An-Nida (Jambi)Pub Date : 2023-07-01DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23022
M. Riyan Hidayat, Muhafizah El-Feyza, Muh. Alwi HS, Muhammad Akmaluddin, Nazarmanto Nazarmanto
{"title":"Otoritas Dakwah Virtual dalam Tafsir Rahmat H. Oemar Bakry: Analisis Intertekstualitas Julia Kristeva","authors":"M. Riyan Hidayat, Muhafizah El-Feyza, Muh. Alwi HS, Muhammad Akmaluddin, Nazarmanto Nazarmanto","doi":"10.24014/an-nida.v47i1.23022","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.23022","url":null,"abstract":"Kegiatan dakwah di Indonesia mengalami gejolak yang begitu besar, dimana sosial media digunakan sebagai wadahnya. Kemudian, dakwah yang dilakukan dari satu individu merupakan kewajiban muslim Indonesia dan dunia. Penyebaran konten dakwah dalam dunia virtual seakan meresahkan para viewers muslim tentang keaslian dan keotentikan sumber konten yang disebarkan oleh sebuah akun di media sosial dari berbagai flatform. Namun, melalui Tafsir Rahmat penulis melihat bahwa ada tawaran kebaharuan tentang otoritas dakwah virtual agar tidak terjadinya ekspansi ilmu yang cacat. Terlebih lagi, pemahaman yang beragam dari para content creator berpotensi mengadu domba dan menyebarkan propaganda di khalayak luas. Melalui kajian yang berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan kacamata intertekstualitas yang dipelopori oleh Julia Kristeva akan tergambar pesan dan substansi tawaran H. Oemar Bakry dalam melihat problematika tersebut. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan merespon tawaran baru dengan membuat sebuah lembaga di bawah nauangan pemerintah tentang otoritas dakwah virtual. Tujuannya untuk menanggulangi pesan-pesan dakwah yang sifatnya provokatif, tendensius, bias, memihak, subjektif, evokatif yang berseliweran di jagad maya. Hasil dari penelitian ini akan tergambar bahwa kajian ini telah menghasilkan temuan baru bahwa H. Oemar Bakry menawarkan makna akan dibentuk kelompok juru dakwah yang kuat, jujur, dan teratur. Fungsi dari juru dakwah yakni menjadi sumber referensi khazanah keilmuan Islam Indonesia.","PeriodicalId":478403,"journal":{"name":"An-Nida (Jambi)","volume":"87 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135807368","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
An-Nida (Jambi)Pub Date : 2023-07-01DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.25321
Nur Robbaniyah, Noer Hidayat MJ, Velida Apria Ningrum, Nur Afina Ulya
{"title":"Identitas Dan Keragaman Dalam Tarian Hudoq: Tinjauan Moderasi Beragama Berbasis Warisan Leluhur Pada Suku Dayak","authors":"Nur Robbaniyah, Noer Hidayat MJ, Velida Apria Ningrum, Nur Afina Ulya","doi":"10.24014/an-nida.v47i1.25321","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.25321","url":null,"abstract":"Kajian tentang kebudayaan di masyarakat Dayak Wehea terus mengalami perkembangan namun berbagai kajian yang ada luput mengkaji identitas keberagamaan yang ditampilkan. Identitas keberagamaan ini menjadi praktik moderasi beragama yang dilahirkan di masyarakat Dayak Wehea. Oleh karena itu penulis meneliti bagaimana moderasi beragama ditampilkan melalui identitas dan simbol yang terkandung dalam tarian Hudoq di masyarakat Dayak Wehea. Artikel ini bertujuan mendiskusikan tentang tarian Hudoq, sebagai salah satu bentuk identitas dan keragaman berbasis warisan leluhur pada suku Dayak Wehea, khususnya dalam meninjau moderasi beragama. Tari Hudoq merupakan tari yang tidak hanya menjadi identitas kesukuan sekaligus warisan leluhur, tetapi juga menjadi praktik keagamaan di masyarakat. Penelitian ini dilakukan dengan jenis penelitian lapangan dan pustaka sekaligus, sehingga data dikumpulkan melalui wawancara, dokumentasi, serta literatur-literatur terkait topik kajian. Data-data tersebut didiskusikan dengan menggunakan metode deskriptis-analitis dengan pendekatan kualitatif. Artikel ini menyimpulkan bahwa pengamalan moderasi beragama yang berkembang di masyarakat Dayak Wehea dilihat melalui nilai-nilai keagamaan yang ditampilkan dalam tari Hudoq. Nilai-nilai keagamaan ini meliputi nilai persatuan, perdamaian, toleransi antar umat beragama, dan nilai keseimbangan antara manusia dengan alam semesta. Nilai-nilai agama yang ditampilkan pada kegiatan pesta padi dan tari Hudoq menjadi salah satu faktor pendorong terciptanya persatuan dan kesatuan di lingkungan masyarakat Dayak Wehea dan sekitarnya.","PeriodicalId":478403,"journal":{"name":"An-Nida (Jambi)","volume":"101 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135807369","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
An-Nida (Jambi)Pub Date : 2023-07-01DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23161
Jumni Nelli, Nia Elmiati Jaafar
{"title":"Kontekstualisasi Hadis Anjuran Menikah Dan Relevansinya Dengan Batas Usia Menikah Di Indonesia","authors":"Jumni Nelli, Nia Elmiati Jaafar","doi":"10.24014/an-nida.v47i1.23161","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.23161","url":null,"abstract":"Penetapan usia menikah di Indonesia dari usia laki-laki 19 tahun dan perempuan 16 tahun menjadi laki-laki dan perempuan 19 tahun dianggap bertentangan dengan hukum Islam, terutama hadis anjuran menikah. Penelitian ini bertujuan untuk menegaskan bahwa hadis anjuran menikah mempunyai kaitan dengan menetapan batas usia menikah di Indonesia. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan pemahaman hadis yakni dengan memahami makna hadis tentang anjuran menikah, selanjutnya dianalisis dengan pendekatan perundang-undangan yakni (statute approach) dan pendekatan lainnya. Data diperoleh dari kitab-kitab hadis, perundang-undangan yang berlaku di Indonesia, dan data lain seperti jurnal, artikel lain yang berkaitan dengan tulisan ini. Hasil penelitian menjelaskan bahwa hadis anjuran menikah memiliki relevansi dengan batas usia menikah di Indonesia. Hadis tentang anjuran menikah kepada pemuda maksudnya adalah pemuda dalam rentang usia 16 sampai 30 tahun. Sedangkan lafaz ba’ah (mampu) dalam hadis dipahami oleh para ulama adalah kemampuan untuk melakukan jima’ (hubungan seksual) dan biaya pernikahan. Kemampuan hubungan seksual dimaknai dengan arti luas yaitu mampu melakukan seksual dan menanggung akibat dari hubungan seksual tersebut (mempunyai keturunan). Mampu membiayai pernikahan dimaknai dengan kemapuan ekonomi keluarga dan yang berhubungan dengan ekonomi keluarga. Bila dihubungkan dengan usia yang “mampu” menurut hadis tersebut dalam budaya Indonesia adalah mereka yang sudah tamat sekolah menengah atas yaitu minimal 19 tahun.","PeriodicalId":478403,"journal":{"name":"An-Nida (Jambi)","volume":"21 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135807373","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
An-Nida (Jambi)Pub Date : 2023-07-01DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.25330
Choirur Rois, Farhan Masrury
{"title":"Fiqih Al-Ḥaḍarah Perspektif Geopolitik: Gagasan Diplomasi Perdamaian NU Melalui Rekontekstualisasi Fiqih Siyasah","authors":"Choirur Rois, Farhan Masrury","doi":"10.24014/an-nida.v47i1.25330","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.25330","url":null,"abstract":"Tulisan ini berangkat dari konsepsi fikih peradaban “fiqih al-h}aḍarah” sebagai gagasan diplomasi perdamaian yang ditawarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) kepada dunia untuk menghadirkan gagasan agama sebagai solusi atas berbagai konflik yang tak kunjung selesai sampai saat ini. Seperti halnya studi kasus di timur tengah yang memunculkan stereotipe dan citra negatif atas Islam sebagai dasar konflik dengan dalih jihad sebagai ide gerakan. Dalam pandangan Nahdlatul Ulama berdasarkan hasil Muktamar Internasional Fikih Peradaban I, rekontekstualisasi fikih siyasah dalam perspektif geopolitik menjadi sangat penting untuk dilakukan sebagai dasar pemahaman dalam menjalankan ajaran Islam di sektor politik ketatanegaraan serta sebagai upaya dalam mewujudkan perdamaian yang berkelanjutan. Lantas bagaimana rekontekstualisasi fikih siyasah dalam pandangan Nahdlatul Ulama bisa dijadikan gagasan diplomasi perdamaian dunia jika dilihat dari perspektif geopolitik. Tulisan ini disusun menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data menggunakan metode desk research dan annotated bibliography. Pendekatan yang digunakan diantaranya, tekstual-kontekstual, Pendekatan sosiologi hukum Islam dan teori analisis wacana kritis (critical discourse analysis). Hasil dalam tulisan ini menunjukkan bahwa, berdasarkan pandangan NU dalam perspektif geopolitik fiqih al-h}aḍarah dapat dijadikan sebagai term untuk dapat merekontekstualisasikan diskursus fikih siyasah ke arah yang lebih ideal sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan zamannya serta menghadirkan pemikiran fikih sebagai solusi dalam menyongsong peradaban yang lebih baik di masa depan. Baik sebagai suatu gagasan diplomasi ataupun sebagai ide gagasan perdamaian yang berkelanjutan.","PeriodicalId":478403,"journal":{"name":"An-Nida (Jambi)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-07-01","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"135807370","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
An-Nida (Jambi)Pub Date : 2023-06-30DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.21865
Senata Adi Prasetia, Muhammad Fahmi, Moh. Faizin
{"title":"Kecerdasan Sosial Dalam Pendidikan Islam; Analisis Gagasan Fikih Sosial KH. MA. Sahal Mahfudh","authors":"Senata Adi Prasetia, Muhammad Fahmi, Moh. Faizin","doi":"10.24014/an-nida.v47i1.21865","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.21865","url":null,"abstract":"Artikel ini membahas bagaimana pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam dan relevansinya di era kontemporer perspektif KH. Sahal Mahfudh. Sebagai makhluk sosial, manusia tidak bisa hidup sendiri dan selalu memerlukan orang lain untuk berinteraksi. Atas dasar itu, pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam sangat dibutuhkan. Artikel ini berargumen bahwa pengembangan kecerdasan sosial dalam pendidikan Islam di bawah bimbingan KH. MA. Sahal Mahfudh lebih menitikberatkan pada aspek kecerdasan sosial yang tercakup dalam gagasan fikih sosial. Melalui penelitian kualitatif-eksploratif dan kepustakaan, serta dokumentasi dan pengayaan literatur serta analisis data menggunakan tiga aspek; kondensasi data, display data dan verifikasi data, hasil temuan menunjukkan bahwa gagasan fikih sosial KH. MA. Sahal Mahfudh menjadi basis utama bagi pengembangan kecerdasan sosial peserta didik. Dalam hal ini, perkembangan kecerdasan sosial ditampilkan melalui kepekaan sosial, wawasan sosial, dan komunikasi sosial. Melalui pendidikan yang terfokus pada sensitivitas sosial, pengetahuan sosial, dan komunikasi sosial, Kiai Sahal telah menciptakan landasan yang kuat guna pengembangan aspek kecerdasan sosial dalam konteks pendidikan Islam di Indonesia. Bentuk konkret pengembangan kecerdasan sosial yang dilakukan Kiai Sahal tercermin dalam rumusan pendidikan intelektual, pendidikan sosial kemasyarakatan, pendidikan organisasi, pendidikan olahraga dan kesehatan, serta pendidikan keterampilan. Penerapan pemikiran fikih sosial Kiai Sahal dalam pendidikan Islam hendaknya menjadi model dan paradigma baru dalam mengembangkan kecerdasan sosial pada peserta didik pada pendidikan Islam Indonesia kontemporer.","PeriodicalId":478403,"journal":{"name":"An-Nida (Jambi)","volume":"11 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136365258","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
An-Nida (Jambi)Pub Date : 2023-06-30DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.21799
Arman Budiman
{"title":"Studi Kritis Pemikiran Iskandar Zulkarnain Tentang “Gerakan Ahmadiyah Di Indonesia” Perspektif Fenomenologi Edmund Husserl","authors":"Arman Budiman","doi":"10.24014/an-nida.v47i1.21799","DOIUrl":"https://doi.org/10.24014/an-nida.v47i1.21799","url":null,"abstract":"Mengkaji gerakan Ahmadiyah di Indonesia melalui karya Iskandar Zulkarnain menurut penulis perlu adanya tinjauan ulang terhadap tokoh (peneliti), apakah ia benar-benar mengulas sejarah tanpa adanya intervensi dari kalangan manapun.Hal ini sangat penting, sebab akan menentukan kebenaran sejarah dan pengungkapan apakah Ahmadiyah memiliki kontribusi dalam perkembangan pengkajian keilmuan Islam khususnya Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian (library research). Teknik pengumpulan data yang relevan dengan penelitian ini adalah studi dokumentasi, studi dokumentasi mengarah kepada berbagai macam literatur yang berhubungan dengan pemikiran atau konsep tokoh yang dikaji. Hasil dari penelitian ini, ternyata Iskandar Zulkarnain benar-benar menggunakan dua alat yang ditawarkan oleh Edmund Husserl, baik itu epoche dan eiditic, berhasil menanggalkan pengetahuan awalnya demi mendapatkan informasi yang valid dari jemaah Ahmadiyah, terbukti melalui riset Iskandar Zulkarnain, banyak fakta-fakta sejarah yang mendukung Ahmadiyah diminati oleh intelektual muslim tanah air. Melalui karya keislaman yang ditulis oleh tokoh asal Indonesia, dapat dilacak adanya indikasi bahwa ide karya mereka terinspirasi dari literatur milik tokoh Ahmadiyah, terutama dalam narasi perbandingan agama dan kristologi. Cukup dengan bukti ini, bahwa ide Ahmadiyah tervisualisasikan dalam banyak karya intelektual muslim asal Indonesia.","PeriodicalId":478403,"journal":{"name":"An-Nida (Jambi)","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"136365259","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}