{"title":"From Qitāl to Difā’: The Meaning and Behavior of Jihad according to Jihadists in Semarang City","authors":"Anthin Lathifah","doi":"10.21580/ahkam.2018.18.1.2241","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This paper describes the meaning and act of religion-based jihad according to some jihadists in Semarang city. Insisting that the real meaning of Jihad is qitāl (war, to fight) as said by the verse “La hukma Illa lillah” and hadith “faqtulū haythu wajadtumūhum” they, however, still propose another jihad called difā’ (defensive, to survive) for people who cannot meet the requirement of qitāl. The different act of jihad emerges because of its different factors behind such as social, economy, politics, psychology and others. The shift from qitāl to difā’ takes place by the process of humanizing the jihadists using: 1) personal approach by their morally closest men; 2) basic need approach such as economy, existency and peace; 3) religious approach by understanding that what they do is to fully adhere to Islam (kaffah); 4) emotional approach by caring and giving them empathy; 5) social approach by building solidarity to help their comrades.[]Artikel ini mendeskripsikan makna dan perilaku jihad dari para pelaku jihad berbasis agama di Kota Semarang. Makna jihad yang sebenarnya bagi mereka adalah qitāl sebagaimana ayat “la hukma illa lillah” dan hadits “faqtulū haythu wajadtumūhum”, namun jihad difā’ dapat dilakukan bagi yang tidak memenuhi syarat jihad qitāl. Perbedaan perilaku jihad terjadi karena perbedaan faktor yang melingkupinya, yakni faktor sosial, ekonomi, politik, psikologi dan lainnya. Perubahan perilaku jihad (qitāl) menjadi difā’ terjadi karena proses memanusiakan manusia yang dilakukan dengan: 1) pendekatan personil yang dilakukan oleh orang yang dekat secara moril; 2) pendekatan berbasis kebutuhan primer mereka baik ekonomi, eksistensi ataupun rasa aman; 3) pendekatan agama dilakukan dengan memahami apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka melakukan Islam secara kaffah; 4) pendekatan emosional dengan memberi perhatian atau empati; 5) pendekatan sosial dengan membangun solidaritas untuk membantu teman-teman seperjuangannya.","PeriodicalId":31042,"journal":{"name":"AlAhkam","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2018-04-10","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"1","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"AlAhkam","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.21580/ahkam.2018.18.1.2241","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Abstract
This paper describes the meaning and act of religion-based jihad according to some jihadists in Semarang city. Insisting that the real meaning of Jihad is qitāl (war, to fight) as said by the verse “La hukma Illa lillah” and hadith “faqtulū haythu wajadtumūhum” they, however, still propose another jihad called difā’ (defensive, to survive) for people who cannot meet the requirement of qitāl. The different act of jihad emerges because of its different factors behind such as social, economy, politics, psychology and others. The shift from qitāl to difā’ takes place by the process of humanizing the jihadists using: 1) personal approach by their morally closest men; 2) basic need approach such as economy, existency and peace; 3) religious approach by understanding that what they do is to fully adhere to Islam (kaffah); 4) emotional approach by caring and giving them empathy; 5) social approach by building solidarity to help their comrades.[]Artikel ini mendeskripsikan makna dan perilaku jihad dari para pelaku jihad berbasis agama di Kota Semarang. Makna jihad yang sebenarnya bagi mereka adalah qitāl sebagaimana ayat “la hukma illa lillah” dan hadits “faqtulū haythu wajadtumūhum”, namun jihad difā’ dapat dilakukan bagi yang tidak memenuhi syarat jihad qitāl. Perbedaan perilaku jihad terjadi karena perbedaan faktor yang melingkupinya, yakni faktor sosial, ekonomi, politik, psikologi dan lainnya. Perubahan perilaku jihad (qitāl) menjadi difā’ terjadi karena proses memanusiakan manusia yang dilakukan dengan: 1) pendekatan personil yang dilakukan oleh orang yang dekat secara moril; 2) pendekatan berbasis kebutuhan primer mereka baik ekonomi, eksistensi ataupun rasa aman; 3) pendekatan agama dilakukan dengan memahami apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka melakukan Islam secara kaffah; 4) pendekatan emosional dengan memberi perhatian atau empati; 5) pendekatan sosial dengan membangun solidaritas untuk membantu teman-teman seperjuangannya.
本文从三宝垄市一些圣战者的角度阐述了宗教圣战的意义和行动。他们坚持认为圣战的真正含义是qitāl(战争,战斗),正如经文“La hukma Illa lillah”和圣训“faqtuli haythu wajadtumūhum”所说的那样,然而,他们仍然为无法满足qitāl要求的人提出另一种圣战,称为difha '(防御,生存)。不同的圣战行为因其背后的社会、经济、政治、心理等因素的不同而产生。从qitāl到difā '的转变是通过使圣战分子人性化的过程发生的:1)通过他们道德上最亲密的人的个人方式;2)经济、生存、和平等基本需求途径;3)宗教方法,理解他们所做的是完全坚持伊斯兰教(kaffah);4)通过关心和给予他们同理心的情感方式;5)通过社会方式建立团结互助的同志。[]Artikel ini mendeskripsikan makna dan pereraku jihad dari para pelaku jihad berbasis agama di Kota三宝园。Makna jihad yang sebenarya bagi mereka adalah qitāl sebagaimana ayat“la hukma illa lillah”dan haits“faqtuli haythu wajadtumūhum”,namun jihad difna ' dapat dilakukan bagi yang tidak memenuhi syarat jihad qitāl。Perbedaan Perbedaan perperaku jihad terjadi karena Perbedaan factor for yang melingkupinya, yakni factor for社会、经济、政治、心理学和lainnya。Perubahan perperaku jihad (qitāl) menjadi difna ' terjadi karena promeanusiakan manusia yang dilakukan dengan: 1) pendekatan person yang dilakukan oleh orang yang dekat secara moril;2) pendekatan berbasis kebutuhan primer mereka baik ekonomi, eksistensi ataupun rasa aman;3) pendekatan agama dilakukan dengan memahami apa yang mereka lakukan adalah dalam rangka melakukan Islam secara kaffah;(4)独立的情感个体,即情感共情的个体;独立的,独立的;独立的;独立的;