Jurnal Psikogenesis最新文献

筛选
英文 中文
Gambaran Psychological Well-Being pada Penyintas COVID-19 COVID-19 幸存者心理健康概览
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2995
Yohanes Aldiyasa Setyo Bimantoro, Wieka Dyah Partasari
{"title":"Gambaran Psychological Well-Being pada Penyintas COVID-19","authors":"Yohanes Aldiyasa Setyo Bimantoro, Wieka Dyah Partasari","doi":"10.24854/jps.v10i2.2995","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2995","url":null,"abstract":"Pandemi COVID-19 telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia selama lebih dari dua tahun, berdampak pada kesehatan mental individu, terutama bagi mereka yang terpapar COVID-19. Penyintas COVID-19 harus menanggung dampak fisik & psikologis selama pemulihan, dan dapat mengalami stigma dari lingkungan. Pengalaman menghadapi dan pulih dari COVID-19 akan mempengaruhi kesehatan mental para penyintas. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran psychological well-being penyintas COVID-19 di Indonesia dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Terdapat 133 orang penyintas COVID-19 berusia 18-60 tahun yang menjadi partisipan pada penelitian ini, yang dipilih dengan menggunakan teknik convenience sampling. Penelitian ini menggunakan alat ukur Psychological Well-Being Scale (PWBS) yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan diberikan secara daring. Uji coba alat ukur dengan metode Cronbach’s Alpha menunjukkan hasil yang reliabel dengan jumlah item akhir 76 butir. Peneliti melakukan analisis deskriptif dan uji beda dengan metode Mann-Whitney & Kruskal-Wallis. Hasil analisis deskriptif menunjukkan sebagian besar penyintas COVID-19 memiliki psychological well-being yang cenderung tinggi. Hasil analisis masing-masing dimensi positive relations with others, autonomy, environmental mastery, self-acceptance, personal growth, dan purpose in life juga menunjukkan hasil mayoritas cenderung tinggi. Ditemukan perbedaan yang signifikan berdasarkan usia dengan skor tertinggi pada kategori usia dewasa madya. Ditemukan bahwa individu penyintas menerima dukungan sosial selama menjalani masa perawatan, kebanyakan bersumber dari keluarga dan teman. Dukungan sosial tersebut membawa dampak positif kepada perasaan penyintas dalam menghadapi penyakit. Setelah sembuh mayoritas penyintas mendapatkan tanggapan yang positif dari orang di sekitarnya, tetapi terdapat partisipan yang mengalami stigmatisasi akibat statusnya sebagai penyintas COVID-19.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"31 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135258006","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Gambaran Kesepian dan Strategi Coping pada Lansia di Masa Pandemi COVID-19 COVID-19 大流行期间老年人的孤独感和应对策略概述
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2891
Natasha Christy, Wieka Dyah Partasari
{"title":"Gambaran Kesepian dan Strategi Coping pada Lansia di Masa Pandemi COVID-19","authors":"Natasha Christy, Wieka Dyah Partasari","doi":"10.24854/jps.v10i2.2891","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2891","url":null,"abstract":"Pembatasan sosial yang berlaku selama pandemi COVID-19 membatasi ruang gerak, memicu perasaan terisolasi yang berdampak pada kondisi kesehatan mental masyarakat. Pada kelompok lansia, pembatasan sosial menyebabkan kesulitan untuk mempertahankan relasi dan menimbulkan kesepian. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan kesepian pada lansia selama pandemi COVID-19. Untuk menghadapi permasalahan kesepian yang meningkat di kalangan lansia, diperlukan strategi coping yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran kesepian dan strategi coping lansia selama pandemi COVID-19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif fenomenologis, metode sampling purposive dengan teknik homogeneous. Ada empat partisipan berusia 65 tahun ke atas, berdomilisi di Jabodetabek, tinggal di rumah, dan mampu berkomunikasi dengan baik. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi-structured terhadap partisipan utama dan significant others untuk triangulasi. Hasil penelitian menemukan lansia merasakan kesepian karena berkurangnya kepuasan terhadap relasi sosial. Keempat partisipan menggunakan jenis strategi coping: active coping, instrumental dan emotional support, positive reframing, serta religion. Penggunaan teknologi dan pengaturan tempat tinggal bersama keluarga atau tinggal dekat dengan anggota keluarga menjadi faktor yang mendukung lansia untuk dapat mempertahankan relasi selama pandemi COVID-19. Ditemukan pula faktor lain yang mempengaruhi kesejahteraan lansia, yaitu tekanan sebagai caregiver, masalah keuangan akibat penurunan pendapatan, dan terbatasnya akses lansia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"226 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135257799","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Hubungan Regulasi Emosi dan Subjective Well-Being pada Individu Dewasa Awal yang Mengalami Putus Cinta 在早期遭受失恋的成年人中,情感调节和适者生存的关系
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2863
Amanda Diva Anggraita, Laurentius Sandi Witarso
{"title":"Hubungan Regulasi Emosi dan Subjective Well-Being pada Individu Dewasa Awal yang Mengalami Putus Cinta","authors":"Amanda Diva Anggraita, Laurentius Sandi Witarso","doi":"10.24854/jps.v10i2.2863","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2863","url":null,"abstract":"Dewasa awal memiliki tugas memenuhi kebutuhan akan keintiman dengan menjalin hubungan romantis. Hubungan romantis memiliki tantangan, termasuk putus cinta. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa terdapat dampak dari putus cinta secara emosional maupun kepuasan hidup, yang dapat mempengaruhi kesejahteraan seseorang, sehingga individu pada masa dewasa awal perlu mengelola atau mengatur emosi. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat hubungan antara dimensi regulasi emosi dan aspek subjective well-being (SWB). Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain korelasional. Seratus dua puluh lima partisipan penelitian ini diperoleh dengan metode convenience sampling dengan karakteristik berusia 20-30 tahun, mengalami putus cinta dalam kurun 6 bulan terakhir, dan belum menikah atau bertunangan. Data penelitian diperoleh dengan Emotion Regulation Questionnaire, Scale of Positive and Negative Experiences, dan Satisfaction With Life Scale secara daring, kemudian dikorelasikan menggunakan Pearson. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara cognitive reappraisal dengan aspek afektif positif (r = 0.320, p < 0.05) dan negatif SWB (r = -0.283, p < 0.05), serta aspek kognitif (r = 0.258, p < 0.05). Sementara itu, expressive suppression tidak berhubungan signifikan dengan aspek afektif positif (r = -0.024, p > 0.05) dan kognitif SWB (r = 0.068, p > 0.05), hanya berhubungan signifikan dengan pengaruh negatif (r = 0.178, p < 0.05). Cognitive reappraisal dianggap mampu mengurangi afek negatif dan meningkatkan afek positif. Sementara itu, expressive suppression dapat menyebabkan inauthenticity. Temuan tersebut berkaitan dengan faktor budaya kolektif Indonesia sebagai negara Asia yang memperjuangkan keharmonisan. Penelitian selanjutnya dapat memasukkan aspek kepribadian dan faktor pendukung hubungan.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"180 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135257793","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Enhancing Self-Compassion Program (ESP) untuk Meningkatkan Self-Compassion pada Mahasiswa 加强自我同情计划(ESP),由孟加甘自我同情帕达·马哈西瓦
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2845
Fitri Fazrika Sari, Juliani Prasetyaningrum
{"title":"Enhancing Self-Compassion Program (ESP) untuk Meningkatkan Self-Compassion pada Mahasiswa","authors":"Fitri Fazrika Sari, Juliani Prasetyaningrum","doi":"10.24854/jps.v10i2.2845","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2845","url":null,"abstract":"Dalam menghadapi masalah, seringkali individu terjebak pada perilaku untuk menyalahkan serta menghukum diri sendiri. Perilaku tersebut dapat mengarahkan individu untuk berpandangan sempit terhadap kehidupan yang dijalani sehingga menarik diri dari lingkungan. Perilaku membesar-besarkan masalah dan merasa dirinya paling menderita berkaitan dengan rendahnya rasa welas asih yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, perlu adanya program untuk meningkatkan rasa welas asih yang dapat digunakan secara praktis. Enhancing Self-Compassion Program (ESP) merupakan salah satu metode intervensi yang efektif untuk meningkatkan rasa welas asih. Prosedur intervensi diawalai dengan meminta individu untuk mengisi skala welas asih sebagai dasar pengukuran sebelum dan sesudah intervensi dilaksanakan. Intervensi dilakukan sebanyak 6 sesi dalam satu hari pelaksanaan dengan memberikan loving-kindness meditation, compassionate letter writing, time management training, dan mindfulness practice. Hasil intervensi menunjukkan adanya peningkatan rasa welas asih yang dimiliki individu secara kuantitatif, serta perubahan perilaku secara kualitatif yang mengarah pada penyelesaian masalah yang dihadapinya saat itu. Modifikasi ESP yang telah disesuaikan dengan latar belakang sosial-budaya serta karakteristik individu merupakan suatu hal yang perlu ditelisik lebih lanjut. Adanya program intervensi yang dilakukan dalam waktu singkat dapat membantu para praktisi untuk meningkatkan kesejahteraan psikologis secara lebih luas dan efektif.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"28 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135257797","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Gambaran Stres dan Strategi Penyesuaian Diri Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas X Angkatan 2020 dalam Mengikuti Perkuliahan Tatap Muka 压力图和2020年X大学心理专业学生适应心理的战略与面对面交流
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2864
Anastasia Wulandari Tantoputri, Gabriella Tjahjono, Immanuel Yosua, Maria Olivia Susilo, Nathania Adius Ferdinanto, Shanika Iverna Tamara
{"title":"Gambaran Stres dan Strategi Penyesuaian Diri Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas X Angkatan 2020 dalam Mengikuti Perkuliahan Tatap Muka","authors":"Anastasia Wulandari Tantoputri, Gabriella Tjahjono, Immanuel Yosua, Maria Olivia Susilo, Nathania Adius Ferdinanto, Shanika Iverna Tamara","doi":"10.24854/jps.v10i2.2864","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2864","url":null,"abstract":"Perkuliahan daring yang sudah genap dilaksanakan dalam kurun waktu dua tahun sebagai dampak dari pandemi COVID-19 berhasil mengalami penurunan kasus, hingga akhirnya pemerintah memutuskan untuk melaksanakan Perkuliahan Tatap Muka (PTM) kembali. Perubahan tersebut tentunya menimbulkan stres pada mahasiswa dan tuntutan penyesuaian diri dalam menghadapi rintangan PTM yang mereka alami, terkhusus mahasiswa Universitas X angkatan 2020 yang belum pernah melaksanakan perkuliahan offline sejak masuk kuliah. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai stres dan strategi koping yang dilakukan mahasiswa dalam mengikuti PTM untuk pertama kalinya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis. Pengambilan data dilakukan dengan mewawancarai tiga mahasiswa Universitas X angkatan 2020 yang dipilih dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menemukan bahwa beberapa hal yang menyebabkan stres dari partisipan selama mengikuti PTM adalah (1) masalah transportasi, (2) perubahan rutinitas, (3) terdistraksi dengan kehadiran orang lain, (4) tekanan dalam situasi sosial, (5) ketidakmampuan dalam melakukan multitasking, dan (6) dibutuhkannya energi yang lebih banyak untuk mengikuti PTM. Selain itu, peneliti juga menemukan jenis-jenis strategi koping yang dilakukan mahasiswa dalam menghadapi situasi stres akibat PTM, yaitu variasi dari problem-focused coping, emotion-focused coping, social support, religious-focused coping, dan meaning making. Hasil penelitian ini mengindikasikan perlunya perguruan tinggi untuk memperhatikan hal-hal yang berpotensi menimbulkan stres bagi mahasiswa dan memberikan dukungan yang mereka butuhkan dalam proses transisi menuju perkuliahan tatap muka, agar tetap mampu menjaga kesejahteraan psikologis mahasiswa.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"20 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135257792","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Hubungan Antara Self-Compassion dan Gaya Hidup Sehat Pada Mahasiswa 学生自我同情与健康生活方式之间的关系
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2860
Sekar Rizki Nabila, Zulfa Febriani
{"title":"Hubungan Antara Self-Compassion dan Gaya Hidup Sehat Pada Mahasiswa","authors":"Sekar Rizki Nabila, Zulfa Febriani","doi":"10.24854/jps.v10i2.2860","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2860","url":null,"abstract":"Mahasiswa saat ini memiliki beberapa masalah dalam menerapkan gaya hidup sehat seperti tingkat asupan gizi yang kurang baik, aktifitas fisik yang rendah, mudah stres. Mahasiswa perlu menerapkan gaya hidup sehat agar memperoleh kesehatan tubuh dan mental yang optimal. Salah satu faktor untuk meningkatkan gaya hidup sehat adalah self-compassion karena self-compassion mengacu pada cara sehat yang berhubungan langsung dengan dirinya sendiri. Penelitian ini, bertujuan untuk mengetahui signifikansi hubungan antara self-compassion dan gaya hidup sehat pada mahasiswa serta mengetahui tinjauannya dalam Islam. Partisipan adalah 170 mahasiswa berdomisili di kota-kota besar di Indonesia yang dipilih dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian dengan uji kolerasi spearman menunjukan bahwa self-compassion berkorelasi positif dan signifikan dengan gaya hidup sehat pada dimensi hubungan interpersonal, pertumbuhan spiritual, dan manajemen stres, dan tidak berkorelasi dengan dimensi nutrisi, tanggung jawab kesehatan dan aktivitas fisik.. Keterbatasan pada penelitian ini adalah perlu upaya promosi kesehatan dengan meningkatkan rasa self-compassion mahasiswa baik melalui praktisi maupun akademisi, serta edukasi kesehatan secara holistik.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"17 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135258005","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Peran Strength-Based Parenting terhadap Subjective Well-Being pada Mahasiswa Indonesia Peran基于力量的养育与主观幸福感的关系
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-09-18 DOI: 10.24854/jps.v10i2.2847
Marissa Chitra Sulastra, Vida Handayani
{"title":"Peran Strength-Based Parenting terhadap Subjective Well-Being pada Mahasiswa Indonesia","authors":"Marissa Chitra Sulastra, Vida Handayani","doi":"10.24854/jps.v10i2.2847","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i2.2847","url":null,"abstract":"Subjective well-being adalah refleksi kognitif individu terhadap kehidupannya sekaligus respons emosi individu yang bersifat positif (Diener, 1984). Mahasiswa di Indonesia masih menjadi tanggung jawab dari orangtuanya. Perlu ada pengasuhan yang tepat untuk membantu peningkatan subjective well-being mahasiswa melalui strength-based parenting. Strength-based parenting adalah gaya pengasuhan yang memiliki karakteristik berupa pengetahuan mengenai dan dorongan untuk mengembangkan strengths (Waters, 2017). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran strength-based parenting terhadap subjective well-being yang dimiliki mahasiswa Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode korelasional dengan uji regresi linier. Terdapat 326 responden dalam penelitian ini. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner strength-based parenting dari Waters (2015), Satisfaction with Life Scale dari Diener, E., Emmons, R. A., Larsen, R. J., &amp; Griffin, S. (1985) dan Scale of Positive and Negative Affect (SPANE) dari Diener &amp; Diener (2009). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strength-based parenting dapat berkontribusi secara signifikan terhadap life satisfaction (R2 = 0.315, p < 0.001) dan affect balance (frekuensi emosi positif yang lebih tinggi daripada emosi negatif) (R2 = 0.190, p < 0.001) pada mahasiswa.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"34 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-09-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135257794","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Kepuasan Pernikahan Tanpa Anak: Sebuah Studi Fenomenologi 无子婚姻满意度
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-02-09 DOI: 10.24854/jps.v10i1.2846
Amalia Adhandayani, Alifa Tri Febrianti, Nadhifa Itsna Maulida, Risha Asfrillah
{"title":"Kepuasan Pernikahan Tanpa Anak: Sebuah Studi Fenomenologi","authors":"Amalia Adhandayani, Alifa Tri Febrianti, Nadhifa Itsna Maulida, Risha Asfrillah","doi":"10.24854/jps.v10i1.2846","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i1.2846","url":null,"abstract":"Childfree berkembang sebagai stereotip yang mempertanyakan apakah pasangan puas tanpa kehadiran anak, terutama jika childfree adalah sebuah pilihan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mendeskripsikan kualitas kepuasan pernikahan pada individu yang memutuskan untuk tidak memiliki anak. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif fenomenologis. Partisipan berjumlah dua orang dan dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling dengan empat kriteria: a) Individu yang memutuskan untuk tidak memiliki anak secara sukarela (voluntary childless); b) Perempuan; c) Telah menikah dengan usia minimal menikah 1 tahun; d) Tinggal bersama pasangan dalam satu rumah, bukan yang sedang menjalani pernikahan jarak jauh. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keputusan tegas untuk tidak memiliki anak hanya ditemukan pada subjek GM. Dengan demikian, upaya untuk tidak memiliki anak lebih tepat menggambarkan keputusan subjek SA dan GM untuk menjalani pernikahan tanpa anak. Upaya ini mendorong komunikasi asertif, meningkatkan keintiman dengan melakukan aktivitas bersama, memiliki kesempatan menabung lebih banyak, serta lebih bebas beban tanpa anak. Namun, upaya tidak memiliki anak saling terkait dengan ketakutan ditolak oleh keluarga, yang mana mempengaruhi keraguan kedua subjek untuk tetap menjalani pernikahan childfree seumur hidup mereka. Dapat disimpulkan bahwa kualitas kepuasan pernikahan pada kedua subjek hanya diwakili oleh empat aspek kepuasan pernikahan yaitu communication, leisure activity, financial management serta children and parenting yang muncul pada tema-tema dari jawaban partisipan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan penelitian terkait pernikahan sukarela tanpa anak di Indonesia.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"93 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136175407","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Resilience and Religious Coping as Moderators in The Interaction of Trait Anxiety and Pain Catastrophizing 心理韧性和宗教应对在特质焦虑和痛苦灾难化的交互作用中起调节作用
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-02-09 DOI: 10.24854/jps.v10i1.2848
Afini Wirasenjaya, Sali Rahadi Asih
{"title":"Resilience and Religious Coping as Moderators in The Interaction of Trait Anxiety and Pain Catastrophizing","authors":"Afini Wirasenjaya, Sali Rahadi Asih","doi":"10.24854/jps.v10i1.2848","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i1.2848","url":null,"abstract":"Chronic pain in young adults can affect daily activity ranging from interfering with work productivity, restricting social life, intruding on developmental tasks, lessening the quality of life, to triggering psychological disorders. This condition can be worse if individuals with chronic pain have anxiety issue that makes them engage in pain catastrophizing, i.e., thinking about the pain fatally. In discussing chronic pain, previous studies sought the negative factors around pain experience. Nowadays, professionals pay more attention to the positive factor, like resilience (ability to bounce back). Besides, when dealing with negative life events, Indonesian also tend to implement religious culture, values, and practices. In this study, the author examines the role of resilience and religious coping as moderators in the interaction of trait anxiety and pain catastrophizing. A total of 275 individuals with chronic pain aged 18-35 participated in this study. Participants informed their consent and filled out a set of questionnaires that described their pain experiences. The regression analysis results show that positive religious coping has a moderating role in the interaction of trait anxiety and pain catastrophizing. Having a good connection with God or a higher being, as well as others and oneself, can help chronic pain patients deal with their pain. From this finding, professionals can consider positive religious coping an intervention target when helping chronic pain patients.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136175173","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Resiliensi Orang Tua yang Memiliki Anak dengan Penyakit Kronis: Pengaruh Dukungan Sosial, Religiositas dan Faktor Demografi 患有慢性病的父母寿命:社会支持、宗教虔诚和人口统计因素的影响
Jurnal Psikogenesis Pub Date : 2023-02-09 DOI: 10.24854/jps.v10i1.2849
Neneng Tati Sumiati, Dhea Hayatin Nufus, Rena Latifa
{"title":"Resiliensi Orang Tua yang Memiliki Anak dengan Penyakit Kronis: Pengaruh Dukungan Sosial, Religiositas dan Faktor Demografi","authors":"Neneng Tati Sumiati, Dhea Hayatin Nufus, Rena Latifa","doi":"10.24854/jps.v10i1.2849","DOIUrl":"https://doi.org/10.24854/jps.v10i1.2849","url":null,"abstract":"Orang tua yang memiliki anak dengan penyakit kronis mengalami kelelahan secara fisik, stress, frustrasi dan depresi. Di sisi lain, kondisi mental yang sehat dan stabil, atau secara spesifik daya lenting (resiliensi) sangat diperlukan dalam mendampingi proses pengobatan penyakit yang diderita anaknya. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh dukungan sosial (emosi, instrumental, mencari dan membutuhkan dukungan), religiositas (belief, practice, feeling, knowledge dan effect) serta faktor demografi (usia anak, masa pengobatan, jenis penyakit, tingkat pendidikan dan pekerjaan orang tua) terhadap resiliensi orang tua yang memiliki anak dengan penyakit kronis. Teknik pengambilan sampel menggunakan nonprobability sampling jenis purposive sampling. Terdapat 160 orang tua yang berdomisili di Jabodetabek menjadi partisipan penelitian ini. Alat ukur yang digunakan yakni: Resilience Quetiont (RQ) Test, Berlin Social Support Scale (BSSS) dan skala religiositas yang mengacu pada teori Glock and Stark. Validitas instrumen penelitian dilakukan dengan menggunakan confirmatory factor analysis (CFA). Analisis data menggunakan Teknik analisis regresi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan social dan religiositas berkontribusi secara signifikan terhadap resiliensi orang tua (r2=60.2%, p<.001). Faktor-faktor yang berpengaruh secara signifikan adalah dimensi emosi (b=.865, p<.001) dan mencari dukungan sosial (b=.485, p=.011<0.05), dimensi practice (b=.333, p=.034) dan feeling religiosity (b=.921, p<.001). Sementara dari variabel demografi diketahui jenis penyakit (b=.485, p=.006) dan pekerjaan orang tua (b=-.540, p=.041) berpengaruh signifikan terhadap resiliensi orang tua. Impilikasinya disarankan untuk memberikan dukungan emosi pada orang tua yang memiliki anak dengan penyakit kronis dan orang tua disarankan untuk meningkatkan level religiositasnya.","PeriodicalId":33398,"journal":{"name":"Jurnal Psikogenesis","volume":"2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-02-09","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136175408","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
0
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
相关产品
×
本文献相关产品
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书