{"title":"有关部落家庭拨款的司法问题属于继承人的权利和义务","authors":"Aminuddin Aminuddin, Ardiansyah Ardiansyah","doi":"10.46870/jhki.v2i1.123","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif berupa suatu metode penelitian yang dilakukan di lapangan berupa pengelolaan data yang didapatkan dari hasil wawancara dengan secara terstruktur, menggunakan pendekatan descriptif analisis. Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa keadilan pada hibah keluarga masyarakat adat ditinjau dari hak dan kewajiban seorang ahli waris syarat akan kondisi dan situasi seorang anak perempuan yang mengalami kondisi tidak memiliki suami (tidak menikah) dan tidak pula menempuh pendidikan yang lebih tinggi ketimbang anak laki-laki dalam keluarga, maka suatu hal yang wajar ketika dalam situasi pembagian harta, orang tua merasa kurang adil apabila ahli waris dari anak perempuan mendapat bagian lebih sedikit ketimbang dengan anak laki-laki. Sementara situasi anak laki-laki sebagai ahli waris juga mendapatkan kesempatan lebih besar dalam hal menempuh pendidikan. Maka tentulah orang tua dalam hal ini masyarakat adat, lebih memilih melakukan penyemarataan bagian antara anak laki-laki dengan perempuan dengan melalui jalur penghibahan orang tua dengan mengedepankan hasil musyawarah antara keluarga agar tidak menimbulkan konfilik dan masalah baru. Atau bahkan dengan kondisi tertentu bagian seorang anak perempuan malah lebih banyak dari anak laki-laki tetapi itu juga atas dasar persetujuan dari anak laki-laki. Implikasi Penelitian; Dari banyaknya persoalan kewarisan di tengah masyarakat, maka para cendekiawan dituntut untuk senantiasa bemberikan sumbangsi pemikiran dan solusi alternatif sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam memecahkan problematika yang ada.","PeriodicalId":287700,"journal":{"name":"QISTHOSIA : Jurnal Syariah dan Hukum","volume":"39 1","pages":"0"},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2021-06-15","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":"{\"title\":\"PROBLEMATIKA KEADILAN PADA HIBAH KELUARGA MASYARAKAT ADAT DITINJAU DARI HAK DAN KEWAJIBAN SEORANG AHLI WARIS\",\"authors\":\"Aminuddin Aminuddin, Ardiansyah Ardiansyah\",\"doi\":\"10.46870/jhki.v2i1.123\",\"DOIUrl\":null,\"url\":null,\"abstract\":\"Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif berupa suatu metode penelitian yang dilakukan di lapangan berupa pengelolaan data yang didapatkan dari hasil wawancara dengan secara terstruktur, menggunakan pendekatan descriptif analisis. Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa keadilan pada hibah keluarga masyarakat adat ditinjau dari hak dan kewajiban seorang ahli waris syarat akan kondisi dan situasi seorang anak perempuan yang mengalami kondisi tidak memiliki suami (tidak menikah) dan tidak pula menempuh pendidikan yang lebih tinggi ketimbang anak laki-laki dalam keluarga, maka suatu hal yang wajar ketika dalam situasi pembagian harta, orang tua merasa kurang adil apabila ahli waris dari anak perempuan mendapat bagian lebih sedikit ketimbang dengan anak laki-laki. Sementara situasi anak laki-laki sebagai ahli waris juga mendapatkan kesempatan lebih besar dalam hal menempuh pendidikan. Maka tentulah orang tua dalam hal ini masyarakat adat, lebih memilih melakukan penyemarataan bagian antara anak laki-laki dengan perempuan dengan melalui jalur penghibahan orang tua dengan mengedepankan hasil musyawarah antara keluarga agar tidak menimbulkan konfilik dan masalah baru. Atau bahkan dengan kondisi tertentu bagian seorang anak perempuan malah lebih banyak dari anak laki-laki tetapi itu juga atas dasar persetujuan dari anak laki-laki. Implikasi Penelitian; Dari banyaknya persoalan kewarisan di tengah masyarakat, maka para cendekiawan dituntut untuk senantiasa bemberikan sumbangsi pemikiran dan solusi alternatif sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam memecahkan problematika yang ada.\",\"PeriodicalId\":287700,\"journal\":{\"name\":\"QISTHOSIA : Jurnal Syariah dan Hukum\",\"volume\":\"39 1\",\"pages\":\"0\"},\"PeriodicalIF\":0.0000,\"publicationDate\":\"2021-06-15\",\"publicationTypes\":\"Journal Article\",\"fieldsOfStudy\":null,\"isOpenAccess\":false,\"openAccessPdf\":\"\",\"citationCount\":\"0\",\"resultStr\":null,\"platform\":\"Semanticscholar\",\"paperid\":null,\"PeriodicalName\":\"QISTHOSIA : Jurnal Syariah dan Hukum\",\"FirstCategoryId\":\"1085\",\"ListUrlMain\":\"https://doi.org/10.46870/jhki.v2i1.123\",\"RegionNum\":0,\"RegionCategory\":null,\"ArticlePicture\":[],\"TitleCN\":null,\"AbstractTextCN\":null,\"PMCID\":null,\"EPubDate\":\"\",\"PubModel\":\"\",\"JCR\":\"\",\"JCRName\":\"\",\"Score\":null,\"Total\":0}","platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"QISTHOSIA : Jurnal Syariah dan Hukum","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.46870/jhki.v2i1.123","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
摘要
本研究采用描述性定性研究方法,采用结构化采访结果的数据管理,采用分级分析方法。获得的研究结果表明,正义的家庭补助金的继承人(united nations high commissioner for refugees)表示土著人权利和义务的条款会条件和一个女儿患有情况没有丈夫(结婚)也没有接受更高的教育,而不是家庭的男孩,所以财富再分配情况的时候,有很自然的事,父母认为女儿的遗产比儿子的少是不公平的。虽然男性继承人的情况在追求教育方面也有更大的机会。那么,在这一传统问题上的父母,当然更喜欢通过父母之间的互让关系,通过公布家庭之间的冲突,而不是产生冲突。甚至在某些情况下,女孩得到的不仅仅是男孩,而是男孩的同意。研究的含义;在社会的许多遗产问题中,学者们被要求对各种思想和替代解决方案作出贡献,以支持政府解决现有问题。
PROBLEMATIKA KEADILAN PADA HIBAH KELUARGA MASYARAKAT ADAT DITINJAU DARI HAK DAN KEWAJIBAN SEORANG AHLI WARIS
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif berupa suatu metode penelitian yang dilakukan di lapangan berupa pengelolaan data yang didapatkan dari hasil wawancara dengan secara terstruktur, menggunakan pendekatan descriptif analisis. Dari hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa keadilan pada hibah keluarga masyarakat adat ditinjau dari hak dan kewajiban seorang ahli waris syarat akan kondisi dan situasi seorang anak perempuan yang mengalami kondisi tidak memiliki suami (tidak menikah) dan tidak pula menempuh pendidikan yang lebih tinggi ketimbang anak laki-laki dalam keluarga, maka suatu hal yang wajar ketika dalam situasi pembagian harta, orang tua merasa kurang adil apabila ahli waris dari anak perempuan mendapat bagian lebih sedikit ketimbang dengan anak laki-laki. Sementara situasi anak laki-laki sebagai ahli waris juga mendapatkan kesempatan lebih besar dalam hal menempuh pendidikan. Maka tentulah orang tua dalam hal ini masyarakat adat, lebih memilih melakukan penyemarataan bagian antara anak laki-laki dengan perempuan dengan melalui jalur penghibahan orang tua dengan mengedepankan hasil musyawarah antara keluarga agar tidak menimbulkan konfilik dan masalah baru. Atau bahkan dengan kondisi tertentu bagian seorang anak perempuan malah lebih banyak dari anak laki-laki tetapi itu juga atas dasar persetujuan dari anak laki-laki. Implikasi Penelitian; Dari banyaknya persoalan kewarisan di tengah masyarakat, maka para cendekiawan dituntut untuk senantiasa bemberikan sumbangsi pemikiran dan solusi alternatif sebagai bentuk dukungan terhadap pemerintah dalam memecahkan problematika yang ada.