{"title":"Studi Kondisi Perumahan, Sosial dan Ekonomi Pada Lokasi Perumahan dan Permukiman Kelurahan Pandu Kota Manado","authors":"Ukhti Bayyinah Sutarno, Fela Warouw, J. O. Waani","doi":"10.35793/sabua.v12i2.48901","DOIUrl":"https://doi.org/10.35793/sabua.v12i2.48901","url":null,"abstract":"Banjir bandang yang melanda Kota Manado pada tanggal 15 Januari 2014 banyak mengakibatkan kerusakan prasarana dan sarana. Perumahan warga yang khususnya rumah – rumah warga yang berada di bantaran sungai sehingga pemerintah mengeluarkan program untuk relokasi rumah. Lokasi dari program relokasi warga yang dilakukan pemerintah ini bertempat di Kelurahan Pandu Kecamatan Bunaken Kota Manado. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan perumahan terhadap tingkat ketersediaan sarana prasarana kawasan permukiman Perumahan Pandu Cerdas selain itu, untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi masyarakat relokasi di Perumahan Pandu Cerdas. Analisis dalam penelitian ini meggunakan metode deskriptif kuantitaif dengan menggunakan skala likert. Berdasarkan penelitian ini, kondisi perumahan Pandu Cerdas ini sudah memiliki fasilitas berupa sarana dan prasarana yang lengkap namun belum digunakan dengan maksimal. Sedangkan untuk kondisi sosial masyarakat di Pandu Cerdas sering berinteraksi antar satu sama lain dan dari segi ekonomi masyarakat tidak mengalami peningkatan setelah di relokasi.Kata kunci: Perumahan; Prasarana; Sarana; Sosial; Ekonomi .AbstractThe flash floods that hit Manado City on January 15 2014 caused a lot of damage to infrastructure and facilities. Residents' housing, especially residents' houses that are on the banks of the river so that the government issued a program for relocating houses. The location of the residents' relocation program carried out by the government is located in Pandu Village, Bunaken District, Manado City. The purpose of this study is to determine the existence of housing on the level of availability of infrastructure facilities serving the Pandu Smart Housing area. The analysis in this study uses a quantitative descriptive method using a Likert scale. In conclusion, the condition of the Pandu Smart housing already has facilities in the form of complete facilities and infrastructure but has not been used optimally. Meanwhile, the social conditions of the people in Pandu Intelligent often interact with each other and from an economic point of view, the community has not experienced an increase after being relocated.Keywords: Housing; Infrastructure; Means; Social; Economy..","PeriodicalId":224950,"journal":{"name":"Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur","volume":"22 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"129326463","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}
{"title":"Pengembangan Konsep Transit Oriented Development (TOD) di Kota Tomohon","authors":"Della I. Kalangie, A. Sembel, Ricky S. M. Lakat","doi":"10.35793/sabua.v12i2.48900","DOIUrl":"https://doi.org/10.35793/sabua.v12i2.48900","url":null,"abstract":"Kemacetan kota dan perkembangan kawasan perkotaan tidak teratur menjadi permasalahan yang sering terjadi pada kota di Indonesia tidak terkecuali pada Kota Tomohon. Kedua permasalahan kota tersebut dapat diatasi dengan adanya Pengembangan kawasan TOD dan menjadi solusi dalam penyelesaian masalah tersebut karena sifatnya yang mengembangkan kawasan dengan transportasi berkelanjutan didukung dengan desain ramah pejalan kaki, tatanan lahan, dan pengawasan terhadap intensitas pemanfaatan ruangnya. Pengembangkan kawasan TOD membutuhkan pengidentifikasian terhadap kriteria pembangunnya, hasil identifikasi kemudian di optimalkan dengan membandingkannya dari standar kriteria kawasan TOD sebagai kebutuhan pengembangan kawasan TOD. Menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan proses analisis spasial dan optimasi dan dilakukan pada lima lokasi dalam Kota Tomohon yakni zona Terminal Beriman, zona Menara Alfa Omega, zona Alfamart Walian, zona Kantor Sinode GMIM, dan zona Alfmart Kinilow. Hasil penelitian menunjukan kriteria yang sudah di identifikasi sebelumnya masih memerlukan pengembangan. Kebutuhan pengembangan terbesar untuk jalur pejalan kaki berada pada zona Alfamart Kinilow dengan persentase 77%. Dalam intensitasnya, kebutuhan pengembangan KDB terbesar berada di zona Terminal Beriman pada blok tiga sebesar 59% dan KLB pada blok tiga dengan nilai 1.89. Dari kelima zona yang diteliti dalam kriteria penggunaan lahan campur, zona Terminal Beriman dan zona Kantor Sinode GMIM masih memiliki kebutuhan pengembangan pada kawasan residential sebesar 14% untuk zona Terminal Beriman dan 3% untuk zona Kantor Sinode GMIM dalam mencapai standar dari pengembangan kawasan TOD lingkungan di Kota Tomohon.Kata kunci: TOD; Transit Oriented Development; Transportasi; Analisis Spasial; SIG.AbstractCity congestion and the development of irregular urban areas are problems that often occur in cities in Indonesia, including the City of Tomohon. Both of these city problems can be overcome by developing TOD areas and being a solution to solving these problems because of their nature to develop areas with sustainable transportation supported by pedestrian-friendly designs, land arrangements, and monitoring of the intensity of spatial use. The development of the TOD area requires identification of the building criteria, the results of the identification are then optimized by comparing them with the standard criteria for the TOD area as the need for the development of the TOD area. Using a descriptive quantitative method with a process of spatial analysis and optimization and carried out at five locations within Tomohon City namely the Faith Terminal zone, the Alfa Omega Tower zone, the Walian Alfamart zone, the GMIM Synod Office zone, and the Alfmart Kinilow zone. The results of the research show that the criteria that have been previously identified still require development. The biggest development need for pedestrian paths is in the Alfamart Kinilow zone with a percentage of 77","PeriodicalId":224950,"journal":{"name":"Sabua : Jurnal Lingkungan Binaan dan Arsitektur","volume":"104 2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0,"publicationDate":"2023-06-23","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":null,"resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":"131593056","PeriodicalName":null,"FirstCategoryId":null,"ListUrlMain":null,"RegionNum":0,"RegionCategory":"","ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":"","EPubDate":null,"PubModel":null,"JCR":null,"JCRName":null,"Score":null,"Total":0}