rendemen ekstraksi, total antosianin, dan uji aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rendemen ekstrak kulit buah naga merah serta kadar antosianin dan antioksidan dari pewarna alami yang terkandung dalam kulit buah naga merah. Sebanyak 50 g kulit buah naga merah dihaluskan menggunakan blender selama 30 detik dengan perbandingan 1:4 (bahan : pelarut). Pelarut yang digunakan yaitu aquades dengan konsentrasi asam sitrat 2%. Bubur kulit buah naga merah dimasukkan kedalam botol gelap dan maserasi selama 2 x 24 jam pada suhu ruang. Hasil maserasi (maserati) disaring dengan kain saring lalu disentrifuge selama 5 menit dengan kecepatan 4000 rpm/menit. Supernatan disaring dengan kertas whatman no. 41. Hasil penelitian menunjukan bahwa rendemen ekstraksi kulit buah naga merah sebesar 45%. Kadar total antosianin terbaik yang terkandung dalam ekstraksi kulit buah naga merah adalah 38,33 mg/100 g yang diperoleh melalui perlakuan kemasan transparan yang disimpan pada suhu refrigerator selama 4 minggu. Sedangkan aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa hasil terbaik yaitu 80,13 % yang diperoleh melalui perlakuan penyimpanan menggunakan kemasan gelap selama 4 minggu dalam suhu refrigerator.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"31 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129363700","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Abdul Rahim, G. S. Hutomo, M. Tangkas, Rosmianti, Putri Andini, Andri, Chitra Anggriani Salingkat
{"title":"KARAKTERISTIK KIMIA ROTI PREBIOTIK DARI BERBAGAI PATI SAGU HASIL MODIFIKASI","authors":"Abdul Rahim, G. S. Hutomo, M. Tangkas, Rosmianti, Putri Andini, Andri, Chitra Anggriani Salingkat","doi":"10.31970/pangan.v7i2.83","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.83","url":null,"abstract":"The purpose of this research is the chemical characteristics of prebiotic bread from various modified sago starch, namely acetylated sago starch (ASS), butyrylated sago starch (BSS), phosphorylated sago starch (PSS). Preparation of prebiotic bread was done by using a ratio of wheat flour (WF) with a single modified sago starch consisting of 360 WF:0; 180 WF: 180 ASS; 180 WF: 180 BSS and 180 WF: 180 PSS with 4 replicates. Research parameters include water, ash, fat, protein, fiber and carbohydrate content. The results showed that the best prebiotic bread was obtained at 180 WF:180 ASS with 28.33% water, 0.79% ash, 3.58% fat, 6.85% protein, 0.096% fiber and 58.98% carbohydrates. Modified sago starch has been potential as an alternative raw material for the manufacture of prebiotic bread.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"136 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127295506","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Siti Maemunah, G. Hutomo, Amalia Noviyanty, A. Rahim
{"title":"A KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA, FUNGSIONAL DAN SENSORIS MIE PREBIOTIK DARI PATI SAGU (Metroxylon sp.) HASIL MODIFIKASI GANDA","authors":"Siti Maemunah, G. Hutomo, Amalia Noviyanty, A. Rahim","doi":"10.31970/pangan.v7i2.84","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.84","url":null,"abstract":"Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menentukan dan mengetahui pengaruh modifikasi ganda dari pati sagu asetat butirat, pati sagu asetat fosfat, dan pati sagu butirat fosfat pada karakteristik fisikokimia, fungsional, dan sensoris mie prebiotik yang dihasilkan. Penelitian ini dilakukan dengan 4 taraf parameter yang dilakukan yaitu 360TT : 0, 180TT : 180PSAF, 180TT : 180PSAB, dan 180TT : 180PSBF. Parameter penelitian meliputi rendemen, daya serap air (WHC), daya serap minyak (OHC), daya mengembang dan kelarutan, kadar air, kadar serat, waktu pemasakan (cooking time), kehilangan padatan akibat pemasakan (cooking loss), dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukan bahwa mie prebiotik pada parameter WHC, OHC, Kadar Air, Kadar Serat, Pangan, Daya Mengembang Dan Kelarutan, Cooking Time, dan Cooking Loss, memberikan pengaruh yang nyata. Sedangakan pada parameter rendemen dan uji organoleptik tidak memberikan pengaruh nyata pada berbagai macam rasio. Sehingga dapat diketahui bahwa penambahan tepung modifikasi pati sagu asetat fosfat, asetat butirat, dan butirat fosfat mempengaruhi struktur mie yang dihasilkan.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"9 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124529031","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALISIS NILAI TAMBAH KULIT KOPI ARABIKA (Coffea arabica) SEBAGAI PRODUK OLAHAN TEH CELUP CASCARA DI DESA TAJI KECAMATAN JABUNG KABUPATEN MALANG","authors":"N. Indrayani, Joko Gagung Sunaryono, E. Purwanti","doi":"10.31970/pangan.v7i2.77","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.77","url":null,"abstract":"Desa Taji Kecamatan Jabung menghasilkan produksi kopi 300 ton per bulannya. Akibat produksi kopi yang tinggi, berdampak pada banyaknya limbah kulit kopi yang dihasilkan. Sejauh ini, pengolahan kopi yang dilakukan di Desa Taji sebatas panen lalu diolah menjadi produk akhir berupa bubuk kopi. Salah satu upaya pemanfaatan limbah kulit kopi menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dengan cara melakukan diversifikasi olahan, yakni teh cascara Arabika. Teh cascara merupakan teh dari kulit buah kopi matang berwarna merah yang dikeringkan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui rasio penyeduhan teh celup cascara Arabika, selanjutnya akan dikembangkan ke aspek nilai tambah pengolahan teh cascara. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap 1 faktorial, yakni rasio penyeduhan teh kering : air (1:200; 3:200; 5:200). Variabel pengamatan uji organoleptik adalah warna, rasa, dan aroma. Analisis data yang digunakan adalah uji Friedman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan teh cascara dilakukan dengan proses pencucian buah kopi, pemisahan kulit dengan buah kopi, pengeringan kulit kopi, penggilingan dan pengepakan teh cascara yang dibuat dengan metode pengeringan food dehydrator. Rasio penyeduhan 3:200 merupakan perlakuan yang paling disukai oleh panelis menunjukkan rank Warna (2.80), Rasa (2.48), Aroma (2.62). Besar nilai tambah yang dihasilkan teh celup cascara adalah Rp. 16.072 dalam satu kali produksi.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"52 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124963261","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PENGARUH PENAMBAHAN DAUN ANTIMIKROBA DAN MODIFIKASI PENYIMPANAN TERHADAP ORGANOLEPTIK LEMANG DALAM MEMPERTAHANKAN UMUR SIMPAN","authors":"M. Pratama, Arief Marna Sonjaya","doi":"10.31970/pangan.v7i2.72","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.72","url":null,"abstract":"Lemang is one of malay culinary that was served at ceremonies, eid and etc. Lemang was made from glutinous rice and coconut milk. It was grilled on embers, but it was very easy deterioration. Antimicroba leaves and bamboo storage position was one of experiment to make lemang be survive, but antimicroba leaves had its own characteristics like color, taste, and texture. So, the object of this research was analyze effect antimicroba leaves addition (Pandanus amayllifolius Roxb, Syzygium samarangense and Mangifera indica) and storage modification (normal position and flipped position) to characteristic of lemang organoleptic characteristic. The characteristic of lemang organoleptic was tested by organoleptic test for 30 panelists. The panelists gave score 1 if they dislike, scored 2 if they feel usual, and scored 3 if they feel very like for 7 days. The scored was calculated by Analysis sidik ragam and Beda Nyata Terkecil. The result showed that all treatment gave real effect to aroma, texture and taste to lemang. The all of lemang in normal storage position treatment had dislike scores at the 3rd day. While lemang in flipped storage position treatment had dislike score at the 5th day. The best leaves that for addition lemang processing was Pandanus amayllifolius Roxb. It gave stable aroma, texture and dark color for lemang","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"44 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128926934","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ANALISIS KANDUNGAN GIZI DAN GLUTEN COOKIES TEPUNG MODIFIKASI SINGKONG DENGAN PENAMBAHAN WHEY PROTEIN KONSENTRAT","authors":"Febbyandi Isnanda Pandiangan, Veronica, Oei Alvindra Wijaya","doi":"10.31970/pangan.v7i2.73","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.73","url":null,"abstract":"Indonesia is one of the largest cassava producers in the world. Cassava can be processed into modified cassava flour (MOCAF) which has many functions. A lot of studies about MOCAF have been conducted to know the potency of replacing wheat flour. One of the popular snack products made from wheat flour is cookies with high protein. This study aimed to see the potential of the MOCAF as a raw material replacing wheat flour to produce low-gluten soft cookies with the addition of concentrated whey protein to increase the protein value. This research used 2 types of formulations, MOCAF: wheat flour (30%:70% and 40%:60%) and the addition of whey protein concentrate with the evaluation of protein content, fat content, water content, and gluten. This study showed that both types of formulations have the potential as a substitute for wheat flour to make soft cookies. All formulations can be claimed to be gluten-free products and the second formulation can almost be claimed to be a source of protein. The resulting cookies have the potential to reduce dependence on wheat flour and can be consumed by consumers who have gluten allergies or have high protein requirements.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"68 11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131139408","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PENGARUH PEMBERIAN GULA SEMUT AREN PADA KOPI ROBUSTA (Caffea canephora) TERHADAP UJI ORGANOLEPTIK","authors":"Siti Fatima, Masriani, Abdullah, Nuraeni","doi":"10.31970/pangan.v7i2.67","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i2.67","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian gula semut aren terhadap uji organoleptik kopi robusta. Penelitian ini dilaksanakan di Laboraturium Ilmu-ilmu Pertanian Mujahidin Tolitoli Kelurahan Tuweley Kabupaten Tolitoli, Pada bulan Februari Sampai Maret 2021. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 6 Perlakuan yaitu e0: tanpa pemberian gula semut aren, e1: pemberian gula semut aren 10 g, e2: pemberian gula semut aren 15 g, e3: pemberian gula semut aren 20 g, e4: pemberiangulasemutaren 25 g, e5: pemberian gula semut aren 30 g. setiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali dan diuji menggunakan uji organoleptik dengan 32 panelis. Data diolah menggunakan taraf 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian gula semut aren pada kopi robusta berpengaruh sangat nyata terhadap warna, aroma, rasa dan keseluruhan. semakin banyak pemberian gula semut aren pada kopi robusta maka nilai organoleptik dari panelis semakin tinggi. Perlakuan terbaik pemberian gula semut aren pada kopi robusta dengan pemberian gula semut aren sebanyak 30 g, dengan nilai kesukaan panelis secara keseluruhan sebesar 4.91 (sangat suka).","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"132 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-12-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114441418","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PENGARUH TEMPAT TUMBUH DAN KONSENTRASI SUKROSA TERHADAP JUMLAH BAKTERI ASAM LAKTAT DAN TOTAL ASAM KEFIR AIR KELAPA","authors":"Yuanita Indriasari, Miming Berlian, Nurmiftah Hujana","doi":"10.31970/pangan.v7i1.71","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i1.71","url":null,"abstract":"Kefir air kelapa dibuat dengan teknik fermentasi menggunakan bakteri Lactobacillus, dimana sangat membutuhkan gula dalam media tumbuhnya. Kandungan gula dalam air kelapa sangat bergantung pada tempat tumbuhnya dan konsentrasi gula yang ditambahkan selama proses pengolahan kefir, sehingga perlu dilakukan kajian tentang analisis mutu kimiawi (total asam) dan mikrobiologi (jumlah bakteri asam laktat) minuman kefir dari air kelapa muda jika ditinjau dari habitat/tempat tumbuhnya tanaman kelapa dan konsentrasi sukrosa dari media tumbuh saat fermentasi, untuk mendapatkan produk minuman kefir air kelapa terbaik. Desain penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola Faktorial dengan 2 faktor yaitu tempat tumbuh (pantai dan gunung) dan konsentrasi sukrosa (5%, 10%, 15%). Selanjutnya data akan diuji sidik ragamnya dan dilanjutkan dengan DMRT 1% jika terdapat perbedaan respon antar perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua perlakuan memberikan pengaruh sangat nyata terhadap parameter uji (Fhit > Ftab), dimana perlakuan K1S1 (kelapa gunung dengan konsentrasi sukrosa 5%) memberikan respon terbaik terhadap setiap parameter yang diuji, yaitu total bakteri asam laktat sebesar 5,80 x 107 cfu/ml dan total asam sebesar 1,6%. Hasil ini telah sesuai dengan standar mutu minuman probiotik menurut SNI 7552 : 2009 yaitu jumlah BAL lebih dari 106 Log cfu/ml dan Total asam 0,2 – 0,9%.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"308 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116756037","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PENINGKATAN KUALITAS MINYAK KELAPA TRADISIONAL DENGAN TEKNOLOGI PEMURNIAN SEDERHANA","authors":"Maherawati, Iman Suswanto","doi":"10.31970/pangan.v7i1.66","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i1.66","url":null,"abstract":"Pemanfaatan kelapa sebagai minyak telah dilakukan masyarakat, namun sebagian besar baru menghasilkan minyak kelapa mentah (crude coconut oil) yang belum layak untuk diperdagangkan karena berwarna gelap, berbau tengik, dan tidak tahan lama. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas minyak kelapa tradisional dengan teknologi pemurnian sederhana berupa netralisasi, degumminng, dan filtrasi. Pembuatan minyak kelapa tradisional di masyarakat umumnya menggunakan santan segar atau santan yang telah dimalamkan (santan fermentasi). Sebelum proses pemurnian, dilakukan karakterisasi minyak kelapa mentah dari bahan baku santan fermentasi dan santan segar. Pengujian karakteristik minyak menunjukkan bahwa minyak kelapa yang dibuat dari santan fermentasi mempunyai kadar asam lemak bebas (0,95±0,02%) yang lebih tinggi dibandingkan minyak dari santan segar (0,80±0,00%). Proses pemurnian minyak kelapa dilakukan dengan metode netralisasi menggunakan larutan NaOH 0,96%, proses degumming menggunakan garam, dan filtrasi menggunakan kain saring. Teknologi pemurnian sederhana berhasil menurunkan kadar air minyak kelapa dari 0,24±0,01% menjadi 0,11±0,02% setelah pemurnian dan menurunkan kadar asam lemak bebas dari 0,80±0,00% menjadi 0,33±0,02% setelah pemurnian. Minyak kelapa yang telah dimurnikan mempunyai kenampakan visual lebih jernih. Teknologi pemurnian yang dilakukan berhasil meningkatkan kualitas minyak kelapa tradisional yang dihasilkan masyarakat.","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"123 8","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"120886212","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Handhini Dwi Putri, Haninah, Dewi Elfidasari, I. Sugoro
{"title":"KANDUNGAN NUTRISI ABON IKAN SAPU-SAPU (Pterygoplichthys pardalis) ASAL SUNGAI CILIWUNG, INDONESIA","authors":"Handhini Dwi Putri, Haninah, Dewi Elfidasari, I. Sugoro","doi":"10.31970/pangan.v7i1.62","DOIUrl":"https://doi.org/10.31970/pangan.v7i1.62","url":null,"abstract":"Ikan merupakan bahan baku pengolahan makanan dengan kandungan nutrisi berupa protein, lemak, mineral dan vitamin yang baik bagi manusia. Salah satu ikan yang belum dimanfaatkan dengan baik adalah ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) yang populasinya melimpah di daerah Sungai Ciliwung. Ikan sapu-sapu memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu lebih dari 20% dan kandungan lemak yang rendah yaitu kurang dari 5%. Hal tersebut membuat ikan sapu-sapu berpotensi menjadi bahan baku pengolahan makanan seperti abon. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kandungan nutrisi berupa kadar abu, air, protein dan lemak dari abon daging ikan sapu-sapu. Metode yang digunakan berupa analisis proksimat berupa pengukuran kadar abu, kadar air, protein menggunakan metode Kheldahl dan lemak menggunakan metode ekstraksi. Hasil kandungan nutrisi diperoleh kadar abu 5,47%, kadar air 2,24%, protein 39,08% dan lemak 30,59%. Kadar abu, air dan protein memenuhi persyaratan mutu abon SNI 7690.1 2013. Sedangkan, lemak tidak memenuhi persyatan abon sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI).","PeriodicalId":244709,"journal":{"name":"Jurnal Pengolahan Pangan","volume":"68 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-06-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127265817","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}