{"title":"RETINOPATI SEBAGAI PENANDA PROGNOSTIK GANGGUAN NEUROLOGIS PADA PENDERITA MALARIA SEREBRAL YANG BERTAHAN HIDUP : SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIK MINI","authors":"Indra Febryan Gosal, Adam Prabata","doi":"10.29342/CNJ.V2I1.49","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V2I1.49","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Malaria serebral merupakan komplikasi infeksi Plasmodium falciparum yang dapat menyebabkan gangguan neurologis bagi penderitanya yang bertahan hidup. \u0000Tujuan: Untuk menentukan apakah retinopati dapat menjadi penanda prognostik gangguan neurologis pada penderita malaria serebral yang bertahan hidup. \u0000Metode: Pencarian terstruktur di beberapa sumber data, termasuk Pubmed, Ebscohost, Ovid, dan Proquest, untuk studi kohort. Studi prognosis yang dipilih telah melalui penilaian kritis berdasarkan studi prognosis Oxford CEEBM. \u0000Hasil: Tiga penelitian kohort prospektif yang terdiri dari 458 subjek yang memenuhi semua kriteria inklusi, dinilai secara kritis. Gangguan neurologis yang mungkin muncul adalah epilepsi (9-10%), neurodisabilitas baru atau pemeriksaan neurologis abnormal (7,2-23,1%), dan gangguan perilaku yang mengganggu (10,6%). Rasio Odds berkisar dari 31,8-37,2. \u0000Simpulan: Temuan yang tidak konsisten membuat retinopati masih dapat dipertanyakan sebagai penanda prognostik dari gangguan neurologis pada malaria serebral. Namun masih bisa menjadi penanda penting di masa depan dengan penelitian yang ekstensif. \u0000Kata kunci : Retinopati, Malaria Serebral, Gangguan Neurologis","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"240 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131098615","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Ida Bagus Rai Putra, R. Sihanto, I. P. E. Widyadharma
{"title":"TERAPI SEL PUNCA NEURAL PADA STROKE ISKEMIK","authors":"Ida Bagus Rai Putra, R. Sihanto, I. P. E. Widyadharma","doi":"10.29342/CNJ.V2I1.53","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V2I1.53","url":null,"abstract":"Stroke merupakan salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia, hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan penyakit stroke. Telah banyak penelitian yang membahas mengenai pencegahan terjadinya stroke, namun belum banyak yang membahas mengenai pengobatan untuk menyembuhkan stroke. Dewasa ini terapi dengan sel punca telah banyak dipergunakan untuk berbagai penyakit yang belum dapat disembuhkan dengan obat-obatan modern salah satunya stroke. Untuk itu penulis ingin mengangkat tema terapi sel punca terhadap penyakit stroke. \u0000Kata Kunci: Sel Punca, Stroke Iskemik, Stem Cell, Pencegahan Stroke Sekunder","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"53 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133286179","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"DIZZINESS DAN VERTIGO DENGAN KETERKAITAN SISTEM VERTEBROBASILER","authors":"I. G. B. Putra, F. Adrian","doi":"10.29342/CNJ.V2I1.56","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V2I1.56","url":null,"abstract":"Empat juta lebih pasien datang dengan keluhan dizziness maupun vertigo. 5 % pasien yang datang dengan keluhan dizziness dan vertigo ternyata memiliki penyakit stroke. 90% Transient ischemic attack (TIA) pada sirkulasi posterior memilki keluhan vertigo yang biasanya dihiraukan oleh petugas medis. HINTS PLUS (head impulse, tipe nistagmus, skew deviation) ditambah keluhan hilang nya pendengaran yang diperiksa dengan gesekan tangan, dikatakan bisa meyingkirkan kemungkinan dari stroke lebih akurat bahkan dari MRI. 4 sindrom pada pasien dengan keluhan intermiten atau kontinu dizziness, dapat dibagi menjadi triggered episodic vestibular syndrome (t-EVS), spontaneous EVS (s-EVS), traumatik/toksik acute vestibular syndrome (t-AVS), spontaneous AVS (s-AVS). \u0000Kata Kunci: HINTS, Vertebrobasiler, Pusing, Vertigo","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"87 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126194013","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"LAPORAN KASUS: PENANGANAN STATUS EPILEPTIKUS REFRAKTER PADA ANAK DENGAN MENINGOENSEFALITIS DI RUMAH SAKIT TIPE D","authors":"Saphira Evani, Fabian Jaya Junaidi","doi":"10.29342/CNJ.V2I1.46","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V2I1.46","url":null,"abstract":"Latar Belakang: Meningoensefalitis merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf pusat yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, tuberkulosis, ataupun jamur. Gejala yang dialami oleh pasien yang menderita meningoensefalitis, antara lain: gangguan kesadaran, demam, sakit kepala, kejang, dan perubahan perilaku, serta dengan atau tanpa defisit neurologi fokal. Kejang yang terjadi terkadang sulit diatasi sehingga dapat menjadi status epileptikus refrakter. Status epileptikus refrakter merupakan salah satu kegawatdaruratan di bidang neuropediatrik, sehingga setiap dokter yang bekerja di IGD harus memahami dan menguasai penanganannya. \u0000Kasus: Penulis menampilkan sebuah kasus anak laki-laki berusia 1 tahun dengan meningoensefalitis yang disertai dengan status epileptikus refrakter yang tidak membaik dengan pemberian terapi kejang lini pertama dan lini kedua. Kejang tersebut akhirnya berhasil dihentikan dengan pemberian Midazolam yang merupakan terapi kejang lini ketiga. Pasien tersebut keluar dari rumah sakit dengan keadaan membaik tanpa menggunakan obat kejang rumatan. \u0000Diskusi: Penanganan status epileptikus dengan lini pertama dan kedua yang adekuat terkadang tidak memberikan respon yang baik. Kejang berlanjut menjadi status epileptikus refrakter. Penanganan dengan obat lini ketiga seharusnya diberikan dengan pemantauan pasien secara ketat di ruang perawatan intensif. Namun, pasien ini dirawat di rumah sakit tipe D yang memiliki keterbatasan pemeriksaan penujang serta ruang perawatan. \u0000Simpulan: Kejang, khususnya status epileptikus harus mendapatkan penanganan yang cepat. Durasi kejang yang lama dapat memperburuk prognosis dan meningkatkan morbiditas. Penyediaan obat-obatan antikonvulsan secara lengkap dari lini pertama sampai lini ketiga sangat penting termasuk di rumah sakit tipe D di daerah perifer. \u0000Kata Kunci: Neuropediatrik, Meningoensefalitis, Status Epileptikus Refrakter","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"75 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-03-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121825453","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Fanuel Utama, Robby Irawan, J. Barus, Stefanie Agustine
{"title":"Hubungan Durasi Duduk dennen Nyeri Punggung Bawah pada Perawat Rumah Sakit Atma Jaya, Jakarta, Indonesia","authors":"Fanuel Utama, Robby Irawan, J. Barus, Stefanie Agustine","doi":"10.29342/CNJ.V1I3.35","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V1I3.35","url":null,"abstract":"Latar Belakang:Nyeri punggung bawah (NPB) pernah diderita oleh 24.7% dari seluruh pekerja di Indonesia pada tahun 2013. Prevalensi NPB pada perawat ditemukan sebesar 84.2%. Beberapa penelitian melaporkan bahwa tugas administratif seperti duduk dengan durasi lama menjadi salah satu faktor resiko NPB. \u0000 Tujuan:Untuk mengetahui pengaruh durasi duduk terhadap kejadian NPB pada perawat di Rumah Sakit Atma Jaya. \u0000Metode Penelitian:Penelitian analitik kuantitatif dengan desain penelitian potong lintang.Jumlah sampel sebanyak 131 perawat Rumah Sakit Atma Jaya, diambil menggunakan metode total sampling.Penelitian dilakukan sejak bulan Januari-Mei 2017 dengan menggunakan kuesioner NPB yang telah divalidasi. \u0000Hasil:Sebanyak 40 (30,5%) perawat ditemukan mengalami NPB dalam 12 bulan terakhir. Hasil analisis ditemukan bahwa durasi duduk berhubungan dengan NPB (p=0,000). Hasil analisis untuk jenis kelamin ditemukan tidak bermakna (p=0.211). Hasil analisis untuk obesitas juga ditemukan tidak berhubungan terhadap NPB (p=0.443). \u0000Simpulan:Durasi duduk merupakan salah satu faktor resiko terjadinya NPB. Intervensi lebih lanjut dibutuhkan untuk mengurangi probabilitas terjadinya NPB.","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"38 2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127398121","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Rizaldy T. Pinzon, Andre Dharmawan Wijono, Rosa De Lima Renita Sanyasi, Fransiscus Buwana Jesisca
{"title":"PENGARUH FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN USIA TERHADAP KUALITAS HIDUP PASIEN EPILEPSI","authors":"Rizaldy T. Pinzon, Andre Dharmawan Wijono, Rosa De Lima Renita Sanyasi, Fransiscus Buwana Jesisca","doi":"10.29342/cnj.v1i3.17","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/cnj.v1i3.17","url":null,"abstract":"Pendahuluan: Epilepsi merupakan penyakit neurologis yang mempengaruhi kualitas hidup penderitanya. Hanya ada sedikit penelitian tentang kualitas hidup pasien epilepsi di Indonesia. \u0000Tujuan: Melihat hubungan antara usia, usia saat onset pertama muncul, dan durasi epilepsi terhadap kualitas hidup pasien epilepsi. \u0000Metode: Penelitian cross-sectional ini dilakukan di Departemen Neurologi, Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta, Indonesia pada November 2017 sampai Februari 2018. Pasien epilepsi yang berusia ≥ 18 tahun diikutkan dalam penelitian ini. Kualitas hidup diukur menggunakan instrument Short form 8 (SF-8). \u0000Hasil: Terkumpul 27 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien dengan usia ≥ 60 tahun secara signifikan mengalami penurunan kualitas hidup dalam beberapa aspek, yaitu: physical functioning (42.44±8.243), general health (40.04±7.641), role emotional (39.60±7.638), mental health (43.50±10.347), dan mental component score (42.04±10.282). Pasien dengan usia saat onset pertama muncul ≥ 55 tahun secara signifikan memiliki role emotional (40.54±7.245) dan mental component score (42.98±10.155) yang lebih rendah. Durasi epilepsi tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap kualitas hidup pasien epilepsi. \u0000Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa usia dan usia saat onset epilepsi pertama muncul berhubungan dengan kualitas hidup pasien epilepsi. \u0000 \u0000Kata kunci: Epilepsi, faktor risiko yang berhubungan dengan usia, kualitas hidup, SF-8.","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"23 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133570445","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Candida Isabel Lopes Sam, Bagus Ngurah Mahasena Putra Awatara, Dewa Putu Gede Purwa Samatra, Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha
{"title":"PENENTUAN STROKE HEMORAGIK DAN NON-HEMORAGIK MEMAKAI SKORING STROKE","authors":"Candida Isabel Lopes Sam, Bagus Ngurah Mahasena Putra Awatara, Dewa Putu Gede Purwa Samatra, Anak Agung Bagus Ngurah Nuartha","doi":"10.29342/CNJ.V1I3.30","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V1I3.30","url":null,"abstract":"Latar belakang. Penting untuk membedakan antara stroke hemoragil dan non-hemoragik dalam penatalaksanaan penyakit serebrovaskuler akut. Di rumah sakit \u0000yang tidak memiliki CT Scan atau MRI, bisa digunakan skoring stroke untuk membedakan antara stroke hemoragik dan non-hemoragik. \u0000Obyektif. Bertujuan mengetahui tingkat sensitifitas dan spesifisitas skoring stroke \u0000yang diperkenalkan oleh Nuartha. \u0000Metode. Uji diagnostik dikerjakan secara prospektif pada 167 penderita stroke akut di Lab/SMF Neurologi Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Berdasarkan skoring stroke, sampel dikelompokkan menjadi stroke hemoragik dan non-hemoragik, dengan CT Scan otak sebagai standar baku. Perbedaan karakteristik kedua kelompok dianalisis dengan uji t dan chi-square, memakai program SPSS 11.C dengan tingkat kemaknaan p<0,05. \u0000Hasil.Kelompok stroke hemoragik dan non-hemoragik tidak berbeda bermakna dalam hal jenis kelamin [laki-laki 40 (24,0%) berbanding 62 (37,1%), p=0,376] dan rerata umur (62,2 ±11,0 berbanding 62,1 ± 13,4 tahun, p=0,991]. Skoring stroke dengan rentang nilai 16-24 sebagai stroke hemoragik memiliki tingkat sensitifitas 90,0%, dan tingkat spesifisitas 98,1%. \u0000Kesimpulan Skoring stroke ini bisa membantu untuk membedakan stroke hemoragik dan non-hemoragik bila fasilitas neuroimaging belum tersedia. \u0000 ","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"192 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133934838","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"HUBUNGAN ANTARA PENGGUNAAN TELEPON PINTAR DENGAN KEJADIAN NYERI LEHER PADA DEWASA MUDA USIA 18-24 TAHUN","authors":"K.W.M. Kenwa, I. P. Putra, Thomas Eko Purwata","doi":"10.29342/CNJ.V1I3.26","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V1I3.26","url":null,"abstract":"Telepon genggam sudah menjadi hal yang umum dimiliki di era digital. Beberapa masalah yang muncul dalam penggunaan telepon genggam antara lain efek kecanduan, anti sosial, dan muncul permasalahan kesehatan seperti nyeri pada leher, lelah otot, dan kaku otot. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara penggunaan telepon pintar dengan kejadian nyeri leher pada dewasa muda berusia 18-24 tahun. Penelitian ini menggunakan desai penelitian potong lintang yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan menggunakan kuesioner mengenai kebiasaan penggunaan telepon pintar dan mengenai riwayat nyeri leher. Data dianalisis dengan menggunakan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 118 responden dari 6 program studi di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dengan proporsi perempuan 89 orang (75,4%) dan laki-laki yaitu 20 orang (24,6%). Usia rata-rata responden adalah 19,4 tahun. Akumulasi durasi penggunaan telepon pintar responden rata-rata adalah 7,54 jam. Pada responden ditemukan prevalensi nyeri leher adalah 83,1% dengan rata-rata skala nyeri leher adalah 2,79. Analisis hubungan durasi penggunaan telepon pintar dan skala nyeri leher menunjukan hasil korelasi lemah (0,209) yang signifkan dimana peningkatan durasi penggunaan dapat meningkatkan skala nyeri leher (p = 0,023) serta menggunakan telepon pintar selama 7 jam atau lebih meningkatkan risiko sebesar 2,8 kali untuk terkena nyeri leher sedang dan berat (95%IK = 1,089-7,216)","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"15 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127603480","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Izzati Shoba Maryam, Ida Ayu Sri Wijayanti, Kumara Tini
{"title":"KARAKTERISTIK KLINIS PASIEN EPILEPSI DI POLIKLINIK SARAF RSUP SANGLAH PERIODE JANUARI – DESEMBER 2016","authors":"Izzati Shoba Maryam, Ida Ayu Sri Wijayanti, Kumara Tini","doi":"10.29342/CNJ.V1I3.29","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V1I3.29","url":null,"abstract":"Jumlah kasus epilepsi di Indonesia cukup tinggi dengan prevalensi 8,2 per 1.000 penduduk dan insiden mencapai 50 per 100.000 penduduk. Data demografi dapat digunakan sebagai pertimbangan klinisi dalam mendiagnosis serta menentukkan penanganan lanjutan yang tepat. Belum ada penelitian demografi pasien epilepsi di Bali, sehingga penting untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinis pasien epilepsi. Penelitian deskriptif observasional menggunakan data rekam medis pasien epilepsi yang berobat di poliklinik saraf RSUP Sanglah pada Januari sampai dengan Desember 2016. Sebanyak 70 pasien memiliki rerata usia 35 tahun dengan dominasi jenis kelamin laki-laki sebanyak 55,7%. Rerata usia awitan kejang yaitu 29 tahun. Jenis bangkitan paling banyak adalah bangkitan umum dan mayoritas disebabkan etiologi yang simtomatik. Sebanyak 77,1% pasien menggunakan monoterapi dan tercatat 72,9% melakukan pengobatan kurang dari dua tahun. Fenitoin merupakan OAE utama dalam monoterapi maupun sebagai kombinasi dengan OAE yang lain.","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"13 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130969615","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Sonnia Haryani, Vindi Tandy, Aurelia Vania, Jimmy Fa Barus
{"title":"Penatalaksanaan Nyeri Kepala pada Layanan Primer","authors":"Sonnia Haryani, Vindi Tandy, Aurelia Vania, Jimmy Fa Barus","doi":"10.29342/CNJ.V1I3.16","DOIUrl":"https://doi.org/10.29342/CNJ.V1I3.16","url":null,"abstract":"Nyeri kepala merupakan keluhan pasien yang paling umum pada layanan kesehatan primer di seluruh dunia dengan prevalensi mencapai lebih dari 60% populasi dunia. Nyeri kepala merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting akibat disabilitas yang ditimbulkan sehingga menurunkan produktivitas yang mengakibatkan beban ekonomi dalam keluarga. Sayangnya, praktik penanganan nyeri kepala di layanan primer masih belum adekuat, baik dari segi diagnosis maupun tatalaksana terkait dengan masalah nyeri. Karakteristik nyeri kepala yang bersifat subjektif dan beragam memberikan tantangan tersendiri dalam penegakkan diagnosa yang seringkali menimbulkan diagnosa yang kurang tepat sehingga mempengaruhi kualitas penanganan nyeri pada pasien. Penanganan yang tidak adekuat dapat meningkatkan risiko progresitivitas nyeri kepala episodik menjadi nyeri kepala kronis. Dalam pendekatan terapi nyeri, diperlukan perhatian lebih terhadap kondisi psikososial pasien dalam upaya penanganan nyeri yang komprehensif. Hal ini terutama dikarenakan adanya hubungan timbal balik antara nyeri kronik dan stres yang berkaitan dengan disabilitas yang ditimbulkan.","PeriodicalId":339514,"journal":{"name":"Callosum Neurology","volume":"20 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131424681","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}