Pola Pembelajaran Agama Islam di Madrasah dalam Perspektif Pendidikan Holistik: Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri 3 Sleman Yogyakarta

Zainal Arifin Ahmad
{"title":"Pola Pembelajaran Agama Islam di Madrasah dalam Perspektif Pendidikan Holistik: Studi Kasus di Madrasah Aliyah Negeri 3 Sleman Yogyakarta","authors":"Zainal Arifin Ahmad","doi":"10.32533/02105(2018)","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This research aims at investigating the pattern of Islamic learning process at Yogyakarta-based Islamic senior  high  school-3 from holistic learning perspective.  The research adopts qualitative approach. The research shows  that the pattern of the  Islamic learning  process at the Islamic senior  high  school implemented  in  the  unity of  Islamic  education  curriculum with three  main inseparable  components,  i.e.  intra-curricular,  extracurricular  and hidden-curricular,  has accommodated holistic  learning  principles. The accommodation can be evaluated from the implementation of basic holistic learning principles comprising of interconnectedness, wholeness and being.  In spite of this accommodation, the research has found some weaknesses in the Islamic learning processs. First, the  development  of  the five-level of  learners  potencies   as envisioned in  holistic learning, i.e.  personal, community, social, planetary and cosmic, has  not been formulated  explicitly  in  the  curriculum  and lesson  plan.  The  existing  formulation  only  respects to  the development  of  six  dimensions  of  learners  potencies,  i.e. physical, emotional, intellectual, social, aesthetic,  and spiritual. Second, the intra-curricular learning process is  still more oriented to teaching  for  the  test and less oriented to teaching  for the whole task. Third, the subject matter of Islamic learning curriculum,  i.e. al-Qur’an-Hadis,  Akidah-Akhlak, and Fikih have not been integrated as a single unit.  The three subject  matters still  stand on their own  theme, and have not been integrated as a single unit.  The research  has successfully mapped out  the  characterizing  pattern  of  quality development  of Islamic  learning process  seen from  the perspective of holistic learning at the madrasah.[Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pola pembelajaran agama Islam di MAN 3 Sleman Yogyakarta ditinjau dari perspektif pembelajaran holistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa  proses pembelajaran agama Islam  di MAN 3 Sleman Yogyakarta yang diimplementasikan dalam  kesatuan program pembelajaran intrakurikuler,  ekstrakurikuler,  dan hidden curricular  secara umum telah mengarah kepada pola pembelajaran holistik. Dikatakan demikian karena dalam penerapan kesatuan tiga program pembelajaran tersebut ditemukan adanya penerapan tiga prinsip dasar pembelajaran holistik yang  meliputi connectedness, wholeness, dan  being.  Hanya saja,  dalam proses pembelajaran agama  Islam  tersebut  masih terdapat beberapa kelemahan. Pertama, secara konseptual, pengembangan lima level potensi peserta didik (personal, komunitas, sosial, planetari, dan kosmis) sebagaimana dicanangkan dalam pembelajaran  holistik  belum  terumuskan  secara  eksplisit dalam kurikulum maupun dalam perencanaan pembelajaran agama Islam. Rumusan yang ada hanya berkenaan dengan pengembangan enam dimensi potensi  peserta  didik  (fisik,  emosi,  intelektual,  sosial, estetika, dan spiritual). Kedua,  proses pembelajaran agama Islam intrakurikuler masih lebih dominan berorientasi pada teaching for the test dan kurang berorientasi pada teaching for the whole task. Ketiga, materi pelajaran agama Islam intrakurikuler  yang meliputi Akidah-Akhlak, al-Qur’an-Hadis, dan Fikih masih merupakan materi  pelajaran yang berdiri sendiri-sendiri dan belum terintegrasi sebagai satu kesatuan untuk dapat memberikan kemampuan kepada peserta didik dalam melakukan tugas-tugas yang bersifat kompleks dan menyeluruh (whole task). Penelitian ini memberi kontribusi dalam  memetakan karakteristik  pola  proses pembelajaran agama Islam di madrasah ditinjau dari perspektif  pembelajaran holistik.]","PeriodicalId":32919,"journal":{"name":"Sukma Jurnal Pendidikan","volume":"32 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2018-06-04","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Sukma Jurnal Pendidikan","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.32533/02105(2018)","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

This research aims at investigating the pattern of Islamic learning process at Yogyakarta-based Islamic senior  high  school-3 from holistic learning perspective.  The research adopts qualitative approach. The research shows  that the pattern of the  Islamic learning  process at the Islamic senior  high  school implemented  in  the  unity of  Islamic  education  curriculum with three  main inseparable  components,  i.e.  intra-curricular,  extracurricular  and hidden-curricular,  has accommodated holistic  learning  principles. The accommodation can be evaluated from the implementation of basic holistic learning principles comprising of interconnectedness, wholeness and being.  In spite of this accommodation, the research has found some weaknesses in the Islamic learning processs. First, the  development  of  the five-level of  learners  potencies   as envisioned in  holistic learning, i.e.  personal, community, social, planetary and cosmic, has  not been formulated  explicitly  in  the  curriculum  and lesson  plan.  The  existing  formulation  only  respects to  the development  of  six  dimensions  of  learners  potencies,  i.e. physical, emotional, intellectual, social, aesthetic,  and spiritual. Second, the intra-curricular learning process is  still more oriented to teaching  for  the  test and less oriented to teaching  for the whole task. Third, the subject matter of Islamic learning curriculum,  i.e. al-Qur’an-Hadis,  Akidah-Akhlak, and Fikih have not been integrated as a single unit.  The three subject  matters still  stand on their own  theme, and have not been integrated as a single unit.  The research  has successfully mapped out  the  characterizing  pattern  of  quality development  of Islamic  learning process  seen from  the perspective of holistic learning at the madrasah.[Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pola pembelajaran agama Islam di MAN 3 Sleman Yogyakarta ditinjau dari perspektif pembelajaran holistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil  penelitian menunjukkan bahwa  proses pembelajaran agama Islam  di MAN 3 Sleman Yogyakarta yang diimplementasikan dalam  kesatuan program pembelajaran intrakurikuler,  ekstrakurikuler,  dan hidden curricular  secara umum telah mengarah kepada pola pembelajaran holistik. Dikatakan demikian karena dalam penerapan kesatuan tiga program pembelajaran tersebut ditemukan adanya penerapan tiga prinsip dasar pembelajaran holistik yang  meliputi connectedness, wholeness, dan  being.  Hanya saja,  dalam proses pembelajaran agama  Islam  tersebut  masih terdapat beberapa kelemahan. Pertama, secara konseptual, pengembangan lima level potensi peserta didik (personal, komunitas, sosial, planetari, dan kosmis) sebagaimana dicanangkan dalam pembelajaran  holistik  belum  terumuskan  secara  eksplisit dalam kurikulum maupun dalam perencanaan pembelajaran agama Islam. Rumusan yang ada hanya berkenaan dengan pengembangan enam dimensi potensi  peserta  didik  (fisik,  emosi,  intelektual,  sosial, estetika, dan spiritual). Kedua,  proses pembelajaran agama Islam intrakurikuler masih lebih dominan berorientasi pada teaching for the test dan kurang berorientasi pada teaching for the whole task. Ketiga, materi pelajaran agama Islam intrakurikuler  yang meliputi Akidah-Akhlak, al-Qur’an-Hadis, dan Fikih masih merupakan materi  pelajaran yang berdiri sendiri-sendiri dan belum terintegrasi sebagai satu kesatuan untuk dapat memberikan kemampuan kepada peserta didik dalam melakukan tugas-tugas yang bersifat kompleks dan menyeluruh (whole task). Penelitian ini memberi kontribusi dalam  memetakan karakteristik  pola  proses pembelajaran agama Islam di madrasah ditinjau dari perspektif  pembelajaran holistik.]
本研究旨在从整体学习的角度探讨日加市伊斯兰高中三年级学生的伊斯兰教学习过程模式。本研究采用定性研究方法。研究表明,伊斯兰高中伊斯兰学习过程的模式是在课程内、课外和隐性课程这三个不可分割的主要组成部分的伊斯兰教育课程统一的情况下实施的,符合整体学习原则。适应性可以从基本的整体学习原则的实施来评估,包括互联性、整体性和存在性。尽管如此,研究还是发现了伊斯兰学习过程中的一些弱点。首先,在课程和课程计划中,没有明确规定全面学习中所设想的学习者的五个层次潜能的发展,即个人、社区、社会、行星和宇宙。现有的表述只涉及学习者潜能的六个维度的发展,即身体、情感、智力、社交、审美和精神。第二,课程内学习过程仍然更多地以应试教学为导向,而较少以整体任务教学为导向。第三,伊斯兰学习课程的主题,即《古兰经》、《Akidah-Akhlak》和《斐济语》没有被整合为一个单一的单元。这三个主题仍然站在各自的主题上,并没有被整合为一个单一的单元。本研究成功地勾勒出了伊斯兰学校整体学习视角下伊斯兰学习过程质量发展的特征模式。[Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pola pembelajaran agama Islam di MAN 3 Sleman日惹ditinjau dari perspetif pembelajaran holistik]。Penelitian ini menggunakan pendekatan qualitati。Hasil penelitian menunjukkan bahwa提出了pembelajaran agama Islam di MAN 3 Sleman日惹yang diimplementasikan dalam kesatuan程序pembelajaran intrakurikuler, ekstrakurikuler, dan hidden curricular secara umum telah mengarah kepada pola pembelajaran holistik。Dikatakan demikian karena dalam penerapan kesatuan tiga program pembelajaran tersebut ditemukan adanya penerapan tiga prinsip dasar pembelajaran holistik yang meliputi连系、整体性、存在。汉亚萨迦,达拉姆提出了pembelajaran agama伊斯兰教tersebut masih terdapat beberapa kelemahan。Pertama, secara konsepual, pengembangan lima level potential peserta didik(个人,社区,社会,行星,dan kosmis) sebagaimana dicanangkan dalam pembelajaran holistik belum terumuskan secara eksplisit dalam kurikulum maupun dalam perencanan pembelajaran agama Islam。Rumusan yang ada hanya berkenaan dengan pengembangan enam dimensions potential peserta didik(精神、情感、知识、社会、审美、精神)。Kedua,提出了pembelajaran agama Islam intrakurikuler masih lebih dominan berorientaspada教学为测试,但kurang berorientaspada教学为整个任务。Ketiga, materi pelajan agama Islam intrakakurikkuler yang meliputi Akidah-Akhlak, al- quan - hadis, dan Fikih masih merupakan materi pelajaran yang berdiri sendiri-sendiri dan belum terintegrasi sebagai satu kesatuan untuk dapat memberikan kemampuan kepada peserta didik dalam melakukan tugas-tugas yang bersifat kompleks dan menyeluruh(完整任务)。[英文]peneltitian ini memberi kontribusi dalam memetakteristik pola propropembelajaran agama Islam di madrasah ditinjau dari perspetif pembelajaran holistik。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
0
审稿时长
6 weeks
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书