{"title":"PANCASILA SEBAGAI DARUL AHDI WA SYAHADAH DALAM HIMPITAN AMBIGUITAS POLITIK DAN URGENSI USWAH POLITIK","authors":"Ian Zulfikar, Ma’mun Murod Al-Barbasy","doi":"10.47313/PPL.V4I8.696","DOIUrl":null,"url":null,"abstract":"ABSTRACTThe Pancasila debate as an ideology of the country accompanied the long journey of the Indonesian nation. Muhammadiyah offers a new formula related to Pancasila by calling it Darul Ahdi wa Syahadah, a consensus and witness state. The mention of Pancasila as Darul Ahdi wa Syahadah is an affirmation to strengthen the position of Pancasila as the state ideology. Political reality becomes so pragmatic because political morality is \"ambiguous\" . Even sadder, immoral political behavior and sticking with abuse of power is actually done by making the Pancasila as a cover or cover. Mental revolution requires fundamental changes that involve material, mental, cultural and political revolutions. The basis and direction of this mental revolution is the value of the Pancasila, especially those contained in the first, second and third precepts. The most important thing in carrying out the Mental Revolution is the need for political ideology (uswah). Uswah gives a lot of examples in religion, an example in terms of moral integrity, which includes the exemplary in establishing a relationship with power.Keywords: Pancasila, Mental Revolution, Political Ambiguity, Political Schools ABSTRAKPerdebatan Pancasila sebagai ideologi negara mengiringi perjalanan panjang bangsa Indonesia. Muhammadiyah menawarkan rumusan baru terkait Pancasila dengan menyebutnya sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, yaitu negara konsensus dan negara kesaksian. Penyebutan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah merupakan penegasan untuk memperkuat posisi Pancasila sebagai ideologi negara. Realitas politik menjadi begitu pragmatis lantaran moralitas politik yang “mendua” (ambigu). Lebih menyedihkan lagi, perilaku politik amoral dan lekat dengan abuse of power justru dilakukan dengan menjadikan Pancasila sebagai kedok atau tameng berlindung. Revolusi mental menghendaki adanya perubahan mendasar yang melibatkan revolusi material, mental kultural, dan political. Dasar dan haluan revolusi mental ini adalah nilai Pancasila, terutama yang terdapat dalam sila pertama, kedua, dan ketiga.Yang paling penting dalam melakukan Revolusi Mental adalah perlunya keteladanan (uswah) politik. Uswah memberikan banyak keteladanan dalam beragama, keteladanan dalam hal integritas moral, yang termasuk di dalamnya adalah keteladanan dalam menjalin relasi dengan kekuasaan.Kata Kunci: Pancasila, Revolusi Mental, Ambiguitas Politik, Uswah Politik","PeriodicalId":30812,"journal":{"name":"Wacana Jurnal Sosial dan Humaniora","volume":"10 1","pages":""},"PeriodicalIF":0.0000,"publicationDate":"2020-06-28","publicationTypes":"Journal Article","fieldsOfStudy":null,"isOpenAccess":false,"openAccessPdf":"","citationCount":"3","resultStr":null,"platform":"Semanticscholar","paperid":null,"PeriodicalName":"Wacana Jurnal Sosial dan Humaniora","FirstCategoryId":"1085","ListUrlMain":"https://doi.org/10.47313/PPL.V4I8.696","RegionNum":0,"RegionCategory":null,"ArticlePicture":[],"TitleCN":null,"AbstractTextCN":null,"PMCID":null,"EPubDate":"","PubModel":"","JCR":"","JCRName":"","Score":null,"Total":0}
引用次数: 3
Abstract
ABSTRACTThe Pancasila debate as an ideology of the country accompanied the long journey of the Indonesian nation. Muhammadiyah offers a new formula related to Pancasila by calling it Darul Ahdi wa Syahadah, a consensus and witness state. The mention of Pancasila as Darul Ahdi wa Syahadah is an affirmation to strengthen the position of Pancasila as the state ideology. Political reality becomes so pragmatic because political morality is "ambiguous" . Even sadder, immoral political behavior and sticking with abuse of power is actually done by making the Pancasila as a cover or cover. Mental revolution requires fundamental changes that involve material, mental, cultural and political revolutions. The basis and direction of this mental revolution is the value of the Pancasila, especially those contained in the first, second and third precepts. The most important thing in carrying out the Mental Revolution is the need for political ideology (uswah). Uswah gives a lot of examples in religion, an example in terms of moral integrity, which includes the exemplary in establishing a relationship with power.Keywords: Pancasila, Mental Revolution, Political Ambiguity, Political Schools ABSTRAKPerdebatan Pancasila sebagai ideologi negara mengiringi perjalanan panjang bangsa Indonesia. Muhammadiyah menawarkan rumusan baru terkait Pancasila dengan menyebutnya sebagai Darul Ahdi wa Syahadah, yaitu negara konsensus dan negara kesaksian. Penyebutan Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah merupakan penegasan untuk memperkuat posisi Pancasila sebagai ideologi negara. Realitas politik menjadi begitu pragmatis lantaran moralitas politik yang “mendua” (ambigu). Lebih menyedihkan lagi, perilaku politik amoral dan lekat dengan abuse of power justru dilakukan dengan menjadikan Pancasila sebagai kedok atau tameng berlindung. Revolusi mental menghendaki adanya perubahan mendasar yang melibatkan revolusi material, mental kultural, dan political. Dasar dan haluan revolusi mental ini adalah nilai Pancasila, terutama yang terdapat dalam sila pertama, kedua, dan ketiga.Yang paling penting dalam melakukan Revolusi Mental adalah perlunya keteladanan (uswah) politik. Uswah memberikan banyak keteladanan dalam beragama, keteladanan dalam hal integritas moral, yang termasuk di dalamnya adalah keteladanan dalam menjalin relasi dengan kekuasaan.Kata Kunci: Pancasila, Revolusi Mental, Ambiguitas Politik, Uswah Politik
【摘要】潘卡西拉之争作为一种国家意识形态,伴随着印尼民族的漫长历程。穆罕默迪亚提供了一个与潘卡西拉相关的新公式,称之为Darul Ahdi wa Syahadah,即共识和见证状态。提及潘卡西拉为Darul Ahdi wa Syahadah是对加强潘卡西拉作为国家意识形态地位的肯定。政治现实变得如此务实,是因为政治道德是“模棱两可的”。更可悲的是,不道德的政治行为和坚持滥用权力实际上是通过将潘卡西拉作为掩护或掩护来完成的。精神革命要求发生物质革命、精神革命、文化革命和政治革命的根本变化。这种精神革命的基础和方向是潘戒的价值,特别是包含在第一、第二和第三戒中的价值。进行精神革命最重要的是需要政治意识形态(uswah)。Uswah举了很多宗教方面的例子,一个关于道德正直的例子,其中包括与权力建立关系的例子。关键词:潘卡西拉、精神革命、政治歧义、政治学派穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德·穆罕默德Penyebutan panasila sebagai Darul Ahdi是Syahadah merupakan pengasan untuk成员,是panasila sebagai意识形态的成员。现实政治的门加迪开始于实用主义,道德政治的门加迪开始于“门加”(歧义)。Lebih menyedihkan lagi,危险政治,不道德,但lekat dengan滥用权力,只是dilakukan dengan menjadikan Pancasila sebagai kedok atau tameng berlindung。革命精神是物质的、精神的、文化的、政治的。Dasar dan haluan revolusi mental ini adalah nilai Pancasila, terutama yang terdapat dalam sila pertama, kedua, dan ketiga。杨培林,中国共产党,中国共产党,中国共产党,中国共产党。我的意思是,我们的成员是我们的人民,我们的人民,我们的人民,我们的人民,我们的人民。Kata Kunci: Pancasila, Revolusi Mental, Ambiguitas Politik, Uswah Politik