Putri Lukmana Sari, Zulkifli MS, Noer Arif Hardi, Daru Akbar
{"title":"Karakterisasi Morfologi Pisang di Kabupaten Kampar Provinsi Riau","authors":"Putri Lukmana Sari, Zulkifli MS, Noer Arif Hardi, Daru Akbar","doi":"10.22146/veg.79546","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/veg.79546","url":null,"abstract":"Pisang (Musa spp.) merupakan buah paling penting di hampir setiap negara termasuk Indonesia. Pisang juga merupakan tanaman penting di dunia dan sumber pendapatan di banyak negara berkembang. Keanekaragaman pisang setiap daerahnya memiliki keunggulan masing-masing. Informasi terkait keragaman genetik tanaman sangat penting karena keragaman genetik yang tinggi merupakan salah satu kunci sukses dalam pengembangan tanaman. Terutama dalam penyediaan informasi pemuliaan tanaman. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini sebanyak 6 aksesi pisang. Setiap spesies terdiri atas 3 individu yang diperoleh dari hasil eksplorasi di Kabupaten Kampar Provinsi Riau. Alat yang digunakan dalam penelitian ini antara lain adalah stapler, alat tulis, kertas label, kamera, dan penggaris. Pengamatan dan pertelaan morfologi mengikuti Musa Descriptor List. Deskripsi morfologi karakter kualitatif dari 6 populasi pisang telah berhasil didapatkan dan telah disajikan di dalam pembahasan. Hubungan kekerabatan berdasarkan penanda morfologi menggunakan 30 karakter kualitatif menunjukkan koefisien kemiripan genetiknya berkisar antara 0,28-0,60 yang terbagi dua yaitu Klaster A (A1; Pisang 40 Hari, Barangan Medan, Cavendish, Lilit, A2; Ambon) dan B (Pisang Kepok Taiwan). Perbedaan jenis pisang yang tumbuh menunjukkan pisang di Kabupaten Kampar memiliki keragaman morfologis yang cukup tinggi. Pengelompokan pisang pada penelitian ini dipengaruhi oleh persamaan karakter yang dimiliki oleh setiap aksesi yang pada akhirnya mengelompok berdasar persamaan spesiesnya. Dari penelitian ini, diharapkan dapat mengetahui keanekaragaman genetik dan hubungan kekerabatan pisang yang tumbuh di Kabupaten Kampar untuk nantinya akan didapatkan tetua pisang yang bagus sebagai bahan persilangan dan menghasilkan pisang yang potensial di masa mendatang.","PeriodicalId":470997,"journal":{"name":"Magazine Mitra Investor (edisi elektronik)","volume":"120 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135997534","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Analisis Keragaman 8 Varietas Cabai Berdasarkan Karakter Morfologi Kualitatif dan Kuantitatif","authors":"Amalia Prihaningsih Amalia, Rerenstradika Tizar Terryana, Nazly Aswani, Kristianto Nugroho, Puji Lestari","doi":"10.22146/veg.76984","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/veg.76984","url":null,"abstract":"Informasi keragaman genetik varietas cabai dapat menentukan keberhasilan dalam program pemuliaan cabai. Tujuh karakter morfologi kualitatif dan 11 karakter morfologi kuantitatif digunakan pada penelitian ini untuk menganalisis keragaman 8 varietas unggul cabai di Indonesia. Analisis keragaman dilakukan menggunakan metode analisis multivariat yaitu analisis korelasi pearson, analisis komponen utama dan analisis clustergram. Hasil penelitian mampu menunjukkan keragaman antar varietas cabai yang diuji berdasarkan karakter morfologinya. Berdasarkan analisis komponen utama, 18 karakter morfologi dapat tereduksi menjadi 7 komponen utama, namun hanya 5 komponen utama dengan eigenvalue >1, dengan nilai keragaman kumulatif 94,63%. Varietas cabai tersebar ke dalam empat kuadran berdasarkan komponen utama pertama dan kedua. Hasil analisis clustergram menunjukkan bahwa 8 varietas cabai dapat dibagi menjadi 2 kelompok utama yang memiliki kemiripan karakter morfologi. Hasil ini mengkonfirmasi bahwa keragaman berdasarkan karakter morfologi dapat secara efektif dan efisien dalam identifikasi keragaman pada varietas yang berbeda dalam program pemuliaan.","PeriodicalId":470997,"journal":{"name":"Magazine Mitra Investor (edisi elektronik)","volume":"227 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135997540","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
Muhammad Haidar Indrawan, Taufan Alam, Dody Kastono
{"title":"Pengaruh Jenis Biochar dan Pemupukan Urea terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (<i>Glycine max</i> (L.) Merr.) pada Sistem Agroforestri Kayu Putih","authors":"Muhammad Haidar Indrawan, Taufan Alam, Dody Kastono","doi":"10.22146/veg.74014","DOIUrl":"https://doi.org/10.22146/veg.74014","url":null,"abstract":"Kedelai merupakan komoditas tanaman pangan terpenting ketiga di Indonesia setelah padi dan jagung. Salah satu faktor penyebab rendahnya produksi kedelai adalah alih fungsi lahan. Salah satu alternatif pemecahannya adalah pemanfaatan lahan di bawah tegakan kayu putih untuk budidaya kedelai. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh serta interaksi jenis biochar dan pemupukan urea terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai pada sistem agroforestri kayu putih. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2020 hingga Februari 2021 di Resort Hutan Menggoran, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Rancangan percobaan menggunakan rancangan petak terbagi. Petak utama jenis biochar terdiri dari tanpa biochar, biochar sekam padi, dan biochar kayu putih. Anak petak adalah takaran pemupukan urea yang terdiri dari 0 kg.ha-1, 50 kg.ha-1, 100 kg.ha-1, dan 150 kg.ha-1. Hasil penelitian menunjukkan terdapat interaksi jenis biochar sekam padi dan dosis Urea 100 kg.ha-1 secara nyata mampu meningkatkan bobot 100 biji kedelai (36,41%) dibandingkan tanaman kontrol (tanpa perlakuan biochar dan pupuk Urea); Pemberian Jenis biochar kayu putih menunjukkan serapan N per hektar yang tertinggi (253,22 kg.ha-1) dan berbeda nyata dengan tanpa biochar (188,52 kg.ha-1); Pemberian jenis biochar dan takaran urea tidak memberikan pengaruh yang nyata dan interaksi antara jenis biochar dengan takaran urea pada jumlah daun, bobot daun khas, panjang akar, bobot biji per hektar tanaman kedelai umur 12 mst.","PeriodicalId":470997,"journal":{"name":"Magazine Mitra Investor (edisi elektronik)","volume":"475 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-27","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135997539","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}