Jelita Siska Herlina Hinonaung, G. Wuaten, Astri Juwita Mahihody
{"title":"GOLONGAN DARAH PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MANGANITU","authors":"Jelita Siska Herlina Hinonaung, G. Wuaten, Astri Juwita Mahihody","doi":"10.54484/tkrg.v4i2.303","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i2.303","url":null,"abstract":"Kehamilan merupakan anugerah terindah. Setiap ibu hamil pasti menginginkan kehamilannya sehat dan lancar hingga melahirkan. Penting untuk dilakukan pelayanan kesehatan ibu untuk menjaga kelangsungan hidup ibu dan bayi. Salah satunya melalui pemeriksaan darah. Pemeriksaan darah pada ibu hamil masih rendah dibandingkan dengan komponen pemeriksaan yang ada. Studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Manganitu menunjukkan bahwa pemeriksaan golongan darah belum dilaksanakan. Tujuan pengabdian kepada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya pemeriksaan golongan darah dan mengetahui jenis golongan darah ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu. Metode pelaksanaan yaitu memberikan pendidikan kesehatan tentang golongan darah dan pemeriksaan golongan darah pada ibu hamil. Waktu pelaksanaan kegiatan pada bulan Juli-September 2020 bertempat di wilayah kerja Puskesmas Manganitu. Diketahui penduduk kurang pengetahuan tentang golongan darah sebanyak 63,8%. Diberikan pendidikan kesehatan menggunakan metode ceramah dan leaflet. Sebanyak 46,8% ibu hamil tidak mengetahui golongan darahnya dan sebanyak 53,2% ibu hamil mengetahui golongan darahnya. Hasil pemeriksaan golongan darah menunjukkan ibu hamil bergolongan darah A sebanyak 19,1%, golongan darah B sebanyak 10,6%, golongan darah AB sebanyak 4,3%, dan golongan darah O sebanyak 66%. Adanya peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang pentingnya golongan darah dan diketahui jenis golongan darah ibu hamil di Wilayah Kerja Puskesmas Manganitu. \u0000 \u0000Pregnancy is the most beautiful gift. Every pregnant woman wants her pregnancy are healthy and smooth until giving birth. It is important for maternal health services to maintain the survival of mothers and babies. One of them is through blood tests. Blood tests in pregnant women are still low compared to the existing examination components. A preliminary study conducted at the Health Center of Manganitu showed that blood type testing had not been carried out. The purpose of community service was increasing the knowledge of pregnant women about the importance of checking and knowing blood type of pregnant women in the Health Center of Manganitu work area. The implementation method was provided health education and test about blood type to pregnants women. The time for the implementation of activities in July-September 2020 in the work area in Health Center of Manganitu. It was known those the majority lack knowledge about blood group as much as 63.8%. Provided health education by used lecture and leaflet method. As many as 46.8% of pregnant women did not know their blood type and as much as 53.2% of pregnants women known their blood type. The results of blood type test showed that pregnants women had blood type A as much as 19.1%, blood type B as much as 10.6%, blood type AB as much as 4.3%, and blood type O as much as 66%. There is an increasing the knowledge of pregnant women about the importance and the known blood type of pregnants","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"19 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-11-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"128234024","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"EDUKASI TERKAIT ADAPTASI KEBIASAAN BARU DAN DONASI THERMOGUN PADA PELKA PEMUDA DI GMIST EL-SYADDAY TAHUNA","authors":"G. Medea, Meistvin Welembuntu, A. Lalombo","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.365","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.365","url":null,"abstract":"Protokol kesehatan pencegahan COVID-19 seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan harus tetap dipertahankan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). Gereja GMIST El-Syadday merupakan salah satu gereja yang ada di Kabupaten Kepulauan Sangihe. Pelaksanaan ibadah di gereja telah mulai dilaksanakan kembali pada gedung Gereja. Pelayanan kategorial (Pelka) Pemuda yang ada di GMIST El-Syadday diharapkan mampu saling mengingatkan dan memberikan edukasi kepada orang-orang sekitar tentang pentingnya disiplin dalam pelaksanaan protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Sampai sejauh ini belum ada penyuluhan kesehatan yang diberikan secara langsung kepada Pelka Pemuda tersebut. Saat diwawancarai terkait ketersediaan alat pemindai suhu tubuh, Ketua Jemaat GMIST El-Syadday mengatakan bahwa mereka memiliki 1 alat pemindai suhu tubuh. Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan edukasi terkait AKB serta memberikan donasi thermogun.Metode yang digunakan yaitu penjajakan, persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil kegiatan dilaksanakan pada tanggal 26 Juli 2020 bertempat di ruang Serbaguna GMIST El-Syadday Tahuna. Jumlah peserta sebanyak 15 orang. Pada kegiatan ini turut hadir Ketua BPMJ GMIST El-Syadday Tahuna. Tim pengabdian memberikan edukasi terkait AKB. Edukasi diberikan dalam bentuk materi presentasi melalui metode ceramah. Tim Pengabdi juga membagikan flyer terkait protokol kesehatan pencegahan COVID-19. Dalam rangka mendukung penerapan AKB maka tim pengabdi memberikan donasi satu buah alat pemindai suhu tubuh (thermogun) kepada mitra agar dipergunakan untuk mendeteksi suhu tubuh anggota jemaat sebelum masuk ke ruangan ibadah di Gereja.Kesimpulan Pemuda GMIST El-Syadaytelah mendapat edukasi dan memahami tentang Adaptasi kebiasaan Baru. Alat pemindai suhu tubuh yang telah didonasikan telah digunakan pada kegiatan ibadah. \u0000 \u0000Health protocols to prevent COVID-19 such as wearing masks, physical distancing and washing hands must be applied during Adaptation New Habits period. El-Syadday GMIST is one of the church in Sangihe Island Regency. Church services have reopened in the church building. Youth ministry those at GMIST El-Syadday were expected to be able to remind each other and provide education to people around the importance of discipline in implementing COVID-19 prevention health protocols. So far, no health education has been provided directly to them youth ministry.When interviewed about the availability of a body temperature scanner, the Head of the GMIST El-Syadday congregation said that they have one tool of Thermogun. The purpose was to provide education related to Adaptation New Habits and to donate thermogun. The method used assessment, preparation, implementation and evaluation. Results of the activity were held on July 26, 2020 at the GMIST El-Syadday Tahuna. The number of participants were 15 people. In this activity, the Chairman of BPMJ GMIST El-Syadday Tahuna was also present. We provide education related to Adaptation New Habits. ","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"91 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127466398","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"SELF-DETERMINATION THEORY SEBAGAI STIMULASI PERILAKU PENGOBATAN DAN PELATIHAN SENAM DIABETES PADA LANSIA DI KECAMATAN MANGANITU","authors":"M. Tatangindatu, M. Umboh","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.336","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.336","url":null,"abstract":"Prevalensi penyakit diabetes melitus menduduki peringkat ke tujuh di Indonesia.Di Kabupaten Kepulauan Sangihe angka kejadian kasus diabetes melitus tipe 2 terutama di kampung Barangka yang merupakan wilayah Kerja Puskesmas Manganitu cukup tinggi. Dari 18 kasus diabetes melitus tipe 2 terdapat 2 kasus kaki diamputasi dan 1 kasus mengalami kebutaan. Hal ini menunjukan pentingnya perhatian dan penanganan terkait penyakit diabetes melitus tipe 2 yang membutuhkan pegelolaan penyakit melalui managemen diri yang cukup kompleks, tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan secara fisik namun juga kondisi psikologis. Salah satu faktor psikologis yang penting menjadi perhatian adalah motivasi berdasarkan self-determination Theory (SDT). Tujuan pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan stimulasi perilaku pengobatan dan pelatihan senam diabetes pada lansia di Kecamatan Manganitu. Metode pelaksanaan yaitu melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, penyuluhan tentang diabetes melitus, dan pelatihan senam diabetes. Waktu pelaksanaan kegiatan pada bulan September 2020 bertempat di Balai Pertemuan Desa Kampung Barangka. Peserta yang hadir dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjumlah 30 orang yang mengikuti pemeriksaan tekanan darah, gula darah, penyuluhan tentang diabetes melitus, dan pelatihan senam diabetes. Hasil pemeriksaan didapatkan beberapa lansia mengalami hipertensi dan diabetes melitus. \u0000 \u0000The prevalence of diabetes mellitus is ranked seventh in Indonesia. In Sangihe Island District, the incidence of type 2 diabetes mellitus, especially in Barangka village, which is the working area of the Manganitu Health Center, is quite high. From the 18 cases of type 2 diabetes mellitus, those were 2 cases of leg amputation and 1 case of blindness. This shows the importance of attention and treatment related to type 2 of diabetes mellitus which requires management of the disease through complex self-management, not only affecting physical health conditions but also psychological conditions.One of the important psychological factors to be considered is motivation based on self-determination theory (SDT). The purpose of community service is to stimulate treatment behavior and diabetes exercise training for the elderly in Manganitu District. The method of implementation was check the blood pressure, blood sugar, counseling about diabetes mellitus, and diabetes exercise training. The time for the implementation in September 2020 and take place at the Village Meeting Hall of the Village of Barangka. The participants who attended were 30 people who attended and check blood pressure, blood sugar tests, counseling about diabetes mellitus, and diabetes gymnastics training. The results showed some elderly people had hypertension and diabetes mellitus.","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"80 4","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"113975287","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PEMBERDAYAAN WANITA MELALUI DETEKSI DINI PEMERIKSAAN INSPEKSI VISUAL ASAMASETAT DAN PAPSMER GMIST SILOAM MAHENA","authors":"D. J. Kalengkongan, Y. Tinungki","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.366","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.366","url":null,"abstract":"Angka kejadian kanker serviks yang masih cukup tinggi dipengaruhi oleh prilaku deteksi dini yang masih rendah. Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, kanker serviks menduduki urutan kedua setelah kanker payudara pada wanita. Faktor penyebab penderita datang terlambat ke sarana pelayanan kesehatan diantaranya kurangnya pengetahuan tentang kanker serviks dan merasa tabu untuk menceriterakan masalah kesehatan reproduksi. Kanker serviks dapat dicegah dengan deteksi dini. Namun kenyataannya hal ini masih kurang disadari oleh karena pemahaman dan motifasi yang kurang. Kegiatan PKMS ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi serta pemahaman dalam melakukan deteksi dini kanker serviks melalui pemeriksaan Inspeksi Visual Asamasetat dan Papsmer. Metode melalui tahap perencanaan yaitu penjajakan/sosialisasi, peyusunan program. Tahap pelaksanaan dengan penyuluhan materi kanker serviks dan pemutaran video cara pemeriksaan IVA dan Papsmer yang dilaksanakan pada tanggal 30 Agustus 2020 bertempat di GMIST Siloam Mahena. Hasil yang didapatkan adalah adanya peningkatan pengetahuan. kesehatan reproduksi. Terdapat 2 responden yang bersedia untuk melakukan pemeriksaan Papsmer. Kesimpulan Setelah dilakukan penyuluhan deteksi dini kanker serviks, terjadi peningkatan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dalam upaya pencegahan terjadinya kanker serviks. Terjalinnya hubungan kemiteraan antara akademisi dengan GMIST Siloam Mahena. \u0000 \u0000The high incidence of cervical cancer is influenced by the low early detection behavior. According to the data from the Ministry oh Health RI. Cervical cancer in second ranks after breast in women. Factors that cause sufferers to come late to the health care fasilities include a lack of knowledge about cervical cancer and taboo to discussing reproductive health problems. Cervical cancer can be prevanted by early detection. How ever in reality those was no \u0000realized due to lack of understanding and motivation. The research to purposes increase knowledge of reproductive health and understanding of Acetat Acid and Papsmer Visual Inpection. The method of implementation through the planning stage consists of exploratory socialitation, program preparation. Implementation stage extension activities were carried out on Agust 30, 2020 at GMIST Siloam Mahene. The result obtained were increase in knowledge of reproductive health. Those were 2 respondents who were witting to do a papsmer monitoring. Conculsion after counseling on early detection of cervical cancer, those was an increase in knowledge about reproductive health in efforts to prevent cervical cancer. The establishment of a partnership between academiss and GMIST Siloam Mahena.","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"33 4 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115662178","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PELATIHAN PEMBUATAN IKAN ASAP CAIR DI KAMPUNG PETTA KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE","authors":"F. Rieuwpassa, Siegried Berhimpon, O. I. Pumpente","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.320","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.320","url":null,"abstract":"Pengolahan ikan asap di kampung Petta masih tradisional, dimana produk yang dihasilkan memiliki mutu yang selalu berbeda, serta umur simpan yang relatif pendek. Selain itu, pengasapan tradisonal dapat menyebabkan polusi lingkungan akibat asap yang dikeluarkan. Solusi yang tepat untuk mengatasi masalah tersebut adalah teknologi Pengasapan Asap Cair. Teknologi ini sudah digunakan di beberapa tempat sebagai penganti pengasapan tradisional tetapi di Sangihe teknologi ini belum dikenal oleh masyarakat pengolah ikan asap. Tujuan dari pengabdian ini ialah memperkenalkan asap cair, melatih pengolah ikan asap untuk melakukan pengasapan ikan menggunakan asap cair, dan melatih cara pengemasan ikan asap yang tepat. Metode pelaksanaannya meliputi: survei untuk mendapatkan kelompok pengolah ikan yang sudah pernah berusaha dan membicarakan persiapan penerapan teknologi bersama ketua kelompok dan pemerintah setempat, penyuluhan dan pelatihan pengolahan ikan asap dengan asap cair serta cara pengemasan vakum, pemberian bantuan alat, pendampingan, dan evaluasi. Sebelum praktek pengolahan ikan asap cair, kelompok diberi pemahaman tentang sanitasi, higienis, dan good manufacturing practices (GMP), untuk menambah pengetahuan kelompok pengolah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kelompok pengolah “Berkat” dan kelompok “Petta” sangat menerima teknologi yang diberikan, dan dapat melakukan sendiri karena teknologinya sederhana, waktu pengolahan lebih singkat, mutu hasil lebih baik, higienis, dan mudah dilakukan. Berdasarkan hasil pengabdian maka dapat disimpulkan bahwa materi dan pelatihan yang diberikan dapat diterima dengan baik oleh kelompok masyarakat. Walaupun demikian, masih perlu dilakukan penambahan fasilitas yaitu alat pembuat asap cair untuk melengkapi alat pengolahan yang sudah diberikan. \u0000 \u0000Smoked fish processing in Petta village remains traditional to this day charaterized by products of varyiing quality and relatively shortlived. In addition, traditional fish smoking poses health and environmental threats due to the released smoke. The right solution to solve this problem includes the application of liquid smoked technology. This technology has been well practized in several places to replace traditional smoking methods. However, it has been barely recognized by the smoked fish processors in Sangihe Islands. The objective of this training and fisheries advisory services were to introduce liquid smoke technology, to train smoked fish processors to smoke fish using liquid smoke, and to train the fish processors the proper way to pack smoked fish. The implementations of this program included (1) survey on the existing fish processing groups in Petta, (2) discussion about the introduced technology and transfer knowledge with the group leader and the local government, (3) training and practices on liquid smoke processing techniques, of vacum packaging technique and provison of equipments, assistance, and evaluation. Before practice sessions, the group was i","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"49 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127642933","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"PELATIHAN PERENCANAAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN DI KAMPUNG KUMA 1 KECAMATAN TABUKAN TENGAH","authors":"J. Saselah, Numisye Iske Mose","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.325","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.325","url":null,"abstract":"Pengembangan budidaya ikan air tawar memerlukan strategi yang melibatkan berbagai pihak terkait mulai dari awal perencanaan sampai pada pelaksanaan di lapangan. Kegiatan ini bertujuan memberikan pelatihan tentang penyusunan perencanaan pengembangan budidaya ikan di Kampung Kuma 1. Kegiatan diikuti oleh Pemerintah Kampung Kuma 1, Kapitalaung bersama dengan perangkat kampung, Babinsa, MTK, Ketua PKK, Ketua LPMK, perwakilan dari masyarakat pembudidaya ikan. Kegiatan penyuluhan dan pelatihan dilaksanakan pada bulan September 2020, dengan materi yang diberikan yaitu (1) Potensi budidaya ikan air tawar Kampung Kuma 1, (2) Program pengembangan budidaya ikan air tawar (3) Praktek penyusunan program pengembangan dengan skala prioritas. Hasil kegiatan PKMS dituangkan dalam dokumen usulan rencana pengembangan budidaya ikan. Peserta kegiatan sangat antusias dengan kegiatan yang dilaksanakan karena kegiatan ini dirasa sangat bermanfaat bagi kampung kuma 1 khususnya dalam kegiatan pembangunan, dimana Kampung Kuma 1 yang sementara mempersiapkan perencanaan pembangunan desa untuk tahun 2021. \u0000 \u0000The development of freshwater aquaculture requires a collaborative strategy among fisheries stakeholders, ranging from establishing initial plans to implementation in the field. This community service (PKMS) aimed to provide fisheries extension (fishery advisoy service) and training on fish farming development plan in Kuma 1 Village. It was attended by the vilage’s officials (the local governments, head of the village, Babinsa, MTK, head of PKK, head of LPMK) and representatives of fish farming community from the village. Fishery advisory service and training were carried out in September 2020 with presented materials including (1) Potential of freshwater fish farming in Kuma Village 1, (2) Freshwater fish cultivation development program and (3) Knowledge on how to prioritize fisheries development programs. The results have been written in form of a proposal entitled fish cultivation development plans. The participants were very enthusiastic about this PKMS progam because of its significant contribution to Kuma 1 village, coinciding with the village effort to prepare its 2021 development programs.","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"167 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"116889902","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Oktavianus Lumasuge, Arifin Paulus Tindi, Noldi Sinsu
{"title":"PELATIHAN PEMBUATAN VIDEO PROFIL BERBASIS MULTIMEDIA UNTUK PEMERINTAH KAMPUNG KUMA1 KECAMATAN TABUKAN TENGAH","authors":"Oktavianus Lumasuge, Arifin Paulus Tindi, Noldi Sinsu","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.341","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.341","url":null,"abstract":"Kampung Kuma 1 merupakan zona inti perekonomian masyarakat di Kecamatan Tabukan Tengah. Kampung ini memiliki wilayah administrasi seluas 268,59 ha, terdiri dari Lendongan 1 seluas 216, 73 ha, Lendongan 2 seluas 28,96 ha dan Lendongan 3 seluas 22,9 ha. Dalam penyelenggaraan pemerintahan, Kampung Kuma 1 telah memanfaatkan teknologi informasi berbasis website sebagai pusat informasi pembangunan meskipun sejauh ini belum optimal. Untuk mengoptimalkan sistem ini, peningkatkan sumberdaya manusia terutama perangkat desa di Kampung Kuma 1 sangat dibutuhkan khususnya pelatihan mengelolah konten website dalam bentuk video sebagai bagian dari promosi potensi wilayah. Pelatihan ini melibatkan beberapa tahapan pembuatan video mencakup pra produksi, produksi, post produksi dan screening. Tahapan-tahapan metode pelatihan ini memberikan pengalaman berharga bagi semua perangkat kampung yang secara langsung terlibat dalam proses pembuatan video profil potensi wilayah kampung Kuma 1. Pelatihan ini menghasilkan video profil potensi wilayah Kampung Kuma 1 yang dipublikasikan melalui laman website (kuma1.desa.id) sebagai media center pusat informasi pembangunan dan potensi wilayah Kampung Kuma 1 Kecamatan Tabukan Tengah. \u0000 \u0000Kuma 1 village acts as a center of economic activity in Tabukan Tengah sub-district. In total, this village covers an administration area of 268.59 ha, consisting of lendongan 1 with 216, 73 ha, lendongan 2 with 28.96 ha and lendongan 3 with 22.9 ha. Recently, this village has used website based information technology to support their local governmental activity although much remains to be studied to optimize the current system. One way to achieve this is through training human resources especially the local government officials on how to manage website content in the form of videos as part of promoting the village’s potential through the Internet. This training involved several steps including pre-production, production, post-production and screening, providing excellent opportunity for the local government officials to get involved in the making of the village’s profiling video. The training resulted in video profile of Kuma 1 natural potentials recently published on the website page (kuma1.desa.id) as a media center for the development of Kuma 1 village, Tabukan Tengah sub-district.","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"56 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"134094597","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"STIMULUS DAN TRANSFER TEKNLOGI BOTTOM HAND LINE “BAWONO” BAGI NELAYAN LEPPE KECAMATAN TABUKAN UTARA","authors":"F. Lungari, M. A. Kaim","doi":"10.54484/tkrg.v4i1.324","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v4i1.324","url":null,"abstract":"Leppe merupakan salah satu dusun pesisir di kecamatan Tabukan Utara. Kampung Leppe memiliki penduduk bermata pencaharian sebagai petani dan nelayan. Nelayan Leppe umumnya mengenal alat tangkap jenis bottom hand line disebut “Bawono” yang biasanya digunakan untuk menangkap ikan demersal bernilai jual cukup tinggi di Kabupaten Kepulauan Sangihe seperti kurisi, kuwe dan kerapu. Meskipun alat tangkap Bawono diketahui berdampak positif terhadap pendapatan nelayan lokal, secara umum alat tangkap ini belum memberikan kontribusi serupa terhadap pendapatan nelayan mitra di kampung Leppe. Salah satu penyebabnya ialah tingginya biaya pemeliharaan alat tangkap “Bawono” yang hampir semua bahan pembuatannya berasal dari Philipina. Secara khusus, Bawono untuk menangkap ikan kurisi membutuhkan intensitas perawatan tinggi karena besarnya ukuran ikan tangkapan yang menjadikan alat tangkap ini rentan putus/rusak pada pengoperasian berikutnya, situasi yang sangat membutuhkan stimulus dan transfer teknologi. Itulah sebabnya, tim pengabdi menyediakan bahan dan melatih masyarakat mitra di desa Leppe untuk membuat 10 unit alat tangkap bottom hand line “Bawono”. Melalui kegiatan ini, nelayan diharapkan menjadi lebih produktif, dapat menekan biaya produksi dan meningkatkan hasil tangkapan ikan yang pada gilirannya diharapkan memperbaiki taraf hidup nelayan mitra. \u0000 \u0000Leppe is one of the coastal villages the North Tabukan sub-district whose people mainly work as farmers and fishermen. Leppe’s fishermen are familiar with hand line fishing gear so called “Bawono” used to catch demersal fish with high economic value in the Sangihe Islands Regency including ornate threadfin bream, giant travely and grouper. Although this fishing gear is known to give a positive impact on the local fishermen's income, it hasn’t given similar contribution to our partner fishermen in the village. One of the reasons is high maintenance cost of “Bawono” fishing gear, whose materials mostly obtained from the Philippines. In particular, the one used to catch ornate threadfin bream requires high maintenance mainly because of the size of caught fish, rendering this fishing gear more prone to damage in the following fishing operations, desperately requiring transfer technology and stimuly. Hence, our team provided materials and trained the local fishermen in Leppe village to build 10 units of “Bawono” bottom hand lines. It is expected that through this community service, our fishermen partners can reduce their fishing operation production cost, be more productive and increase their fishing catch which in turn improve their standard of living.","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"51 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2020-03-03","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126640395","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
M. Patras, Ferdinand Gansalangi, Chandrayani Simanjorang
{"title":"PEMBERDAYAAN MASYARAKAT PESISIR DALAM PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH SEHAT DI LEHUPU KECAMATAN TABUKAN SELATAN TENGAH KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE","authors":"M. Patras, Ferdinand Gansalangi, Chandrayani Simanjorang","doi":"10.54484/tkrg.v7i1.464","DOIUrl":"https://doi.org/10.54484/tkrg.v7i1.464","url":null,"abstract":"Salah satu cara mengatasi masalah sampah adalah dengan membuat tempat penampungan sampah sementara (TPS) atau tempat penampungan akhir (TPA). Hal ini diharapkan agar dapat mengurangi volume sampah dan masalah sampah yang mengaibatkkan dampak lingkungan kesehatan pada masyarakat pesisir dan laut serta mempermudah manajemen pengelolaan sampah. Berdasarkan data dari mahasiswa KKL Politeknik Negeri Nusa Utara di Kampung Lehupu Kecamatan Tabukan Selatan Tengah Tahun Akademik 2019/2020 ada 30 rumah 34% yang membuang sampah di laut dengan menenggelamkannya ke dasar laut dan 25 rumah (29%) dibakar, 21 rumah (24%) di buang sembarang, 10 rumah (12%) dibuang di kebun dan hanya 1 rumah yang menggali lubang untuk membuang sampah. Berdasarkan latar belakang masalah, tim pengabdi telah melakukan pengabdian tentang “PKMS Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Dalam Meningkatkan Perilaku Hidup Bersih Sehat Melalui Pembuatan Tempat Pembuangan Sampah. Kegiatan dilaksanakan di Kampung Lehupu Kecamatan Tabukan Selatan Tengah Kabupaten Kepulauan Sangihe pada Juni-Agustus 2021. Tahapan kegiatan pengabdian diawali dengan melakukan penyuluhan tentang pengelolaan sampah rumah tangga, pandemi COVID-19, vaksinasi COVID-19 dan pemberian bantuan 3 sak semen dan cat guna pembuatan tempat sampah dengan tujuan agar masyarakat tidak lagi membuang sampah di laut tapi membuang sampah di tempat sampah yang tersedia. Pembuatan tempat sampah dilakukan oleh masyarakat secara suka rela dan bergotong royong. Adanya kegiatan yang sama dan berkelanjutan sangat diharapkan agar perilaku membuang sampah pada tempatnya menetap pada masyarakat Lehupu. \u0000One way to overcome the waste problem is to create a temporary waste shelter (TPS) or final shelter (TPA). This is expected to reduce the volume of waste and waste problems that cause environmental health impacts on coastal and marine communities and facilitate waste management. Based on data from KKL (Community Service Program) at the State Polytechnic of North Nusa in Lehupu Village, South Tabukan District, Middle of the Academic Year 2019/2020, there were 30 houses, 34% of which were thrown garbage in the sea in sinking it into the seabed and 25 houses (29%) were burned, 21 houses (24%) ) was thrown away, 10 houses (12%) were dumped in the garden and only 1 house dug a hole to dispose of garbage. Based on the background of the problem, the service team has done service on \"PKMS for Empowering Coastal Communities in Improving Clean and Healthy Life Behaviors through the Construction of a Garbage Disposal Site”. The activity was carried out in Lehupu Village, South Central Tabukan District, Sangihe Islands Regency in June-August 2021. The stages of service activities begin with conducting counseling on household waste management, the COVID-19 pandemic, and COVID-19 vaccination, and providing assistance with 3 bags of cement and paint for making trash cans with the aim that people no longer throw garbage in the sea but throw garbage in the trash. which ","PeriodicalId":136575,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Tatengkorang","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"1900-01-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"125164626","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}