{"title":"Lafaz Al Bai’u Mistlu Al Riba dalam Surah Al Baqarah Ayat 275","authors":"Zainuddin Zainuddin, Anayya Syadza Zainuddin","doi":"10.22373/jim.v19i1.12309","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This paper discusses the views of the commentators on the lafadz al-bai'u mitslu al-riba in surah al-Baqarah verse 275. Some commentators interpret the word amtsal, as tasybih and majaz, and others interpret it as i'jaz. This paper uses the method of interpretation of tahlili, through the approach of the field of amtsal al-Qur'an, literature research. The main sources are the books of tafsir, with the aim of studying and knowing the lafadz al-bai'u mitslu al-riba according to the mufassirs. So that the economic principles of monotheism, humanity, justice and peace were developed. The conclusion of this article is that Allah deliberately raised the parable of the ignorant, because socio-cultural Arab society and humans in general have a culture that is difficult to abandon the practice of usury until now, even building the image of tasybih maqlūb style that usury and buying and selling are the same in terms of taking more profit.ABSTRAKTulisan ini membicarakan pandangan para mufassir tentang lafadz al-bai’u mitslu al-riba dalam surah al-Baqarah ayat 275. Sebahagian mufassir menafsirkan lafaz amtsal, sebagai tasybih dan majaz, dan lainya memaknai dengan i’jaz. Tulisan ini menggunakan metode penafsiran tahlili, melalui pendekatan bidang amtsal al-Qur’an, penelitian kepustakaan. Sumber utama adalah kitab-kitab tafsir, dengan tujuan untuk mengkaji dan mengetahui lafadz al-bai’u mitslu al-riba menurut para mufassir. Sehingga terbangun prinsip ekonomi ketauhidan, kemanusiaan, keadilan dan kedamaian. Kesimpulan tulisan ini sengaja Allah mengangkat kembali perumpamaan kaum jahiliyah, Sebab secara sosio kultural masyarakat Arab dan manusia pada umumnya memiliki budaya yang sulit meninggalkan praktik riba hingga sekarang, bahkan membangun image gaya tasybih maqlūb bahwa riba dan jual beli itu sama dari segi mengambil nilai lebih keuntungan.","PeriodicalId":393241,"journal":{"name":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","volume":"1 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-01-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"1","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.22373/jim.v19i1.12309","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 1
Abstract
This paper discusses the views of the commentators on the lafadz al-bai'u mitslu al-riba in surah al-Baqarah verse 275. Some commentators interpret the word amtsal, as tasybih and majaz, and others interpret it as i'jaz. This paper uses the method of interpretation of tahlili, through the approach of the field of amtsal al-Qur'an, literature research. The main sources are the books of tafsir, with the aim of studying and knowing the lafadz al-bai'u mitslu al-riba according to the mufassirs. So that the economic principles of monotheism, humanity, justice and peace were developed. The conclusion of this article is that Allah deliberately raised the parable of the ignorant, because socio-cultural Arab society and humans in general have a culture that is difficult to abandon the practice of usury until now, even building the image of tasybih maqlūb style that usury and buying and selling are the same in terms of taking more profit.ABSTRAKTulisan ini membicarakan pandangan para mufassir tentang lafadz al-bai’u mitslu al-riba dalam surah al-Baqarah ayat 275. Sebahagian mufassir menafsirkan lafaz amtsal, sebagai tasybih dan majaz, dan lainya memaknai dengan i’jaz. Tulisan ini menggunakan metode penafsiran tahlili, melalui pendekatan bidang amtsal al-Qur’an, penelitian kepustakaan. Sumber utama adalah kitab-kitab tafsir, dengan tujuan untuk mengkaji dan mengetahui lafadz al-bai’u mitslu al-riba menurut para mufassir. Sehingga terbangun prinsip ekonomi ketauhidan, kemanusiaan, keadilan dan kedamaian. Kesimpulan tulisan ini sengaja Allah mengangkat kembali perumpamaan kaum jahiliyah, Sebab secara sosio kultural masyarakat Arab dan manusia pada umumnya memiliki budaya yang sulit meninggalkan praktik riba hingga sekarang, bahkan membangun image gaya tasybih maqlūb bahwa riba dan jual beli itu sama dari segi mengambil nilai lebih keuntungan.
本文讨论了解说员对《巴卡拉章》第275节中的拉法兹·阿尔-拜乌·米斯鲁·阿尔-里巴的看法。一些注释家把这个词解释为tasybih和majaz,另一些解释为i'jaz。本文采用释经的方法,通过对《古兰经》领域的研究,进行文献研究。主要来源是tafsir的书籍,目的是根据mufassirs研究和了解lafadz al-bai'u mitslu al-riba。因此,一神论、人道、正义与和平的经济原则得以发展。这篇文章的结论是,安拉故意提出了无知的寓言,因为社会文化阿拉伯社会和人类一般都有一种文化,直到现在很难放弃高利贷的做法,甚至建立了tasybih maqlūb风格的形象,即高利贷和买卖在获取更多利润方面是一样的。ABSTRAKTulisan ini membicarakan pandangan对位mufassir tentang lafadz al-bai 'u mitslu al-riba dalam古兰经教义将受275人。Sebahagian mufassir menafsirkan lafaz amtsal, sebagai tasybih dan majaz, dan lainya memaknai dengan i 'jaz。《古兰经》,《古兰经》,《古兰经》。Sumber utama adalah kitab-kitab tafir, dengan tujuan untuk mengkaji dan mengetahui, lafadz al-bai 'u mitslu al-riba menuut para mufassir。苏兴亚特班克经济原则,克达希丹,克达希丹,克达希丹,克达希丹。阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语:阿拉伯语