Epi Supiadi, Annisa Aulia, Muhammad Ramdhan Firmansyah
{"title":"西爪哇省贝卡西的人口经济精神状况","authors":"Epi Supiadi, Annisa Aulia, Muhammad Ramdhan Firmansyah","doi":"10.31595/rehsos.v4i1.545","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Penelitian ini bertujuan menguraikan secara detail mengenai karakteristik manusia gerobak, kondisi psikososial dan ekonomi manusia gerobak di Kota Bekasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik purposive sampling, sehingga ditemukan 4 (empat) orang manusia gerobak sebagai informan utama dan tiga Informan pendukung adalah pejabat Satpol PP dan pejabat Dinas Sosial serta penanggungjawab Rumah Singgah Kota Bekasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biologis semua informan lengkap, sehat tanpa riwayat sakit berat. Kondisi psikologis informan cukup baik, namun menyimpan emosi negative berupa kesedihan dan perasaan duka yang bersumber dari perjalanan hidup mereka. Semua informan memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia gerobak lainnya dan dengan tetangga, kecuali ada dua informan yang tidak mengenal ketua RT dan RW. Hubungan dengan keluarga atau kerabat cukup bervariasi. Kesemua informan belum pernah mendapatkan bantuan kesehatan dan social dari pemerintah. Secara spiritual informan merupakan sosok manusia gerobak yang taat beribadah. Kondisi ekonomi informan mencakup waktu bekerja memulung rongsokan berkisar antara 5 – 8 jam perhari perorang. Barang rosngsokan mencakup botol plastik, kardus, kayu, besi, kaleng dan barang bekas lainnya, dengan harga jual berbeda-beda tergantung pada harga yang ditetapkan oleh para pengepul. Penghasilan perhari berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 60.000, dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makan harian, kopi, rokok dan sebagian ditabungkan oleh Informan. Secara teori kemiskinan yang dialami para informan dari segi pendapatan termasuk kedalam Primary poverty (kemiskinan primer/ absolut), yakni kemiskinan yang bisa digambarkan secara objektif sebagai suatu kekurangan pendapatan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan minimum.","PeriodicalId":404475,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos)","volume":"26 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-07-02","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":"{\"title\":\"KONDISI PSIKOSOSIAL-EKONOMI MANUSIA GEROBAK DI KOTA BEKASI PROVINSI JAWA BARAT\",\"authors\":\"Epi Supiadi, Annisa Aulia, Muhammad Ramdhan Firmansyah\",\"doi\":\"10.31595/rehsos.v4i1.545\",\"DOIUrl\":null,\"url\":null,\"abstract\":\"Penelitian ini bertujuan menguraikan secara detail mengenai karakteristik manusia gerobak, kondisi psikososial dan ekonomi manusia gerobak di Kota Bekasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik purposive sampling, sehingga ditemukan 4 (empat) orang manusia gerobak sebagai informan utama dan tiga Informan pendukung adalah pejabat Satpol PP dan pejabat Dinas Sosial serta penanggungjawab Rumah Singgah Kota Bekasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biologis semua informan lengkap, sehat tanpa riwayat sakit berat. Kondisi psikologis informan cukup baik, namun menyimpan emosi negative berupa kesedihan dan perasaan duka yang bersumber dari perjalanan hidup mereka. Semua informan memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia gerobak lainnya dan dengan tetangga, kecuali ada dua informan yang tidak mengenal ketua RT dan RW. Hubungan dengan keluarga atau kerabat cukup bervariasi. Kesemua informan belum pernah mendapatkan bantuan kesehatan dan social dari pemerintah. Secara spiritual informan merupakan sosok manusia gerobak yang taat beribadah. Kondisi ekonomi informan mencakup waktu bekerja memulung rongsokan berkisar antara 5 – 8 jam perhari perorang. Barang rosngsokan mencakup botol plastik, kardus, kayu, besi, kaleng dan barang bekas lainnya, dengan harga jual berbeda-beda tergantung pada harga yang ditetapkan oleh para pengepul. Penghasilan perhari berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 60.000, dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makan harian, kopi, rokok dan sebagian ditabungkan oleh Informan. Secara teori kemiskinan yang dialami para informan dari segi pendapatan termasuk kedalam Primary poverty (kemiskinan primer/ absolut), yakni kemiskinan yang bisa digambarkan secara objektif sebagai suatu kekurangan pendapatan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan minimum.\",\"PeriodicalId\":404475,\"journal\":{\"name\":\"Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos)\",\"volume\":\"26 1\",\"pages\":\"0\"},\"PeriodicalIF\":0.0000,\"publicationDate\":\"2022-07-02\",\"publicationTypes\":\"Journal Article\",\"fieldsOfStudy\":null,\"isOpenAccess\":false,\"openAccessPdf\":\"\",\"citationCount\":\"0\",\"resultStr\":null,\"platform\":\"Semanticscholar\",\"paperid\":null,\"PeriodicalName\":\"Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos)\",\"FirstCategoryId\":\"1085\",\"ListUrlMain\":\"https://doi.org/10.31595/rehsos.v4i1.545\",\"RegionNum\":0,\"RegionCategory\":null,\"ArticlePicture\":[],\"TitleCN\":null,\"AbstractTextCN\":null,\"PMCID\":null,\"EPubDate\":\"\",\"PubModel\":\"\",\"JCR\":\"\",\"JCRName\":\"\",\"Score\":null,\"Total\":0}","platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Ilmiah Rehabilitasi Sosial (Rehsos)","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.31595/rehsos.v4i1.545","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
KONDISI PSIKOSOSIAL-EKONOMI MANUSIA GEROBAK DI KOTA BEKASI PROVINSI JAWA BARAT
Penelitian ini bertujuan menguraikan secara detail mengenai karakteristik manusia gerobak, kondisi psikososial dan ekonomi manusia gerobak di Kota Bekasi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan teknik purposive sampling, sehingga ditemukan 4 (empat) orang manusia gerobak sebagai informan utama dan tiga Informan pendukung adalah pejabat Satpol PP dan pejabat Dinas Sosial serta penanggungjawab Rumah Singgah Kota Bekasi. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi biologis semua informan lengkap, sehat tanpa riwayat sakit berat. Kondisi psikologis informan cukup baik, namun menyimpan emosi negative berupa kesedihan dan perasaan duka yang bersumber dari perjalanan hidup mereka. Semua informan memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia gerobak lainnya dan dengan tetangga, kecuali ada dua informan yang tidak mengenal ketua RT dan RW. Hubungan dengan keluarga atau kerabat cukup bervariasi. Kesemua informan belum pernah mendapatkan bantuan kesehatan dan social dari pemerintah. Secara spiritual informan merupakan sosok manusia gerobak yang taat beribadah. Kondisi ekonomi informan mencakup waktu bekerja memulung rongsokan berkisar antara 5 – 8 jam perhari perorang. Barang rosngsokan mencakup botol plastik, kardus, kayu, besi, kaleng dan barang bekas lainnya, dengan harga jual berbeda-beda tergantung pada harga yang ditetapkan oleh para pengepul. Penghasilan perhari berkisar antara Rp. 25.000 – Rp. 60.000, dengan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan makan harian, kopi, rokok dan sebagian ditabungkan oleh Informan. Secara teori kemiskinan yang dialami para informan dari segi pendapatan termasuk kedalam Primary poverty (kemiskinan primer/ absolut), yakni kemiskinan yang bisa digambarkan secara objektif sebagai suatu kekurangan pendapatan yang diperoleh untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan minimum.