Margi Ariyanti, Vissia Ita Yulianto, R. B. Koapaha
{"title":"Musik Indisch dalam Perspektif Poskolonial: Studi Kasus Karya Ki Hadjar Dewantara dan Constant van de Wall","authors":"Margi Ariyanti, Vissia Ita Yulianto, R. B. Koapaha","doi":"10.22146/JKSKS.57161","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Indisch music is a music that uses a combination of “Eastern” music idioms and “Western” music idioms in composition and popular in Dutch-East Indies era. This article analyses the composition of Indisch music composed by Ki Hadjar Dewantara, a well-known educational figure and composer in Indonesia and Constant van de Wall, a Javanese-Dutch composer in a postcolonial perspective. Using a qualitative method and with a music theory framework and a postcolonial theory framework, this article answers two research questions: the first is how Ki Hadjar Dewantara and Constant van de Wall in making their Indisch music works viewed in terms of their composition and the second is how the contestation of the struggle the power that is built into their piano composition in a postcolonial perspective. The composition of the two composers shows that Dutch colonialism in the Dutch East Indies has produced a mixed culture called Indisch culture which has become an arena of contestation and power struggle for the colonizers and colonized. Starting from this point, the authors hope that this article contributes to the world of piano education in Indonesia. Music teacher and student of music need to understand of postcolonial theory in addition to music theory and music history. Musik Indisch adalah jenis musik yang menggunakan perpaduan idiom musik “Timur” dan idiom musik “Barat” di dalam komposisinya dan populer di zaman Hindia-Belanda. Artikel ini menganalisis komposisi musik Indisch yang digubah oleh Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan dan komponis terkenal di Indonesia dan Constant van de Wall, seorang komponis Jawa-Belanda. Dengan menggunakan metode kualitatif dan dengan kerangka teori musik dan kerangka teori poskolonial, artikel ini menjawab dua pertanyaan riset: yang pertama adalah bagaimana Ki Hadjar Dewantara dan Constant van de Wall dalam membuat karya musik Indischnya ditinjau dari bentuk komposisi mereka dan yang kedua adalah bagaimana kontestasi perebutan kuasa yang terbangun dalam komposisi piano mereka dalam perspektif poskolonial. Komposisi kedua komponis tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda di Hindia-Belanda telah menghasilkan kebudayaan campuran yang bernama kebudayaan Indisch yang telah menjadi arena kontestasi dan pertarungan kuasa bagi si penjajah dan yang terjajah. Berangkat dari titik tersebut, penulis berharap artikel ini dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan piano di Indonesia. Pemahaman teori poskolonial di samping teori musik dan sejarah musik penting dimiliki oleh guru dan siswa piano Indonesia.","PeriodicalId":31594,"journal":{"name":"Jurnal Kajian Seni","volume":"1 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-01-18","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Kajian Seni","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.22146/JKSKS.57161","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Indisch music is a music that uses a combination of “Eastern” music idioms and “Western” music idioms in composition and popular in Dutch-East Indies era. This article analyses the composition of Indisch music composed by Ki Hadjar Dewantara, a well-known educational figure and composer in Indonesia and Constant van de Wall, a Javanese-Dutch composer in a postcolonial perspective. Using a qualitative method and with a music theory framework and a postcolonial theory framework, this article answers two research questions: the first is how Ki Hadjar Dewantara and Constant van de Wall in making their Indisch music works viewed in terms of their composition and the second is how the contestation of the struggle the power that is built into their piano composition in a postcolonial perspective. The composition of the two composers shows that Dutch colonialism in the Dutch East Indies has produced a mixed culture called Indisch culture which has become an arena of contestation and power struggle for the colonizers and colonized. Starting from this point, the authors hope that this article contributes to the world of piano education in Indonesia. Music teacher and student of music need to understand of postcolonial theory in addition to music theory and music history. Musik Indisch adalah jenis musik yang menggunakan perpaduan idiom musik “Timur” dan idiom musik “Barat” di dalam komposisinya dan populer di zaman Hindia-Belanda. Artikel ini menganalisis komposisi musik Indisch yang digubah oleh Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan dan komponis terkenal di Indonesia dan Constant van de Wall, seorang komponis Jawa-Belanda. Dengan menggunakan metode kualitatif dan dengan kerangka teori musik dan kerangka teori poskolonial, artikel ini menjawab dua pertanyaan riset: yang pertama adalah bagaimana Ki Hadjar Dewantara dan Constant van de Wall dalam membuat karya musik Indischnya ditinjau dari bentuk komposisi mereka dan yang kedua adalah bagaimana kontestasi perebutan kuasa yang terbangun dalam komposisi piano mereka dalam perspektif poskolonial. Komposisi kedua komponis tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda di Hindia-Belanda telah menghasilkan kebudayaan campuran yang bernama kebudayaan Indisch yang telah menjadi arena kontestasi dan pertarungan kuasa bagi si penjajah dan yang terjajah. Berangkat dari titik tersebut, penulis berharap artikel ini dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan piano di Indonesia. Pemahaman teori poskolonial di samping teori musik dan sejarah musik penting dimiliki oleh guru dan siswa piano Indonesia.
印度音乐是一种结合了“东方”音乐习惯和“西方”音乐习惯的音乐,流行于荷属-东印度时代。本文从后殖民视角分析了印尼著名教育家、作曲家德万塔拉(Ki Hadjar dewanara)和爪哇裔荷兰作曲家康斯坦斯·范德沃尔(Constant van de Wall)的印度音乐创作。本文采用定性的方法,结合音乐理论框架和后殖民理论框架,回答了两个研究问题:第一个问题是Ki Hadjar dewanara和Constant van de Wall如何从他们的作曲角度来看待他们的印度音乐作品;第二个问题是如何在后殖民的角度来看待他们钢琴作品中所包含的斗争和权力的争论。这两位作曲家的创作表明,荷兰在荷属东印度群岛的殖民主义产生了一种被称为印度文化的混合文化,成为殖民者和被殖民者争夺和权力斗争的舞台。从这一点出发,希望本文能对印尼钢琴教育的世界有所贡献。音乐教师和音乐学生除了需要了解音乐理论和音乐史外,还需要了解后殖民理论。音乐印度adalah jenis Musik yang menggunakan perpaduan成语音乐“帖木儿”丹成语音乐“Barat”di dalam komposisinya丹populer di zaman hinindia - belanda。Artikel ini menganalis komposisi musik Indisch yang digubah oleh Ki Hadjar dewanara, seorang tokoh pendidikan dan komponis terkenal di Indonesia dan Constant van de Wall, seorang komponis Jawa-Belanda。Dengan menggunakan metalitatif dan Dengan kerangka teori musik dankerangka teori poskolial, artikel ini menjawab dua pertananyan riset: yang pertama adalah bagaimana Ki Hadjar dewanara dan Constant van de Wall dalam成员karya musik Indischnya ditinjau dari bentuk komposisi mereka danyang kedua adalah bagaimana kontestasi perebutan kuasa yang terbangunan dalam komposisi piano mereka dalam perspektif poskolonial。Komposisi kedua komponis tersebut menunjukkan bahwa kolonialisme Belanda di hinindia -Belanda telah menghasilkan kebudayaan campuran yang bernama kebudayaan indian yang telah menjadi arena kontestasi dan pertarungan kuasa bagi si penjajah dan yang terjajah。Berangkat dari titik tersebut, penulis berharap artikel ini dapat berkontribusi dalam dunia pendidikan piano di Indonesia。Pemahaman teori poscolonial di samping teori musik dan sejarah musik penting dimiliki oleh guru dan siswa piano印度尼西亚。