{"title":"Validitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis Model Problem Based Learning (PBL) Pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas XI SMA","authors":"Resi Maimufi, M. Haviz, Rina Delfita, N. Fajar","doi":"10.31958/je.v2i1.3144","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This research is motivated by the problem of the lack of teaching materials used in learning, in the learning process only using textbooks as a learning resource and there are still no learning resources that can solve student problems. The purpose of this study was to produce a valid student worksheet based on the Problem Based Learning (PBL) model on the Circulatory System Material for Class XI at SMAN 2 Pulau Punjung, Dharmasraya Regency. This research is a development research using a 4-D development model. The instruments used in this study were the validity test sheet and the interview sheet. Data analysis using descriptive analysis. Based on the results of the data analysis carried out, it can be concluded that: The results of the study show that LKPD based on Problem Based Learning (PBL) is very valid in learning on the circulatory system material for class XI at SMAN 2 Pulau Punjung, Dharmasraya district with a percentage of 91.90%. Keyword: Validity, LKPD, PBL and Circulatory System materials. 1. Pendahulauan Masalah yang sering dihadapi guru dalam proses pembelajaran adalah memilih dan menentukan bahan ajar yang baik untuk kegiatan belajar mengajar. Pemilihan bahan ajar yang baik dan sesuai dengan topik materi yang akan disampaikan merupakan poin penting bagi guru agar tercapainya tujuan pembelajaran. Kreativitas guru dalam membuat bahan ajar menjadikan pembelajaran yang diterima peserta didik dapat dipahami dengan baik. Bahan ajar menjadi sumber penting untuk menunjang proses pembelajaran. Bahan ajar merupakan penghubung antara guru dan peserta didik. Peran guru dalam proses pembelajaran sebagai fasilitator menjadikan penggunaan bahan ajar sebagai jembatan penyelesaian masalah keterbatasan daya serap peserta didik dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Bahan ajar pada dasarnya merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaan implementasi pembelajaran (Hikmah et al., 2019). Bahan ajar merupakan faktor eksternal bagi peserta didik yang mampu memperkuat motivasi dari dalam diri peserta didik. Bahan ajar dalam konteks pembelajaran merupakan salah satu komponen yang harus ada, sehingga proses belajar yang terjadi dapat berlangsung optimal. Bahan ajar yang didesain secara bagus dan dilengkapi dengan isi dan ilustrasi yang menarik menstimulasi peserta didik untuk memanfaatkan bahan ajar sebagai sumber belajar (Ramdani, 2016). Membuat bahan ajar bagi sebagian pendidik mungkin adalah hal yang mudah. Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu bentuk dari kegiatan proses pembelajaran untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran yang berlangsung (Trisnawati, 2007). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Yuliandriati et al., 2019) judul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis Problem Based Learning pada materi ikatan kimia kelas X”didapatkan hasil proses pengembangan bahan ajar yang valid dan layak Vol 2 No 1, Juli 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 50 digunakan dan telah melalui proses validasi, uji coba terbatas serta telah dinyatakan memenuhi aspek isi, aspek penyajian, aspek bahasa, aspek kegrafian dan aspek karakteristik PBL. Dalam realitas pendidikan di lapangan, banyak pendidik yang masih menggunakan bahan ajar yang siap pakai, tinggal beli, instan, tanpa upaya merencanakan, menyiapkan dan menyusun sendiri bahan ajar yang akan digunakan. Dengan demikian risiko yang didapat adalah bahan ajar yang mereka pakai kurang menarik bagi peserta didik. Pada saat sekarang ini, seorang pendidik dituntut kreativitasnya untuk mampu menyusun bahan ajar yang inovatif, variatif, menarik, kontekstual dan sesuai dengan tingkat kebutuhan peserta didik. Bahan ajar berorientasi kepada kegiatan belajar peserta didik sehingga bahan ajar disusun berdasarkan kebutuhan dan motivasi peserta didik. Hal itu bertujuan agar peserta didik lebih antusias dan semangat dalam proses pembelajaran. Bahan ajar juga dapat digunakan peserta didik untuk belajar secara mandiri tanpa harus melibatkan guru. Bagi guru, bahan ajar ini hendaknya bisa mengarahkan guru dalam menentukan langkahlangkah pembelajaran di kelas. Pola sajian bahan ajaran disesuaikan dengan perkembangan intelektual peserta didik sehingga mudah dipahami. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan guru mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 2 Pulau Punjung yaitu Ibuk Diana dan Bapak Radhi didapatkan hasil bahwa proses pembelajaran yang berlangsung, peserta didik belum bisa memecahkan masalah dalam materi pembelajaran secara optimal. Disamping itu guru hanya menggunakan bahan ajar berupa buku paket dan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Buku paket yang digunakan guru dalam proses pembelajaran hanya dipinjamkan kepada peserta didik saat pembelajaran berlangsung dan dikumpul kembali setelah proses pembelajaran selesai dilakukan. Dengan demikian terlihat bahwa kurangnya bahan ajar yang dimiliki peserta didik dan berakibat peserta didik tidak dapat belajar secara mandiri dengan buku paket di rumah. Pembelajaran yang hanya terfokus pada buku paket menjadikan proses pembelajaran tidak berlangsung aktif dan peserta didik sulit memahami materi pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut peserta didik kekurangan bahan belajar untuk dipelajari baik di sekolah maupun di rumah. Peserta didik harus mencari sendiri bahan belajar tambahan untuk melengkapi materi pembelajaran. Selain itu guru juga belum ada mengembangkan bahan ajar yang dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran. Untuk menutupi keterbatasan tersebut hendaknya guru mampu mencarikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Vivi et al., 2014). Bahan ajar perlu dikembangkan agar dapat membantu peserta didik dalam pembelajaran dan dapat dijadikan sebagai bahan belajar tambahan bagi peserta didik. Salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan oleh guru dan mampu membantu peserta didik dalam memecahkan masalah pembelajaran adalah Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan model PBL. Dalam proses pembelajaran di sekolah peserta didik tidak sekedar mendengarkan ceramah dari guru. Dengan penerapan model pembelajaran PBL, diharapkan peserta didik lebih aktif, efektif, dan mampu menerima pelajaran yang disampaikan guru. Menurut Dewey sekolah merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan nyata, karena setiap siswa memiliki kebutuhan untuk menyelidiki lingkungan mereka dan membangun secara pribadi pengetahuannya (Yustianingsih et al., 2017). PBL atau pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Permasalahan yang disajikan dalam model pembelajaran PBL dapat meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik pada pembelajaran yang berlagsung (Arsil, 2019). Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Validitas Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Model Problem Based Learning Vol 2 No 1, Juli 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 51 (PBL) Pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas XI SMAN 2 Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya”. 2. Metode Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development yang merupakan penelitian untuk menghasilkan produk tertentu, dan mengaji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2014). Model pengembangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan 4-D. Model pengembangan ini terdiri atas 4 tahap utama, yaitu : 1). Define (Pendefinisian). 2) Design (Perancangan), dan 3) Develop (Pengembangan) tanpa melakukan Disseminate (penyebarluasan) (Haviz, 2013). Prosedur dalam penelitian yang penulis lakukan terlihat pada Gambar 1: Gambar 1. Prosedur Penelitian Subjek uji coba pengembangan LKPD berbasis model PBL dalam penelitian ini adalah ahli media pembelajaran dan guru mata pelajaran Biologi kelas XI SMA 2 Pulau Punjung. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar validasi LKPD pembelajaran berbasis model PBL. Tabel 1. Kisikisi Validasi LKPD Berbasis Problem Based Learning (PBL) No Aspek Metode Pengumpulan Data Instrumen 1 Syarat Didaktif Angket/Lembar Validasi Lembar Validasi","PeriodicalId":244772,"journal":{"name":"Edusainstika: Jurnal Pembelajaran MIPA","volume":"87 2 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-07-31","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Edusainstika: Jurnal Pembelajaran MIPA","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.31958/je.v2i1.3144","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
This research is motivated by the problem of the lack of teaching materials used in learning, in the learning process only using textbooks as a learning resource and there are still no learning resources that can solve student problems. The purpose of this study was to produce a valid student worksheet based on the Problem Based Learning (PBL) model on the Circulatory System Material for Class XI at SMAN 2 Pulau Punjung, Dharmasraya Regency. This research is a development research using a 4-D development model. The instruments used in this study were the validity test sheet and the interview sheet. Data analysis using descriptive analysis. Based on the results of the data analysis carried out, it can be concluded that: The results of the study show that LKPD based on Problem Based Learning (PBL) is very valid in learning on the circulatory system material for class XI at SMAN 2 Pulau Punjung, Dharmasraya district with a percentage of 91.90%. Keyword: Validity, LKPD, PBL and Circulatory System materials. 1. Pendahulauan Masalah yang sering dihadapi guru dalam proses pembelajaran adalah memilih dan menentukan bahan ajar yang baik untuk kegiatan belajar mengajar. Pemilihan bahan ajar yang baik dan sesuai dengan topik materi yang akan disampaikan merupakan poin penting bagi guru agar tercapainya tujuan pembelajaran. Kreativitas guru dalam membuat bahan ajar menjadikan pembelajaran yang diterima peserta didik dapat dipahami dengan baik. Bahan ajar menjadi sumber penting untuk menunjang proses pembelajaran. Bahan ajar merupakan penghubung antara guru dan peserta didik. Peran guru dalam proses pembelajaran sebagai fasilitator menjadikan penggunaan bahan ajar sebagai jembatan penyelesaian masalah keterbatasan daya serap peserta didik dan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran di kelas. Bahan ajar pada dasarnya merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaan implementasi pembelajaran (Hikmah et al., 2019). Bahan ajar merupakan faktor eksternal bagi peserta didik yang mampu memperkuat motivasi dari dalam diri peserta didik. Bahan ajar dalam konteks pembelajaran merupakan salah satu komponen yang harus ada, sehingga proses belajar yang terjadi dapat berlangsung optimal. Bahan ajar yang didesain secara bagus dan dilengkapi dengan isi dan ilustrasi yang menarik menstimulasi peserta didik untuk memanfaatkan bahan ajar sebagai sumber belajar (Ramdani, 2016). Membuat bahan ajar bagi sebagian pendidik mungkin adalah hal yang mudah. Pengembangan bahan ajar merupakan salah satu bentuk dari kegiatan proses pembelajaran untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran yang berlangsung (Trisnawati, 2007). Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Yuliandriati et al., 2019) judul “Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik berbasis Problem Based Learning pada materi ikatan kimia kelas X”didapatkan hasil proses pengembangan bahan ajar yang valid dan layak Vol 2 No 1, Juli 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 50 digunakan dan telah melalui proses validasi, uji coba terbatas serta telah dinyatakan memenuhi aspek isi, aspek penyajian, aspek bahasa, aspek kegrafian dan aspek karakteristik PBL. Dalam realitas pendidikan di lapangan, banyak pendidik yang masih menggunakan bahan ajar yang siap pakai, tinggal beli, instan, tanpa upaya merencanakan, menyiapkan dan menyusun sendiri bahan ajar yang akan digunakan. Dengan demikian risiko yang didapat adalah bahan ajar yang mereka pakai kurang menarik bagi peserta didik. Pada saat sekarang ini, seorang pendidik dituntut kreativitasnya untuk mampu menyusun bahan ajar yang inovatif, variatif, menarik, kontekstual dan sesuai dengan tingkat kebutuhan peserta didik. Bahan ajar berorientasi kepada kegiatan belajar peserta didik sehingga bahan ajar disusun berdasarkan kebutuhan dan motivasi peserta didik. Hal itu bertujuan agar peserta didik lebih antusias dan semangat dalam proses pembelajaran. Bahan ajar juga dapat digunakan peserta didik untuk belajar secara mandiri tanpa harus melibatkan guru. Bagi guru, bahan ajar ini hendaknya bisa mengarahkan guru dalam menentukan langkahlangkah pembelajaran di kelas. Pola sajian bahan ajaran disesuaikan dengan perkembangan intelektual peserta didik sehingga mudah dipahami. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan dengan guru mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 2 Pulau Punjung yaitu Ibuk Diana dan Bapak Radhi didapatkan hasil bahwa proses pembelajaran yang berlangsung, peserta didik belum bisa memecahkan masalah dalam materi pembelajaran secara optimal. Disamping itu guru hanya menggunakan bahan ajar berupa buku paket dan metode ceramah dalam proses pembelajaran. Buku paket yang digunakan guru dalam proses pembelajaran hanya dipinjamkan kepada peserta didik saat pembelajaran berlangsung dan dikumpul kembali setelah proses pembelajaran selesai dilakukan. Dengan demikian terlihat bahwa kurangnya bahan ajar yang dimiliki peserta didik dan berakibat peserta didik tidak dapat belajar secara mandiri dengan buku paket di rumah. Pembelajaran yang hanya terfokus pada buku paket menjadikan proses pembelajaran tidak berlangsung aktif dan peserta didik sulit memahami materi pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut peserta didik kekurangan bahan belajar untuk dipelajari baik di sekolah maupun di rumah. Peserta didik harus mencari sendiri bahan belajar tambahan untuk melengkapi materi pembelajaran. Selain itu guru juga belum ada mengembangkan bahan ajar yang dapat membantu peserta didik dalam proses pembelajaran. Untuk menutupi keterbatasan tersebut hendaknya guru mampu mencarikan solusi yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dalam proses pembelajaran. Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik (Vivi et al., 2014). Bahan ajar perlu dikembangkan agar dapat membantu peserta didik dalam pembelajaran dan dapat dijadikan sebagai bahan belajar tambahan bagi peserta didik. Salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan oleh guru dan mampu membantu peserta didik dalam memecahkan masalah pembelajaran adalah Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan model PBL. Dalam proses pembelajaran di sekolah peserta didik tidak sekedar mendengarkan ceramah dari guru. Dengan penerapan model pembelajaran PBL, diharapkan peserta didik lebih aktif, efektif, dan mampu menerima pelajaran yang disampaikan guru. Menurut Dewey sekolah merupakan laboratorium untuk pemecahan masalah kehidupan nyata, karena setiap siswa memiliki kebutuhan untuk menyelidiki lingkungan mereka dan membangun secara pribadi pengetahuannya (Yustianingsih et al., 2017). PBL atau pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar” bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Permasalahan yang disajikan dalam model pembelajaran PBL dapat meningkatkan rasa ingin tahu peserta didik pada pembelajaran yang berlagsung (Arsil, 2019). Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Validitas Lembar Kerja Peserta Didik Berbasis Model Problem Based Learning Vol 2 No 1, Juli 2021 Edusainstika : Jurnal Pembelajaran MIPA 51 (PBL) Pada Materi Sistem Peredaran Darah Kelas XI SMAN 2 Pulau Punjung Kabupaten Dharmasraya”. 2. Metode Metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah Research and Development yang merupakan penelitian untuk menghasilkan produk tertentu, dan mengaji keefektifan produk tersebut (Sugiyono, 2014). Model pengembangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah model pengembangan 4-D. Model pengembangan ini terdiri atas 4 tahap utama, yaitu : 1). Define (Pendefinisian). 2) Design (Perancangan), dan 3) Develop (Pengembangan) tanpa melakukan Disseminate (penyebarluasan) (Haviz, 2013). Prosedur dalam penelitian yang penulis lakukan terlihat pada Gambar 1: Gambar 1. Prosedur Penelitian Subjek uji coba pengembangan LKPD berbasis model PBL dalam penelitian ini adalah ahli media pembelajaran dan guru mata pelajaran Biologi kelas XI SMA 2 Pulau Punjung. Instrumen dalam penelitian ini adalah lembar validasi LKPD pembelajaran berbasis model PBL. Tabel 1. Kisikisi Validasi LKPD Berbasis Problem Based Learning (PBL) No Aspek Metode Pengumpulan Data Instrumen 1 Syarat Didaktif Angket/Lembar Validasi Lembar Validasi