{"title":"Early Childhood Anti-Violence Education in The Perspective of Psychology","authors":"Eni Rosda Syarbaini","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.6","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.6","url":null,"abstract":"Early age children is nation next generation. Government gives serious attention toward early childhood education which is pointed out by PP No. 60 th. 2013 about the integrative and holistic service of early childhood development. Children violence might be occurred everywhere, it could be in the family, on the street and children trafficking. Children violence is a social problem that has a big impact toward psychological, physical, mental, and the growth of children. To prevent this violence, government, society, teachers and parents must involve intensively. Government has issued the law no. 35 th. 2014 about children care. Early childhood must be protected from any kinds of violence. Education for early childhood must be done using learning approach through play games, interactive, children centered, and in joyful atmosphere. \u0000Keywords: fun education for early childhood, anti violence, psychology. \u0000Anak usia dini adalah generasi penerus bangsa. Pemerintah memberikan perhatian yang serius terhadap pendidikan anak usia dini yang ditunjukkan dengan Peraturan Presiden Nomor 60 tahun 2013 tentang Pelayanan Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif. Kekerasan terhadap Anak dapat terjadi dimana-mana, seperti dalam lingkungan keluarga, di jalanan, dan perdaganagan anak. Kekerasan terhadap anak merupakan masalah sosial memiliki dampak besar terhadap psikologis, fisik, mental, dan tumbuh kembang anak. Untuk pencegahan kekerasan terhadap anak, dituntut peran aktif orang tua, pendidik, masyarakat, dan Pemerintah. Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Anak usia dini harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan. Pendidikan Anak Usia Dini dilakukan dengan pendekatan belajar melalui bermain, interaktif, berpusat pada anak, dan dalam suasana yang menyenangkan. \u0000Kata Kunci: PAUD Menyenangkan, Anti Kekerasan, Psikologi.","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"199 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116485429","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Skill-Based Curriculum Development to Prevent the Violence Against Children","authors":"Elis Komalasari","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.36","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.36","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kurikulum berbasiss keterampilan perlindungan diri terhadap kekerasan seksual pada anak usia dini. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus kekerasan pada anak (child abuse) mengalami peningkatan. Komisi Nasional Perlindungan Anak mencatat bahwa sejak tahun 2010, jumlah kekerasan pada anak baik secara fisik maupun psikis mengalami peningkatan setiap tahunnya, terutama dalam bentuk kejahatan seksual pada anak. Pendidikan anak usia dini sebagai bagian makro dari perkembangan anak dan bagian dari masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mencegah terjadinya tindak kekerasan pada anak. Upaya yang dilakukan adalah dengan mengembangkan kurikulum berbasis keterampilan perlindungan diri pada anak. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kolaboratif dengan objek penelitian terdiri dari 5 lembaga PAUD yang mewakili setiap kecamatan di kabupaten Tanah Datar. Hasil penelitian menunjukan bahwa 3 dari 5 lembaga PAUD di Kabupaten Tanah Datar tidak memiliki kurikulum dan panduan pembelajaran mengenai pencegahan kekerasan seksual pada anak usia dini. 2 lembaga memiliki pedoman pembelajaran dengan mengacu pada kurikulum 2013. Dari hasil penelitian ini maka dikembangkan kurikulum berbasis keterampilan perlindungan diri untuk anak usia dini dengan mengacu pada kurikulum 2013 dengan penetapan tujuan khusus yaitu standar tingkat pencapaian perkembangan, kompetenssi inti dan kompetensi dasar. Hasil penelitian ini berupa rancangan kurikulum berbasis keterampilan perlindungan diri dan diharapkan dapat diujicoba pada penelitian selanjutnya.","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"138 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114373227","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Anti-Violence Education Through Electronic Media and Parent Supervision for Early Childhood in the Perspective of Psychology","authors":"Yorita Febry Lismanda, M. Dewi, Ika Anggraheni","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.5","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.5","url":null,"abstract":"Children of 4-6 years are in concrete pre-operational stage. Negative Stimulus obtained by a child at that time, forming attitudes of children in the future. TV shows, games, and videos containing violence are form of negative stimulus. KPAI data showed 78.3% of children aged elementary school to senior high school have undertaken such violence. One of the factors is possibly the existence of negative stimulus acquired since early childhood. Based on the presentation, this proceeding discusses alternative methods to overcome violence since children aged 4-6 years from the perspective of psychology. The approach used in this proceeding is a qualitative approach. Data was taken from the fact of a numbers violence that have been undertaken by children, TV shows, games, and videos containing elements of violence, stages of child development, and the impact of the show. The data was retrieved through library research of several references that were analyzed and the results were presented descriptively. Based on the data obtained, the conclusion of the proceeding is: the causing factor that lead children to become abusers come from TV’s program containing violence and imitated since early childhood. How to cope with children who commit in violent is by giving TV shows of electronic media (TV, games, videos) containing a lot of educational value and strengthened them with their close relative supervision, especially parents since the children in early age. \u0000Keywords: violence aged 4-6 years, electronic media, supervision. \u0000Anak usia 4—6 tahun berada pada tahap pra operasional konkrit. Stimulus negatif yang diperoleh anak pada masa itu, membentuk sikap anak di masa yang akan datang. Adanya tontonan Tv, games, dan video yang mengandung tindak kekerasan merupakan bentuk stimulus negatif. Data KPAI menunjukkan 78,3% anak usia MI hingga SMA melakukan kekerasan. Salah satu faktor yang menyebabkan, dimungkinkan adanya stimulus negatif yang diperoleh anak sejak dini. Berdasarkan paparan tersebut, prosiding ini membahas alternatif mengatasi kekerasan sejak anak usia 4–6 tahun dari perspektif psikologi. Pendekatan yang digunakan dalam prosiding ini adalah pendekatan kualitatif. Data berupa fakta banyaknya kekerasan yang dilakukan anak, tontonan di TV, games, dan video yang mengandung unsur kekerasan, tahapan perkembangan anak, dan dampak dari tontonan. Data tersebut diambil melalui studi pustaka dari beberapa referensi yang dianalisis dan hasilnya disampaikan secara deskriptif. Berdasarkan data yang diperoleh, simpulan dari prosiding ini: faktor penyebab anak menjadi pelaku kekerasan berasal dari tontontan yang mengandung tindak kekerasan dan ditiru anak sejak dini. Cara mengatasi anak yang melakukan kekerasan adalah dengan pemberian tontonan pada media elektronik (tv, games, video) yang banyak mengandung nilai edukasi dan diperkuat adanya pengawasan orang dewasa terdekatnya, khususnya orang tua sejak anak dalam usia dini. \u0000Kata kunci: kekerasan usia 4-6","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128088656","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Anti-Violence Education in the Perspective of Hadith","authors":"Imroatun Imroatun, Difla Nadjih","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.33","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.33","url":null,"abstract":"Tulisan ini bermaksud mengeksplorasi hadis tentang metode pendidikan anak untuk perumusan titik penting dalam penanaman ide anti kekerasan kepada anak usia dini di Raudahtul Atfal. Eksplorasi dibatasi dengan matan hadis-hadis yang yang diriwayatkan dalam kutub tis’ah dengan perawi al-Bukhari, Muslim, an-Nasa’i, at-Tirmizi, Abu Dawud, Ahmad Ibn Hanbal, Ibn Majjah, Malik dan ad-Darimi untuk dianalisis melalui content analysis. Didalam hadis metode pendidikan Agama Islam menekankan Interaksi empatik menjadi terasa sebagai sebuah kebutuhan dalam pendidikan anti kekerasan dalam PAUD. keteladanan itu bisa disengaja untuk berbuat secara sadar ditiru oleh si terdidik (anak). Bentuknya lainnya berupa perilaku sesuai dengan nilai dan norma yang akan ditanamkan pada anak sehingga tanpa sengaja menjadi teladan bagi anak. Semua bisa diadaptasi dalam PAUD di luar keluarga dengan mempertimbangkan factor pemberi, penerima, materi serta konteksnya.","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"74 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122178212","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Parenting Insight to Shape An Anti-Aggressive Behaviour","authors":"J. Jazariyah, R. R. Jannah, Amin Sabi’ati","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.37","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.37","url":null,"abstract":"This study aimed to reveal the importance of knowledge parenting’s insight and skills of non-violence in early childhood as a manifestation of concern for child development. Parenting occupies an important position in shaping the character of children in the future. It received national attention in the world (WHO), as well as in Islam Religion. The results showed that increasing aggressiveness in juvenile cases such as bullying, fights, and fighting now is the impact on the parenting treatment with a high level of violence aggressiveness when one of them was a child. Children who are at the age of chronic and require the model in each of his behavior often become victims. Thus, in the development of children vulnerable to becoming victims or perpetrators of violence. \u0000Keywords: Parenting Insight, Anti Aggressive Behavior.","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"95 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128583070","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Sex Education as an Effort to Prevent Sexual Violence Against Children","authors":"S. Sumiyati","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.18","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.18","url":null,"abstract":"Child is a mandate given by God as a surrogate. The mandate received by each parent will be asked about the responsibility someday. Parents certainly hope their children will be success in their life. Some case of sexual violence in children of course led to a deep concern for parents. How crime and sexual violence can happen to an innocent children. One of the efforts to prevent sexual violence against children is through giving sex education. Sex education provide children about how he understands sex, keep their self and limbs, and how to train children to be able to communicate effectively with parents. Hopefully, by the sex education, children can build a positive attitude and behaviour, also they have a good confidence to ask information to parents and the significant others about all of the things that they wanted to know, include something like why some organ in men and women are different. If the sex education for early childhood is successful, then the opportunity for children to enjoy the future will be more wide open, without overshadowed by the fear of child predators who will take away their future. \u0000Keywords: sex education, sexual violence, early childhood. \u0000Anak merupakan amanah yang diberikan oleh Allah sebagai titipan. Amanah yang diterima oleh setiap orangtua tentu saja akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak. Orangtua tentu berharap kesuksesan dan keberkahan bagi putra putrinya. Terjadinya tindak kekerasan seksual pada anak tentu saja membuahkan keprihatinan yang mendalam bagi orangtua. Bagaimana kejahatan dan kekerasan seksual ini dapat menimpa anak usia dini yang tidak berdosa. Salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual pada anak ini adalah melalui sex education atau pendidikan seks untuk anak. Sex education membekali anak tentang bagaimana dia memahami jenis kelaminnya, menjaga diri dan anggota badannya, serta bagaimana melatih anak untuk dapat berkomunikasi yang efektif dengan orangtua. Diharapkan dengan adanya sex education ini anak mampu untuk selalu bersikap positif dan memiliki kepercayaan diri yang tinggi untuk bertanya dan mencari informasi kepada orangtua dan orang terdekat tentang segala hal yang ingin diketahuinya, termasuk tentang organ tubuh, kenapa laki-laki berbeda dengan perempuan. Apabila pendidikan seks untuk anak usia dini ini berhasil, maka kesempatan atau peluang anak untuk menikmati masa depannya akan semakin terbuka lebar, tanpa dibayang-bayangi oleh ketakutan akan adanya predator anak yang akan merenggut masa depan mereka. \u0000Kata kunci: sex education, kekerasan seksual, anak usia dini.","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"25 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116162959","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Stop! Push-Parenting: Shoot Parent’s Ambition as Kind of Psychological Abuse in Parenting","authors":"Laily Hidayati","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.16","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.16","url":null,"abstract":"Menyiapkan masa depan terbaik untuk anak adalah hal yang sangat wajar dilakukan oleh orangtua manapun. Memastikan kebutuhan dasar anak terpenuhi, memastikan pendidikannya, fasilitas-fasilitas, bahkan dana, merupakan hal-hal umum yang dilakukan oleh orangtua dalam rangka itu. Pada prosesnya, tidak bisa tidak, orangtua menerapkan cara-cara yang secara tipikal mereka gunakan—meskipun seringkali tidak disadari—dalam mengasuh dan mendidik anak mereka. Cara-cara yang secara khas digunakan oleh orangtua dalam mengasuh dan mendidik anaknya disebut dengan pola asuh (parenting), yang mana telah dikenal terdapat beberapa pola asuh yang lazim diterapkan oleh orangtua.Push-parenting adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu pola asuh yang terlalu menekan hak anak, cenderung menetapkan target-target, tuntutan-tuntutan, standar-standar yang sangat mungkin melewati batas kemampuan fisik maupun psikologis anak. Yang terjadi kemudian adalah terancamnya kesehatan mental anak karena anak berubah menjadi miniatur serta korban pemaksaan ambisi orangtua. Anak dapat menjadi rendah diri, konsep dirinya negatif, terganggu aspek perkembangan sosial-emosionalnya, dan lebih-lebih, anak kehilangan kesempatan untuk berkembang jiwa kemandirian serta kemampuannya menyelesaikan masalah (problem solving). Artikel ini mendalami kajian-kajian teoritis kepustakaan, menganalisisnya untuk menemukan titik kritis penerapan model pengasuhan push-parenting, sehingga dengannya, orangtua diharapkan dapat mengevaluasi pola asuh yang diterapkannya,sehingga anak dapat tumbuh-berkembang secara unik sesuai bakat, minat, serta kepribadiannya. \u0000Kata Kunci: Parenting, push-parenting, kekerasan psikologis. \u0000Preparing for the best children’s future is a very reasonable thing to do by any parent. Ensure the basic needs of children are met, ensure their education, facilities, and even funding, are the general things are done by parents in order that. In the process, we all know and sure that parents implement ways that typically they use—although often they do not realized—in caring for and educating their children. Ways that are typically used by parents in caring for and educating children is called parenting (parenting), which has been known there are some common parenting applied by parents. Push-parenting is a term used to describe a parenting that in there too much pressure on children's rights, tend to set targets, demands, standards that are likely over the limit of physical and psychological abilities of children. What happens then is the threat to children's mental health because children turn into a miniature as well as victims of coercion parental ambition. Children can going to be a low self-esteem, negative self-concept, disturbed aspects of social-emotional development, and more, children maybe lose the opportunity to develop spirit of independence and ability to solve problems (problem solving). This paper scrutinizes the theoretical literature studies, analyzes it to ","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"12 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125954324","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Islamic Perspective of Anti-Violence Education for Early Childhood in The Family Environment","authors":"Luluk Atirotu Zahroh","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.20","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.20","url":null,"abstract":"Anti-violence education implemented in various educational environment, equally important the family environment. The impact of violence against spiritual emotional intelligence development of children leads to the negative things. Include that realize or not, violence that showed by parents have instilled hatred and excessive fear in children. Violence will infuse stubborn and rude in children, give wound in the hearts of children until they are adults. Islam teaches anti-violence education, especially on the early chilhood education, have to carry out with great affection. Many verses of the holy Koran which instruct to educate children with affection. The term like qaulan layyinan, qaulan ma'rufan and so on are some command to teach and interact with students full with love and through the good ways. \u0000Keyword: anti-violence education, early chilhood. \u0000Pendidikan anti kekerasan diterapkan di berbagai lingkungan pendidikan, dan tidak kalah pentingnya yaitu lingkungan keluarga. Dampak kekerasan orang tua terhadap perkembangan kecerdasan emosional spiritual anak ini mengarah pada hal-hal yang negatif. Dampak tersebut diantaranya adalah: sadar atau tidak kekerasan yang dilakukan orang tua telah menanamkan kebencian dan rasa takut yang berlebihan pada diri anak. Kekerasan akan menanamkan sifat keras dan sikap kasar pada diri anak, membekaskan luka di hati anak hingga mereka dewasa. Islam mengajarkan pendidikan yang bersifat anti kekerasan, apalagi dalam konteks mendidik anak usia dini, dilakukan dengan penuh kasih sayang. Banyak ayat al-Qur’an yang memerintahkan mendidik anak dengan kasih sayang kepada putra-putranya yang masih kecil. Bahasa qaulan layyinan, qaulan ma’rufan dan sebagainya merupakan perintah untuk mendidik dan berinteraksi dengan anak didik dengan penuh kasih sayang dan cara yang baik. \u0000Kata Kunci: Pendidikan Anti Kekerasan, Anak Usia Dini.","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123499676","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"The Doctrin to Educate Children without Violence in Islam","authors":"Evi Muafiah","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.3","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.3","url":null,"abstract":"Islam was revealed to the Prophet Muhammad as rahmatan li al-'alamin of which teaches us to always love and cherish all of God's creatures, both animate and inanimate creatures. Children is God’s mandate that accompanies the affection between mother and father, so they can ensure to give their children a nurturing full with love and positive affection. The atmosphere of nurturing is certainly not to be interfered with both verbal and physical violence, because these two things are very contradictory. Islam teaches us how to educate children without violence. Violence should only be done as a last resort and that too done to foster not hurt. Prophet Muhammad SAW is a role model how to educate children properly. Even when he is praying, he patiently allowing the children to ride his back when he was on prostration. \u0000Keywords: children in the perspective of the holy Koran, the characteristics and needs of children, child learning methods. \u0000Islam diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw sebagai rahmatan li al-‘alamin, yang di antaranya mengajarkan kita untuk selalu saling mengasihi dan menyayangi sesama makhluk Allah, baik yang hidup maupun benda mati. Anak adalah amanah Allah yang hadir menyertai kasih sayang antara ibu dan bapaknya, maka sudah sewajarnya jika kemudian orang tua mengasuhnya dalam suasan penuh kasih dan sayang. Suasana tersebut tentunya jangan sampai dicampuri dengan kekerasan baik verbal maupun fisik, karena kedua hal tersebut sangat bertentangan. Islam mengajarkan kepada kita bagaimana mendidik anak tanpa kekerasan. Kekerasan hanya boleh dilakukan sebagai alternatif terakhir dan itupun dilakukan untuk membina bukan menyakiti. Rasulullah Saw merupakan contoh bagaimana mendidik anak dengan baik. Bahkan saat shalat pun beliau dengan sabar mengasuh anak-anak dengan membiarkan punggungnya dinaiki anak-anak saat beliau sujud. \u0000Kata kunci: anak dalam perspektif al-Qur’an, karakteristik dan kebutuhan anak, metode pembelajaran anak","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"142 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133257563","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Prevention of Violence and Sexual Abuse in Early Childhood Through Implementation of Sex Education in the Perspective of the Sunnah","authors":"Lely Camelia, Ine Nirmala","doi":"10.51529/ijiece.v1i1.34","DOIUrl":"https://doi.org/10.51529/ijiece.v1i1.34","url":null,"abstract":"This article discusses the conceptual studies on the implementation of early childhood sex education according to Islamic perspective. The number of cases of violence and sexual abuse against children has recently made various parties, no exception for parents, that must be alert to the threat. The big point of that is in 2015 when Indonesian Child Protection Commission said that cases of violence and abuse against children is a latent danger for the children of Indonesia. Several attempts have been made, some like starting to give a sex education early for parents and children, limiting the viewing access to pornography, limiting the contents of pornography on the internet and games, and stopping the attempts of the perpetrators in violence and sexual abuse against children by give them the weightest punishments. Rasullullah SAW as good role model has provided some guidance for us on how to educate children in detail, not only about early sex education, but also how to educate them since they are in the loins of their father. With reference to the sunnah that has showed by our Prophet to us, we as teachers and parents can apply it in everyday life, that will have a positive impact on children and the environment in the prevention of violence and sexual abuse against children. \u0000Keywords: sex education, children, islamic perspective, Prophet’s sunnah perspective","PeriodicalId":327957,"journal":{"name":"Indonesian Journal of Islamic Early Childhood Education","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2016-12-13","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"114394021","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}