Konstruksi Gender melalui Senjata Tradisional Bé. Rang di Sumbawa Nusa Tenggara Barat

Muhammad Tomi, Wiwik Sushartami, M. D. Marianto
{"title":"Konstruksi Gender melalui Senjata Tradisional Bé. Rang di Sumbawa Nusa Tenggara Barat","authors":"Muhammad Tomi, Wiwik Sushartami, M. D. Marianto","doi":"10.22146/JKSKS.60448","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This paper deals with how the gender construction is realized through be. rang in the community of Rempe Village, Seteluk District, West Sumbawa. Be. rang is a traditional weapon of the Sumbawa people in the form of a slaughter weapon made by a panre (master/blacksmith). In general, the people of Sumbawa recognize three types of gender, namely tau salaki (male), tau swai (female) and tau calabai (transgender). The absence of tau swai and tau calabai in the nganyang tradition, the use of the term be. rang as sanak salaki (brother), and differentiation and restriction of access to tau swai and tau calabai from the use of be. rang, becoming the reason this research was conducted. The problem of this research is dissected using the concepts of externalization, objectivation, and internalization proposed by Peter L. Burger and Thomas Luckmann (1990). The results of this study indicate that in general gender construction occurs through be. rang. This gender construction produces “value standards” which tend to be masculine and few discriminatory but quite dynamic. Besides that, the gender construction that is manifested through be. rang is very structure/hierarchical and tends to be negotiative. This can be seen from how tau calabai that are still given the opportunity to access be. rang salaki with the consideration that they will return to the “normal” tau salaki. The  gender hierarchy is reflected in the classification according to the type of be. rang that  can be accessed, such as tau ode (boys), tau taruna (youth), tau salaki rango (adult men), tau swai (female) and tau calabai (banci) is evidence of a very structured and hierarchical gender construction. This gender construction occurred, was inherited and strengthened by existing institutions in the Sumbawa community such as the family, the West Sumbawa Regency Government, the Tana Samawa Customary Institution, the Rempe Village Government, schools, and the Titik Api group also played an important role as a tool of legitimacy in gender construction through be. rang. Penelitian ini menyoal bagaimana konstruksi gender terwujud melalui  be. rang  di masyarakat Desa Rempe, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat.  Be. rang  sendiri merupakan senjata tradisional masyarakat Sumbawa berjenis senjata penebas yang dibuat oleh seorang  panre  (empu/pandai besi). Secara umum  masyarakat Sumbawa mengenal tiga jenis gender yakni tau salaki (laki-laki), tau swai (perempuan) dan tau calabai (banci). Ketidakhadiran tau swai dan tau calabai dalam tradisi nganyang, adanya penggunaan istilah be. rang sebagai sanak salaki (saudara laki-laki), serta pembedaan dan pembatasan akses tau swai dan tau calabai terhadap penggunaan be. rang, menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Permasalahan penelitian ini dibedah dengan menggunakan konsep eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang dikemukakan Peter L. Burger dan Thomas Luckmann (1990). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar konstruksi gender memang terjadi melalui be. rang. Konstruksi gender tersebut menghasilkan “standar nilai” yang cenderung maskulin dan sedikit diskriminatif namun cukup dinamis. Selain itu konstruksi gender yang terwujud melalui be. rang sangat terstruktur/hierarkis dan cenderung negosiatif. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana tau calabai yang masih diberi kesempatan untuk mengakses be.rang salaki dengan pertimbangan akan kembali menjadi tau salaki “normal”. Adapun hierarki gender tergambar dari adanya klasifikasi sesuai jenis be. rang yang dapat diakses seperti tau ode (anak laki-laki), tau taruna (pemuda), tau salaki rango (laki-laki dewasa), tau swai (perempuan) dan tau calabai (banci) merupakan bukti terjadinya konstruksi gender yang sangat terstruktur dan hierarkis. Konstruksi gender tersebut terjadi, terwariskan dan diperkuat oleh lembaga- lembaga yang ada dalam masyarakat Sumbawa seperti keluarga, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, Lembaga Adat Tana Samawa, Pemerintah Desa Rempe, sekolah-sekolah, dan kelompok Titik Api juga berperan penting sebagai perangkat legitimasi dalam konstruksi gender melalui be. rang.","PeriodicalId":31594,"journal":{"name":"Jurnal Kajian Seni","volume":" ","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-01-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Kajian Seni","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.22146/JKSKS.60448","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

This paper deals with how the gender construction is realized through be. rang in the community of Rempe Village, Seteluk District, West Sumbawa. Be. rang is a traditional weapon of the Sumbawa people in the form of a slaughter weapon made by a panre (master/blacksmith). In general, the people of Sumbawa recognize three types of gender, namely tau salaki (male), tau swai (female) and tau calabai (transgender). The absence of tau swai and tau calabai in the nganyang tradition, the use of the term be. rang as sanak salaki (brother), and differentiation and restriction of access to tau swai and tau calabai from the use of be. rang, becoming the reason this research was conducted. The problem of this research is dissected using the concepts of externalization, objectivation, and internalization proposed by Peter L. Burger and Thomas Luckmann (1990). The results of this study indicate that in general gender construction occurs through be. rang. This gender construction produces “value standards” which tend to be masculine and few discriminatory but quite dynamic. Besides that, the gender construction that is manifested through be. rang is very structure/hierarchical and tends to be negotiative. This can be seen from how tau calabai that are still given the opportunity to access be. rang salaki with the consideration that they will return to the “normal” tau salaki. The  gender hierarchy is reflected in the classification according to the type of be. rang that  can be accessed, such as tau ode (boys), tau taruna (youth), tau salaki rango (adult men), tau swai (female) and tau calabai (banci) is evidence of a very structured and hierarchical gender construction. This gender construction occurred, was inherited and strengthened by existing institutions in the Sumbawa community such as the family, the West Sumbawa Regency Government, the Tana Samawa Customary Institution, the Rempe Village Government, schools, and the Titik Api group also played an important role as a tool of legitimacy in gender construction through be. rang. Penelitian ini menyoal bagaimana konstruksi gender terwujud melalui  be. rang  di masyarakat Desa Rempe, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat.  Be. rang  sendiri merupakan senjata tradisional masyarakat Sumbawa berjenis senjata penebas yang dibuat oleh seorang  panre  (empu/pandai besi). Secara umum  masyarakat Sumbawa mengenal tiga jenis gender yakni tau salaki (laki-laki), tau swai (perempuan) dan tau calabai (banci). Ketidakhadiran tau swai dan tau calabai dalam tradisi nganyang, adanya penggunaan istilah be. rang sebagai sanak salaki (saudara laki-laki), serta pembedaan dan pembatasan akses tau swai dan tau calabai terhadap penggunaan be. rang, menjadi alasan penelitian ini dilakukan. Permasalahan penelitian ini dibedah dengan menggunakan konsep eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi yang dikemukakan Peter L. Burger dan Thomas Luckmann (1990). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar konstruksi gender memang terjadi melalui be. rang. Konstruksi gender tersebut menghasilkan “standar nilai” yang cenderung maskulin dan sedikit diskriminatif namun cukup dinamis. Selain itu konstruksi gender yang terwujud melalui be. rang sangat terstruktur/hierarkis dan cenderung negosiatif. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana tau calabai yang masih diberi kesempatan untuk mengakses be.rang salaki dengan pertimbangan akan kembali menjadi tau salaki “normal”. Adapun hierarki gender tergambar dari adanya klasifikasi sesuai jenis be. rang yang dapat diakses seperti tau ode (anak laki-laki), tau taruna (pemuda), tau salaki rango (laki-laki dewasa), tau swai (perempuan) dan tau calabai (banci) merupakan bukti terjadinya konstruksi gender yang sangat terstruktur dan hierarkis. Konstruksi gender tersebut terjadi, terwariskan dan diperkuat oleh lembaga- lembaga yang ada dalam masyarakat Sumbawa seperti keluarga, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, Lembaga Adat Tana Samawa, Pemerintah Desa Rempe, sekolah-sekolah, dan kelompok Titik Api juga berperan penting sebagai perangkat legitimasi dalam konstruksi gender melalui be. rang.
通过传统武器进行性别建构南部努萨供应范围
本文论述了性别建构是如何通过它来实现的。在西松巴哇塞特鲁克区Rempe村社区响起。是。朗是松巴瓦人的一种传统武器,是一种由panre(师傅/铁匠)制作的杀戮武器。一般来说,松巴瓦人承认三种性别,即tau salaki(男性),tau swai(女性)和tau calabai(变性人)。由于在阳阳传统中没有牛头swai和牛头calabai,所以使用了“牛头”一词。以“兄弟”(sanak salaki)命名,并从“兄弟”(be)的使用区分及限制“兄弟”(tau swai)与“兄弟”(tau calabai)的使用。让,成为本研究进行的原因。本研究的问题是利用Peter L. Burger和Thomas Luckmann(1990)提出的外化、客体化和内化的概念来剖析的。本研究结果表明,一般而言,性别建构是通过性别建构发生的。响了。这种性别建构产生的“价值标准”往往是男性化的,很少有歧视,但却很有活力。除此之外,通过他表现出来的性别建构。朗是一个非常有结构/等级的人,而且倾向于谈判。这可以看出,从多少次卡拉贝仍然有机会获得。让沙拉基考虑到他们会回到“正常”的tau沙拉基。性别等级反映在按类型分类上。诸如tau ode(男孩)、tau taruna(青年)、tau salaki rango(成年男子)、tau swai(女性)和tau calabai (banci)等可以被访问的性别,都是非常结构化和等级化的性别结构的证据。这种性别建构是由松巴瓦社区的现有机构产生、继承和加强的,如家庭、西松巴瓦县政府、塔纳萨马瓦习俗机构、Rempe村政府、学校和Titik Api团体也发挥了重要作用,作为通过be进行性别建构的合法性工具。响了。Penelitian ini menyoal bagaimana konstruksi gender terwujud melalui be。rang di masyarakat Desa Rempe, Kecamatan Seteluk, Kabupaten Sumbawa Barat。是。传统的masyarakat Sumbawa berjenis senjata penebas yang dibueh seorang panre (empu/pandai besi)。Sumbawa mengenal tiga jenis gender yakni tau salaki (laki-laki), tau swai (perempuan)和tau calabai (banci)。Ketidakhadiran tau swai dan tau calabai dalam tradisi nganyang, adanya penggunaan isllah。Rang sebagai sanak salaki (saudara laki-laki), serta penpendaan and Dan pembatasan akses tau swai Dan calabai terhadap penggunaan be。我的天,我的天,我的天。Peter L. Burger和Thomas Luckmann (1990). [j]。哈西尔penelitian ini menunjukkan bahwa secara garis besar konstruksi gender meman terjadi melalui be。响了。Konstruksi性别简洁,但menghasilkan“标准的nilai”yang cenderung maskulin和sedikit diskrix namun cuup dinamis。Selain it konstruksi gender yang terwujud melalui be。他说:“我的上司,我的上司,我的上司,我的上司。halitapat dilihat dari bagaimana tau calabai yang masih diberi kesempatan untuk mengakses。让salaki dengan pertimbangan akan kembali menjadi tau salaki“正常”。Adapun hierarki性别tergambar dari adanya klassifikasi sesuai jenis。Rang yang dapat dises seperti tau ode (anak laki-laki), tau taruna (pemuda), tau salaki rango (laki-laki dewasa), tau swai (perempuan), tau calabai (banci) merupakan bukti terjadinya konstruksi gender yang sangat terstruktur dan hierarkis。【翻译】konstruki gender tersebut terjadi, terwariskan dan diperkuat oleh lemstruki - lembaga yang ada dalam masyarakat sunbawa seperti kelarga, Pemerintah Daerah Kabupaten Sumbawa Barat, lembaga Adat Tana Samawa, Pemerintah Desa Rempe, sekolah-sekolah, dan kelompok Titik Api juga berperan penting sebagai perangkat legitimasi dalam konstruki gender melalui be。响了。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
21
审稿时长
28 weeks
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:604180095
Book学术官方微信
小红书