Sri Murtini, D. A. Rotinsulu, Yusuf Ridwan, Denny Widya Lukman, A. Zahid, Ardilasunu Wicaksono, Usamah Afiff, Asah Hilaliah, Risqika Akla Velayati, Etih Sudarnika, K. Santoso, Agustina Wijaya
{"title":"Seroprevalensi Rabies Pascavaksinasi pada Populasi Anjing di Kawasan Endemik Rabies di Kabupaten Sukabumi","authors":"Sri Murtini, D. A. Rotinsulu, Yusuf Ridwan, Denny Widya Lukman, A. Zahid, Ardilasunu Wicaksono, Usamah Afiff, Asah Hilaliah, Risqika Akla Velayati, Etih Sudarnika, K. Santoso, Agustina Wijaya","doi":"10.29244/avi.10.1.87-95","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.10.1.87-95","url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi hasil vaksinasi rabies dan membandingkan kenaikan titer antibodi yang terbentuk di Kecamatan Cisolok dan Jampang Tengah sebagai Kawasan endemik rabies Kabupaten Sukabumi dan mengasosiasikan titer antibodi yang terbentuk dengan umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan anjing yang diperiksa . Sebanyak 211 anjing diamati pada studi ini. Sampel serum prevaksinasi dan pascavaksinasi diambil dan selanjutnya diuji dengan uji ELISA tidak langsung untuk mengetahui titer antibodinya. Data titer antibodi dari masing-masing sampel dianalisis secara deskriptif, sedangkan asosiasi umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan dengan titer antibodi yang terbentuk pascavaksinasi dihitung menggunakan uji chi-square. Hasil pengujian menunjukkan seroprevalensi rabies di Kecamatan Cisolok dan Jampang Tengah sebelum vaksinasi adalah 17,3% dan 2,6% dengan titer 0,58 EU/mL dan 0,55 EU/mL, sedangkan seroprevalensi setelah vaksinasi menjadi 62,5% dan 93% dengan titer 1,29 EU/mL dan 1,33 EU/mL. Variabel umur, jenis kelamin, dan cara pemeliharaan tidak berasosiasi nyata dengan peningkatan titer antibodi rabies setelah vaksinasi. Hasil studi menyimpulkan bahwa seroprevalensi rabies di kawasan endemik rabies di Kabupaten Sukabumi meningkat setelah dilakukan vaksinasi dari sebelumnya 11% menjadi 75,8%, dengan nilai peningkatan titer (Δ titer) sebesar 1,09 EU/mL.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"44103619","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Efek Ekstrak Fraksi Etil Asetat Daun Pelawan pada Kinerja Ovarium Tikus Pascamelahirkan","authors":"Yusfiati, Wasmen Manalu, Hera Maheshwari, Andriyanto","doi":"10.29244/avi.10.1.8-22","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.10.1.8-22","url":null,"abstract":"Daun Pelawan memiliki kandungan flavonoid dan steroid yang dapat mempengaruhi sistem reproduksi betina. Penelitian ini bertujuan mengkaji efektivitas ekstrak fraksi etil asetat Pelawan pada fisiologis ovarium tikus pacamelahirkan berdasarkan pada prediksi jumlah anak, bobot anak, kadar estrogen, dan bobot ovarium. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan pola faktorial. Perlakuan dibagi menjadi perlakuan tikus yang melahirkan sekali dan melahirkan dua kali. Tiap perlakuan terdiri atas kontrol tanpa ekstrak pelawan, tikus diberikan ekstrak pelawan dengan dosis 50 mg/kg BB, 100 mg/kg BB, dan 150 mg/kg BB secara peroral. Hasil penelitian menunjukkan jumlah anak dan bobot anak pada induk melahirkan dua kali mengalami peningkatan pada dosis 50 mg. Jumlah anak dan bobot anak pada induk melahirkan sekali mengalami penurunan pada dosis 100 mg. Konsentrasi estrogen pada semua perlakuan mengalami penurunan di hari ke-3 dan meningkat di hari ke-5. Konsentrasi estrogen pada dosis 100 mg memiliki kadar tertinggi dibandingkan dosis 50 mg dan 150 mg. Bobot ovarium mengalami penurunan di hari ke-3 dan meningkat di hari ke-5. Induk melahirkan dua kali dengan dosis 100 mg mengalami peningkatan bobot ovarium dibandingkan dengan dosis lain. Senyawa bioaktif ekstrak Pelawan mempengaruhi jumlah anak, bobot anak, kadar estrogen, dan bobot ovarium. Diduga, senyawa antioksidan pada ekstrak mempengaruhi kinerja hormon pertumbuhan dan faktor pertumbuhan untuk menghasilkan LH dan FSH di kelenjar pituitari.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47275994","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Gambaran Kesejahteraan Musang Luwak Tangkar (Paradoxurus hermaphroditus) Penghasil Biji Kopi Luwak Pegunungan Malabar, Jawa Barat","authors":"Dinda Purnomo Putri, N. Mayasari, Andi Hiroyuki","doi":"10.29244/avi.10.1.58-70","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.10.1.58-70","url":null,"abstract":"Musang luwak (Paradoxurus hermaphroditus) merupakan salah satu jenis mamalia kecil seukuran kucing (cat-sized mammals) yang hidup di Asia Selatan dan Tenggara. Di Indonesia, musang jenis luwak kerap dimanfaatkan sebagai hewan untuk produksi biji kopi luwak. Dalam praktiknya, produksi biji kopi luwak ini sering ditemukan pelanggaran kesejahteraan hewan terhadap musang luwak sebagai hewan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas pemeliharaan musang luwak pada salah satu penangkaran yang berlokasi di daerah Pegunungan Malabar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Variabel yang diamati meliputi tingkat kesejahteraan musang luwak serta manajemen pemeliharaan dan pengelolaan yang diterapkan di penangkaran. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi tidak langsung, pengisian daftar pertanyaan campuran (tipe tertutup dan tipe terbuka), pengisian checklist serta studi literatur. Selanjutnya, data yang diperoleh diolah dan disajikan secara deskriptif dengan kategori penilaian akhir meliputi buruk (skor 1) hingga memuaskan (skor 5). Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai 88.7 dari peneliti dan 100 dari pengelola, dengan angka rata-rata sebesar 94.35. Skor yang diperoleh diklasifikasikan ke dalam kategori ‘Sangat Baik’. Meski demikian masih terdapat beberapa catatan yang perlu diperhatikan untuk menyempurnakan implementasi praktik kesrawan bagi satwa di penangkaran, terutama hal-hal yang berkaitan dengan aspek bebas dari rasa sakit, cedera, dan penyakit serta aspek bebas dari rasa takut dan tertekan.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48362169","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Dhea Ardhina Krisdamaiyanti, Elok Budi Retnani, Ridi Arif
{"title":"Meta-Analisis: Kuantifikasi Efektivitas Antelmintik Herbal pada Pengujian In Vivo","authors":"Dhea Ardhina Krisdamaiyanti, Elok Budi Retnani, Ridi Arif","doi":"10.29244/avi.10.1.96-102","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.10.1.96-102","url":null,"abstract":"Pemberian terapi obat pada ternak seringkali diberikan secara kurang tepat. Salah satunya adalah kebiasaan dalam pemberian antelmintik yang diberikan terlalu sering, tidak tepat dosis, dan menggunakan satu jenis antelmintik sintetik yang sama dalam jangka waktu yang panjang. Kebiasaan tersebut memunculkan permasalahan baru yaitu mempercepat terjadinya resistansi. Permasalahan ini telah dihadapi secara global sehingga dilakukan banyak penelitian untuk mencari solusi alternatif dalam mencegah terjadinya resistansi. Pemanfaatan tanaman herbal dapat digunakan sebagai alternatif untuk menggantikan antelmintik sintetik. Melalui metode meta-analisis, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan keefektifan dari dua jenis antelmintik ini. Metode diawali dengan pengumpulan data studi primer menggunakan database yang terdapat di ScienceDirect, Pubmed, ReasearchGate, Academia.edu, dan CABI pada rentang tahun 2007-2020. Data diseleksi dan dianalisis dengan melihat effect size sebagai indikator perbandingan efektivitas antelmintik sintetik dan antelmintik herbal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antelmintik sintetik lebih efektif dengan effect size -2,90 ± 0,27, sedangkan antelmintik herbal -1,72 ± 0,28. Hal ini dikarenakan senyawa aktif dalam ekstrak herbal memiliki nilai afinitas ikatan yang lebih rendah. Senyawa herbal terbukti efektif sebagai antelmintika namun efeknya tidak sekuat antelmintika sintetik. Faktor metode ekstraksi bahan herbal dan interaksi senyawa herbal dalam campuran tanaman yang berbeda diduga menjadi faktor yang membuat efek kerja bahan herbal tidak sekuat antelmintika sintetik.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2022-03-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"43225290","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
G. A. Y. Kencana, I. N. Suartha, I. M. Kardena, K. Agustina
{"title":"Seroprevalence and detection of H5N1 avian influenza virus in local chickens in Tabanan Regency, Bali, Indonesia","authors":"G. A. Y. Kencana, I. N. Suartha, I. M. Kardena, K. Agustina","doi":"10.29244/avi.9.3.223-229","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.9.3.223-229","url":null,"abstract":"Aim: Avian Influenza (AI) is a zoonotic disease that causes death in poultry and humans. Monitoring the virus needs to be carried out continuously to prevent outbreaks of the disease. Seroprevalence and detection of H5N1 and H9N2 AI virus antigen were intended to monitor the presence of viruses in local chickens in Tabanan, a Regency of the Indonesian island Province of Bali. The research aims were to detect the presence of H5N1 AI virus, and to know the distribution of this virus in Tabanan Regency. Materials and Methods: Research located in six districts of Tabanan regency namely Baturiti, Penebel, Marga, Kediri, Tabanan, and Kerambitan. A total of 1,398 local chickens that never been vaccinated with AI were randomly sampled in this study. The samples collected were serum, cloacal and tracheal swabs. Serum samples were tested with hemagglutination inhibition (HI) assay. While samples of cloacal and tracheal swabs were isolated in 9-day-old germinated chicken eggs, followed by hemagglutination assay and RT-PCR test using H5N1 and H9N2 primers. Results: AI seroprevalence in local chickens in Tabanan Regency was 1% with the distribution in each district as follows; Penebel 1.6%, Kerambitan 1.2%, Marga 1%, while Tabanan, Kediri, and Baturiti 0.7% each. H5N1 AI virus was detected in 11 samples, i.e. five in Marga district and three in Penebel district, two in Kediri, and one in Tabanan, while the H9N2 AI virus was not detected. Conclusion: These results indicate that H5N1 AI virus may still circulate in local chickens in Tabanan Regency, Bali.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42863294","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Agus Purnomo, Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, Faisal Fikri
{"title":"Sediaan topikal ekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan l.) terhadap kepadatan kolagen tikus albino dengan luka insisi","authors":"Agus Purnomo, Muhammad Thohawi Elziyad Purnama, Faisal Fikri","doi":"10.29244/avi.9.3.195-200","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.9.3.195-200","url":null,"abstract":"Abstrak \u0000Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi khasiat sediaan topikalekstrak etanol kayu secang (Caesalpinia sappan L.) padakepadatan kolagen tikus albino dengan luka insisi. Sebanyak 20 ekor tikus albino jantan dibagi secara acak menjadi lima kelompokdengan masing-masing empat ulangan,yakni(K-) diberi basis salep, (K+) diberi povidone iodine 10%, (P1, P2, P3) diberi salep ekstrak kayu secang konsentrasi 6,5%, 15%, dan 30%. Luka insisi dilakukan sepanjang 1 cm pada daerah dorsal. Terapidiberikan pada luka sekali dalam sehari selama 14hari. Jaringan kulit dipreservasi dan diperiksa dengan pewarnaan rutin Hematoksilin Eosin (HE). Data didapat dengan cara skoring laludianalisisdengan uji Kruskal-Wallisdilanjutkan dengan uji Mann-Whitney(p<0,05).Hasil kepadatan kolagen padaP1 menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) denganK-, K+, P2, dan P3.Sementara itu tidak ada perbedaan signifikan (p>0,05) antara K-, K+, P2 dan P3. Dapat disimpulkan bahwa konsentrasi ekstrak etanol kayu secang6,5% dapat meningkatkan rata-rata kepadatan kolagen tikus albino dengan luka insisi. \u0000Kata kunci: kayu secang, kolagen, luka insisi","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"42118546","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ULASAN SARANG BURUNG WALET SEBAGAI PANGAN FUNGSIONAL","authors":"Dede Sri Wahyuni","doi":"10.29244/avi.9.3.201-214","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.9.3.201-214","url":null,"abstract":"Sarang burung walet (SBW) merupakan sarang yang berasal dari saliva beberapa spesies burung walet keluarga Apodidae, terutama spesies Aerodramus fuciphagus dan A. maximus. Indonesia merupakan negara penghasil SBW terbesar dengan menyumbang 85% dari pasar dunia. Sarang burung walet sejak lama telah digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok. Komponen utama dari SBW adalah glikoprotein, yang diyakini terlibat dalam jalur biologis yang beragam untuk meningkatkan kesehatan. Berbagai metode penelitian telah dilakukan untuk mengkarakterisasi peptida dan glikoprotein SBW sebagai bahan bioaktif makanan fungsional. Ulasan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai potensi SBW sebagai produk makanan fungsional berdasarkan kandungan bahan bioaktif dan sifat fisikokimia yang dimilikinya. Sarang burung walet digunakan sebagai bahan makanan, baik dengan menyajikan dalam bentuk utama atau menggabungkan dengan bahan lain yang meningkatkan nilai tambah produk pangan seperti minuman siap saji, yoghurt, roti daging, es krim, mie dan cokelat. Potensi komponen bioaktif SBW sebagai pangan fungsional meliputi klaim penurunan risiko penyakit dan klaim fungsi lain. Klaim penurunan risiko penyakit antara lain anti inflamasi, aktifitas antivirus, meningkatkan kesehatan jantung dan pembuluh darah, meningkatkan imunitas, efek neuroprotektif, dan mencegah penyakit diabetes. Klaim fungsi lain meliputi ploriferasi sel, aktifitas epidermal growth factor (EGF) dan anti penuaan, memperbaiki fungsi saluran pencernaan, peningkatan kekuatan tulang, meningkatkan fungsi saluran reproduksi, dan antioksidan.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47730622","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Prevalensi Kecacingan pada Anjing dan Kucing di Klinik Smilevet Kelapa Gading Periode Januari 2020 - Januari 2021","authors":"Maria Natasya, Ridi Arif, Risa Tiuria, Didit Triatmojo, Aurilia Hemas Adytia Wardaningrum","doi":"10.29244/avi.9.3.215-222","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.9.3.215-222","url":null,"abstract":"Anjing dan kucing merupakan hewan yang hidup berdampingan dengan manusia sebagai hewan peliharaan. Infeksi parasit cacing merupakan masalah yang umum pada hewan peliharaan namun data tentang prevalensi kejadian kecacingan di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor risiko kecacingan pada anjing dan kucing serta tindakan preventif untuk mencegah infeksi parasit cacing. Pengambilan data dilakukan dengan merekap rekam medik yang ada di klinik Smilevet Kelapa Gading pada Januari 2020 – Januari 2021. Seluruh data rekam medik di klinik Smilevet Kelapa Gading periode Januari 2020 – Januari 2021 berjumlah 2.259 yang terdiri atas 976 pasien anjing dan 1.283 pasien kucing. Total kasus kecacingan pada anjing dan kucing berjumlah 18 kasus. Data dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Prevalensi kecacingan pada anjing dan kucing di klinik Smilevet Kelapa Gading pada Januari 2020 – Januari 2021 kurang dari 1%. Spesies cacing yang teridentifikasi pada pasien kucing adalah Toxocara cati. Faktor risiko kejadian kecacingan pada anjing dan kucing dipengaruhi oleh jenis kelamin, breed, dan umur. Antelmintika yang banyak digunakan memiliki zat aktif febantel, praziquantel, dan pirantel embonate. Pemberian antelmintika secara rutin menjadi tindakan preventif untuk mencegah kejadian kecacingan pada anjing dan kucing \u0000 \u0000Kata kunci: anjing, antelmintik, helmithiasis, kucing, faktor risiko","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"47623224","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Tanjung Penataseputro, Dewi Ratih Agungpriyono, E. Handharyani, Bambang Widyo Prastowo
{"title":"Evaluasi Tingkat Kejenuhan Ammonium Sulfat pada Pemurnian Gama Imunoglobulin anti-Aeromonas hydrophila Poliklonal untuk Uji Imunohistokimia","authors":"Tanjung Penataseputro, Dewi Ratih Agungpriyono, E. Handharyani, Bambang Widyo Prastowo","doi":"10.29244/avi.9.3.187-194","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.9.3.187-194","url":null,"abstract":"Prinsip interaksi antigen-antibodi menyebabkan antibodi banyak diproduksi untuk dimanfaatkan dalam mendeteksi penyakit dengan uji immunoassay. Antibodi yang diperoleh dari serum darah kelinci biasanya masih tercampur oleh berbagai macam protein darah sehingga perlu dilakukan pemurnian. Pemurnian antibodi dari serum umumnya menggunakan ammonium sulfat (Suhito, 2016). Penelitian ini memvariasikan tingkat kejenuhan ammonium sulfat untuk memberikan informasi yang optimal dalam presipitasi gama imunoglobulin (IgG). Hasil penelitian ini menyimpulkan imunisasi ulang (boosting) sangat baik untuk dilakukan dalam pembuatan antibodi dan antibodi dapat dimurnikan secara optimum menggunakan ammonium sulfat dengan kejenuhan 35-42% untuk dilanjutkan proses dialisis. Antibodi yang dihasilkan mampu mendeteksi antigen dan toksin dari A. hydrophila dan dapat diaplikasikan pada uji imunohistokimia.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"41853491","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Devi Yanti Sari, Herwin Pisestyani, Denny Widaya Lukman
{"title":"Escherichia coli O157:H7 Resistan Antibiotik Pada Daging Kebab yang Dijual di Sekitar Kampus IPB Dramaga Bogor","authors":"Devi Yanti Sari, Herwin Pisestyani, Denny Widaya Lukman","doi":"10.29244/avi.9.3.179-186","DOIUrl":"https://doi.org/10.29244/avi.9.3.179-186","url":null,"abstract":"Kebab merupakan salah satu makanan siap saji atau ready to eat (RTE) yang populer di seluruh dunia. Escherichia coli (E. coli) O157:H7 banyak dihubungkan dengan kejadian outbreak foodborne disease pada kebab. Kontaminasi E. coli O157:H7 resistan antibiotik pada kebab dapat menimbulkan masalah kesehatan serius. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi E. coli O157:H7 resistan antibiotik yang diisolasi dari daging kebab yang dijual di sekitar Kampus IPB Dramaga Bogor. Total 43 sampel daging kebab diambil dari seluruh pedagang kebab di sekitar Kampus IPB Dramaga dalam radius 2 km dari batas terluar Kampus. Isolasi dan identifikasi E. coli mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) 2897:2008 dari Badan Standardisasi Nasional tentang Metode Pengujian Cemaran Mikroba dalam Daging, Telur, dan Susu, serta Hasil Olahannya. Uji serotyping E. coli O157:H7 menggunakan uji Serologis. Uji resistansi E. coli O157:H7 mengacu pada standar Clinical Laboratory Standards Institute (CLSI) dan dilakukan terhadap 10 jenis antibiotik menggunakan metode Kirby-Bauer disk diffusion. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan enam isolat positif E. coli O157:H7 (31.6%; 6/19) yang resistan terhadap ampisilin, amoksisilin-asam klavulanat, sefotaksim, gentamisin, siprofloksasin, enrofloksasin, kolistin sulfat dengan satu isolat termasuk multidrug resistant (MDR). Semua isolat E. coli O157:H7 masih sensitif terhadap trimethoprim-sulfametoksasol, oksitetrasiklin, dan kloramfenikol.","PeriodicalId":31694,"journal":{"name":"Acta Veterinaria Indonesiana","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"48165635","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}