{"title":"PEMODELAN SISTEM LAMPU OTOMATIS HEMAT ENERGI UNTUK RUANG KELAS TANPA PEMROGRAMAN","authors":"Yohanes Calvinus, Endah Setyaningsih","doi":"10.24912/jmstkik.v5i2.3861","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Lamps are electronic devices that produce light turned out to be one of the components in spending considerable electrical costs. The bigger the room, the space will require a lot of lighting to achieve the value of a lighting level according to the Indonesian National Standard (SNI) in the room. The more lamps that are used, the more wasteful the energy is used. Wasteful of energy, so the expenditure for operational costs will be even greater. The role of technology can be used alongside a culture of energy saving. One of them is a light automation system. Automation systems can be realized without programming. based on a survey the place that requires this automation system is a school classroom. Automation systems can be directly coupled with light systems and manual light switches in classrooms, replacing conventional light-on and off-turn systems in classrooms. Its easy installation provides an example for installing an automation system for schools that have a large number of classrooms. The automation sensor used is a type of sensor that has a way of detecting the movement of people in the room. The sensor that can be used the easiest is the Passive Infra Red (PIR) sensor. This sensor itself is the sensor that is most easily available and quite cheap. In realizing the use of this sensor, more than 1 PIR sensor point is required. Sensors that are used more than 1 point will make grouping part of the lighting system in the classroom. If the classroom is not fully used up to the back of the classroom, then it is enough only to turn it on from the front lights to the middle of the classroom. This supports energy saving efforts. Through this automation, it is hoped that there will be a change in the culture of energy saving side by side with technological developments in terms of its use for energy saving. Keywords: LED; motion sensor; classroom; without programming; automation system AbstrakLampu merupakan alat elektronika yang menghasilkan cahaya ternyata salah satu komponen dalam pengeluaran biaya listrik yang cukup besar. Semakin besar ruangan, maka ruang tersebut akan membutuhkan banyak lampu penerangan untuk mencapai nilai suatu tingkat pencahayaan yang sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI) pada ruangan tersebut. Semakin banyak lampu yang digunakan tentu semakin boros energi yang digunakan. Boros energi maka pengeluaran untuk biaya operasional akan semakin besar. Peran teknologi dapat digunakan berdampingan dengan budaya hemat energi. Salah satu nya dengan sistem otomatisasi lampu. Sistem otomatisasi dapat direalisasikan tanpa pemrograman. berdasarkan survei tempat yang membutuhkan sistem otomatisasi ini adalah ruangan kelas sekolah. Sistem otomatisasi dapat langsung dipasangkan dengan sistem lampu dan saklar lampu manual di ruang kelas menggantikan sistem mati nyala lampu secara konvensional di ruang kelas. Pemasangannya yang mudah menjadikan contoh bagi pemasangan sistem otomatisasi bagi sekolah yang memiliki ruang kelas yang cukup banyak. Sensor otomatisasi yang digunakan merupakan jenis sensor yang memiliki cara kerja untuk mendeteksi pergerakan orang di dalam ruangan. Sensor yang dapat digunakan paling mudah yaitu sensor Passive Infra Red (PIR). Sensor PIR merupakan sensor yang paling mudah didapatkan dan cukup murah. Dalam realisasi penggunaan sensor ini diperlukan lebih dari 1 titik sensor PIR. Sensor yang digunakan lebih dari 1 titik akan membuat pengelompokkan bagian dari sistem pencahayaan di ruang kelas tersebut. Jika ruang kelas tidak digunakan sepenuhnya hingga bagian belakang kelas, maka cukup hanya dinyalakan dari lampu bagian depan hingga ruang tengah kelas. Hal ini mendukung upaya hemat energi. Melalui otomatisasi ini diharapkan ada perubahan budaya hemat energi yang berdampingan dengan perkembangan teknologi dalam hal pemanfaatannya untuk hemat energi. ","PeriodicalId":202016,"journal":{"name":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","volume":"20 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.24912/jmstkik.v5i2.3861","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Lamps are electronic devices that produce light turned out to be one of the components in spending considerable electrical costs. The bigger the room, the space will require a lot of lighting to achieve the value of a lighting level according to the Indonesian National Standard (SNI) in the room. The more lamps that are used, the more wasteful the energy is used. Wasteful of energy, so the expenditure for operational costs will be even greater. The role of technology can be used alongside a culture of energy saving. One of them is a light automation system. Automation systems can be realized without programming. based on a survey the place that requires this automation system is a school classroom. Automation systems can be directly coupled with light systems and manual light switches in classrooms, replacing conventional light-on and off-turn systems in classrooms. Its easy installation provides an example for installing an automation system for schools that have a large number of classrooms. The automation sensor used is a type of sensor that has a way of detecting the movement of people in the room. The sensor that can be used the easiest is the Passive Infra Red (PIR) sensor. This sensor itself is the sensor that is most easily available and quite cheap. In realizing the use of this sensor, more than 1 PIR sensor point is required. Sensors that are used more than 1 point will make grouping part of the lighting system in the classroom. If the classroom is not fully used up to the back of the classroom, then it is enough only to turn it on from the front lights to the middle of the classroom. This supports energy saving efforts. Through this automation, it is hoped that there will be a change in the culture of energy saving side by side with technological developments in terms of its use for energy saving. Keywords: LED; motion sensor; classroom; without programming; automation system AbstrakLampu merupakan alat elektronika yang menghasilkan cahaya ternyata salah satu komponen dalam pengeluaran biaya listrik yang cukup besar. Semakin besar ruangan, maka ruang tersebut akan membutuhkan banyak lampu penerangan untuk mencapai nilai suatu tingkat pencahayaan yang sesuai Standard Nasional Indonesia (SNI) pada ruangan tersebut. Semakin banyak lampu yang digunakan tentu semakin boros energi yang digunakan. Boros energi maka pengeluaran untuk biaya operasional akan semakin besar. Peran teknologi dapat digunakan berdampingan dengan budaya hemat energi. Salah satu nya dengan sistem otomatisasi lampu. Sistem otomatisasi dapat direalisasikan tanpa pemrograman. berdasarkan survei tempat yang membutuhkan sistem otomatisasi ini adalah ruangan kelas sekolah. Sistem otomatisasi dapat langsung dipasangkan dengan sistem lampu dan saklar lampu manual di ruang kelas menggantikan sistem mati nyala lampu secara konvensional di ruang kelas. Pemasangannya yang mudah menjadikan contoh bagi pemasangan sistem otomatisasi bagi sekolah yang memiliki ruang kelas yang cukup banyak. Sensor otomatisasi yang digunakan merupakan jenis sensor yang memiliki cara kerja untuk mendeteksi pergerakan orang di dalam ruangan. Sensor yang dapat digunakan paling mudah yaitu sensor Passive Infra Red (PIR). Sensor PIR merupakan sensor yang paling mudah didapatkan dan cukup murah. Dalam realisasi penggunaan sensor ini diperlukan lebih dari 1 titik sensor PIR. Sensor yang digunakan lebih dari 1 titik akan membuat pengelompokkan bagian dari sistem pencahayaan di ruang kelas tersebut. Jika ruang kelas tidak digunakan sepenuhnya hingga bagian belakang kelas, maka cukup hanya dinyalakan dari lampu bagian depan hingga ruang tengah kelas. Hal ini mendukung upaya hemat energi. Melalui otomatisasi ini diharapkan ada perubahan budaya hemat energi yang berdampingan dengan perkembangan teknologi dalam hal pemanfaatannya untuk hemat energi.
灯是一种产生光的电子设备,是花费相当大的电力成本的部件之一。房间越大,空间将需要大量的照明来达到房间内根据印尼国家标准(SNI)的照明水平值。灯用得越多,能源就越浪费。能源的浪费,因此运营成本的支出将会更大。技术的作用可以与节能文化一起使用。其中之一是轻型自动化系统。自动化系统无需编程即可实现。根据调查,需要该自动化系统的场所是一所学校的教室。自动化系统可以直接与教室内的照明系统和手动灯开关相结合,取代教室内传统的开、关系统。它易于安装,为有大量教室的学校安装自动化系统提供了一个范例。所使用的自动化传感器是一种能够检测房间中人员运动的传感器。最容易使用的传感器是被动红外(PIR)传感器。这种传感器本身是最容易获得且相当便宜的传感器。在实现该传感器的使用时,需要1个以上的PIR传感器点。使用1点以上的传感器将成为教室照明系统的分组部分。如果教室后面的灯还没有用光,那么只把前面的灯打开到教室中间就足够了。这支持了节能工作。通过这一自动化,我们希望在技术发展的同时,节能文化也会发生变化。关键词:领导;运动传感器;教室;没有编程;【摘要】兰普市的自动化系统,是一种新型的自动化系统,是一种新型的自动化系统。印尼国家标准(SNI)印尼国家标准(SNI)印尼国家标准(SNI)印尼国家标准(SNI)这是我第一次见到你,我第一次见到你。波罗的海能源使其成为一种可操作的能源。Peran技术是一种能使人感到舒适的技术,能使人感到舒适。Salah satu nya dengan系统对lampu的影响。系统的数据分析和数据分析。Berdasarkan的调查结果显示,杨氏系统的土壤水分不足。系统统计,系统统计,系统统计,系统统计,系统统计,系统统计,系统统计,系统统计,系统统计,系统统计。pmasangannya yang mudah menjadikan contoh bagi pmasangan system otomatisasi bagi sekolah yang memoriliki ruang kelas yang cucuup banyak。传感器:传感器:传感器:传感器:传感器:传感器:传感器:传感器:无源红外传感器(PIR)。传感器PIR merupakan传感器yang paling mudah didapatkan dan cukup murah。Dalam realisasi penggunaan传感器ini diperlukan lebih dari 1 titik传感器PIR。传感器yang digunakan lebih dari 1 titik akan成员,pengelompokkan bagian dari系统,pencahayaan di ruang kelas tersebut。Jika wong kelas, tidak digunakan, sepenuhnya, hinga bagian, belakang kelas, makakup, hanya, dinyalakan, dari, lampu bagian, depan, hinga wong tengah kelas。Hal ini mendukung upaya hemat energy。Melalui otomatisasi ini diharapkan ada perubahan budaya hemat energi yang berdaming and dengan perkembangan technologii dalam hal pmanfaatannya untuk hemat energi。