Okti Rachmawati, Purwantiningsih Sugita, Adi Santoso
{"title":"PENINGKATAN KUALITAS KAYU SAWIT DENGAN PERLAKUAN KOMPREGNASI MENGGUNAKAN TANIN RESORSINOL FORMALDEHIDA","authors":"Okti Rachmawati, Purwantiningsih Sugita, Adi Santoso","doi":"10.20886/JPHH.2018.36.3.181-190","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/JPHH.2018.36.3.181-190","url":null,"abstract":"Indonesia adalah salah satu negara penghasil minyak sawit terbesar di dunia. Ketersediaan batang sawit sebagai limbah dari proses panen akhir tanaman sawit sangat besar, murah dan dapat menjadi sumber kayu alternatif yang berkelanjutan untuk berbagai aplikasi jika dapat dimanfaatkan dengan baik. Kelemahan batang sawit adalah berat jenis, sifat fisis, dan mekanis tergolong rendah dibandingkan produk biomaterial lainnya seperti kayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan kualitas kayu sawit melalui teknik kompregnasi menggunakan campuran perekat tanin resorsinol formaldehida (TRF). Studi ini dilakukan dengan melaburkan permukaan sampel kayu sawit berukuran 5cm × 5cm × 2cm dengan campuran perekat TRF komposisi 1 : 0,05 : 0,05 (v/v/v) yang diikuti dengan perlakuan kempa dingin selama 10 menit pada tekanan 10 kg/cm 2 selanjutnya dilakukan kempa panas pada suhu 120ᵒC dengan tekanan 12 kg/cm 2 selama 10 menit. Pengujian dilakukan dengan penentuan kerapatan, kekerasan, pengembangan tebal, dan emisi formaldehida yang kemudian dibandingkan dengan kontrol kayu sawit tanpa perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu sawit hasil kompregnasi secara signifikan mampu meningkatkan kerapatan kayu sebesar 104,61%, kekerasan menjadi enam kali lebih besar, dan menurunkan pengembangan tebal sebesar 85,98%. Kayu sawit kompregnasi juga berhasil meningkatkan kelas kuat kayu V menjadi kelas kuat kayu III.","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"29 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85577218","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KARAKTERISTIK BIOPELET DARI LIMBAH PADAT KAYU PUTIH DAN GONDORUKEM","authors":"Sofia Mustamu, Dede Hermawan, G. Pari","doi":"10.20886/JPHH.2018.36.3.191-204","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/JPHH.2018.36.3.191-204","url":null,"abstract":"Biopelet adalah bahan bakar padat yang dihasilkan dari pengempaan biomassa menjadi sumber energi bakar alternatif. Limbah padatan kayu putih dan gondorukem berpotensi untuk biopelet. Kualitas pembakaran biopelet lebih baik dari pembakaran biomassa secara langsung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mempelajari ukuran serbuk dan suhu pengempaan yang optimal untuk menghasilkan biopelet berkualitas terbaik dan ramah lingkungan. Limbah padat kayu putih dan gondorukem dicampur dan dijadikan serbuk, dengan ukuran penyaringan 20 mesh, 40 mesh, 60 mesh, dan 80 mesh. Dari masing-masing ukuran serbuk dilakukan pencampuran sebanyak 30 g untuk dicetak dengan perbandingan 70% limbah padat kayu putih dan 30% gondorukem. Pencetakan biopelet dilakukan dengan menggunakan mesin kempa hidrolik bertekanan 526,48 kg/cm 2 dengan suhu pencetakan yang diinginkan antara lain 120, 150, 180, 200, 230, dan 260°C. Hasil penelitian menunjukan biopelet yang dibuat dari serbuk berukuran 40 mesh dan suhu pengempaan 230°C menghasilkan biopelet dengan kualitas terbaik. Sifat fisik biopelet yang dihasilkan dari ukuran serbuk 40 mesh dan suhu pencetakan 230°C yaitu kadar air 1,905% ; kadar abu 3,955%; kandungan zat terbang 72,189%; kadar karbon terikat 21,949%; nilai kalor 5097,5 kkal/kg; dan keteguhan tekan 53,746 kgf/cm 2 .","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"69 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"86913037","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Krisdianto Krisdianto, Esti Rini Satiti, Achmad Supriadi
{"title":"PERUBAHAN WARNA DAN LAPISAN FINISHING LIMA JENIS KAYU AKIBAT PENCUACAAN","authors":"Krisdianto Krisdianto, Esti Rini Satiti, Achmad Supriadi","doi":"10.20886/jphh.2018.36.3.205-218","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/jphh.2018.36.3.205-218","url":null,"abstract":"Peningkatan penggunaan produk kayu disebabkan karena warna alami kayu menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Namun demikian, untuk penggunaan di luar ruangan secara alami kayu mengalami penurunan kualitas diantaranya perubahan warna dan pengurangan lapisan finishing di permukaan kayu. Penelitian ini bertujuan mempelajari perubahan warna dan ketahanan lapisan finishing setelah satu tahun terpampang di luar ruangan. Lima jenis kayu kurang dikenal dari Riau diberi pelapis bahan finishing transparan menggunakan bahan finishing akrilik, enamel, poliuretan, ultran lasur ultra violet (UV), dan ultran politur P-03 UV sebelum dipaparkan di luar ruangan selama satu tahun. Perbedaan warna kayu diukur berdasarkan sistem CIELab dan ketahanan lapisan film finishing dianalisis secara digital menggunakan perangkat lunak ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan warna kayu berubah menjadi abu-abu pucat setelah terpapar cuaca di luar ruangan selama satu tahun. Perubahan warna sangat tinggi tercatat pada bulan pertama, dan sedang sampai kecil pada setiap bulan pengamatan selanjutnya. Permukaan kayu yang diberi bahan finishing lebih tahan terhadap pencuacaan daripada permukaan kayu alami tanpa bahan finishing . Bahan enamel (ET), lasur (LSR), dan P03 (PP) merupakan bahan finishing yang lebih baik dari bahan lainnya dalam hal perlindungan di luar ruangan. Hubungan antara penutupan bahan finishing dengan perubahan warna menunjukkan korelasi sedang, yaitu semakin luntur bahan finishing di permukaan kayu, maka perubahan warna semakin besar.","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"60 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-11-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"75069191","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"UJI COBA REKAYASA ALAT UKUR DIAMETER POHON DI HUTAN ALAM","authors":"W. Endom, Soenarno Soenarno","doi":"10.20886/JPHH.2018.36.2.101-112","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/JPHH.2018.36.2.101-112","url":null,"abstract":"Uji coba alat ukur diameter pohon ‘wesyano’ telah dilakukan pada tahun 2016. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi lima komponen alat ukur, yaitu roda ukur dan dudukannya, tongkat ukur teleskopik, dudukan as, lempeng penutup skala, bilah skala ukur, dan pengunci dudukan bilah skala ukur. Hasil evaluasi menunjukkan nilai bobot akurasi wesyano berkisar antara 0,98–0,99 dengan nilai bobot efisiensinya antara 1–4 kali lebih cepat dibandingkan pengukuran dengan pita ukur. Hasil validasi wesyano menunjukkan nilai keeratan hubungan tinggi terhadap pita ukur untuk satu kali pengukuran (r = 0,978) maupun untuk dua kali pengukuran (r = 0,982). Tidak ada perbedaan signifikan antara pengukuran wesyano dengan satu atau dua kali pengukuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alat ukur wesyano dapat dipakai sebagai alternatif pengganti pita ukur dan sangat berguna bagi kegiatan inventarisasi hutan yang masih memiliki pohon berdiameter cukup besar (≥ 50–100 cm) dan berbanir tinggi (≥ 1,8 m) dengan akurasi cukup tinggi, efisien, dan biaya murah.","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"90351277","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"STUDI FAKTOR PEMANFAATAN DAN LIMBAH PEMANENAN KAYU DI HUTAN ALAM PAPUA BARAT","authors":"Soenarno Soenarno, W. Endom, Sona Suhartana","doi":"10.20886/jphh.2018.36.2.67-84","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/jphh.2018.36.2.67-84","url":null,"abstract":"Pemanenan kayu mempunyai peranan penting dalam menentukan kualitas produksi kayu bulat. Dua hal penting dalam proses pemanenan kayu adalah faktor pemanfaatan dan limbah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran, bentuk, dan kondisi limbah pemanenan serta menghitung besarnya faktor pemanfatan kayu dan faktor residu akibat pemanenan kayu. Penelitian dilakukan di dua areal pengusahaan hutan alam di Kabupaten Wasior dan Nabire, Provinsi Papua Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor pemanfaatan kayu pada IUPHHK-HA yang menerapkan teknik Reduced Impact Logging (RIL) cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan IUPHHK-HA yang pemanenan kayunya masih dilakukan secara konvensional. Faktor pemanfaatan kayu berkisar antara 86,2 – 87,8% dengan rata-rata 86,9%, dan faktor residu berkisar 12,3 – 13,8% atau rata-rata 13,1%. Besarnya volume kayu yang dimanfaatkan rata-rata 4,578 m3/pohon dari potensi batang bebas cabang sebesar 5,293 m3/pohon. Volume limbah berkisar antara 0,548 – 0,664 m3/pohon atau rata-rata 0,564 m3/pohon. Secara umum, sebagian besar limbah penebangan berupa kayu yang cacat (65,1%), pecah (23,3%), dan paling rendah adalah limbah yang kondisinya masih baik (11,6%).","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"60 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85992993","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Dian Anggraini Indrawan, Novitri Hastuti, L. Efiyanti, G. Pari
{"title":"PEMANFAATAN TEKNOLOGI KERTAS NANO KARBON SEBAGAI PEMBUNGKUS WORTEL","authors":"Dian Anggraini Indrawan, Novitri Hastuti, L. Efiyanti, G. Pari","doi":"10.20886/jphh.2018.36.2.139-158","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/jphh.2018.36.2.139-158","url":null,"abstract":"Konsumsi kertas Indonesia, termasuk kertas bungkus makanan, diperkirakan meningkat di masa mendatang. Dikhawatirkan kemampuan produksi kertas bungkus domestik suatu saat tidak dapat mengatasi permintaan, karena potensi bahan baku serat berligno-selulosa konvensional (kayu hutan alam) semakin langka dan terbatas. Bahan serat alternatif yang potensinya berlimpah dan belum banyak dimanfaatkan perlu diujicoba, diantaranya bambu. Tujuan penelitian ini untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber serat alternatif melalui pembuatankertas bungkus dari serat bambu menggunakan teknologi nano karbon sebagai pelindung/pembungkus wortel. Percobaan pembuatan kertas bungkus berteknologi nano untuk wortel dilakukan menggunakan dua jenis serat bambu, yaitu tali (Gigantochloa apus) and ampel (Bambusa vulgaris) secara terpisah. Masing-masing jenis diolah menjadi pulp semi- kimia, lalu ditambahkan bahan aditif partikel arang aktif berukuran nano sebanyak 20% (b/b). Campuran (pulp bambu + arang aktif) dibentuk lembaran dengan target gramatur umum untuk kertas bungkus (60 gram/m2), lalu digunakan untuk membungkus wortel dan diuji sifat fisis-kekuatannya. Arang mengurangi penurunan berat wortel, sehingga berindikasi dapat lebih menjaga kesegaran dan nutrisinya. Kertas asal serat bambu ampel lebih berprospek untuk pengemasan (pembungkusan) wortel dibandingkan asal bambu tali, dalam menjaga kesegaran dan nutrisinya. Penggunaan kertas hasil percobaan untuk membungkus wortel masih lebih baik dibandingkan tanpa pembungkusan, karena dapat mempertahankan kesegaran dan nutrisinya.","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"89570140","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"EFEKTIVITAS BAHAN PENGISI KAYU PADA TIGA JENIS KAYU","authors":"J. Balfas, Efrida Basri, Adi Santoso","doi":"10.20886/jphh.2018.36.2.113-128","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/jphh.2018.36.2.113-128","url":null,"abstract":"Penggunaan wood filler adalah sangat penting dalam pekerjaan finishing kayu. Namun wood filler komersil yang tersedia di pasar dewasa ini umumnya terbuat dari resin yang menggunakan pelarut kimia, seperti poliuretan dan nitroselulosa. Produk ini mengandung bahan yang dapat melepas polutan, yang dapat merusak lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan. Dalam penelitian ini dilakukan eksplorasi penggunaan dan performa bahan wood filler alternatif dan komersial. Wood filler alternatif dalam penelitian ini dibuat dari campuran tepung dempul dengan resin organik yaitu sirlak, akrilik dan polivinil asetat. Performa wood filler alternatif diuji secara fisis, mekanis dan kimia pada kayu tusam, jabon dan karet, serta dibandingkan dengan performa bahan dempul komersial, yaitu nitroselulosa. Contoh uji ketiga jenis kayu dilabur dengan larutan wood filler kemudian dikeringkan. Perubahan berat dan dimensi contoh uji akibat laburan ditentukan pada kondisi basah dan kering. Ketahanan film wood filler terhadap pereaksi kimia dan pelarut diuji menurut prosedur ASTM. Ketahanan gores pada film wood filler diuji untuk mengetahui sifat mekanis dari formula wood filler . Kedekatan warna antar perlakuan wood filler dengan warna kayu kontrol dievaluasi dengan menggunakan prosedur Cielab. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan berat dan perubahan dimensi akibat laburan wood filler beragam menurut jenis kayu. Contoh kayu tusam mengalami perubahan berat dan dimensi lebih besar daripada kayu jabon dan karet. Semua formula dempul organik mampu melindungi kayu dari intrusi air, setara dengan wood filler komersial (WF). Formula wood filler organik memiliki ketahanan gores lebih tinggi, ketahan lebih rendah terhadap larutan kimia serta penampilan warna lebih baik daripada wood filler komersial (WF).","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"14 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"88822818","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"SIFAT PEMESINAN LIMA JENIS KAYU ASAL RIAU","authors":"Achmad Supriadi, A. Abdurachman","doi":"10.20886/jphh.2018.36.2.85-100","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/jphh.2018.36.2.85-100","url":null,"abstract":"Pemesinan kayu merupakan salah satu sifat pemanfaatan kayu yang perlu diketahui, terutama untuk jenis kayu kurang dikenal. Tulisan ini mempelajari studi sifat pemesinan beserta kemungkinan pemanfaatan lima jenis kayu yaitu punak (Tetramerista glabra Miq.), meranti bunga (Shorea teysmanniana Dryer ex Brandis), mempisang (Alphonsea spp.), suntai (Palaquium burckii H.J.L.) dan pasak linggo (Aglaia argentea Blume) dari Riau. Pengujian sifat pemesinan mengacu pada ASTM D-1666-64 yang dimodifikasi dengan jumlah sampel 20 buah untuk setiap jenis kayu untuk setiap sifat pemesinan yang meliputi penyerutan, pembentukan, pemboran, pembubutan, dan pengampelasan. Pengamatan dilakukan secara visual dengan bantuan kaca pembesar perbesaran 10 x. Hasil penelitian menunjukkan sifat penyerutan, pembentukan, pemboran, pembubutan dan pengampelasan kelima jenis kayu berbeda secara nyata dipengaruhi oleh jenis kayu. Mutu pemesinan kayu punak dan pasak linggo termasuk baik sampai sangat baik, kayu mempisang termasuk jelek sampai sangat baik, kayu suntai sedang sampai baik dan kayu meranti bunga jelek sampai baik. Hasil analisis regresi menunjukkan makin tinggi berat jenis kayu, semakin baik sifat pemesinannya. Kayu dengan hasil pemesinan baik sampai sangat baik dapat disarankan untuk diolah menjadi beragam produk pengerjaan. Kecuali pada kayu mempisang dan meranti bunga, memerlukan kehati-hatian dalam pengerjaannya terutama pemboran dan pembubutan.","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"7 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"84129634","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"KEMAMPUAN SEPULUH STRAIN JAMUR MELAPUKKAN EMPAT JENIS KAYU ASAL MANOKWARI","authors":"Djarwanto Djarwanto, Sihati Suprapti, F. Hutapea","doi":"10.20886/JPHH.2018.36.2.129-138","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/JPHH.2018.36.2.129-138","url":null,"abstract":"Kemampuan jamur melapukkan kayu bervariasi berdasarkan strain jamurnya. Tujuan penelitian ini mempelajari kemampuan sepuluh strain jamur pelapuk terhadap empat jenis kayu dari Manokwari. Contoh kayu yang diuji menggunakan metode Kolle flask mengacu pada SNI 7207: 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Chaetomium globosum dan Lentinus lepideus termasuk kelompok jamur yang memiliki kemampuan melapukkan kayu rendah, empat jenis jamur yaitu Schizophyllum commune, Trametes sp. HHBI-379, Trametes sp. HHBI-332, Phlebia brevispora berkemampuan sedang, adapun yang termasuk kelompok jamur berkemampuan melapukkan tinggi yaitu Polyporus arcularius, Polyporus sp., Pycnoporus sanguineus dan Tyromyces palustris. Kehilangan berat kayu tertinggi didapatkan pada kayu gubal Rhus taitensis yang diumpankan pada Polyporus sp., sedangkan kehilangan berat terendah tercatat pada kayu teras Haplolobus sp. yang diumpankan pada L. lepideus. Berdasarkan klasifikasi ketahanan kayu terhadap serangan jamur pelapuk, maka tiga jenis kayu yaitu Tetrameles nudiflora, Rhus taitensis, Pimeleodendron amboinicum termasuk kelompok kayu tidak-tahan (kelas IV), dan Haplolobus sp. termasuk kelompok kayu tahan terhadap jamur pelapuk (kelas II).","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"66 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"85045672","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Made Widiadnyana Wardiha, Rudi Setiadji Agustiningtyas, I. W. Avend Mahawan Sumawa
{"title":"EFEKTIVITAS PENGAWETAN BAMBU PETUNG DAN GEWANG MENGGUNAKAN BORON DAN CCB SECARA RENDAMAN DINGIN DAN BOUCHERIE YANG DIMODIFIKASI","authors":"Made Widiadnyana Wardiha, Rudi Setiadji Agustiningtyas, I. W. Avend Mahawan Sumawa","doi":"10.20886/jphh.2018.36.2.159-170","DOIUrl":"https://doi.org/10.20886/jphh.2018.36.2.159-170","url":null,"abstract":"","PeriodicalId":32771,"journal":{"name":"Jurnal Penelitian Hasil Hutan Journal of Forest Products Research","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-07-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"88699975","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}