Ridhwan Ridhwan, S. A. A. Samad, Khaeruddin Kiramang, Hasan Hasan
{"title":"KALINDAQDAQ TRADITION OF MANDAR COMMUNITY IN WEST SULAWESI: ISLAMIC EDUCATION STUDY BASED ON LOCAL WISDOM","authors":"Ridhwan Ridhwan, S. A. A. Samad, Khaeruddin Kiramang, Hasan Hasan","doi":"10.18860/eh.v23i2.13337","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.13337","url":null,"abstract":"Kalindaqdaq is a literary work of Mandar community which is considered as an old poetry and one of the actualizations of religion and local wisdom harmonization. Several studies on Kalindaqdaq have been conducted but none explores from ethno-pedagogical perspective. This study is aimed at supporting the importance of local wisdom in Islamic education because the education process cannot be separated from the expression of culture and customary orders proven to be capable of educating humans. This study employs a qualitative method with ethno pedagogical approach. The data are collected through a library research by identifying, selecting, and reviewing research outputs relevant to the topic and literary works about Kalindaqdaq. The analysis is conducted by finding out the integration or interconnection relationships of the local wisdom with education. The findings reveal that Kalindaqdaq functions as a means of religious education, morals, traditional socialization media, communication tools for traditional narratives and entertainment. Kalindaqdaq as a cultural product contains Islamic educational values, such as monotheism, worship, morals, social and heroism. The implication of this study derives from the findings. The findings imply that kalindaqdaq is important under an ethnopedagogical perspective, applicable in the educational process. This study is the evidence of Islam and local wisdom harmonization, which highly supports the development of Islamic education as an integral part of education in Indonesia.Kalindaqdaq merupakan karya sastra masyarakat Mandar yang tergolong sebagai puisi lama dan dianggap sebagai salah satu aktualisasi harmonisasi agama dan kearifan lokal. Beberapa penelitian tentang Kalindaqdaq telah dilakukan tetapi belum ada yang mengeksplorasi harmonisasi pendidikan Islam dan kearifan lokal dengan perspektif etnopedagogis. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnopedagogis. Signifikansi kajian ini adalah untuk menegaskan bahwa keberadaan kearifan lokal dalam pendidikan Islam menjadi penting karena proses pendidikan tidak lepas dari ekspresi budaya dan tatanan adat yang dapat mendidik manusia. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka dengan mengidentifikasi, memilih, dan mengkaji literature ilmiah yang relevan dengan topik penelitian dan karya sastra tentang Kalindaqdaq. Analisis dilakukan untuk mengetahui keterpaduan atau keterkaitan kearifan lokal dengan pendidikan. Temuan mengungkapkan bahwa Kalindaqdaq memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan agama, moral, media sosialisasi tradisional, alat komunikasi untuk narasi tradisional dan hiburan. Kalindaqdaq sebagai produk budaya mengandung nilai-nilai pendidikan Islam seperti tauhid, ibadah, akhlak, sosial dan kepahlawanan. Implikasi dari penelitian ini berasal dari temuan. Temuan ini menyiratkan bahwa kalindaqdaq penting dari perspektif etnopedagogis, yaitu penggunaan kearifan lokal dalam proses pendidikan. Kajian ini merupakan bukti har","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"37 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123196809","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
D. Sulaksono, W. Lestari, Budi Waluyo, Islah Islahuddin
{"title":"JAVANESE BELIEF IN THE CEREMONY OF BERSIH DESA WITH WAYANG KULIT PLAY","authors":"D. Sulaksono, W. Lestari, Budi Waluyo, Islah Islahuddin","doi":"10.18860/eh.v23i2.12858","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.12858","url":null,"abstract":"Humans, nature, culture, and creators have an inseparable relationship. In Javanese culture, gratitude is realized through cultural events, such as Bersih Desa (village clean-ups ceremony). A puppet play of Sri Mulih is performed as an expression of gratitude. This research is a qualitative descriptive study with three stages: data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The data source is a video of Wayang Purwa play of Sri Mulih. First, the data are reduced and analyzed by discussing the problem. Finally, the data are assessed by using triangulation techniques to obtain data validity. This study found that the religious value within the play is related to the ceremony of Bersih Desa in the Purworejo district. The finding provides a picture of the acculturation of local culture and Islamic teachings because wayang plays are adapted according to the Javanese culture.Manusia, alam, budaya, dan pencipta memiliki hubungan yang tidak bisa dipisahkan. Dalam budaya masyarakat Jawa, rasa syukur diwujudkan dengan acara-acara kebudayaan seperti halnya bersih desa. Lakon wayang kulit Sri Mulih yang dipentaskan sebagai perwujudan rasa syukur masyarakat Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan keyakinan religi masyarakat hubungannya dengan kepercayaan bersih desa menggunakan sarana pertunjukan wayang kulit purwa dengan lakon Sri Mulih. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan tiga tahapan penelitian, yaitu reduksi data, sajian data, dan penarikan simpulan. Sumber data dalam penelitian ini adalah video pertunjukan wayang purwa lakon Sri Mulih. Data-data dalam sumber data utama direduksi dan dianalisis dengan pembahasan masalah. Terakhir data-data yang diperoleh diuji dengan menggunakan teknik triangulasi untuk mendapat suatu derajat validitas data. Hasil dalam penelitian ini, ditemukan nilai religius dalam lakon tersebut terkait prosesi bersih desa di kabupaten Purworejo. Hasil ini memberikan gambaran akulturasi budaya lokal dan ajaran Islam karena lakon wayang telah diadaptasi sesuai dengan kultur busaya masyarakat Jawa.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"5 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124795891","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"THE DYNAMICS OF WAYANG GOLEK IN PANDEMIC AND GLOBALIZATION: TRADITIONAL ART SUSTAINABILITY","authors":"M. Islamy, Aam Abdussalam, Giani Adzkia","doi":"10.18860/eh.v23i2.13290","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.13290","url":null,"abstract":"This research aims to explore the dynamics of wayang golek art and to highlight its sustainability in the future. Modernity, the acceleration of technological devices and globalization wave in the last two decades, transfers great pressure on traditional arts and culture. Wayang Golek, a performing art originally from West Java, has recently received a fairly strong wave of resistance due to changes in the social culture which is mainly leading to modernity. By using a qualitative approach, data collection techniques were carried out by interviewing two main players as the puppeteers of Wayang Golek. The data analysis uses the theory of Miles and Hubberman, and the theoretical study of Islamic studies. The results of the study show that 1) Wayang Golek has unique characteristics, where the talent needed tends to go through the \"inheritance\" tradition, 2) Wayang Golek can be a bridge for internalizing religious and humanist values for the community through unique stories based on custom, 3) the restriction of Wayang Golek performance due to the Covid-19 pandemic leads the puppeteers to be more creative to survive, such as creating videos and uploading them in YouTube and other social media, and 4) the preservation of this art depends on the serious attention of all parties, from the government, regional officials, and the community.Penelitian ini bertujuan untuk mengeskplorasi dinamika kesenian wayang golek, serta menyoroti keberlangsungan ‘hidup’ seni tradisional wayang golek dimasa yang akan datang. Era modernitas, akselerasi perangkat teknologi dan gelombang arus globalisasi dalam dua dekade terakhir, memberikan tekanan hebat pada wilayah seni dan budaya tradisional. Wayang Golek sebuah seni pertunjukkan yang berasal dari Jawa Barat akhir-akhir ini mengalami gelombang resistensi cukup kuat imbas dari perubahan kultur sosial masyarakat yang bergerak kearah modernitas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap dua pemain utama sebagai “Dalang” Wayang Golek, observasi dan dokumentasi. Adapun analisis data menggunakan teori Miles dan Hubberman, dan kajian teoritis Islamic studies. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Seni Wayang Golek memiliki karakteristik unik, dimana bakat yang dibutuhkan cenderung melalui tradisi “warisan”, 2) Wayang Golek dapat menjadi jembatan internalisasi nilai-nilai religius dan humanis bagi masyarakat melalui cerita-cerita unik berbasis adat, 3) dilarangnya pagelaran Wayang Golek akibat pandemi Covid-19 membuat para dalang lebih kreatif untuk bertahan, seperti membuat video dan menunggahnya ke YouTube dan media sosial yang lain, dan 4) Kelestarian kesenian ini bergantung terhadap perhatian serius semua pihak baik dari pemerintah, pejabat daerah, maupun masyarakat.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"190 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"133636396","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"المناجاة في الأدب العربي النيجيري:دراسة أسلوبية لمناجاة زكريا إدريس أوبو حسين MUNAJAT IN NIGERIAN ARABIC LITERATURE: A STYLISTIC STUDY OF MUNAJAT OF ZAKARIYAU IDREES -- OBOH OSENI","authors":"Uthman Idrees Kankawi","doi":"10.18860/eh.v23i2.13367","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.13367","url":null,"abstract":"الملخصهذا البحث يرصد دراسة مناجيات البروفيسور زكريا إدريس أوبو حسين، دراسة أسلوبية، للوقوف على قدرة الكاتب في رسم المشاهد المختلفة في حالات النفس الإنسانية، والكشف عن مستويات المناجيات النصية، والتقديم لدلالات ما خلف النص بوصفه نصاً أدبياً خاضعاً للقراءة والتأويل. وقد تناولت الدراسة كتب مناجاته في مستوياتها الصوتية والتركيبية والدلالية محاولة لإجراء الدراسة الأسلوبية عند كل مستوى، فقد أورد البروفيسور الاستعارات والتشبيهات والكنايات بشكل تفاعلي مع الجو الملائم لكل مناجاة، وأهمية هذا البحث تظهر في قلة أمثاله في المكتبات التي تستقري مثل هذه النصوص الإسلامية الشريفة، والتي تستحق لفت النظر. وتم تقسيم الدراسة إلى أربعة مباحث، سبقهم ملخص، ومقدمة، وفي الخاتمة تم تسجيل أهم النتائج فضلا عن المصادر والمراجع، والله المستعان. AbstractProfessor Zakariyau Idrees Oboh Oseni, is one of the prominent figures of Arabic and Islamic literature in Nigeria, working with University of Ilorin in Nigeria as an exemplary teacher, a writer and even a Critical critic. His poetic talent, literary ability, linguistic wealth, knowledge of the Noble Qur’an and the Prophet’s Sunnah, made him succeed in the Art of Munajat, and succeed as a sincere scholar who raises the nation a high-level education. This Research aims to study the Munajat (Monologues) of Professor Zakariyau Idrees Oboh Oseni as a stylistic study, to determine the writer›s ability to draw different scenes in cases of the human soul, to reveal the levels of textual Monologues, and to present the implications of what is behind the text as a literary text subject to reading and interpretation. The Study dealt with his Monologue books in their phonetic, structural and semantic levels, an attempt to conduct a stylistic study at each level. This approach includes a set of principles and procedures that aid the study of the text as a scientific study, through method analysis. The research is divided into three sections, preceded by a summary, followed by a conclusion.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"13 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"115364150","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"THE LEVELS OF JOY IN MUSLIMS’ CELEBRATIONS: A COMPARISON BETWEEN EID AND WEDDINGS","authors":"Waqar Husain, Kiren Zahoor, Farrukh Ijaz","doi":"10.18860/eh.v23i2.14084","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.14084","url":null,"abstract":"The current study intended to analyze the levels of joy in religious festivals. It involved 387 Pakistani Muslims including men (n=143) and women (n=282). Data was collected through a specifically developed questionnaire in Urdu. The findings revealed that Pakistani Muslims enjoy their festivals at a very low degree and the levels of joy in Eid-ul-Fitr and Eid-ul-Adha remains significantly lower than the levels of joy in weddings. The level of joy for Pakistanis during different festivals could not exceed 31 percent. The findings further revealed that, instead of being joyous, a little minority of the respondents felt sadness and tiredness while celebrating different festivals. Men had significantly higher levels of joy on Eid-Ul-Fitr and Eid-Ul-Adha as compared to women. Women had significantly higher levels of joy on close-relative’s wedding as compared to men. Unmarried had significantly higher levels of joy on friend’s wedding as compared to married. Kajian kali ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keceriaan pada hari raya keagamaan. Ini melibatkan 387 Muslim Pakistan termasuk pria (n=143) dan wanita (n=282). Data dikumpulkan melalui kuesioner yang dikembangkan secara khusus dalam bahasa Urdu. Temuan mengungkapkan bahwa Muslim Pakistan menikmati festival mereka pada tingkat yang sangat rendah dan tingkat kegembiraan di Idul Fitri dan Idul Adha tetap jauh lebih rendah daripada tingkat kegembiraan dalam pernikahan. Tingkat kegembiraan orang Pakistan selama festival yang berbeda tidak bisa melebihi 31 persen. Temuan lebih lanjut mengungkapkan bahwa, alih-alih gembira, sebagian kecil responden merasakan kesedihan dan kelelahan saat merayakan festival yang berbeda. Pria memiliki tingkat kegembiraan yang jauh lebih tinggi pada Idul Fitri dan Idul Adha dibandingkan dengan wanita. Wanita memiliki tingkat kegembiraan yang jauh lebih tinggi pada pernikahan kerabat dekat dibandingkan dengan pria. Belum menikah memiliki tingkat kegembiraan yang jauh lebih tinggi pada pernikahan teman dibandingkan dengan menikah.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"41 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129021732","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"ISLAMIC RELIGIOUS VALUES IN SAPTA TIRTA PABLENGAN FOLKLORE","authors":"Rahayu Nur Istiana, A. Rakhmawati, N. Wardani","doi":"10.18860/eh.v23i2.13340","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.13340","url":null,"abstract":"“Sapta Tirta Pablengan” folklore which is originated from Karanganyar Regency, Central Java, is one of Javanese identities with a lot of local values and wisdom. This study aims to describe and explain Islamic religious values behind “Sapta Tirta Pablengan” folklore. It is a descriptive qualitative research with content analysis method. The data were collected through literature study, structured and in-depth interviews, and field observations. The data analysis employed independent techniques and flow analysis techniques. The results of the study show that the Islamic religious values of Sapta Tirta Pablengan folklore could be grouped into three dimensions along with their respective indicators. The first is faith dimension with indicators: (1) believing in Allah, (2) believing in His destiny, (3) surrendering to Him, (4) sincere, and (5) practicing worship. The second is experience dimension with indicators: (1) helpful, (2) honest, (3) forgiving, and (4) hard work. The third category is natural dimension with the indicator of managing and conserving nature. Therefore, “Sapta Tirta Pablengan” folklore can be recommended a learning material at schools because it contains Islamic religious character education.Cerita rakyat “Sapta Tirta Pablengan” yang berasal dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, merupakan salah satu jati diri masyarakat Jawa yang sarat akan nilai-nilai dan kearifan lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan nilai religius Islam yang terkandung dalam cerita rakyat “Sapta Tirta Pablengan.” Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi. Metode pengumpulan data dengan studi pustaka, wawancara terstruktur dan mendalam, serta observasi lapangan. Teknik analisis data menggunakan teknik mandiri dan teknik analisis mengalir. Hasil kajian menunjukkan mengandung nilai religius Islam dikelompokkan menjadi tiga dimensi beserta indikator yang menyertai. Pertama, dimensi keyakinan dengan indikator: (1) percaya adanya Allah, (2) percaya pada takdir Allah, (3) pasrah pada Allah, (4) iklhas, dan (5) menjalankan ibadah. Kedua, dimensi pengalaman dengan indikator: (1) suka menolong, (2) jujur, (3) pemaaf, dan (4) kerja keras. Ketiga, dimensi alam dengan indikator mengelola dan melestarikan kekayaan alam. Dengan demikian, cerita rakyat “Sapta Tirta Pablengan” bisa direkomendasikan sebagai materi pembelajaran sastra di sekolah karena sarat dengan pendidikan karakter religius.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"127901794","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
M. Hidayatullah, Muhamad Anwar Firdausi, Yusuf Hanafi, Z. Ismail
{"title":"THE DIALECTICS OF RELIGIOUS AND CULTURAL LIBERALISM IN THE TRANSCULTURAL ERA","authors":"M. Hidayatullah, Muhamad Anwar Firdausi, Yusuf Hanafi, Z. Ismail","doi":"10.18860/eh.v23i2.13956","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i2.13956","url":null,"abstract":"Trans culture is a cross-cultural condition which can develop or survive within the life of a community. Religion and culture as the pillars for unity in the cross-cultural era can potentially develop into liberalism. This study aims to reveal the process of religious and cultural liberalism along with the solutions. It uses a qualitative-analysis method with hermeneutic approach based on the thoughts of the figures of Nahdlatul Ulama (NU) in East Java. To collect the data, the researchers conduct in-depth interviews and data analysis of the works and news on religious and cultural liberalism. The study discovers the dialectic model of religious liberalism by making human rights the main source of law, which is called theological-capitalism. Besides, it finds cultural liberalism in the form of an identity crisis, which is called enculturation-liberalism. To overcome the religious liberalism, we can use clarification techniques and logical-systematic thinking. Meanwhile, the solution to deal with cultural liberalism is through cultural realism and socio-cultural learning. Transkultural adalah kondisi lintas kebudayaan yang dapat berkembang atau bertahan di kehidupan masyarakat. Agama dan budaya sebagai pilar persatuan yang dalam era lintas kebudayaan berpotensi berkembang pada paham liberal. Tujuan penelitian ini mengungkap proses liberalisme agama dan budaya yang disertai solusi dalam menangkalnya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif-analisis dengan pendekatan hermeneutik berdasarkan pemikiran tokoh Ulama’ NU Jawa Timur. Dalam menggali data, dilakukan interviu mendalam serta analisis data dokumentatif karya dan berita liberalisme agama dan budaya. Hasil penelitian ditemukan model dialektika liberalisme agama dengan menjadikan Hak Asasi Manusia sebagai sumber hukum utama disebut teologis-kapitalistik, sedangkan dialektika liberalisme budaya dalam bentuk krisis identitas disebut enkulturasi-liberalistik. Solusi dalam menaggulangi liberalisme agama dengan menggunakan teknik klarifikasi dan berfikir logis-sistematis. Sedangkan solusi menghadapi liberalisme budaya melalui realisme culture dan socio-culture learning.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"108 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-12-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"126803084","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"مظاهر الازدهار الحضاري الإسلامي في إندونيسيا في أوائل القرن الحادي والعشرين MADHAHIR AL-IZDIHAR AL-HADHARI AL-ISLAMIY FI INDONESIA FI AWA’IL AL-QARN AL-HADI WA AL-‘ISRIN","authors":"Mohammad Syairozi Dimyathi, Ahmad Satori","doi":"10.18860/eh.v23i1.11910","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i1.11910","url":null,"abstract":"تبحث هذه الدراسة عن مظاهر الازدهار الحضاري الإسلامي في إندونيسيا المعاصرة، من مظاهر الازدهار السياسي والثقافي والاقتصادي والعمراني الإسلامي في إندونيسيا. وتم اختيار في هذا البحث المنهج الوصفي الاستقرائي. ومن نتائج هذا البحث، أنه ظهر في عصر الإصلاح العديد من الأحزاب السياسة الإسلامية. وعلى الرغم من أن هذه الأحزاب الإسلامية لا تحظى بكثير من أصوات الناخبين، إلا أن ائتلافها يمكنها إخراج العديد من الشخصيات البارزة في المناصب الاستراتيجية في المؤسسات التنفيذية والتشريعية في البلاد. وفى عهد الإصلاح أيضا ظهر التقدم في مجال التربية والتعليم، ومن بينه إنشاء المدارس الإسلامية المتكاملة الأهلية والحكومية من المراحل الابتدائية والإعدادية والثانوية، كما أنشأت الجامعات الإسلامية الحكومية والأهلية التي فتحت الكليات العامة لخلق التكامل المعرفي فيها. وفى أواخر عهد سوهرتو بدأ التقدم في مجال الاقتصاد الإسلامي بإنشاء بنك المعاملات الإسلامي. وانتشرت بعد ذلك البنوك الإسلامية مثل BSM الشريعة BRI الشريعة BNI الشريعة وغيرها من البنوك الإسلامية. كما أنشئت كذلك المؤسسات المالية الإسلامية الأخرى. ومن مظاهر التقدم فى مجال الفنون المعمارية وجود الهندسة المعمارية للمساجد في إندونيسيا حيث انتهجت أنماطا كثيرة، وقلدت الدول الإسلامية في الشرق الأوسط. ومع ذلك هناك نمط معماري آخر في إندونيسيا الذي وضعته مؤسسة بانشاسيلا الخيرية الإسلامية (YAMP) التي بنت مئات من المساجد على نفس النمط المعماري.This article explores the manifestations of Islamic civilization prosperity in current Indonesia, from politics, education, economics, and architecture. The method used in this research is descriptive-inductive. In the early twenty-first century, especially in the era of reform, many Islamic political parties appeared. Although these Islamist parties do not receive many votes, their coalition can bring out some prominent figures in strategic positions in the country›s executive and legislative institutions. Meanwhile, in the field of education, the establishment of numerous Islamic private and public schools from any levels of education in which frames the concept of knowledge integration could be identified as one of the glories. The development as well as discovered in the field of economics and architectures. For the former, it started with the establishment of a huge number of Islamic Bank (Muamala) and other Islamic financial institutions. The latter is proven with the presence of mosque architecture adopting many styles of Islamic countries in the Middle East. There is another architectural style in Indonesia developed by the Pancasila Islamic Charitable Foundation (YAMP) which has built hundreds of mosques in the same architectural style.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"66 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123779592","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"SYMBOLIC MEANING OF KESANDINGAN RITUAL IN PROBOLINGGO","authors":"N. Nurhadi, Faisol Faisol, F. Ibrahim","doi":"10.18860/eh.v23i1.10545","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i1.10545","url":null,"abstract":"Kesandingan, one of the rituals in Probolinggo, East Java, is a cultural phenomenon that mingles with religious elements of society. It is something sacred and mystical that parents do when a toddler (an infant under three years old) experiences heat illness for days, tends to be fussy, cries a lot, and cannot sleep at night. This research aims to explain the process of symbolic communication of kesandingan ritual and to understand the symbolic meaning behind the ritual. It is a descriptive-qualitative study through observation, in-depth interviews, and documentation. The data analysis uses a qualitative-naturalistic technique. The result demonstrates that the symbolic communication process of kesandingan ritual in Mentor, Sumberasih, Probolinggo, comprises seven series: burning incense, wiping incense smoke on the child's face, giving the child holy water to drink, wiping the child with floral water, preparing food, making a wish on the child's bed, and distributing food. Meanwhile, the symbolic meaning of kesandingan ritual refers to divine, social and personal dimensions. Ritual kesandingan merupakan salah satu ritual masyarakat Probolinggo Jawa Timur yang sudah menjadi fenomena budaya yang berbaur dengan unsur religi masyarakat. Ritual kesandingan merupakan sesuatu yang sakral dan mistis yang dilakukan orang tua saat anak batita (bawah tiga tahun) mengalami sakit panas berhari-hari, rewel, kerap menangis dan tidak bisa tidur terutama malam hari. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan proses komunikasi simbolik ritual kesandingan dan memahami makna simbolik dibalik ritual tersebuat. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif, pengumpulan datanya melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Sedangkan analisis datanya menggunakan teknik analisa data kualitatif-naturalistik. Sebagai hasilnya, diketahui bahwa proses komunikasi simbolik ritual kesandingan di desa Mentor Kecamatan Sumberasih Kabupaten Probolinggo meliputi tujuh rangkaian yaitu: membakar kemenyan, mengusap asap kemenyan ke wajah anak, memberi minuman kepada anak dengan air doa, mengusap wajah anak dengan air bunga, menyiapkan makanan, memanjatkan doa ditempat tidur anak, dan membagikan makanan. Sedangkan makna simbolik ritual kesandingan mencakup tiga dimensi, yaitu: dimensi ketuhanan, sosial, dan personal.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"77 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"123212783","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
M. Muslih, Abdul Rohman, Ahmad Ahmad, A. Saifullah
{"title":"SUNAN KALIJAGA’S DA'WAH STRATEGY IN SULUK LINGLUNG AND ITS IMPLICATION TO INDONESIAN RADICALISM MOVEMENT","authors":"M. Muslih, Abdul Rohman, Ahmad Ahmad, A. Saifullah","doi":"10.18860/eh.v23i1.11672","DOIUrl":"https://doi.org/10.18860/eh.v23i1.11672","url":null,"abstract":"Sunan Kalijaga was known as a creative da’i in spreading da'wah. One of the media for his da’wah is a literary work entitled Suluk Linglung. In the Suluk Linglung manuscript, two da’wah strategies had been employed by Sunan Kalijaga, both of which were expected to be relevant if applied in Indonesia today, considering the many issues of radicalism. This research is a literature review. Data were collected by using documentation method through a research on Suluk Linglung. Therefore, to dissect the contents of the manuscript, the author uses qualitative research methods and Gadamer's hermeneutic approach. Finally, it suggested that Sunan Kalijaga used two da'wah strategies, Sufistic da'wah strategy and multicultural da’wah strategy. It is expected that the use of the strategies in the current da’wah can dismiss the radicalism movement. Therefore, it brings out the principle of da’wah that is gentle, friendly, and nurturing to people, or da'wah rahmatan li-l 'alamin.Sunan Kalijaga dikenal sebagai seorang da’i yang kreatif dalam menyebarkan dakwah. Salah satu media dakwah beliau adalah melalui karya sastra yang berjudul Suluk Linglung. Dalam manuskrip Suluk Linglung tercermin dua strategi dakwah yang pernah dilakukan oleh Sunan Kalijaga, yang keduanya itu diharapkan akan relevan jika diterapkan di Indonesia pada zaman sekarang meninjau banyak sekali isu radikalisme. Penelitian ini berjenis kajian kepustakaan. Metode pengumpulan data menggunakan metode dokumentasi melalui penelitian manuskrip Suluk Linglung. Oleh karenanya, agar dapat membedah isi manuskrip Suluk Linglung, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dan menggunakan pendekatan hermeneutika Gadamer. Adapun untuk teknik analisa data menggunakan teknik analisis isi. Akhirnya, setelah melakukan penelitian lebih lanjut peneliti mendapatkan hasil bahwasanya dalam manuskrip Suluk Linglung, Sunan Kalijaga menggunakan dua strategi dakwah yang meliputi strategi dakwah sufistik dan strategi dakwah multikultural. Jika dua strategi dakwah tersebut diterapkan pada zaman sekarang, maka diharapkan akan berimplikasi terhadap gerakan radikalisme yakni menepis gerakan radikalisme. Sehingga, akan memunculkan prinsip dakwah yang lembut, ramah, dan mengayomi kepada mad’u atau dapat disebut sebagai dakwah rahmatan li-l ‘alamin.","PeriodicalId":180671,"journal":{"name":"El-HARAKAH (TERAKREDITASI)","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2021-06-16","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"124308413","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}