{"title":"Ideological Fantasy on Feminist Cliché in Harold Pinter’s The Room: A Žižekian Analysis","authors":"Armelia Nungki Nurbani, Sri Nurhidayah","doi":"10.29255/aksara.v35i1.898.53--61","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"This study aims to reveal women desires for freedom (without any menace), but she reproduces of male power restraints as it is represented in the drama script of Harold Pinter’s The Room. This research uses Žižek’s critical thinking framework regarding ideology, subject and practice. The approach used in this research is ground theory, the data used are quotations in the script, and the data source is the play script Harold Pinter’s The Room. With interpretation analysis techniques, this research reveals that the great ideals of women’s freedom are fantasmatic. Women’s freedom is an ideological fantasy. This play script reflects women’s freedom but instead explains the reality that they are shackled by patriarchal discourse. Harol Pinter seems to assert male power through the definition of women’s freedom through Rose in The Room. Therefore, the result shows that postmodernist, whose perspective is opposed to hierarchal system, is still trapped in patriarchal perspective AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap hasrat perempuan akan kebebasan (tanpa ancaman), namun ia justru mereproduksi pengekangan kekuasaan laki-laki seperti yang ada dalam naskah drama The Room karya Harold Pinter. Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir kritis Žižek tentang ideologi, subjek dan tindakan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah grounded theory, data yang digunakan adalah kutipan dalam naskah, dan sumber datanya adalah naskah drama The Room karya Harold Pinter. Dengan Teknik analisis interpretasi, penelitian mengungkapkan bahwa cita-cita agung kebebasan perempuan bersifat fantasmatik. Kebebasan perempuan adalah fantasi ideologis. Teks drama ini merefleksikan Kebebasan perempuan tetapi justru menjelaskan realitas bahwa ia terbelenggu oleh wacana patriarkis. Harold Pinter menegaskan kuasa laki-laki melalui definisi kebebasan perempuan melalaui Rose dalam The Room. Dengan kata lain, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posmodernis, yang notabene menentang hirarki, juga ada yang patriarkis.","PeriodicalId":34523,"journal":{"name":"Aksara","volume":"24 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2023-06-30","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"0","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Aksara","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.29255/aksara.v35i1.898.53--61","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 0
Abstract
This study aims to reveal women desires for freedom (without any menace), but she reproduces of male power restraints as it is represented in the drama script of Harold Pinter’s The Room. This research uses Žižek’s critical thinking framework regarding ideology, subject and practice. The approach used in this research is ground theory, the data used are quotations in the script, and the data source is the play script Harold Pinter’s The Room. With interpretation analysis techniques, this research reveals that the great ideals of women’s freedom are fantasmatic. Women’s freedom is an ideological fantasy. This play script reflects women’s freedom but instead explains the reality that they are shackled by patriarchal discourse. Harol Pinter seems to assert male power through the definition of women’s freedom through Rose in The Room. Therefore, the result shows that postmodernist, whose perspective is opposed to hierarchal system, is still trapped in patriarchal perspective AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap hasrat perempuan akan kebebasan (tanpa ancaman), namun ia justru mereproduksi pengekangan kekuasaan laki-laki seperti yang ada dalam naskah drama The Room karya Harold Pinter. Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir kritis Žižek tentang ideologi, subjek dan tindakan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah grounded theory, data yang digunakan adalah kutipan dalam naskah, dan sumber datanya adalah naskah drama The Room karya Harold Pinter. Dengan Teknik analisis interpretasi, penelitian mengungkapkan bahwa cita-cita agung kebebasan perempuan bersifat fantasmatik. Kebebasan perempuan adalah fantasi ideologis. Teks drama ini merefleksikan Kebebasan perempuan tetapi justru menjelaskan realitas bahwa ia terbelenggu oleh wacana patriarkis. Harold Pinter menegaskan kuasa laki-laki melalui definisi kebebasan perempuan melalaui Rose dalam The Room. Dengan kata lain, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa posmodernis, yang notabene menentang hirarki, juga ada yang patriarkis.
这项研究旨在揭示女性对自由的渴望(没有任何威胁),但她再现了哈罗德品特的戏剧剧本《房间》中所表现的男性权力限制。本研究采用Žižek关于意识形态、主题和实践的批判性思维框架。本研究使用的方法是地面理论,使用的数据是剧本中的引文,数据来源是剧本哈罗德品特的房间。本研究运用解读分析的方法,揭示了女性自由的伟大理想是虚幻的。妇女自由是一种意识形态上的幻想。这个剧本反映了女性的自由,但却解释了她们被父权话语束缚的现实。哈罗尔·品特似乎通过《房间里的玫瑰》对女性自由的定义来维护男性权力。因此,结果表明,以反对等级制度为视角的后现代主义仍困在男权视角中。摘要:penelitian ini bertujuan untuk mengungkap hasrat perempuan akan kebebasan (tanpa ancaman), namun ia justru mereproduksi pengekangan kekuasaan laki-laki seperti yang ada dalam naskah戏剧《房间》karya Harold Pinter。Penelitian ini menggunakan kerangka berpikir kritis Žižek tentang意识形态,主题dan tindakan。Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah接地气理论,数据yang digunakan adalah kutipan dalam naskah, dan sumber datanya adalah naskah电视剧The Room karya Harold Pinter。登安技术分析解释,penelitian mengungkapkan bahwa - cita-cita - agung kebebasan perempuan bersifat fantasmatik。Kebebasan perempuan adalan幻想的意识形态。他的戏剧是“纯粹的”,“纯粹的”,“纯粹的”,“真实的”,“真实的”,“真实的”,“真实的”,“真实的”。Harold Pinter menegaskan kuasa laki-laki melalui definisi kebebasan perempuan melalaui Rose dalam The Room。邓甘·卡塔兰,哈西尔·佩尼利特尼·曼恩·朱克坎·巴瓦后现代主义者,杨·塔恩特尼·曼恩特·平拉基,杨·贾·阿达·杨父系。