Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data

I. Marzuki
{"title":"Rise and Fall of Kema Port in Sulawesi Sea Trade Routes During Colonial Period: Based on Infrastructure Data","authors":"I. Marzuki","doi":"10.24832/KAPATA.V14I1.475","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Kema merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Saat ini Kema dikenal sebagai perkampungan nelayan padat penduduk yang terbagi menjadi Kema I, Kema II, dan Kema III. Riwayat sejarah Kema sudah dikenal semenjak abad XVI oleh pelaut-pelaut Eropa yang singgah untuk mengisi air minum, kemudian berkembang hingga menjadi sebuah kota pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan Kema dahulu merupakan sebuah permukiman yang sudah maju, meliputi pola permukiman dan jaringan jalan, pelabuhan dan saran pendukungnya, rumah ibadah, bangunan perumahan, pasar, dan jaringan komunikasi. Bukti arkeologis dan data sejarah mengungkap bahwa Kema dikenal sebagai pelabuhan laut yang memegang peranan penting dalam perdagangan global pada masa Kolonial. Pelabuhan Kema bahkan ditetapkan sebagai salah satu pelabuhan bebas di perairan Laut Sulawesi. Peran pelabuhan Kema saat ini mengalami kemunduran, hanya sebagai pelabuhan perikanan tidak lagi sebagai pelabuhan samudera.Kema is one of the districts in Minahasa Utara Regency located on the southern coast of Sulawesi Utara. Currently, Kema is known as a densely populated fishing village which is divided into Kema Satu, Kema Dua, and Kema Tiga. Based on historical data, Kema has been known since the 16 century by European sailors who stopped to fill drinking water, then expanded into a port city. This study aims to determine the rise and fall of the existence of Kema in the global trade of the Sulawesi Sea in the colonial period based on archaeological and historical data. This study uses a historical archeology approach that combines archaeological data with historical data. Research stages include data collection phase, data analysis, and conclusion. The results indicate archaeological evidence shows that Kema was an advanced settlement, covering the settlement patterns and road networks, ports and supporting facilities, houses of worship, residential buildings, markets, and communications networks. Archaeological evidence and historical data reveal that Kema is known as a seaport that plays an important role in global trading during the Colonial period. Kema is even designated as one of the free ports in Sulawesi Sea. The role of Kema is currently declining, only as a fishing port no longer as an ocean port. ","PeriodicalId":31643,"journal":{"name":"Kapata Arkeologi","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2018-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Kapata Arkeologi","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.24832/KAPATA.V14I1.475","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Kema merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Utara yang berada di pesisir selatan Sulawesi. Saat ini Kema dikenal sebagai perkampungan nelayan padat penduduk yang terbagi menjadi Kema I, Kema II, dan Kema III. Riwayat sejarah Kema sudah dikenal semenjak abad XVI oleh pelaut-pelaut Eropa yang singgah untuk mengisi air minum, kemudian berkembang hingga menjadi sebuah kota pelabuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pasang surut keberadaan pelabuhan kema dalam perdagangan global Laut Sulawesi masa kolonial berdasarkan data arkeologi dan sejarah. Penelitian ini menggunakan pendekatan arkeologi kesejarahan yang memadukan data arkeologi dengan data sejarah. Tahapan penelitian meliputi tahap pengumpulan data, analisis data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan adanya bukti-bukti arkeologis yang mengindikasikan Kema dahulu merupakan sebuah permukiman yang sudah maju, meliputi pola permukiman dan jaringan jalan, pelabuhan dan saran pendukungnya, rumah ibadah, bangunan perumahan, pasar, dan jaringan komunikasi. Bukti arkeologis dan data sejarah mengungkap bahwa Kema dikenal sebagai pelabuhan laut yang memegang peranan penting dalam perdagangan global pada masa Kolonial. Pelabuhan Kema bahkan ditetapkan sebagai salah satu pelabuhan bebas di perairan Laut Sulawesi. Peran pelabuhan Kema saat ini mengalami kemunduran, hanya sebagai pelabuhan perikanan tidak lagi sebagai pelabuhan samudera.Kema is one of the districts in Minahasa Utara Regency located on the southern coast of Sulawesi Utara. Currently, Kema is known as a densely populated fishing village which is divided into Kema Satu, Kema Dua, and Kema Tiga. Based on historical data, Kema has been known since the 16 century by European sailors who stopped to fill drinking water, then expanded into a port city. This study aims to determine the rise and fall of the existence of Kema in the global trade of the Sulawesi Sea in the colonial period based on archaeological and historical data. This study uses a historical archeology approach that combines archaeological data with historical data. Research stages include data collection phase, data analysis, and conclusion. The results indicate archaeological evidence shows that Kema was an advanced settlement, covering the settlement patterns and road networks, ports and supporting facilities, houses of worship, residential buildings, markets, and communications networks. Archaeological evidence and historical data reveal that Kema is known as a seaport that plays an important role in global trading during the Colonial period. Kema is even designated as one of the free ports in Sulawesi Sea. The role of Kema is currently declining, only as a fishing port no longer as an ocean port. 
殖民时期苏拉威西海上贸易路线上科马港的兴衰——基于基础设施数据
该营地是苏拉威西岛南部海岸北米纳哈萨角发生的事故之一。自16世纪以来,欧洲海员就已经知道了这个营地的历史,他们停下来注水,然后发展成为一个港口城市。本研究旨在根据考古和历史资料,找出苏拉威西海殖民时期全球贸易中营地港口的位置。本研究采用历史考古方法,将考古数据与历史数据相结合。研究水平包括数据收集水平、数据分析水平和得出的结论。研究表明,有考古证据表明,前营地是一个先进的定居点,涵盖了定居点和道路网络的模式、港口和支持者、祈祷者、住房建筑、市场和通信网络。考古证据和历史数据表明,该营地被称为殖民时代在全球贸易中发挥重要作用的海港。营地港甚至被设定为苏拉威西海水域的自由港之一。营地港的作用目前正在衰退,就像避难港不再是海港一样。凯马是位于苏拉威西岛北部南部海岸的米纳哈萨北部摄政区之一。目前,Kema是一个人口稠密的渔村,分为Kema Satu、Kema Dua和Kema Tiga。根据历史数据,自16世纪以来,欧洲水手就知道凯马,他们停下来补充饮用水,然后扩建成一座港口城市。本研究旨在根据考古和历史资料,确定殖民时期苏拉威西海全球贸易中凯马存在的兴衰。本研究采用历史考古学方法,将考古数据与历史数据相结合。研究阶段包括数据收集阶段、数据分析阶段和结论阶段。研究结果表明,考古证据表明,凯马是一个先进的定居点,涵盖了定居点模式和道路网络、港口和配套设施、礼拜堂、住宅、市场和通信网络。考古证据和历史数据表明,凯马是殖民时期在全球贸易中发挥重要作用的海港。凯马甚至被指定为苏拉威西海的自由港之一。凯马的作用目前正在下降,只是作为一个渔港,不再是一个海港。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
3
审稿时长
16 weeks
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书