Jurnal PoetikaPub Date : 2019-07-30DOI: 10.22146/POETIKA.V7I1.44452
Zulfa Purnamawati, Sangidu Sangidu, Fadlil Munawwar, T. Dardiri
{"title":"IDEOLOGI PERLAWANAN DALAM ANTOLOGI PUISI FĪ ṬARĪQI AL-FAJRI KARYA ABDULLAH AL-BARADDUNI","authors":"Zulfa Purnamawati, Sangidu Sangidu, Fadlil Munawwar, T. Dardiri","doi":"10.22146/POETIKA.V7I1.44452","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/POETIKA.V7I1.44452","url":null,"abstract":"Artikel ini bertujuan untuk mengungkap ideologi perlawanan dalam antologi Puisi Ilā Ṭarīqi al-Fajri (Menyongsong Fajar) yang diciptakan pada tahun 1960-1979 oleh Abdullah al-Baraddūnī seorang penyair buta asal Yaman Utara. Untuk mengungkapkan Ideologi perlawanan dalam antologi tersebut digunakan kritik sastra materialistik yang disampaikan oleh Terry Eagleton. Adapun meteode yang digunakan adalah metode dialektik, yaitu pembacaan timbal balik antara elemen internal puisi tersebut dengan elemen-elemen eksternal. Puisi-puisi dalam antologi ini diciptakan saat Yaman Utara berada di bawah kekuasaan dengan ideologi Imamah Zaidiyyah yang bertindak sewenang-wenang dalam menjalankan kekuasaannya. Puisi dipilih sebagai genre untuk mengungkapkan ideologi perlawanan karena kondisi pengarang yang buta, produksi sastra di Yaman Utara yang menjadikan puisi sebagai sastra rakyat, dan kondisi sosial Yaman yang sebagian besar penduduknya masih buta huruf. Perlawanan dalam puisi-puisi tersebut adalah perlawanan rakyat terhadap pemerintahan imamah yang telah berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat sehingga hak kebebasan, hak politik, dan hak ekonomi rakyat tidak terpenuhi. Sebagai puncaknya adalah revolusi yang menuntut digantinya ideologi imamah dengan ideologi republik yang memberikan ruang kepada rakyat untuk terlibat dalam persoalan negara dan kehidupan yang lebih baik.Kata kunci: ideologi perlawanan; kritik sastra materialistik; Imamah Zaidiyyah; Yaman Utara This article attempts to explore the ideology of resistance in the poetry anthology Ilā Ṭarīqi al-Fajri (On the Path of Dawn) was created in 1960-1979 by Abdullah al-Baraddūnī, a blind poet from North Yemen. The ideology of resistance in this anthology was analyzed by using materialist literary criticism, which was used by Terry Eagleton. The method used in this study is the dialectical method, namely reciprocal reading between the internal elements of the poem with external elements. The poems were created when Yemen was under control the Zaydi Imamate, who arbitrarily exercised his power. The poetry was chosen as a genre to express the ideology of resistance because of the conditions of blind poet, literary production in North Yemen which made poetry as a folk literature, and the social conditions of Yemen, where the majority of the population was illiterate. The ideology of resistance in this anthology is resistance to the arbitrariness of the ruling government, which did not recognize freedom rights, political rights and economic rights of the people of North Yemen. In addition, there was a resistance to the ideology of Imamate.The ideology of Imamate was replaced by an ideology of the republic which provided space for the people of North Yemen to participate in the management of the country and to pursue a more prosperous life.Keywords: ideology resistance; materialist literary criticism; Zaydi Imamate; North Yemen ","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"74 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"77917357","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-12-31DOI: 10.22146/POETIKA.40188
Jaka Ahmad Zulkarnain, Wiyatmi -
{"title":"Dekonstruksi Femininitas dalam Novel-novel Karya Eka Kurniawan: Dari Pekerjaan Sampai Kecantikan","authors":"Jaka Ahmad Zulkarnain, Wiyatmi -","doi":"10.22146/POETIKA.40188","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/POETIKA.40188","url":null,"abstract":"One of the stereotypes of gender is femininity in which it is closely related to women. Femininity with passive characteristic is constructed to limit their moves. In Eka Kurniawan’s novels, the femininity is unstable. It brings an assumption that he is conducting the femininity deconstruction. This research is aimed to find out and to explain the femininity deconstruction in Eka Kurniawan’s novels. Three Eka Kurniawan’s novels were chosen as the data source of this research, they were Cantik Itu Luka, Lelaki Harimau, and Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. This research used critical discourse analysis method with post-modern feminism approach. There are seven forms of femininity deconstructions in Eka Kurniawan’s novels such as feminine jobs, feminine images, feminine habits, feminine symbols, feminine principles, feminine desire, and beauty. Femininity deconstruction shows that femininity has strengths and weaknesses. Femininity is conveyed and practiced either by men and women characters in his novels. Through femininity deconstruction, Eka Kurniawan draws images of how femininity is being deconstructed and how the characters in his novels questioning, rejecting, and or making use of femininity.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"27 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"76147299","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-12-31DOI: 10.22146/POETIKA.V6I2.40140
Intannia Cahyasari, Anwar Efendi
{"title":"REALITAS POLITIK PADA ERA RESTORASI MEIJI DALAM NOVEL HANAUZUMI","authors":"Intannia Cahyasari, Anwar Efendi","doi":"10.22146/POETIKA.V6I2.40140","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/POETIKA.V6I2.40140","url":null,"abstract":"Hanauzumi adalah salah satu bentuk genre karya sastra berupa novel yang menjelaskan perjuangan dan perlawanan Ginko Ogino sebagai tokoh utama perempuan dalam upayanya memenuhi hak-haknya selama era Restorasi Meiji. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan mendeskripsikan wujud realitas politik pada masa pemerintahan Meiji yang banyak dialami tokoh utama, dengan pendekatan Analisis Isi yang terkandung di dalam novel Hanauzumi. Hegemoni kekuasaan yang terjadi pada zaman pemerintahan Shogun tercermin dari praktik politik yang dijalankan dengan menutup Jepang dari pengaruh dunia luar untuk melanggengkan kekuasaannya. Pemerintahan Shogun pada akhirnya tidak bisa mempertahankan kekuasaannya karena dihadapkan dengan kemajuan zaman yang terus berubah. Kemudian muncul era Restorasi Meiji, yaitu diadopsinya pemikiran-pemikiran Barat melalui kebijakan modernisasi negara oleh pemerintah Jepang dengan meniru secara besar-besaran apa yang dilakukan oleh negara Barat dalam membangun negara. Benturan-benturan terkait dengan realita politik pada masa inilah yang sering dialami oleh tokoh utama novel ketika dia berupaya memperoleh hak-haknya sebagai perempuan dan warga negara.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"33 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"87608309","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-12-31DOI: 10.22146/POETIKA.40298
Widya Prana Rini
{"title":"PARADOKS NARASI PENYELAMATAN KESEIMBANGAN EKOSISTEM DALAM NOVEL KAILASA KARYA JUSUF AN KAJIAN EKOKRITIK","authors":"Widya Prana Rini","doi":"10.22146/POETIKA.40298","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/POETIKA.40298","url":null,"abstract":"Abstrak Penelitian ini membahas karya sastra yang membawa isu alam dan lingkungan tereksploitasi melalui sistem pertanian sebagai sarana merawat bumi. Perusakan lingkungan pertanian Desa Kailasa merupakan pokok permasalahan tokoh Yahya dalam penyelamatan alam dan lingkungan. Adanya gerak komunal petani yang bersifat antroposentris membuka kontestasi untuk mengakses sumber daya alam. Alam dimanfaatkan untuk mendapatkan keuntungan besar, baik pihak petani maupun pihak lain yang berkepentingan, akan tetapi tidak ada keseimbangan area pertanian jangka panjang. Melalui sudut pandang ekokritik mencermati narasi penyelamatan ekosistem dalam kontestasi kepentingan ekologis. Penelitian ini menggunakan teori ekokritik yang bertolak pada pandangan Cheryll Goltfelty. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif. Antroposentris membuat alam dan lingkungan Kailasa terdegradasi terlihat dari manusia yang mengekploitasi alam. Teridentifikasi masyarakat Kailasa mengalami pergeseran kesadaran eko ke kesadaran ego, perubahan tersebut dilatarbelakangi oleh hidup yang berorientasi pada materi untuk kepentingan ekonomi. Ada kecenderungan yang mengarah ke kesadaran eko, terlihat pada generasi baru setelah lima belas tahun terjadi kontestasi, akan tetapi hanya berubah pada tanaman polikultur (tanaman carika). Narasi yang diuraikan terlihat mewakili pemikiran ekosentrisme yang melindungi dari kejahatan antroposentris, akan tetapi terdapat paradoks dalam memperjuangkan ekosistem yang direpresentasikan. Teridentifikasi dari masyarakat Kailasa yang tetap menggunakan cara pandang antroposentris walaupun alam dan lingkungan telah mengalami degradasi. Kata Kunci : ekologi, ekosistem, antroposentris, ekosentris, ekstensifikas, intensifikasi, kontestasi. Abstract This research discusses a literature that brings the issue about nature and environmental issues exploited by a farming system as means of caring for the earth. Environment represented in the novel entitled Kailasa by Jusuf AN as a form of ecology criticism and how the narrative of ecosystem rescuse in the contestation of ecological. The purpose of this research is to identify environmental damage and what attitude that should be taken as an act of saving nature and the environment in contestation of acosystem diversity. The destruction of the agricultural environment of Kailasa Village is the main issue of Yahya's character in saving nature and the environment. The anthropocentric nature of farmers' communal movements opens contestation to access natural resources. Nature is used to gain big profits, both farmers and other interested parties, but there is no balance of long-term agricultural areas. Through an ecocritical point of view, look at the narrative of saving ecosystems in the contestation of ecological interests. This research uses an ecocritism in literature that depart from the view of Cheryll Goltfelty. The method used is descriptive kualitative to dissect the problem. Anthropocentric make K","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"2 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"88557630","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-12-31DOI: 10.22146/poetika.40167
A. Jaya
{"title":"UNBEATEN TRACKS IN JAPAN : LETTER I Tinjauan Women Travellers and Travel Writing","authors":"A. Jaya","doi":"10.22146/poetika.40167","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/poetika.40167","url":null,"abstract":"This research aims to show the influences of the power of discourse: genre, gender, and colonialism in Unbeaten Tracks in Japan by Isabella Lucy Bird. Some travel writing’s paradigms were used as theoretical background in this research, such Sara Mills and Carl Thompson. As an object of the research, the novel became the source of primary data. Another historical and cultural literary and also literary review of Unbeaten Tracks in Japan as secondary data. The result of the research examined that contestation of discourses implied the way of the author to preserve his stories.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"52 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"73836167","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-12-31DOI: 10.22146/poetika.39017
Heru Kurniawan
{"title":"PENALARAN MORAL ANAK DALAM CERITA PADA MAJALAH BOBO DAN HARIAN KOMPAS","authors":"Heru Kurniawan","doi":"10.22146/poetika.39017","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/poetika.39017","url":null,"abstract":"Children's stories in Bobo Magazine and Kompas Daily represent both levels of praconventional and conventional moral reasoning. From these two levels of moral reasoning, there are three stages of a child's moral reasoning, namely moral reasoning for obedience of punishment, relativist-instrument moral reasoning, and moral reasoning of a good child. Of these three moral reasoning, the dominant moral reasoning of children is the relativist-instrument and the orientation of a good child, while obedience reasoning does not dominate. This shows that mutual moral awareness of children is transactional and existential, namely children are conditioned to do good because they want to get a prize, and awareness of their desire to be good children. With the reality of such children's stories, our children who read children's stories wake up to the realization that I am doing good because of the gifts and awareness to be a good child.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"45 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"81063618","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-09-07DOI: 10.22146/poetika.35013
Rahmat Setiawan
{"title":"Subaltern, Politik Etis, dan Hegemoni dalam Perspektif Spivak","authors":"Rahmat Setiawan","doi":"10.22146/poetika.35013","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/poetika.35013","url":null,"abstract":"Istilah subaltern merujuk pada populasi yang secara sosial, politik, dan geografis ditundukkan oleh suatu kelompok yang menguasai mereka. Dari sana kita memahami bahwa selalu ada praktik hegemonik dalam diskusi subaltern yang mana suara mereka selalu dimanipulasi secara etis sebagai bagian dari praktik politik suatu kelompok untuk mendominasi. Itu mengapa kelompok subaltern merupakan alat dari suatu praktik hegemonik yang melambangkan dominasi politik, militer, sosial, dan bahkan kultural oleh suatu kelompok di atas kelompok lainnya. Karena hegemoni bersifat tak langsung, maka praktik ini biasanya dioperasikan melalui hal-hal yang bersifat ideologi dan cenderung etis terhadap kelompok yang akan dikuasai, dan dalam kajian teoretis Spivak, kelompok subaltern adalah kelompok yang suaranya selalu direpresentasikan, sementara representasi hanyalah alat untuk menuju dominasi nyata. Oleh karena itu, topik mengenai subaltern adalah mengenai bentuk praktik politik etis kelompok hegemon terhadap kelompok subaltern yang menjelaskan adanya hegemoni yang bertopeng. Kata Kunci: Subaltern, Politik Etis, Hegemoni, dan Spivak.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43669978","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-09-07DOI: 10.22146/poetika.35679
Khairul Candra, L. Noviyanti, Kiki Nurlaily
{"title":"Pemaknaan dan Transmisi Mantra Tri Sandhya Pada Remaja Hindu Bali Di Daerah Malang","authors":"Khairul Candra, L. Noviyanti, Kiki Nurlaily","doi":"10.22146/poetika.35679","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/poetika.35679","url":null,"abstract":"Tulisan ini mengulas makna dan transmisi mantra Tri sandhya. Mantra Tri Sandhyamerupakan salah satu bentuk sastra lisan yang ada di Bali. Mantra Tri Sandhya merupakan mantra yang dimiliki oleh orang Hindu Bali yang dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat ini, mantra Tri Sandya mulai dilupakan dan jarang oleh remaja Hindu Bali. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dilakukan untuk (1) membaca makna mantra Tri Sandhya: (2) mantra transmisi Tri Sandhya pada remaja Hindu Bali yang tinggal di Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengambil data dalam bentuk kalimat bukan angka-angka. Sumber data dari penelitian ini adalah Mantra Tri Sandhya. Penelitian ini menggunakan pendekatan Semiotika dengan teori Riffaterre. Semiotika untuk mengkaji tanda-tanda yang ada dalam mantra, Tri Sandhya, dapat dipahami makna dari mantra Tri Sandhya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mantra makna Tri Sandhya dan mantra transmisi Tri Sandhya pada remaja Hindu Bali di wilayah Malang saat ini.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"52 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"78721670","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-09-07DOI: 10.22146/POETIKA.V6I1.35713
M. A. Mabruri, Riesta Maulidya, Fitria Sugiatmi
{"title":"Pengaruh Aspek Sosio-Kultural Masyarakat Loloan terhadap Struktur dan Makna Syair Burdah Melayu di Bali","authors":"M. A. Mabruri, Riesta Maulidya, Fitria Sugiatmi","doi":"10.22146/POETIKA.V6I1.35713","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/POETIKA.V6I1.35713","url":null,"abstract":"Syair Burdah Melayu merupakan bentuk tradisi lisan yang saat ini masih terlestari. Syair Burdah Melayu tercipta karena terjadi akulturasi budaya masyarakat pendatang di Loloan, Bali. Perpaduan antara budaya pendatang membentuk absurditas dalam struktur Syair Burdah Melayu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna dan bentuk syair Burdah Melayu Loloan dengan aspek sosio-kultur yang mempengaruhinya. Masalah yang dianalisis adalah makna dan variasi bentuk pada syair Burdah Melayu. Teori yang digunakan adalah teori strukturalisme dinamik oleh Mukarovsky dan Vodicka dikombinasikan dengan teori semiotik oleh Charles Sander Pierce untuk menjelaskan makna dan bentuk syair Burdah Melayu yang dipengaruhi oleh sosio-kultur masyarakat Loloan Barat. Jenis penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan kata-kata untuk mendiskripsikan hasil analisis puisi. Dari hasil analisis diketahui bahwa bentuk Syair Burdah Melayu dipengaruhi oleh unsur budaya lain seperti Arab, Jawa, dan Melayu sehingga bentuk Syair ini seolah terpisah tapi sebenarnya satu kesatuan utuh.","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"25 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89265515","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Jurnal PoetikaPub Date : 2018-09-07DOI: 10.22146/POETIKA.35611
Haryomukti Sulistyo
{"title":"Representasi Konflik Politik 1965 dalam Cerpen Susuk Kekebalan karya Han Gagas","authors":"Haryomukti Sulistyo","doi":"10.22146/POETIKA.35611","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/POETIKA.35611","url":null,"abstract":"Cerpen Susuk Kekebalankarya Han Gagas merupakan salah satu cerpen dalam buku kumpulan cerpen Catatan Orang Gila. Cerpen tersebut menceritakankonflik politik 1965 dengan setingcerita di Ponorogo, Jawa Timur. Seperti halnya peristiwa bersejarah tersebut, Han Gagas menarasikan keterlibatan negara yang terepresentasikan dalam bentuk aparatusnya yaitutentarayang dibantu oleh masyarakat untuk menyerang tokohyang dianggap simpatisan Lekra, yaitu Warok Wulunggeni beserta pengikutnya sebagai representasi ideologi resisten terhadap hegemoni negara. Persoalan yang perlu dicermati berkaitan dengan bentuk representasi ideologi dominan sebagai cerminan hegemoni negara dalam cerpen, bentuk resistensi idologi resisten terhadap hegemoni negara dalam cerpen, danbentuk dominasi negara terhadap ideologi resisten yang tercermin dalam cerpen. Teori yang digunakan dalam tulisan ini adalah Negara dan Hegemoni Antonio Gramsci yang terdiri dari Hegemoni, Resistensi, Konsensus, dan Dominasi. Metode analisis tulisan ini dengan melihat persoalan tekstual dalam cerpen dan mengoperasikan vitur-vitur teori Antonio Gramsci yang berkaitan dengan perebutan momentumdan kekuasaan khususnya pada era 1965. Analisis tulisan ini menghasilkan; 1. Ideologi dominan sebagai representasi hegemoni negara dalam perebutan momentum yang terepresentasikan dalam cerpen tersebut adalah kelompok masyarakat anti-PKI yang dipimpin oleh Warok Wirodigdo dan seorang bapak bersenapan; 2. Bentuk resistensi ideologiresisten yang tercermin dalam cerpen tersebut yaitu perlawanan secara fisik oleh kelompok Warok Wulunggeni terhadap representasi negara yaitu massa yang dipimpin Warok Wirodigdo dan bapak bersenapan; 3. Dominasi negara terhadap kelompok resisten yaitupenumpasankelompok Warok Wulunggenisebagai tokoh Lekra. Kata kunci: susuk kekebalan, resistensi dan dominasi negara, konflik politik 1965","PeriodicalId":31482,"journal":{"name":"Jurnal Poetika","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-09-07","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41714511","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}