{"title":"MANGNGADE: CIRI TRADISI MEGALITIK DI DESA WANUAWARU, MALLAWA, MAROS","authors":"A. Saiful","doi":"10.24832/WLN.V16I2.341","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Mangngade or ‘performing custom’ is a common activity in Wanuawaru Village, Mallawa District, Maros Regency, which is conducted in December and January. The problem in this research is how Wanuawaru villagers doing it and how position Manggade to Wanuawaru Villagers. There are three stages during the Mangngade procession namely visiting salo, gathering in Saoraja, and gathering in Bulu Posso. In Mangngade, the community performs prayers related to agriculture to avoid natural disasters, to beg for peace, safety, and success of personal life. The methods of data collection are ethnographic method and archaeological data recording. The results of data recording are then analyzed using concept in megalithic culture. Based on those data, it is finally concluded that Mangngade is the character of a megalithic tradition that is still carried out by the Wanuawaru villagers from generation to generation for confession about their community.Mangngade atau ‘menjalankan adat’ merupakan kegiatan masyarakat di Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan pada bulan Desember dan Januari. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana proses acara Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa Wanuawaru. Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yaitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di Bulu Posso. Dalam Mangngade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, metode etnografi dan perekaman data arkeologi. Hasil perekaman data kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep dalam kebudayaan megalitik. Berdasarkan data tersebut akhirnya disimpulkan bahwa Mangngade merupakan ciri tradisi megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa Wanuawaru secara turun temurun dari leluhurnya dalam membangun pengakuan keberadaan kelompoknya.","PeriodicalId":269396,"journal":{"name":"JURNAL WALENNAE","volume":"33 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2018-12-14","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"JURNAL WALENNAE","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.24832/WLN.V16I2.341","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
Mangngade or ‘performing custom’ is a common activity in Wanuawaru Village, Mallawa District, Maros Regency, which is conducted in December and January. The problem in this research is how Wanuawaru villagers doing it and how position Manggade to Wanuawaru Villagers. There are three stages during the Mangngade procession namely visiting salo, gathering in Saoraja, and gathering in Bulu Posso. In Mangngade, the community performs prayers related to agriculture to avoid natural disasters, to beg for peace, safety, and success of personal life. The methods of data collection are ethnographic method and archaeological data recording. The results of data recording are then analyzed using concept in megalithic culture. Based on those data, it is finally concluded that Mangngade is the character of a megalithic tradition that is still carried out by the Wanuawaru villagers from generation to generation for confession about their community.Mangngade atau ‘menjalankan adat’ merupakan kegiatan masyarakat di Desa Wanuawaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan pada bulan Desember dan Januari. Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yaitu bagaimana proses acara Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa Wanuawaru. Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yaitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di Bulu Posso. Dalam Mangngade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi. Adapun metode pengumpulan data yang digunakan yaitu, metode etnografi dan perekaman data arkeologi. Hasil perekaman data kemudian dianalisis dengan menggunakan konsep dalam kebudayaan megalitik. Berdasarkan data tersebut akhirnya disimpulkan bahwa Mangngade merupakan ciri tradisi megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa Wanuawaru secara turun temurun dari leluhurnya dalam membangun pengakuan keberadaan kelompoknya.
Mangngade或“表演习俗”是马洛斯县马拉瓦区瓦努瓦鲁村的一项常见活动,在12月和1月进行。本研究的问题是wanuwaru村民如何做到这一点,Manggade在wanuwaru村民中的地位如何。在manggade游行中有三个阶段,即访问salo,在Saoraja聚集,在Bulu Posso聚集。在manggade,社区进行与农业有关的祈祷,以避免自然灾害,祈求和平,安全和个人生活的成功。资料收集的方法有民族志法和考古资料记录法。数据记录的结果,然后用概念在巨石培养分析。根据这些数据,最后得出结论,Mangngade是瓦努瓦鲁村民代代相传的巨石传统的特征,用于忏悔他们的社区。Mangngade atau ' menjalankan adat ' merupakan kegiatan masyarakat di Desa wanuwaru, Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dilakukan padbulan十二月至一月。Masalah yang diangkat dalam penelitian ini, yitu bagaimana proproa, Mangngade dan kedudukannya dalam masyarakat Desa wanuwaru。Terdapat tiga tahap saat prosesi Mangngade, yitu mengunjungi salo, berkumpul di Saoraja, dan berkumpul di buu Posso。Dalam manggade, masyarakat melakukan doa-doa yang berkaitan dengan pertanian, terhindar dari bencana alam, kedamaian, keselamatan dan kesuksesan kehidupan pribadi。杨迪古纳坎·亚图,方法民族学,丹·佩雷卡曼,数据市场。Hasil perekaman数据,kemuddian分析,dengan, menggunakan, konsep dalam, kebudayan, megalitik。数据tersebut akhirnya dispulkan bahwa manggade merupakan cicitradis megalitik yang masih dijalankan masyarakat Desa wanuwaru secara turun turundari leluhurnya dalam membangunn pengakan keberadaan kelompoknya。