Comparative Study of Hamka and Quraish Shihab's Interpretation: Application of Gadamer's Hermeneutics in Qs. Al-Maidah [5]: 51

I'syatul Luthfi, Raisa Zuhra Salsabila Awaluddin, Safri Nurjannah, Moh. Isbat Alfan Ghoffari
{"title":"Comparative Study of Hamka and Quraish Shihab's Interpretation: Application of Gadamer's Hermeneutics in Qs. Al-Maidah [5]: 51","authors":"I'syatul Luthfi, Raisa Zuhra Salsabila Awaluddin, Safri Nurjannah, Moh. Isbat Alfan Ghoffari","doi":"10.33086/jic.v4i2.3584","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"Hamka and Quraish Shihab have a different understanding of the interpretation of QS. al-Maidah [51]. Hamka interprets this verse as an absolute prohibition of making non-Muslims as leaders. While Quraish Shihab interprets this verse not as an absolute prohibition, so that Quraish Shihab argues may make non-Muslims as leaders with certain conditions. This article will analyze the factors causing the differences in their interpretations with Gadamer's hermeneutic approach. Gadamer's hermeneutics is chosen because for Gadamer the result of understanding or interpretation is strongly influenced by the author's pre-understanding and context. In analyzing an interpretation, Gadamer considers four things, namely Consciousness Influenced by History, Pre-understanding, Hermeneutic Circle and assimilation and Application. After analyzing the interpretations of Hamka and Quraish Shihab using Gadamer's Hermeneutics theory, it can be concluded that the differences in their interpretations are influenced by the context of their lives and different educational backgrounds. Hamka lived when political relations in Indonesia between Muslims and non-Muslims were tense. Meanwhile, Quraish Shihab lived when politics in Indonesia was no longer heated and the lives of Muslims and non-Muslims in Indonesia were harmonious. Analysis of interpretation by considering the author's horizon encourages the creation of objectivity in assessing a work of interpretation.\nHamka dan Quraish Shihab memiliki pemahaman yang berbeda mengenai penafsiran QS. al-Maidah [51]. Hamka menafsirkan ayat ini sebagai larangan mutlak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Sedangkan Quraish Shihab menafsirkan ayat ini bukan sebagai larangan mutlak, sehingga Quraish Shihab berpendapat boleh menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin dengan syarat tertentu. Artikel ini akan menganalisis faktor-faktor penyebab perbedaan penafsiran mereka dengan pendekatan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika Gadamer dipilih karena bagi Gadamer hasil pemahaman atau  interpretasi sangat di pengaruhi oleh pra-pemahaman dan konteks pengarang. Dalam menganalisis sebuah interpretasi, Gadamer mempetimbangkan empat hal, yaitu Consciousness Influenced by History, Pre-understanding, Hermeneutic Circle and assimilation and Application. Setelah menganalisis penafsiran Hamka dan Quraish Shihab menggunakan teori Hermeneutika Gadamer dapati disimpulkan bahwa perbedaan penafsiran mereka dipengaruhi oleh  konteks kehidupn dan backroug pendidikan yang berbeda. Hamka hidup saat hubungan politik di Indonesia antar Muslim dan non-Muslim tengah tegang. Sedangkan Quraish Shihab hidup di saat politik di Indonesia tidak lagi memanas dan kehidupan muslin dan non-muslim di Indonesia sudah harmonis. Analisis penafsiran dengan mempertimbangkan horizon pengarang mendorong terciptanya objektif dalam menilai sebuah karya tafsir.","PeriodicalId":34249,"journal":{"name":"Sunan Kalijaga International Journal of Islamic Civilization","volume":"10 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2022-10-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Sunan Kalijaga International Journal of Islamic Civilization","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.33086/jic.v4i2.3584","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0

Abstract

Hamka and Quraish Shihab have a different understanding of the interpretation of QS. al-Maidah [51]. Hamka interprets this verse as an absolute prohibition of making non-Muslims as leaders. While Quraish Shihab interprets this verse not as an absolute prohibition, so that Quraish Shihab argues may make non-Muslims as leaders with certain conditions. This article will analyze the factors causing the differences in their interpretations with Gadamer's hermeneutic approach. Gadamer's hermeneutics is chosen because for Gadamer the result of understanding or interpretation is strongly influenced by the author's pre-understanding and context. In analyzing an interpretation, Gadamer considers four things, namely Consciousness Influenced by History, Pre-understanding, Hermeneutic Circle and assimilation and Application. After analyzing the interpretations of Hamka and Quraish Shihab using Gadamer's Hermeneutics theory, it can be concluded that the differences in their interpretations are influenced by the context of their lives and different educational backgrounds. Hamka lived when political relations in Indonesia between Muslims and non-Muslims were tense. Meanwhile, Quraish Shihab lived when politics in Indonesia was no longer heated and the lives of Muslims and non-Muslims in Indonesia were harmonious. Analysis of interpretation by considering the author's horizon encourages the creation of objectivity in assessing a work of interpretation. Hamka dan Quraish Shihab memiliki pemahaman yang berbeda mengenai penafsiran QS. al-Maidah [51]. Hamka menafsirkan ayat ini sebagai larangan mutlak menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin. Sedangkan Quraish Shihab menafsirkan ayat ini bukan sebagai larangan mutlak, sehingga Quraish Shihab berpendapat boleh menjadikan non-Muslim sebagai pemimpin dengan syarat tertentu. Artikel ini akan menganalisis faktor-faktor penyebab perbedaan penafsiran mereka dengan pendekatan hermeneutika Gadamer. Hermeneutika Gadamer dipilih karena bagi Gadamer hasil pemahaman atau  interpretasi sangat di pengaruhi oleh pra-pemahaman dan konteks pengarang. Dalam menganalisis sebuah interpretasi, Gadamer mempetimbangkan empat hal, yaitu Consciousness Influenced by History, Pre-understanding, Hermeneutic Circle and assimilation and Application. Setelah menganalisis penafsiran Hamka dan Quraish Shihab menggunakan teori Hermeneutika Gadamer dapati disimpulkan bahwa perbedaan penafsiran mereka dipengaruhi oleh  konteks kehidupn dan backroug pendidikan yang berbeda. Hamka hidup saat hubungan politik di Indonesia antar Muslim dan non-Muslim tengah tegang. Sedangkan Quraish Shihab hidup di saat politik di Indonesia tidak lagi memanas dan kehidupan muslin dan non-muslim di Indonesia sudah harmonis. Analisis penafsiran dengan mempertimbangkan horizon pengarang mendorong terciptanya objektif dalam menilai sebuah karya tafsir.
哈姆卡与古莱什·希哈卜解释之比较研究:伽达默尔解释学在《Qs》中的应用。科学通报[5]:51
Hamka和Quraish Shihab对QS的解释有不同的理解。al-Maidah[51]。哈姆卡将这节经文解释为绝对禁止让非穆斯林担任领袖。虽然古莱什什叶派并不认为这节经文是绝对禁止的,所以古莱什什叶派认为可以在一定条件下让非穆斯林成为领袖。本文将运用伽达默尔的解释学方法,分析二者解释差异的原因。之所以选择伽达默尔的解释学,是因为对伽达默尔来说,理解或解释的结果受到作者的预理解和语境的强烈影响。在分析解释时,伽达默尔考虑了四个方面,即受历史影响的意识、预理解、解释学循环和同化与应用。运用伽达默尔的解释学理论对哈姆卡和库莱什·希哈卜的诠释进行分析,可以看出他们的诠释差异是受生活语境和教育背景的影响。哈姆卡生活在印尼穆斯林和非穆斯林之间的政治关系紧张的时期。与此同时,Quraish Shihab生活在印度尼西亚政治不再激烈,印度尼西亚穆斯林和非穆斯林生活和谐的时代。通过考虑作者的视域对口译进行分析,有助于在评价口译作品时创造客观性。Hamka dan Quraish Shihab memiliki pemahaman yang berbeda mengenai penafsiran QS。al-Maidah[51]。Hamka menafsirkan ayat ini sebagai larangan mutlak menjadikan非穆斯林sebagai pemimpin。Sedangkan quaish Shihab menafsirkan ayat ini bukan sebagai larangan mutlak, sehinga quaish Shihab berpendapat boleh menjadikan非穆斯林sebagai pemimpin dengan syarat tertentu。阿蒂克尔尼是一种动态分析因子-因子-因子分析因子,是一种动态分析因子,是一种动态分析因子。解释学:Gadamer dipilih karena bagi Gadamer hasil pemahaman atau interpretasi sangat di pengaruhi oleh pra-pemahaman dan konteks pengarang。达拉姆理论分析与阐释,伽达默尔理论分析与阐释,历史影响下的雅图意识,预理解,解释学循环与同化与应用。Setelah menganalis penafsiran Hamka dan Quraish Shihab menggunakan teori Hermeneutika Gadamer dapati dispulkan bahwa perbedaan penafsiran mereka dipengaruhi konteks kehidupn danbackdididikan yang berbeda。Hamka hidup saat hubungan politik di Indonesia,穆斯林和非穆斯林。Sedangkan Quraish Shihab hidup di saat politik di Indonesia, hidak lagi memanas, kehidupan穆斯林,kehidupan非穆斯林,sudah harmonis。分析pensiran denan成员pertimbangkan地平线pengarang mendodong的目标是dalam menilai sebuah karya tafsir。
本文章由计算机程序翻译,如有差异,请以英文原文为准。
求助全文
约1分钟内获得全文 求助全文
来源期刊
自引率
0.00%
发文量
10
审稿时长
8 weeks
×
引用
GB/T 7714-2015
复制
MLA
复制
APA
复制
导出至
BibTeX EndNote RefMan NoteFirst NoteExpress
×
提示
您的信息不完整,为了账户安全,请先补充。
现在去补充
×
提示
您因"违规操作"
具体请查看互助需知
我知道了
×
提示
确定
请完成安全验证×
copy
已复制链接
快去分享给好友吧!
我知道了
右上角分享
点击右上角分享
0
联系我们:info@booksci.cn Book学术提供免费学术资源搜索服务,方便国内外学者检索中英文文献。致力于提供最便捷和优质的服务体验。 Copyright © 2023 布克学术 All rights reserved.
京ICP备2023020795号-1
ghs 京公网安备 11010802042870号
Book学术文献互助
Book学术文献互助群
群 号:481959085
Book学术官方微信