{"title":"Students’ Critical Thinking Skills in Group Discussion: The Case Study of Fifth Grade Students in Sukma Bangsa Bireuen Elementary School","authors":"Asrita Asrita, Nurhilza Nurhilza","doi":"10.32533/02103(2018)","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This study is concerned with group discussion as one of the teaching methods can identify the emergence of students’ critical thinking skills in fifth grade students of Sukma Bangsa School. The purpose of this study was classified fourteen critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation, being, reflection, reviewing) which emerged in the learning process using group discussion. The study showed that eleven critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation) could be found in fifth grade students, while three of them are missing (being, reflection, reviewing). It could be concluded that the students’ ability to think critically was developed after getting experiences in learning by using group discussion. However, an important factor in fostering students’ critical thinking skills was teachers’ involvement. Thus, teachers need to fully participate to stimulate students to express their critical thinking skills in the learning process.[Artikel ini membahas tentang diskusi group sebagai salah satu metode mengajar dapat mengindentifikasi terbentuknya kemampuan siswa dalam berpikir kritis terutama siswa kelas 5 di Sekolah Sukma Bangsa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengklasifikasi 14 konsep berpikir kritis (praktik, aksi, manajemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisa, appraisal, interpretasi, being, refleksi, dan mereview) dapat muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh konsep berpikir kritis (praktik, aksi, managemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisis, appraisal dan interpretasi) telah ditemukan pada siswa kelas 5, sementara tiga lainnya tidak (being, refleksi dan review). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa untuk berpikir kritis telah terbentuk setelah melalui proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Meskipun fakor terpenting untuk memunculkan kemampuan siswa berpikir kritis adalah keterlibatan seorang guru. Maka guru-guru perlu berperan aktif menstimulasi siswa untuk mengeluarkan kemampuan berpikir kritisnya dalam proses pembelajaran.]","PeriodicalId":32919,"journal":{"name":"Sukma Jurnal Pendidikan","volume":"84 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2018-06-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"1","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Sukma Jurnal Pendidikan","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.32533/02103(2018)","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Abstract
This study is concerned with group discussion as one of the teaching methods can identify the emergence of students’ critical thinking skills in fifth grade students of Sukma Bangsa School. The purpose of this study was classified fourteen critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation, being, reflection, reviewing) which emerged in the learning process using group discussion. The study showed that eleven critical thinking concepts (practice, action, management, appreciation, awareness, care, evaluation, understanding, analysis, appraisal, interpretation) could be found in fifth grade students, while three of them are missing (being, reflection, reviewing). It could be concluded that the students’ ability to think critically was developed after getting experiences in learning by using group discussion. However, an important factor in fostering students’ critical thinking skills was teachers’ involvement. Thus, teachers need to fully participate to stimulate students to express their critical thinking skills in the learning process.[Artikel ini membahas tentang diskusi group sebagai salah satu metode mengajar dapat mengindentifikasi terbentuknya kemampuan siswa dalam berpikir kritis terutama siswa kelas 5 di Sekolah Sukma Bangsa. Tujuan dari penelitian ini adalah mengklasifikasi 14 konsep berpikir kritis (praktik, aksi, manajemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisa, appraisal, interpretasi, being, refleksi, dan mereview) dapat muncul dalam proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh konsep berpikir kritis (praktik, aksi, managemen, appresiasi, awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisis, appraisal dan interpretasi) telah ditemukan pada siswa kelas 5, sementara tiga lainnya tidak (being, refleksi dan review). Sehingga dapat disimpulkan bahwa kemampuan siswa untuk berpikir kritis telah terbentuk setelah melalui proses pembelajaran dengan menggunakan diskusi group. Meskipun fakor terpenting untuk memunculkan kemampuan siswa berpikir kritis adalah keterlibatan seorang guru. Maka guru-guru perlu berperan aktif menstimulasi siswa untuk mengeluarkan kemampuan berpikir kritisnya dalam proses pembelajaran.]
本研究以小组讨论作为教学方法之一,在Sukma Bangsa学校的五年级学生中,可以识别学生批判性思维技能的出现。本研究的目的是通过小组讨论,将学习过程中出现的14个批判性思维概念(实践、行动、管理、欣赏、意识、关怀、评价、理解、分析、评价、解释、存在、反思、回顾)分类。研究表明,五年级学生具备11个批判性思维概念(实践、行动、管理、欣赏、意识、关怀、评价、理解、分析、评价、解释),而缺少3个批判性思维概念(存在、反思、回顾)。可以得出结论,学生的批判性思维能力是通过小组讨论的学习获得经验后发展起来的。然而,培养学生批判性思维能力的一个重要因素是教师的参与。因此,教师需要充分参与,激发学生在学习过程中表达批判性思维能力。[Artikel - ini]成员有一个讨论小组sebagai salah satu metde mengajar dapat mengindentifikasi terbentuknya kemampuan siswa dalam berpikir kritis terutama siswa kelas 5 di Sekolah Sukma Bangsa。14 konsep berpikir kritis (praktik, aksi, management, ap评,awareness, peduli, evaluasi, pemahaman, analisa, appraisal, interpretasi, being, refleksi, and review) dapat muncul dalam promesan dengan menggunakan diskusi group。Hasil penelitian menunjukkan bahwa tujuh konsep berpikir kritis (praktik, aksi, management, appraisal, awareness, peduli, evaluation, pemahaman, analysis, appraisal and interpretasi), telah ditemukan pada siswa kelas 5, sementara tiga lainnya tidak (being, refleksi and review)。sehinga dapat dispulkkan bahwa kemampuan siswa untuk berpikir kritis telah terbentuk setelah melalui prosmbelajaran dengan menggunakan diskusi group。Meskipun fakor terpting untuk memunculkan kemampuan siswa berpikir kritis adalah keterlibatan seorang guru。Maka guru-guru perlu berperan aktif menstimulasi siswa untuk mengeluarkan kemampuan berpikir kritisnya dalam propropembelajaran。