{"title":"Color symbolism and resistance in Shaila Abdullah’s Saffron Dreams","authors":"Hasnul Insani Djohar, Lailla Sekar Dwi Komalasari","doi":"10.17977/um015v52i12024p129","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This study analyzes how Shaila Abdullah's Saffron Dreams portrays and resists Orientalists' stereotypes of Muslim women. Through Saffron Dreams, Abdullah attempts to put up a fight against the negative stereotypes of Orientalists toward Muslim women. It is shown based on how the main protagonist is portrayed as a Muslim Pakistani-American woman who lost her husband in 9/11, experiencing mistreatment from her host land society due to the spreading negative stereotypes of Muslim women. By utilizing Close Textual Analysis, this study focuses on examining how the novel depicts and resists the Muslim women's stereotype by Orientalists. This study discovers that the novel repeatedly portrays that Muslim women are perceived as oppressed by men and patriarchy who are forced to do arranged marriage and use hijab and also as the \"Other\" or dangerous foreigners unaccepted as part of Western society. Indeed, the novel depicts the main protagonist's response to orientalists’ perspectives of Muslim women through the repetitive use of color symbolism, such as red, black, white, green, blue, brown, orange, gold, and yellow for the main protagonist representing her resistance of orientalism. Simbolisme warna dan perlawanan dalam Saffron Dreams karya Shaila Abdullah Penelitian ini menganalisis bagaimana novel Saffron Dreams karya Shaila Abdullah menggambarkan dan melawan stereotip para orientalis terhadap perempuan Muslim. Melalui Saffron Dreams, Abdullah mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap stereotip negatif para orientalis terhadap perempuan Muslim. Hal ini ditunjukkan melalui bagaimana protagonis utama digambarkan sebagai seorang wanita Muslim Pakistan-Amerika yang kehilangan suaminya dalam peristiwa 9/11, yang mengalami perlakuan buruk dari masyarakat di negara asalnya akibat stereotip negatif terhadap wanita Muslim. Dengan menggunakan Analisis Tekstual Mendekat, penelitian ini berfokus untuk melihat bagaimana novel ini menggambarkan dan melawan stereotip perempuan Muslim yang dibuat oleh para orientalis. Penelitian ini menemukan bahwa novel Saffron Dreams berulang kali menggambarkan bahwa perempuan Muslim dianggap tertindas oleh laki-laki dan patriarki yang dipaksa untuk melakukan perjodohan dan menggunakan hijab dan juga sebagai \"Liyan\" atau orang asing yang berbahaya yang tidak diterima sebagai bagian dari masyarakat Barat. Novel ini menggambarkan respon protagonis utama terhadap perspektif orientalis tentang perempuan Muslim melalui penggunaan simbolisme warna yang berulang-ulang, seperti merah, hitam, putih, hijau, biru, coklat, oranye, emas, dan kuning untuk protagonis utama yang mewakili perlawanannya terhadap orientalisme.","PeriodicalId":55791,"journal":{"name":"Bahasa dan Seni Jurnal Bahasa Sastra Seni dan Pengajarannya","volume":"52 1","pages":"129-145"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2024-02-29","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Bahasa dan Seni Jurnal Bahasa Sastra Seni dan Pengajarannya","FirstCategoryId":"0","ListUrlMain":"https://doi.org/10.17977/um015v52i12024p129","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
This study analyzes how Shaila Abdullah's Saffron Dreams portrays and resists Orientalists' stereotypes of Muslim women. Through Saffron Dreams, Abdullah attempts to put up a fight against the negative stereotypes of Orientalists toward Muslim women. It is shown based on how the main protagonist is portrayed as a Muslim Pakistani-American woman who lost her husband in 9/11, experiencing mistreatment from her host land society due to the spreading negative stereotypes of Muslim women. By utilizing Close Textual Analysis, this study focuses on examining how the novel depicts and resists the Muslim women's stereotype by Orientalists. This study discovers that the novel repeatedly portrays that Muslim women are perceived as oppressed by men and patriarchy who are forced to do arranged marriage and use hijab and also as the "Other" or dangerous foreigners unaccepted as part of Western society. Indeed, the novel depicts the main protagonist's response to orientalists’ perspectives of Muslim women through the repetitive use of color symbolism, such as red, black, white, green, blue, brown, orange, gold, and yellow for the main protagonist representing her resistance of orientalism. Simbolisme warna dan perlawanan dalam Saffron Dreams karya Shaila Abdullah Penelitian ini menganalisis bagaimana novel Saffron Dreams karya Shaila Abdullah menggambarkan dan melawan stereotip para orientalis terhadap perempuan Muslim. Melalui Saffron Dreams, Abdullah mencoba untuk melakukan perlawanan terhadap stereotip negatif para orientalis terhadap perempuan Muslim. Hal ini ditunjukkan melalui bagaimana protagonis utama digambarkan sebagai seorang wanita Muslim Pakistan-Amerika yang kehilangan suaminya dalam peristiwa 9/11, yang mengalami perlakuan buruk dari masyarakat di negara asalnya akibat stereotip negatif terhadap wanita Muslim. Dengan menggunakan Analisis Tekstual Mendekat, penelitian ini berfokus untuk melihat bagaimana novel ini menggambarkan dan melawan stereotip perempuan Muslim yang dibuat oleh para orientalis. Penelitian ini menemukan bahwa novel Saffron Dreams berulang kali menggambarkan bahwa perempuan Muslim dianggap tertindas oleh laki-laki dan patriarki yang dipaksa untuk melakukan perjodohan dan menggunakan hijab dan juga sebagai "Liyan" atau orang asing yang berbahaya yang tidak diterima sebagai bagian dari masyarakat Barat. Novel ini menggambarkan respon protagonis utama terhadap perspektif orientalis tentang perempuan Muslim melalui penggunaan simbolisme warna yang berulang-ulang, seperti merah, hitam, putih, hijau, biru, coklat, oranye, emas, dan kuning untuk protagonis utama yang mewakili perlawanannya terhadap orientalisme.
本文分析了Shaila Abdullah的《藏红花之梦》是如何刻画和抵制东方学家对穆斯林女性的刻板印象的。通过《藏红花之梦》,阿卜杜拉试图与东方主义者对穆斯林女性的负面刻板印象作斗争。它是基于主人公如何被描绘成一个穆斯林巴基斯坦裔美国妇女,她在9/11事件中失去了丈夫,由于对穆斯林妇女的负面刻板印象的传播而受到东道国社会的虐待。本文运用近文本分析的方法,重点考察小说对东方主义者对穆斯林妇女的刻板印象的刻画和反抗。本研究发现,小说反复描绘了穆斯林妇女被男性和父权制所压迫,被迫包办婚姻和戴头巾,也被视为“他者”或不被西方社会接受的危险外国人。的确,小说通过色彩象征主义的反复使用,描绘了主人公对东方主义者对穆斯林女性的看法的回应,如红色、黑色、白色、绿色、蓝色、棕色、橙色、金色、黄色等,代表了主人公对东方主义的抵制。Simbolisme warna dan perlawanan dalam藏红花梦karya Shaila Abdullah Penelitian ini menganalis bagaimana小说藏红花梦karya Shaila Abdullah menggambarkan dan melawan立体提示东方学,terhadap perempuan穆斯林。Melalui Saffron Dreams, Abdullah mencoba untuk, melakukan, perlawanan, terhadap, stereotip, negative, para oriental, terhadap, perempuan, Muslim。9/11事件后,巴基斯坦和美国的关系变得更加亲密,巴基斯坦和美国的关系也变得更加亲密。登安《孟古纳罕分析》、《孟古纳罕分析》、《孟古纳罕分析》、《孟古纳罕分析》、《孟古纳罕分析》、《孟古纳罕分析》、《孟古纳罕分析》等。Pene-litian ini menemukan bahwa小说藏红花梦berulang kali menggambarkan bahwa perempuan穆斯林dianggap tertindas oleh laki-laki dan patriarki yang dipaksa untuk melakukan perjodohan dan menggunakan hijab dan juga sebagai“Liyan”是一种“orau orang”,yang berbahaya yang tidak diterima sebagai bagian dari masyarakat Barat。小说《孟甘巴坎》反映了主人公乌塔玛·特哈布东方主义的观点,也就是穆斯林的观点,也就是穆斯林的观点,也就是穆斯林的观点,也就是穆斯林的观点,象征主义的观点。