{"title":"Pengalaman Komunikasi Kelompok KLa Project dan Eksistensinya Selama 32 Tahun","authors":"Nur Desilawati","doi":"10.24036/musikolastika.v3i2.67","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i2.67","url":null,"abstract":"The 1990s are considered a major force on fashion, music and screens. At that time, in Indonesia various bands were born, developed and reached a golden age. One of them is the KLa Project, which is still surviving until the age of 32. This study aims to determine the experience of group communication in the KLa Project band in an effort to maintain their existence for 32 years in the Indonesian Music scene. The method used is qualitative with a phenomenological approach. The research subjects consisted of the main research subjects, namely KLa Project personnel, namely Ignatius Bagaskoro Katon, Romulo Radjadin, Adi Adrian and Ahmad Ari Suharto. Supporting research subjects were also taken in this study, namely the crew and management of the KLa Project, as well as several other fellow musicians who are related to the KLa Project. The results show that communication between personnel in the KLa Project music group or band is the most important and fundamental thing. The group communication is also dynamic and there is a change in communication patterns during the early formation and journey of the KLa Project, namely from 1986-1987 to 2000, with the communication situation between personnel in 2001.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"124 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131367023","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
S. Sapriadi, Chamil Arkhasa Nikko Mazlan, A. Ramli
{"title":"Proses Awal dalam Penghasilan Komposisi “Kelampan Bajang” dengan Mengadaptasi Struktur Musik Pop Suku Sasak Lombok","authors":"S. Sapriadi, Chamil Arkhasa Nikko Mazlan, A. Ramli","doi":"10.24036/musikolastika.v3i2.68","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i2.68","url":null,"abstract":"The musical composition, entitled Kelampan Bajang, is the main narrative of the composition theme about the story of the journey of the young Sasak tribe which is semiotically depicted in three different times, namely morning, afternoon, and night. This composition emerged due to several phenomena found, including 1) there are no complete Sasak songs in transcripts and arrangements, 2) many musicians arrange songs in Sasak but often cause controversy in lyrics and music, 3) many talented young musicians cover repeating noname songs on several songs performed by many pop singers in Lombok, 4) many sasak pop songs but most of them do not represent local culture in terms of lyrics and music. This paper aims to explain the initial process of musical composition with the theme Kelampan Bajang including 1) Bekuliq, 2) Bekayaq, 3) Matur Tampiasih, 4) Sepi Alam Dese, 5) Lalo Midang, and 6) Merariq. All song lyrics are written in the Sasak language. The research uses the autoethnographic method to discuss the problem, how the idea of creating musical compositions can be aligned with the diversity of musical culture in Lombok. After conducting an in-depth study, the author concluded that in order to create a compositional work that could represent regional culture and not cause controversy among the public, namely 1) the author inserted an exploration of the pelog and slendro melodic motifs in the vocal melody section as regional identity, 2) the author inserted the motif the melodies of pelog and slendro in the musical arrangement section, and 3) the author uses good and correct local language lyrics that are in accordance with the regional culture in Lombok.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"24 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-17","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123904295","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Video Interaktif Materi Tangga Nada Sebagai Media Pembelajaran di Era Pandemi Covid-19","authors":"Arta Mulya Budi, Heni Siswantari","doi":"10.24036/musikolastika.v3i1.58","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i1.58","url":null,"abstract":"Pada era pandemi Covid-19 ini, pemanfaatan teknologi memiliki dampak baik bagi peserta didik sekolah dasar maupun guru. Pembelajaran pada era pandemi mengalami beberapa perubahan yang salah satunya adalah pembelajaran daring atau online. Pemanfaatan teknologi berupa media video interaktif pembelajaran dapat mempermudah peserta didik untuk memahami materi yang diajarkan meskipun tidak melakukan pembelajaran di dalam kelas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subyek peserta didik kelas V sekolah dasar. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik angket dan observasi. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui penerapan media video interaktif kedalam pembelajaran SBdP secara online selama pandemi berlangsung. Hasil akhir pada penelitian ini adalah media video interaktif yang dijalankan sesuai dengan prosedur penggunaan dapat diterapkan dengan baik dalam pembelajaran SBdP di era pandemi Covid-19.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"85 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"122550287","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Apresiasi Lintas Genre Musik Indonesia Melalui Synchronize Festival","authors":"Dadang Dwi Septiyan","doi":"10.24036/musikolastika.v3i1.57","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i1.57","url":null,"abstract":"Synchronize Festival merupakan festival musik multi-genre tahunan berskala nasional yang mengundang puluhan ribu audiens untuk merayakan keberagaman jenis musik hidup di lima panggung selama tiga hari, tiga malam, menikmati suguhan 100-an pertunjukan terkurasi dari artis-artis terbaik tanah air yang datang dari dekade 1970-an, 1980-an, 1990-an hingga 2000-an. Melihat popularitas Synchronize Festival yang digandrungi oleh penikmat musik lintas genre di Indonesia, maka penelitian ini bertujuan untuk memberikan informasi deskriptif tentang kontribusi yang diberikan Synchronize Festival terhadap pendidikan apresiasi musik lintas genre musik. Hasil penelitan menunjukan bahwa, Synchronize Festival dapat meng-capture industri musik tanah air dan berupaya memfasilitasi seluruh genre musik, termasuk musik-musik yang dianggap “norak”. Salah satu karakter Synchronize Festival yaitu mengundang musik-musik yang kesannya sudah tertinggal kemudian dikenalkan kembali kepada penonton, yang pada akhirnya mengedukasi penonton yang sebelumnya tidak mengetahui menjadi banyak pengetahuan baru yang didapat setelah hadir dalam Synchronize Festival.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"7 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133657011","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Kreativitas Guru dalam Pembelajaran Karawitan Jawa","authors":"Christina Dwi Hartanti","doi":"10.24036/musikolastika.v3i1.60","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i1.60","url":null,"abstract":"Karawitan Jawa (Javanese Gamelan Orchestra) masih diminati sebagian orang Jawa. Dari perspektif pendidikan musik, orang-orang Jawa tidak mengalami banyak kesulitan dalam bermain gamelan sebab musik tersebut sudah menjadi bagian dari tradisi mereka. Namun tidak demikian bagi mereka yang tidak terbiasa dengan musik Jawa, terutama jika dikaitkan dengan istilah-istilah Jawa itu sendiri. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kata/istilah dalam gamelan Jawa tidak hanya berhenti pada makna, tetapi lebih dari itu menjadi stimulus, sedemikian rupa, sehingga pembelajar/pemain gamelan merespons stimulus tersebut menjadi perilaku musikal. Penelitian ini berada dalam ranah konseptual dengan beberapa pendekatan psikologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa, antusiasme akan mendorong pembelajar untuk mendalami karawitan dengan lebih dalam, terutama nilai-nilai yang terkandung di dalam kesenian Jawa tersebut (behind the text) seperti nilai filosofis, sosial, kebijakan lokal, norma kemanusiaan, nilai keugaharian, nilai kerohanian, dan terutama untuk memperoleh ‘roso’ yang merupakan ‘roh’ dari estetika Karawitan Jawa.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-24","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129064193","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Dialektika Musik Tradisi atas Musik Modern pada Musik Hybrid di Keraton Yogyakarta","authors":"Michael Hari Sasongko, S. Supriyadi","doi":"10.24036/musikolastika.v3i1.59","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i1.59","url":null,"abstract":"Pemikiran modern bersifat anti-tradisi,akan tetapi di dalam musik Mars Tradisional Keraton Yogyakarta bertemu dan berdialektika dengan musik Barat (yang melahirkan pemikiran modern sejak Renaisans. Melalui metode dialektika ala Hegel yang dikembangkan Arato Gebhardt, pertemuan ini menghasilkan sintesis, yakni lagu hybridKeraton, baik instrumen maupun tangga nada dimana kedua unsur kebudayaan hadir bersamaan dalam sebuah pertunjukan musik. Dialektika ini pada hakikatnya adalah“rekonsiliasi”. Fenomena inimerupakan perjuangan atas \"kesetaraan kekuasaan\" sebagai strategi kebudayaan dalam menghadapi dominasi penjajah. Dominasi penjajah ini meliputi segala aspek dari ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, dan sebagainya, yang membuat bangsa Indonesia (Boemi Poetera) tidak dapat bergerak.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"11 8 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123642170","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Makna Semiotik Kesenian Buncis Angklung bagi Masyarakat Desa Tanggeran di Banyumas","authors":"Rifiana Abdul Razzak","doi":"10.24036/musikolastika.v3i1.64","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i1.64","url":null,"abstract":"Seni dikatakan sebagai sebuah ekspresi manusia yang bersifat estetis dalam kehidupan masyarakat memiliki makna semiotik yang beragam. Buncis Angklung merupakan kesenian tradisional yang memiliki keterkaitan sejarah dengan Desa Tanggeran dan memiliki makna semiotik bagi masyarakatnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui, menjelaskan, dan mendeskripsikan perwujudan makna semiotik kesenian Buncis Angklung yang berasal dari Desa Tanggeran Kecamatan Somagede Kabupaten Banyumas. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif dan pendekatan interdisipliner. Pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara, dan studi dokumen. Analisis data seni dilakukan pada aspek intra dan ekstraestetik. Hasil penelitian menunjukan bahwa: (1) Kesenian Buncis Angklung memiliki rangkaian tahapan pertunjukan, yaitu tahap sebelum pertunjukan, saat pertunjukan, dan setelah pertunjukan. Pertunjukannya berupa tarian yang penarinya memainkan angklung sebagai iringan tarinya. (2) Dalam teks pertunjukan Buncis Angklung ditemukan adanya makna religius dan makna relasi.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"31 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115929046","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analisis Musik Iringan Lagu Aneuk Yatim Ciptaan Rafly Kande","authors":"Haria Nanda Pratama, Abdul Rozak, Rico Gusmanto","doi":"10.24036/musikolastika.v3i1.66","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v3i1.66","url":null,"abstract":"Lagu Aneuk Yatim merupakan karya musik bergenre pop ciptaan Rafly pada tahun 1999 yang menceritakan tentang keadaan sosial kehidupan anak-anak di Aceh terkait peristiwa konflik dan tsunami di tahun 2004, dan mencapai puncak popularitasnya baik secara lokal maupun nasional. Lagu Aneuk Yatim memiliki penggunaan instrumen dan harmoni iringan yang khas dalam kalimat lagu dengan harmoni iringan dan tangganada konvensional (background harmony). Hal tersebut menjadi rangkaian pendukung melodi yang dimainkan untuk menciptakan kesan dan pesan pada lagu. Penelitian ini mencoba untuk menguraikan dan mengidentifikasi penggunaan instrumen musik dan harmoni iringan pada lagu Aneuk Yatim, yang nantinya bisa dijadikan rujukan bagi peneliti dalam menganalisis karya musik lagu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Selanjutnya, pendekatan yang dilakukan untuk mempermudah pencarian data dilakukan dengan etik dan emik agar tercapainya kelancaran dalam proses pencarian sampai dengan pengelolaan data untuk mengindentifikasi penggunaan instrumen musik dan harmoni iringan pada lagu Aneuk Yatim. Metodologi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah pengumpulan data yang terkait subjek maupun objek dengan cara berinteraksi langsung melalui dokumentasi, observasi, dan wawancara dengan partisipan. Penggunaan instrumen dalam lagu Aneuk Yatim terdiri dari accoustic guitar, keyboard, electric bass, dan drum set. Instrumen acoustic guitar, keyboard, dan electric bass merupakan instrumen melodis dan instrumen harmonis yang digunakan sebagai instrumen dalam memainkan melodi pada interlude, serta instrumen harmonis yang memainkan akor sebagai iringan pada melodi pokok. Harmoni iringan dan tangganada pada lagu Aneuk Yatim ini, seperti tangganada minor asli maupun minor harmonis, serta harmoni yang dipakai seperti akor I-IV-V (G-C-D","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"15 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133492882","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Paradigma Pendidikan Seni Melalui Ideologi Liberal dan Ideologi Konservatif dalam menghadapi Era Revolusi Industri 4.0","authors":"R. Kapoyos","doi":"10.24036/musikolastika.v2i1.38","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v2i1.38","url":null,"abstract":"Landasan paradigma pendidikan adalah unsur dari kebudayaan bangsa. Melalui ideologi liberal pendidikan seni akan memberi ruang pada individu untuk mengembangkan kepercayaan diri dengan kebebasan yang dimiliki. Pendekatan pendidikan dalam seni melalui paham konservativisme lebih kepada perlunya melestarikan dan meneruskan keyakinan dan praktik seni yang sudah mapan. Sedangkan pendidikan multikultural berfungsi sebagai penguatan karakter individu agar mampu bersikap humanis, demokratis, dan pluralis. Sudut pandang pendidikan seni melalui ideologi liberal dan konservatif bermakna bahwa pendidikan seni mengarah kepada dua hal, yaitu sebagai media pendidikan ekspresif artistik dan sebagai apresiatif estetis. Pada hakekatnya pendidikan seni memiliki subtansi sebagai pendidikan kreatif dan pendidikan estetika yang berfungsi sebagai media dalam upaya pengembangan kreativitas budaya. Sehingga dengan sendirinya subtansi pendidikan seni secara langsung sebagai perwujudan nilai karakter subjek didik. Dengan metode pembelajaran melalui pendidikan seni, pendidik harus berfungsi sebagai agen pembaharuan yang berperan sebagai komunikator dan berfungsi sebagai pelayanan yang dilandasi olah rasa, profesional dan selalu memiliki kesadaran akan tanggung jawab serta berfungsi sebagai narasumber yang terpercaya.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"65 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127451937","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Perubahan Budaya Musik Di Tengah Pandemi Covid-19","authors":"Dadang Dwi Septiyan","doi":"10.24036/musikolastika.v2i1.37","DOIUrl":"https://doi.org/10.24036/musikolastika.v2i1.37","url":null,"abstract":"Perubahan budaya memerlukan waktu lama dan rentetan-rentetan perubahan kecil yang saling mengikuti dengan lambat dinamakan evolusi. Perubahan tersebut terjadi karena usaha-usaha masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan keperluan-keperluan, keadaan-keadaan, dan kondisi-kondisi baru, yang timbul sejalan dengan pertumbuhan masyarakat. Kebijakan pemerintah untuk melakukan segala kegiatan di rumah saja, dalam memotong rantai penyebaran pandemi covid-19 yang menjadi ujian berat untuk para musisi. Kondisi para musisi tidak jauh dari dua keniscayaan antara dibatalkan atau ditunda pertunjukan musiknya. Namun para musisi tetap survive dengan menyelenggarakan pertunjukan musik secara daring. Beberapa artist mengajak penonton berdonasi untuk masyarakat yang terdampak pandemi covid-19 melalui penyelenggaraan pertunjukan musik daring tersebut. Dampak yang kurang baik dalam perubahan kebudayaan musik yang serba daring ini adalah merubah hal-hal yang bersifat abstrak menjadi kongkret, begitu juga sebaliknya yaitu dari kongkret menjadi abstrak. Membuat para pelaku industri musik, dalam hal ini para pemilik modal dapat dengan mudah menghemat berbagai biaya-biaya proses produksi. Dampak lainnya yaitu membuat apresiator, dalam hal ini manusia, tidak lagi dapat berinteraksi dengan sesama manusia karena lebih banyak menghabiskan waktu nya untuk mengapresiasi pertunjukan musik secara daring.","PeriodicalId":295810,"journal":{"name":"Musikolastika: Jurnal Pertunjukan dan Pendidikan Musik","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-06-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129440959","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}