At-TafkirPub Date : 2020-05-09DOI: 10.32505/at.v13i1.1441
Prosmala Hadisaputra, Ahmad Yussuf
{"title":"Karakteristik Guru dalam Tradisi Pendidikan Nahdlatul Wathan, Lombok","authors":"Prosmala Hadisaputra, Ahmad Yussuf","doi":"10.32505/at.v13i1.1441","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/at.v13i1.1441","url":null,"abstract":"This article discusses the characteristics of teacher who teaches Islamic sciences in the perspective of the Nahdlatul Wathan educational tradition, comprehensively. On the other hand, this article is one form of response to the moral degradation of teachers that have recently been rife, especially in Indonesia. This article is the result of qualitative research with a literature approach. Primary data are the books of Tuan Guru Kiai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (Sheikh), which include Wasiat Renungan Masa (Book), Batu Ngompal (Book), the struggle song of Nahdlatul Wathan, and the recording of Sheikh's speech during his lifetime. Secondary data consists of scientific journals and relevant research results, as well as Islamic education books, Sufism, tafsīr and hadīth. Data was collected offline and online, then analyzed by using the NVivo 12 Plus software. This study shows that nine characteristics must be possessed by religious teachers who teach in the Nahdlatul Wathan madrasas/pesantrean (Islamic boarding school), namely: murshīd, sincere, obedient, mandate, behave as the teacher's morals, have a clear pedigree (silsilah/sanad), wise and polite in speaking, competent, and straight (istiqamah). This study concludes that the characteristics of the teacher mentioned in the will of the Sheikh are based on the results of contemplation (tafakkur), empirical experience (tajrībah), and extensive knowledge.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-05-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115302958","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2019-08-20DOI: 10.32505/AT.V12I1.1049
Miswari Miswari
{"title":"MENUNDUKKAN HANTU SCOPUS","authors":"Miswari Miswari","doi":"10.32505/AT.V12I1.1049","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V12I1.1049","url":null,"abstract":"Artikel ini bertujuan mengulas strategi menulis artikel untuk jurnal internasional bereputasi. Dewasa ini, menulis artikel untuk jurnal internasional bereputasi menjadi momok bagi sebagian dosen. Tetapi hal itu merupakan bagian yang dikekankan bagi para dosen sebagai bagian dari Tridarma Perguruan Tinggi untuk bidang peneitian. Artikel tersebut juga menjadi prasyarat kenaikan pangkat untuk jenjang tertentu, khususnya menjagi Guru Besar (Profesor). Artikel ini ditulis dengan gaya deskriptif berdasarkan pengalaman yang penilis terima dari pelatihan penulisan artikel internasional bereputasi yang diselenggarakan oleh sebuah lembaga penelitian di Jakarta. Adapun temuan kajian ini adalah penekanan pada wawasan literature, akurasi dan keunikan temuan data, penguasaan teori, pemahaman gaya selingkung jurnal, dan beberapa etika penulisan artikel ilmiah untuk jurnal internasional bereputasi (terindeks Scopus).","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"6 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-08-20","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126885501","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2019-08-14DOI: 10.32505/AT.V12I1.1044
Pangeran Harahap
{"title":"EKSISTENSI AMIL ZAKAT DI KECAMATAN MEDAN AMPLAS SUMATERA UTARA","authors":"Pangeran Harahap","doi":"10.32505/AT.V12I1.1044","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V12I1.1044","url":null,"abstract":"Zakat dalam konsep ajaran Islam, selain sebagai suatu kewajiban bagi umat Islam yang kaya, juga merupakan sebagai salah satu bagian dari aturan jaminan sosial dalam Islam. Dalam rangka mewujudkan konsep tersebut, ajaran Islam menetapkan satu perangkat pengelola yang harus bertindak secara profesional yang diberi nama dengan Amil Zakat. Di Mesjid Ikhlashiyah telah terbentuk Unit Pengumpul Zakat (UPZ) yang telah terkategori profesional sebab legalitasnya dari pejabat yang berwenang. Pada saat penelitian ini dilakukan tahun 2016 Jumlah muzakki yang menjadi penyedia modal bagi kegiatan pengentasan kemiskinan dalam istilah penelitian ini adalah berjumlah sebanyak 398 KK dengan jumlah personalnya sebanyak 1.605 orang. Jumlah dana zakat yang terhimpun dalam bentuk beras sebanyak 1.987,20 kg dan dalam bentuk uang sebesar Rp. 37.718.300,-. Jumlah asnaf zakat yang tercatat dalam catatan Amil Zakat sebanyak 159 orang, 133 orang di antaranya mustahik dalam kategori fakir dan miskin. Masing-masing fakir dan miskin memperoleh bagian dalam bentuk uang sebesar Rp. 237.250,- yang digenapkan dari jumlah sebelumnya Rp. 237.222,-. Sedangkan� dalam bentuk beras masing-masing memperoleh sebesar 12,50 Kg. Dampak ekonomi dari pengelolaan zakat oleh Amil Zakat Masjid Ikhlashiyah bagi para asnaf zakat yang tergabung di dalam kelompok fakir dan miskin dengan bagian yang diperoleh oleh masing-masing mereka adalah dibagi kepada dua. Pertama, bagi fakir dan miskin yang tidak punya kegiatan dagang melainkan hanya sebagai konsumer saja, dapat membantu untuk keperluan berhari raya keluarganya ditambah dengan penambah bagi persediaan pangan mereka. Kedua, bagi fakir dan miskin yang memiliki usaha dagang kecil-kecilan, bagian zakat mereka itu dapat dipergunakan untuk menambah modal untuk memajukan usahanya dan karenanya meningkat kesejahteraan ekonominya.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"21 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-08-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126503288","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2019-08-08DOI: 10.32505/AT.V12I1.1001
M. di
{"title":"ISLAMISASI DI KUPULAUAN MELAYU NUSANTARA","authors":"M. di","doi":"10.32505/AT.V12I1.1001","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V12I1.1001","url":null,"abstract":"ABSTRAK \u0000Tulisan ini menguak tentang pandangan Syed Muhammad Naquib Al-Attas terhadap bagaimana Islamisasi di Kepulauan Melayu Nusantara. Dalam ini� Al-Attas melakukan studi kritis terhadap sarjana Barat yang cenderung mempersempit peranan Islam, dan sebaliknya menonjolkan signifikansi Hinduisme dan Buddhisme dalam sejarah dan kebudayaan Islam di Melayu Nusantara. Para sarjana Barat tersebut lebih mengunggulkan Hindu-Buddha sebagai agama yang sangat berpengaruh di dunia Melayu Nusantara dibandingkan pengaruh Islam. Argumentasi para sarjana tersebut terkesan sangat melemahkan peranan Islam sebagai agama terbesar yang dianut oleh masyarakat Nusantara selama berabad-abad. Beberapa sarjana Barat yang akan diklarifikasi pandanganya oleh al-Attas adalah Van Leur, Schrike, Snouck Hurgronje, dan Winstedt. Perlu ditegaskan di sini bahwa Islamisasi merupakan sebuah teori yang digagas oleh al-Attas untuk mempertegas pengaruh Islam di Kepulauan Melayu Nusantara melalui konsep metafisika sufisme. \u0000� \u0000Kata Kunci: Islamisasi, Melayu Nusantara, Hindu, Buddha, Syed Muhammad Naquib Al-Attas. \u0000� \u0000ABSTACT \u0000This paper discusses the outlook Syed Muhammad Naquib Al-Attas of the Islamization of the Malay Archipelago. Al-Attas argue that most Western scholars tend to narrow the role of Islam, and instead highlight the significance of Hinduism and Buddhism in the history and culture of the Malays. Western scholars are more favor Hindu-Buddhism as a religion is very influential in the world than the Malay Archipelago Islamic influence. This view was impressed greatly weaken the role of Islam as a religion that is embraced by the community's largest archipelago for centuries. Some Western scholars that the consideration to be clarified by al-Attas was Van Leur, Schrike, Snouck, and Winstedt. It should be emphasized here that Islamization is a theory that was initiated by al-Attas to reinforce the influence of Islam with metafisic of slamic sufism in Malay Archipelago. \u0000� \u0000Kay Word: Islamization, Malay Archipelago, Hinduism, Buddhism, Syed Muhammad Naquib Al-Attas. \u0000� \u0000� \u0000�","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"40 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-08-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123880262","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2019-08-08DOI: 10.32505/AT.V12I1.806
H. Firmansyah
{"title":"MUHAMMAD SAW PADA PERIODE MEKAH","authors":"H. Firmansyah","doi":"10.32505/AT.V12I1.806","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V12I1.806","url":null,"abstract":"Abstrak � Dakwah Rasulullah saw., pada periode Mekah merupakan tonggak sejarah bagi penyebaran Islam di seluruh Jazirah Arab dan daerah lainnya. Meskipun pada periode ini Islam belum begitu menyebar, namun penanaman akidah dan karakteristik yang kokoh terhadap para sahabat, plus ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi tekanan dan ancaman dari kaum kafir Quraisy yang begitu dahsyat bisa dihadapi dan diambil hikmahnya secara baik, menjadikan komunitas Muslim periode awal ini dirasa mampu dan layak dalam menyongsong sebuah peradaban baru di permukaan bumi. Makalah ini menjelaskan tentang sejarah Rasulullah saw pada periode Mekah dengan tinjauan dari berbagai aspeknya, seperti ekonomi dan perdagangan, sosial kemasyarakatan, kegamaan dan hukum.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"34 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-08-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125362239","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2019-08-08DOI: 10.32505/AT.V12I1.788
Dinasril Amir
{"title":"PROFIL IMAM MALIK SEBAGAI MUHADDITS DAN FAQIH DALAM SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN ISLAM","authors":"Dinasril Amir","doi":"10.32505/AT.V12I1.788","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V12I1.788","url":null,"abstract":"Imam Malik is a knowlegeable and very famous character. In the past he was viewed an educated and religious person, and also a priest of the people in education. So that he is best known as Imam Dar Athjrat ( Imam of Madina). Imam Malik is the founder and builder of maliki madhhab, whose thought and madhhab depend on the sunnah of the prophet and his companions. Many of his opuses are recognized and well-known, one of them is the book of hadith and fiqh al-muwattha (well-trodden path).","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"48 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-08-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"121221684","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2019-08-08DOI: 10.32505/AT.V12I1.591
Ramli Cibro
{"title":"DARI WUJUDIYAH KE MA�RIFAH: GENEOLOGI TASAWUF HAMZAH FANSURI","authors":"Ramli Cibro","doi":"10.32505/AT.V12I1.591","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V12I1.591","url":null,"abstract":"Secara umum, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri disebut sebagai ajaran Wujudiyah. Secara geneologi, kata wujudiyah tidak ditemukan dalam karya-karya Hamzah Fansuri. Kata tersebut justru pertama sekali disebutkan dalam tulisan-tulisan Nur Al-D�n Al-R�nir� sebagai �tudingan sesat� atas ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Secara ontologi, kata wujudiyah justru sering dikaitkan dengan ajaran wa?datul wuj�d-nya Ibnu Arabi. Terakhir, kata wujudiyah kemudian menjadi �terma baku� yang digunakan oleh para pengkaji Hamzah Fansuri, baik yang mendukung maupun yang menolak ajarannya. Hanya saja dalam artikel ini penulis mencoba menolak menyematkan kata wujudiyah dan menawarkan kata ma�rifah bagi ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Menurut penulis, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri lebih layak disebut sebagai ma�rifah, daripada wujudiyah. Karena kata wujudiyah tidak ditemukan basis geneologi, maupun terma ontologi, epistemologi dan aksiologi-nya dalam ajaran tasawuf Hamzah Fansuri.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"35 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2019-08-08","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134082959","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2018-12-31DOI: 10.32505/AT.V11I2.737
Machzumy Machzumy
{"title":"KRITERIA IDEAL LOKASI RUKYAT","authors":"Machzumy Machzumy","doi":"10.32505/AT.V11I2.737","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V11I2.737","url":null,"abstract":"Penentuan awal bulan Kamariah merupakan salah satu kajian falak yang paling sering menyita perhatian dan sering diperbincangkan. Hal ini terjadi karena sampai saat ini belum ada sebuah kesepakatan dalam penentuan awal bulan, baik itu hasil ataupun metodenya. Di samping itu, kegiatan observasi juga harus memperhatikan keadaan tempat yang dijadikan lokasi untuk melakukan rukyat. Suatu lokasi rukyat harus memenuhi beberapa kriteria yaitu memperhatikan keadaan atmosfer, baik itu dari keadaan cuaca, intensitas hujan, evaporasi air laut, pencemaran cahaya dan debu, luas pandang terhadap ufuk, dan ketinggianya dari permukaan laut. Namun dari beberapa kali observasi hanya sekali berhasil merukyat hilal. Melihat fenomena ini, penulis tertarik untuk mengkaji, serta menganalisis faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan rukyat hilal observatorium Tgk. Chiek Kuta Karang, dan bagaimana kriteria ideal suatu lokasi rukyat. Untuk menjawab masalah tersebut, penulis menggunakan metode kualitatif. Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dokumentasi, dan penelahaan dokumen yang relevan. Disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi tingkat keberhasilan rukyat di kedua observatorium adalah faktor internal hilal, dan faktor eksternal yang meliputi: letak geografis dan lingkungan observatorium.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"56 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"130175173","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2018-12-31DOI: 10.32505/at.v11i2.739
Muhazir Muhazir
{"title":"AS-SUNNAH SEBAGAI SUMBER HUKUM ISLAM: REFLEKSI TERHADAP HERMENEUTIKA MUHAMMAD SYAHRUR","authors":"Muhazir Muhazir","doi":"10.32505/at.v11i2.739","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/at.v11i2.739","url":null,"abstract":"In recent years many studies have developed from both groups who doubt the authenticity of the Sunnah and the power of Sunnah as a source of Islamic law. This problem inspires Muslim scholars who consider that the group's doubts are due to the weakness of the study and the approach taken by the previous ulama as well as academic re-examination, the shahrur is a figure of Muslim scholars seeking hermeneutical methods so that the hadith still has original value and is accountable for academic value.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"32 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125145654","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
At-TafkirPub Date : 2018-12-31DOI: 10.32505/AT.V11I2.738
Miswari Miswari
{"title":"THE KITE RUNNER OF KHALED HOSSEINI","authors":"Miswari Miswari","doi":"10.32505/AT.V11I2.738","DOIUrl":"https://doi.org/10.32505/AT.V11I2.738","url":null,"abstract":"It is necessary for the writer to extract the description upon the contents of character analysis. The result of study might have produced the writer to expose the descriptive of the characters. The writer got starting to dig some advantages of describing the characters in the novel of ‘The Kite Runner’ through the story that is taking us from Afghanistan in the final days of the monarchy to the present, ‘The Kite Runner’ is the unforgettable, beautifully told story of the friendship between two boys growing up in Kabul. The Kite Runner is a novel about friendship, betrayal, and the price of loyalty. It is about the bonds between fathers and sons, and the power of their lies. Written against a history that has not been told in fiction before, The Kite Runner describes the rich culture and beauty of a land in the process of being destroyed. But with the devastation, Khaled Hosseini also gives us hope: through the novel's faith in the power of reading and storytelling, and in the possibilities he shows for redemption.","PeriodicalId":187386,"journal":{"name":"At-Tafkir","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2018-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126691162","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}